
Sari mendengar kabar jika kakak iparnya saat ini tengah mengandung, Entah kenapa hati Sari menjadi jengkel merasa posisinya sebagai adik dari Prima tidak aman.
Seharusnya Sari bersyukur, namun entahlah rasa insecure sebagai adik yang selama ini merasa mudah untuk meminta sesuatu kepada sang kakak gini pasti akan lebih sulit untuk didapatkan jika kakak iparnya hamil pasti semua perhatian Mas primanya akan tercurah pada sang istri dan juga calon bayinya.
" selamat ya Mas akhirnya istrimu hamil juga tapi jangan lupa janjinya aku udah nggak sabar pengen membetulkan kamar mandi", ujar Sari saat prima dan flower berkunjung di rumah orangtuanya terdengar sangat tidak mengenakkan.
" Iya makasih, dek saat ini maslah sedang mempersiapkan usaha hahaha tapi insya Allah untuk urusan membetulkan kamar mandi sesuai keinginanmu akan Mas usahakan tapi tidak sepenuhnya massanya membantu separuh", ujar Prima penuh kehati-hatian ia tahu betul sifat adiknya yang satu ini.
" loh kalau cuma separo mana jadi Mas membangun setengah-setengah gimana sih Mas", jawab Sari tidak terima.
" Ya sudah kalau gitu Mas yang belikan materialnya kamu yang bayar tukangnya serta ngasih makan gimana?", ujar Prima, dia nggak mau ribut banyak tentang masalah adiknya yang minta uang rp5.000.000.
" eh mas prima gitu, sekarang terkesan pelit, jangan selalu diikutin kemauan istri dong Mas kalau aku ini kan saudara kandungmu mas sampai mati pun kita adalah tetap saudara sedangkan istri itu orang lain yang baru masuk kehidupan Mas, Mas sudah nurut kayak gitu", ucap Sari yang membuat Prima langsung melongo tidak menyangka dirinya akan berkata seperti itu.
" Oke semua Mas yang handel kamu diem aja akan Mas belikan material sekalian bawakan tukang sekalian nanti uang makannya juga dari mas, kamu nggak usah berisik, namun dengan satu syarat tolong hargai istri mas, memang dulu dia orang lain tapi dengan ikrar suci mas sudah berjanji di hadapan Gusti jika dia adalah tanggung jawab Mas dunia sampai akhirat kalau kamu pengen tetep Mas bantu hargai dia!, kalau kamu keberatan mas tidak akan membantu kamu sama sekali bagaimana? kamu pilih sendiri keputusan semua ada ditanganmu!", kali ini Prima merasa jika adiknya ini sudah keterlaluan sehingga dia memberikan kuliahan itu untuk Sari.
__ADS_1
Sari berdecak sebal dengan menghentakkan kakinya sangat keras sebagai protes atas semua ucapan kakaknya Prima.
" kenapa reaksinya seperti itu? jika kamu tidak mau berbuat baik sama istriku Ya sudah Mas juga nggak akan membantumu", ucap Prima dengan memelototkan matanya terhadap adiknya.
" harus ya?", suara Sari sedikit keras.
" Mas nggak maksa itu pilihan ada di tangan kamu ya sudah ini ada uang satu juta silakan kamu perbaiki secukupnya, terserah mau bagaimana sikap kamu terhadap istri Mas jika kamu sudah tidak mau nurut sama Mas dan hanya nurut Karena Mas beri uang lebih baik Mas nggak minta kamu untuk menurut mas karena dengan begitu mas tidak akan kehilangan uang, ngerti kamu!", suara Prima kali ini Terdengar sangat tegas, membuat sari akhirnya menundukkan wajahnya dan diam tidak mau menjawab apa.
Prima mengambil dompetnya yang berada di saku celananya bagian belakang kemudian dia mengambil uang sejumlah 10 lembar yang ada di dompetnya saat itu, dan diberikan kepada Sari.
