
" Hei bangun.... ", Mas Prima ternyata bangun lebih dulu pagi ini dan dia sudah mengangkat wajahnya bahkan kini berada di atas wajahku memandangiku yang masih memejamkan mata.
" Bangun yuk nanti subuhnya kesiangan", ujarnya lagi, kali ini dia tidak hanya menatapku tapi menciumi kemas seluruh mukaku.
" Hemmm.... lima menit lagi Mas masih ngantuk, Eehh... good morning suamiku", akhirnya aku membuka mata setelah sadar bahwa yang membangunkan aku ternyata suamiku untuk pertama kalinya.
" Morning sayang... istriku", Mas Prima tersenyum manis pagi ini begitu aku membuka mata.
" yuk Subuh yuk keburu siang, habis itu kita packing penerbangan jam 10 sayang", ujarnya.
" Wah iya ya, iyalah habis subuh langsung packing sarapan langsung berangkat", akupun bergegas menuju kamar mandi.
" cie..... semangat sekali yang mau bulan madu", Goda Mas Prima.
" Eh salah ya, enggak jadi ah ralat habis subuh mau tidur lagi", jawab aku kesal.
" Eehhh ... gak bisa gitu, habis itu langsung pegang baru sarapan langsung berangkat", Mas terima kembali mendorongku lembut masuk kamar mandi.
Dan saat ini aku aku sudah selesai mandi sudah berdandan sudah packing juga kita mau sarapan dulu masih pagi sih baru jam 7.30 tapi nggak masalah biar ketemu juga sama saudara-saudara yang nginep di hotel ini.
Mas Prima merangkul pundakku dari belakang saat aku masih duduk di meja toalet.
" Cantiknya istriku, pantas aja Mas langsung jatuh cinta begitu melihat fotomu ternyata aslinya jauh lebih cantik", puji Mas Prima sambil membelai kepalaku.
" Jangan malu lagi jalan di sisiku ya dek, warung Mas ini tidak tampan seperti pria idaman mu, Tapi percayalah dek Mas ini orang yang setia".
Aku cuma menganggukkan kepala dan mataku memandang lurus kedepan melihat wajah Mas Prima di layar cermin.
" Maaf ya Mas, mungkin aku sebenarnya hanya butuh waktu untuk mencintai Mas seperti dalamnya cinta Mas ke aku, aku juga pasti bisa Mas", caraku dengan pandangan tidak teralihkan tetap fokus melihat wajah suamiku di cermin, wajah yang pakai ini terlihat sangat cerah.
" Ayo cepat kita sarapan nanti keburu siang sudah nggak tahan nih mau cepat sampai di pulau itu", Mas Prima tertawa terkekeh sambil mengangkat bahuku untuk berdiri dan kita berjalan beriringan menuju restoran hotel.
Di restoran ternyata sudah cukup ramai oleh orang-orang penghuni hotel yang hendak sarapan.
__ADS_1
Ada juga beberapa saudara yang sudah bercengkerama di meja seraya menikmati sarapan serta kopi teh panas dan camilan lainnya.
" dek mau sarapan apa?", tanya Mas prima dan mencarikan ku tempat duduk tentunya yang dekat dengan saudara dan yang nyaman.
" Bubur ayam aja Mas".
" Tunggu di sini, Mas yang ambil kan, minumnya apa?".
" Hemmm ... teh panas dengan sedikit gula".
Mas Prima pun bergegas menuju antrian bubur ayam, setelah mendapatkannya dan meracik bumbu bumbu diatas bubur pesananku dia pun mengambil cangkir dan air teh panas dengan sedikit gula pesananku dan kemudian membawanya ke mejaku.
" ini, hati-hati masih panas, Mas juga mau ambil sarapan Mas dulu ya".
Setelah selesai mengantri sarapan Mas Prima pun kemudian duduk di sebelahku setelah menyapa beberapa saudara yang masih duduk sarapan di dekat kami.
" Mas menunya apa?".
