
Setelah aku dan Mas Prima rapih karena kami sudah mandi dan sudah makan juga hari belum terlalu malam baru selepas isya.
Aku mencari ponselku yang sehari ini belum aku sentuh sama sekali sedari pagi dia anteng berada dalam tasku, jelaskan tentang soalnya aku silent.
Pertama aku lihat adalah aplikasi pesan masuk, ku abaikan panggilan aku langsung melihat sebuah pesan yang dikirim oleh Desi.
Dia mengirimkan beberapa foto mulai dari acara saat kami di kamar tadi di saat pertemuan pertama ku tadi Dengan suamiku saat foto-foto Setelah akad dan saat resepsi tadi.
Namun ada yang membuatku membuka mata lebar boleh dibilang melotot ada satu foto yang menunjukkan ada seseorang yang sangat aku kenal namun bukan merupakan tamu undangan dia datang dan berdiri di pinggir pintu masuk dan menatap ke pelaminan dengan wajah sendu, momen itu rupanya Desi merekam dengan kamera video.
" Hah, Tian, christian Wibisono", lirik ku mengusap layar ponselku.
" kenapa kamu tidak naik dan memberikan ucapan padaku, tapi terima kasih ya kamu telah datang minimal biar kamu tahu bahwa berita yang kamu dengar kemarin itu tidak bohong hari ini benar aku telah menikah maafkan aku Tian aku meninggalkanmu", aku tertunduk jariku mengusap-ngusap layar ponselku harusnya kan aku sedih atau bahkan menangis tapi nggak tahu melihat Tian ada di situ aku merasa lega aja dia enggak akan pernah mengganggu lagi setelah tahu aku benar-benar menikah itulah pikiranku.
Ah, tapi tidak menangis, bohong jika aku tidak bersedih nyatanya air itu merembes juga dan aku bahkan tertunduk, aku tahu mulai hari ini haram bagiku memikirkan apalagi sampai merindukan lelaki yang bernama Tian itu bahkan lelaki mana pun selain orang yang sekarang sedang berada di sampingku ini dan bapakku serta mas Freddy, itu saja yang boleh aku rindukan.
" dek kamu menangis, Ada apa sayang cerita dong sama mas?", rupanya sedari tadi Mas terima memperhatikanku.
" Kamu masih mengingatnya kamu menyesal menikah sama mas?".
Aku menggeleng, tidak mau membuat hati suamiku sakit dan mengecewakannya, sesungguhnya tangisku hari ini adalah tangis yang melegakan sepanjang 9 tahun aku mengenal Tian.
__ADS_1
" aku memang mencintainya Mas, tadi dia datang tapi dia tidak naik ke pelaminan, tapi mas harus tahu aku itu seperti apa, 9 tahun bukan waktu sebentar jadi aku harap Mas sabar untuk mengganti namanya menjadi nama mas yang terpatri di dada ini mas, Aku adalah wanita yang setia, meskipun aku cinta dengan Tian aku tahu bahwa mulai hari ini memikirkannya pun sudah haram bagiku, Aku harap Mas bisa membimbingku untuk mematri nama Mas di dada ini bukan orang lain termasuk Tian aku menangis bukan karena aku menyesal menikah dengan mas tapi aku menyesal telah membuang waktuku 9 tahun untuk mencintai Tian sementara jodoh Aku adalah Prima Tirta sembada". aku memberikan ponsel itu kepada Mas Prima agar Mas Prima bisa melihatnya.
Dan Mas Prima langsung merangkul dan mencium keningku lama aku mendengar anda isaknya di sana bahkan puler itu menetes deras di keningku.
" Mas tidak akan pernah bisa janji apa-apa sama adik, tapi Mas cuma akan memberikan bukti betapa besar cinta Mas ini untuk adik nanti Adik yang akan tahu dan merasakannya, seperti apa rasanya dicintai".
