
Angin meniup dedaunan, lalu menjatuhkan daun yang kering, walau terkadang daun yang masih hijau ikut jatuh karna tidak kuat menahan kencangnya angin.
Begitu pula cinta Azka, yang harus segera ia terbangkan bersama angin agar tidak terlalu sakit, di kemudian hari. Memang sulit tapi harus.
****
Hari demi hari berlalu begitu saja, Azka dan Laila hanya tegur sapa ketika di kampus, mereka tidak pernah ngobrol sekali pun, setelah Laila pergi dari rumah Azka, sepertinya Laila menghindari Azka.
Azka selalu ingin mengajak ngobrol Laila, tapi ketika di cari entah di mana Laila, ketika waktu pelajaran selesai Laila pulang duluan.
Azka pergi ke rumah baru Salwa,
namun sepi tak ada orang.
Azka telpon ke nomer Salwa.
"Halo mbak, mbak kemana?, aku di depan home mbak, ?"
"Mbak ke dokter, priksa kandungan, sebentar lagi pulang tunggu saja." suruh Salwa.
" Tidak usah mbak, ini juga aku akan pulang.
E... Hanya ingin tahu, kabar Laila, apa dia
baik-baik saja, kok sepertinya menjauh dariku?" Tanya Azka memberanikan diri.
" Dia baik, dia juga tidak pernah membicarakanmu, mungkin dia malu, dia memang seperti itu, laki-laki yang dekat denganya, ya cuma kamu Azka!" Jelas Salwa.
" Iya mbak, mungkin dia malu,. Salam untuk semua, Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikummusalam, hati-hati Azka" Salwa menutup telpon,
Azka pulang dengan kecewa.
'Aku tak bisa memendung rinduku, Mata ini ingin selalu melihat mu walau sekejab, merah jambuku, Kau di mana?, apa kau tidak Merasakan perasaan yang sama kepadaku,? Apa memang rasa Ini rasaku sendiri, cinta Yang tak terbalas, apa harus ku ungkapkan, setidaknya aku harus berjuang, agar tau perasaanmu, namun tidak mungkin kau Mencintaiku, Azka hentikan ini, pendam dalam -dalam rasa mu,'
Air mata Azka menetes.
*****
Hari secepat angin berhembus satu bulan berlalu begitu saja arti, Azka datang ke rumah Salwa, karna sudah tiga hari Laila tidak ke kampus.
"Assalamu'alaikum ,." Azka mengetuk pintu, yang sudah terbuka.
"Wa'alaikum salam, Azka!, Alhamdulillah, Mbak kangen lo, apa lagi baby mbak di dalm perut, nih lihat foto profil WA wajah kamu. Eh Sampek lupa, ayo masuk!"
Azka terdiam dan hanya senyum lalu masuk rumah.
" Ayo masuk Azka, bagaimana kabarmu, lama sekali tak bertemu, maklumi saja semua sedang sibuk!" Datang Asfi langsung mengajak Azka.
__ADS_1
"Alhamdulillah, duduk, Mbak buatkan minum dulu " ucap Salwa.
"Tidak usah repot-repot, kesini mau ngobrol, plis Mbak duduk sini, waktu saya enggak lama, kan saya pemuda sibuk! ," Jelas Azka.
"Baiklah, mau ngobrol apa,? "Ucap Salwa lalu duduk.
"Kalau do'a qunut, lupa di ganti dengan apa atau bacaan apa?" Tanya Azka hanya modus, bertanya tapi matanya mencari ke sudut sudut ruangan siapa tau ada Laila.
"Sujud sahwi, kan ada di fasolatan!" jawab Salwa.
"Oh iya, mas Asfi libur ?" Tanya Azka mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah, aku minta cuti Laila mau menikah!" Jawab Asfi membuat syok Azka.
"Ow " Azka tercengang, seakan darahnya berhenti mengalir.
,'Ini Sakit 'dalam hati Azka , berfikir sejenak
" Saya juga akan pamit, minggu ini akan ke Paris,." Bicara tanpa di fikir Azka.
" Maaf mbak ini mendadak!" Lanjut Azka mencoba meredam gejolak api di hatinya.
Salwa lebih terkejut.
"Untuk apa!, dan kenapa tiba-tiba ?" Mata Salwa mencari jawaban di mata Azka.
"Aku mencoba mendekat ke mami, siapa tau kami bisa bersama. Eeh ya sudah Mas, Mbak, saya pamit." Azka berdiri, air matanya akan segera jatuh.