" Kalian berangkat jam berapa nanti?", tanya saudara Mas Prima pada kami.
" Penerbangan jam 10", jawab Mas Prima.
" Wah, berarti sebentar lagi kalian berangkat dong".
" iya, tapi perjalanan dari sini ke bandara kan paling hanya 10 menit".
" iya jika tidak macet jika macet bisa hampir setengah jam kalian hati-hati ya ya semoga lancar menikmati bulan madu kalian mumpung belum ada anak pulangnya harus bawa hasil yang maksimal oke", ngejar saudara Mas Prima diakhiri dengan kekehan lebar.
" Mohon doanya, akan saya usahakan dengan sangat keras", Mas Prima pun menjawab dengan kekahan yang tak kalah lebar.
" ya Ya silakan silakan nikmati sarapan kalian pasti kan kenyang sebelum berangkat".
Setelah drama-drama pamitan kepada orang tua dan saudara-saudara kami akhirnya saat ini kami sudah berada di dalam pesawat mungkin 10 menit lagi kami akan lepas landas.
__ADS_1
Mas terima menggenggam tanganku lembut, sekali mengusapnya penuh perhatian.
" Berdoa dulu sayang, tidur saja soalnya penerbangan ini hampir 2 jam lamanya", bisiknya sambil tetap mengusap tanganku lembut.
" Iya Mas", salahku seraya menoleh padanya dan mata kami pun bertemu, mata itu menatapku dengan pandangan sayu entah apa yang ada dipikirannya kemudian bibir itu melengkung penampakan senyumnya tak lama setelah itu mas Prima pun mencium punggung tangan ku.
Suara aba-aba dari pramugari akhirnya memisahkan pandangan mata kami dan tak lama setelah itu aku merasakan pesawat mulai bergerak, aku berkomat-kamit membaca doa demikian pula dengan mas Prima.
" Tidurlah", kali ini Mas Prima mengusap kepalaku dengan sangat lembut membawaku yang sedikit takut melakukan penerbangan ini kemudian merasa tenang karena genggaman serta pelayan Mas Prima yang terasa menyenangkan. tak butuh waktu lama akupun tertidur.
Mungkin satu jam lebih karena tadi saat lepas landas Saya melihat jam jam 10 lebih 7 menit dan sekarang di jam tanganku sudah menunjukkan pukul 11.35.
Mataku pelan terbuka dan mendapati pesawat masih terbang diatas angkasa sampai aku pun terlelap dengan tetap menggenggam tanganku aku ternyata bersandar di pundaknya dan dia pun juga menjagaku dengan posesif nya, aku hanya membuka mata saja tanpa mengubah posisi ku rasanya nyaman sekali berada dalam rangkuman suamiku.
Hingga apa-apa dari pramugari kembali terdengar bahwa pesawat kami sebentar lagi akan landing dan Mas Prima pun membuka matanya.
" Huuaahh.... sudah mau sampai saya?", ujan Mas Prima menyadari jika aku sudah terbangun lebih dulu.
" Iya Mas, sebaiknya kita bersiap-siap, jangan merem lagi", ujarku membuat masprima kemudian tersenyum menatapku.
" Sudah mau sampai, Tapi sebaiknya cari makan dulu ya sebelum kita menuju hotel", ujan Mas Prima raya menatapku sayu.
" Masih jauh ya Mas dari bandara menuju pulau ini", tanyaku pada mas Prima.
" Mas juga belum pernah ke sini dek, nanti kita bisa tanyakan pada sopir travel yang akan mengantar kita ke hotel".
" Bandara Jalaludin Gorontalo", flower mengeja tulisan yang ia lihat setelah pesawatnya benar-benar landing.
" Sepertinya masih jauh mas untuk sampai ke pulau itu". ujar flower
" ya mungkin 3 jam lebih, sabar ya jika sudah sampai sana kita akan tenang karena nggak akan ketemu Desi di sana nggak mungkin dia ngintilin kita kan", Mas Prima terkekeh lebar begitupun dengan ku.
Next....
__ADS_1