Akupun mengangguk, paham maksud Mas Prima, Aku memang cuma ingin dicintai itu juga yang sering aku ucapkan dalam setiap doaku.
Setelah tenang dan mengeringkan air mata dengan tisu Mas Prima kemudian menangkup wajahku dengan kedua tangannya dipandanginya agak lama hingga membuatku tersipu.
Perlahan Mas Prima mendekatkan wajahnya pada wajah ku mataku terpejam dan aku merasakan bibirnya menyentuh bibirku pelan tapi kemudian ********** pelan, pelan dan akhirnya hingga ciuman itu berubah menjadi ciuman panas hingga aku engap kehabisan nafas barulah Mas Prima melepaskannya, matanya kembali menatap ku.
" Maaf Mas saat itu bukan ciuman pertamaku aku sudah beberapa kali pernah melakukannya bersama Tian".
" Mas tahu, tapi tidak masalah Mas Terima adik apa adanya, bahkan jika Adik sudah tidak virgin pun mas tidak masalah, Mas cinta kamu dari saat melihat fotomu di media sosial Desi, cinta mas tanpa syarat, Adik harus tahu", ucapnya tetap fokus menatap mataku hingga aku pun terbawa menatapnya pula, tak ada kebohongan dan terlihat sangat tulus.
Semakin berdosa rasanya aku bukan hanya karena aku telah menghabiskan 9 tahun hanya memikirkan Tian tapi karena aku tak bisa mempersembahkan ciuman pertamaku kepada suamiku Oh ya Robb, ampuni hamba.
" Maaf Mas", lirik ku mengeratkan pelukan pada Mas Prima.
" Kenapa?, kita menikah baru beberapa jam lo dek, insya Allah masih panjang waktu kita untuk saling membuktikan menjadi pasangan terbaik, lupakan masa lalumu jangan pernah kamu sesali, karena mas yakin dari sana kamu belajar untuk setia pada mas".
__ADS_1
Makin lah aku sesenggukan di dadanya, jika tahu begini kita pacaran dan pacar kita bukan jodoh kita rasanya menyesal aku tidak akan pernah pacaran, tetapi benar kata Mas Prima jika dari sanalah aku bisa banyak belajar, Yah aku belajar dari rasa cintaku yang aku rasa bertepuk sebelah tangan karena aku merasa pada akhirnya rasa sayang Tian rasakan untukku perlahan sirma namun tidak dengan ku cinta ku tumbuh subur dan Tian semakin menjauhi ku dan itu menyakitkan. Sakit.
Dan malam itu kami tidak malam pertama seperti pengantin pada umumnya karena Mas Prima malah sibuk memijit in kakiku, dan dia bercerita banyak hal begitupun dengan ku.
" kita malam pertamanya di pulau yang akan kita tuju besok di hotel ini kita numpang tidur dan istirahat aja ya, adek masih sabar kan menunggu", chat-nya sambil mengerlingkan sebelah matanya padaku.
" Iiihhh.... ternyata mas genit ya, pakai ngetik-ngetik mata sebelah lagi, awas ntar kero lo, matanya sipit sebelah hahaha", akupun terkekeh.
Mas Prima ikut terkekeh dan kemudian menghujaniku dengan seluruh ciuman di seluruh muka dan tubuhku membuat aku kegelian tidak karuan.
" Jangan ngeluarin suara yang aneh-aneh Mas udah nggak tahan aslinya ini nahannya sampai panas dingin", ujarnya.
" Aneh apanya yang namanya geli ya... Aah sudahlah".
" Dilarang mendesah apalagi mengeluarkan suara manja malam ini kan sampai besok", berisik Mas Prima di telingaku.
" Mas beliin ngomongnya jangan di telinga dong!", tanpa sadar justru aku bersuara manja dan Mas Prima memelototiku.
" Astaga.... baru juga dibilang nggak boleh bersuara manja dan mendesah kok malah begini sih ah sudahlah tidur saja", ucap Mas Prima prustasi.
Next.....
__ADS_1