"Mbak, mbak punya kehidupan jika aku selalu hadir, maka lama ke lamaan aku akan mengganggu hubungan mbak!, kita akan jauh tapi bisa berkomunikasi, aku tidak mau Mas Asfi cemburu dengan obrolan kita " Terang Azka.
"Tidak Azka, sama sekali tidak,! pikirkan lah lagi, kuliahmu bagaimana.?"
"Maaf mbak Salwa aku mengubur cita-cita yang ku bangun untuk mbak, aku tidak menepati janji, maaf membuat mbak kecewa,. Tapi ini keputusan terbesarku, saya pamit Assalamu'alaikum " .
"Boleh mbak memelukmu ? " Ucap Salwa dengan suara terpecah dan air mata menetes.
"Bukan muhrim " Jawab Azka.
"Peluklah dia kakak mu kan? " Suruh Asfi .
Azka memeluk Salwa, air mata Azka terjatuh di pundak Salwa yang tertutup baju dan kerudung,.
"Ada apa Azka?" Bertanya dengan suara pelan.
"Aku hancur " Azka melepas pelukan itu, tanpa penjelasan sedikit pun.
Salwa berusaha menahan air matanya. Masih banyak tanda tanya di benak Salwa yang tak ada jawaban dari Azka.
"Mas!" Azka dan Asfi berpelukan.
__ADS_1
"Pamit sama Laila mungkin sebentar lagi dia pulang " Suruh Asfi.
"Salam saja, ya sudah, Assalamu'alaikum " Azka keluar, masuk mobil dan berlalu dari Asfi.
" Aku sehancur hancurnya, dan aku melarikan diri, aku tak berani menjalani
hidupku, aku sudah kalah dengan diriku, apa ini ya Allah jawaban dari doaku malam itu, sakit ,sangat saki..t, aku menagisi diriku sendiri,. Aku berbohong akan ke Paris, aku harus pergi kemana untuk menyembuhkan hati , Astagfirullohhala'dzim " Gumam Azka dengan linangan air mata patah hati.
"Den,! " Pak Ahmad.
"Kenapa?" Azka berusaha menutupi masalah nya.
HP Azka berdering Salwa telpon. Azka membuang nafas sesak, mencoba rilex.
"Halo ,Assalamu'alaikum " Jawab Azka berusaha tenang, walau masih terdengar suara orang yang habis menangis.
"Wa'alaikum salam, katakan rahasia mu!, Mbak tahu kamu menyimpan rahasia besar,."
"Mbak, aku memutuskan hubungan dengan Mbak. " Azka menutup telponnya.
Salwa ngechat
"Apa kamu bilang, jika kamu memutus hubungan dengan Mbak. Arwah Almarhum Mas Zaheer akan menghantui mu." Azka tak membalas.
"Azka, Azka, mbak marah ,." Pesan suara Salwa.
Air mata terus berlinang mengalir deras, seperti air sungai yang habis kemarau panjang, lalu banjir karna hujan deras.
"Mbak, kalau mbak masih mau berhubungan denganku, tolong jangan tanya kenapa,? karna pertanyaan itu menyiksaku!." Balas Azka dengan Chat.
"Oke, kau patah hati, tapi mbak enggak bisa bantu apa-apa, jika pergi menjauh
membuatmu damai maka lakukan lah, Mbak akan menunggumu pulang dan datang ke Mbak. Maafkan Mbak " Jawab Salwa.
" Aku patah hati, semoga ini cepat berlalu,
Ya Allah aku harus melarikan diri ke mana? tidak mungkin aku ke Paris, dari dulu mami mencegahku, kenapa sangat sulit, sedikit pun tak ada cinta tersisa untukku" Gumam dan merintih , Pak Ahmad panik tapi Azka tetap diam.
Raut wajah Azka terlihat sangat lesu membuat pak Ahmad semakin cemas,.
"De..n" Pangil dengan suara pelan.
"Pak Ahmad punya tempat untuk aku melarikan diri ,?" Jawab Azka dengan suara berat.
"Di mimpi burukku, aku yang memasukkan kalian ke jurang, ternyata aku sendiri yang terjebur ke dalam jurang itu, aku sakit pak😥😰😭 aku hancur, semuanya, tak ada harapan untuk sementara ini, aku harus cari cara lain untuk menyambung hidup, apa aku harus mondok ? Agar tenang,."
"Di pondok tidak boleh bawa HP, kalau di kampung saja den, di kampung yang banyak orang ibadah, atau dekat pesantren ." Jawab pak Ahmad mencoba cari solusi.
"Entah la..h nanti cari informasi dulu." Azka memejamkan mata dan membuang nafas yang menyesakkan dada.
__ADS_1
.....Bersambung....