" Sari nggak mau kalau itu pemberian terakhir dari Mas, lebih baik Sari menerima jadinya saja, tetapi untuk Sari manis kepada istri mas, mungkin Sari harus berusaha, tidak bisa dengan cepat!", jawab Sari kemudian pergi, dia tidak jadi menerima uang pemberian kakaknya itu.
Prima memandangi punggung adiknya yang pergi meninggalkannya dan menuju rumahnya sendiri, ada rasa kecewa juga sedih, Prima merasa sangat menyayangi adiknya itu, tapi kenapa adiknya tidak bisa menerima kehadiran istrinya, padahal selama ini Prima selalu memanjakan Sari, bahkan saat dia akan menikah dan diterima nggak setuju dengan pilihan Sari, akhirnya Prima mengalah demi rasa sayang terhadap adiknya yang satu ini, namun kenapa Sari nggak bisa berbuat sebaliknya terhadap dirinya.
" Huuhhh...!", terima menarik nafas dalam kemudian membuangnya kasar dan menatap langit-langit seraya mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
" kamu harus lebih sabar Mas, adikmu itu butuh waktu untuk menerima kehadiran istrimu, mungkin karena selama ini kamu selalu memanjakan nya, selalu menuruti kemauannya, sehingga ada merasa kehilangan seseorang yang selalu menjadi tempatnya bergantung butuh waktu untuk menerima flower di kehidupannya", ternyata diam-diam Bu Marni memperhatikan interaksi kedua anaknya itu, jujur dia pun kecewa dengan Sari, tetapi Bu Marni lebih memilih untuk memandangnya dan memberi pengertian kepada Prima.
" padahal dia belum mengenal flower sepenuhnya Bu, tapi kenapa dia sudah menanamkan kebencian itu di hatinya, ibu.... mas sangat mencintai istri mas, namun melihat sikap Sari hati mas sakit Bu, Mas kecewa padanya, Apa benar ini akibat Mas selalu menuruti kemauannya?", Prima kemudian duduk di kursi kayu yang ada di sana seraya mengeluarkan semua isi hatinya kepada sang ibu.
" sabarlah Mas, pelan-pelan itu akan memberikan pengertian kepada Nya, semoga usahamu lancar Mas biar tetap bisa membantu kehidupan Sari, jadi apa yang dia pikirkan akan ketakutan kehilangan kasih sayang kakaknya itu tidak terbukti, dengan demikian dia akan menyayangi keluargamu nanti mas dengan sendirinya", Bu Marni mengusap punggung putra kesayangannya itu dengan lembut.
" Apa itu juga kurang menerima kehadiran flower Bu?", dengan ragu-ragu akhirnya beriman pun bertanya kepada ibunya.
" kenapa Mas bertanya seperti itu kepada ibu, Apa itu juga nampak tidak menyukai istrimu?", Bu Marni merasa terheran dengan pertanyaan sang putra, kenapa bisa putranya menanyakan hal itu pada dirinya.
" tidak Bu, Mas hanya ingin tahu perasaan itu saja, karena jika ada kekurangan dari istri saya, Mas tentunya bertanggung jawab untuk memperbaiki sifat buruk dari istri mas bu, Mas ingin Ibu juga menyayangi istri mas seperti Ibu menyayangi kami semua", jawab Prima dengan merangkul bahu sang ibu.
" Ibu rasa tidak ada alasan untuk tidak suka dengan istrimu Mas, dia cantik pintar dan yang penting dah sholehah, mungkin Mas harus membimbingnya agar dia tidak terkesan berani sama mas, tapi semuanya ibu menyukai istrimu Mas dia wanita yang sempurna untukmu, Dani ku yakin dia akan menjadi Ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak, jangan ragu untuk punya banyak anak bersamanya", Bu Marni menatap lekat wajah sang putra yang tengah tertunduk seraya merangkul punggungnya.
Next.....
__ADS_1