
Setelah solat asar mereka kembali ke tempat awal melukis, sambil menikmati suasana di sore hari. Pemandangan luar biasa. Semilir angin, desiran ombak menambah kemesraan.
" Bukan untaian kata di balik senja, bukan matahari yang akan tenggelam, tapi mentari telah membawa senja itu. Manusia hanyalah turob (debu), debu yang kotor namun bisa bersih. Pada dasarnya kita hanyalah insan yang mencari sesuatu, rasa bahagia, hura-hura, mencari kesenangan dunia, keabadian ini tak akan lama. Dulu aku tak bisa apa-apa, hanya menangis, lalu bisa bicara, lalu bisa berjalan dan tumbuh selama 28 tahun. Sangat singkat dan seperti mie instan." Dari berkata-kata lalu jadi canda Azka, wajahnya datar mengucap mie instan. Azka masih dalam menikmati ucapan puitisnya, Laila memandang senja.
" Aku mengajukan profosal cinta tapi tak selesai, artikelku kandas dan buntu. Memori menghilang seiring waktu dengan bergantinya musim. Dari mata turun kehati, hanya Laila sang pemikat hati.
Badai keresahan telah menerjangku di saat aku tak bisa bersamamu, aku ingin mencintaimu secara normal dan wajar, namun aku hanya lelaki biasa, dengan cinta yang luar biasa, aku tidak ingin seperti Qais, tapi diam-diam aku mulai menjadi Qais, aku tidak dapat menyangkal perasaanku.
Aku termenung, tak berdaya ketika aku tersiksa rindu, kata-kata cinta mengiang-ngiang setiap saat, setiap waktu. Benar kata penyinta, Cinta datang tak berwaktu. Semua BiidnillAh..." Azka tertawa, lalu melirik ke Laila, Laila tersenyum, senyuman yang sangat manis.
" Kau memandangku, aku tahu..., aku pandai menya'ir, he he he itu penilaianku sendiri."
Azka melirik, Laila tersenyum lagi lalu di susul dengan tertawa ringan, Azka yang baru melihat senyuman itu, ia langsung memejamkan mata.
" Aku terlalu takut pada cintaku, aku takut akan membuatmu kecewa dan terluka, hatiku tak mampu, tapi sikapku dan keegoisan itu pasti akan ada, Kak Azka, aku boleh jujur," Laila memandangnya. Azka melihat tatapan yang tak ingin ia lewatkan.
" Iya," Jantung Azka berdebar.
" Ada..., kulit cabe yang nyangkut di gigi." Laila merunduk dan tertawa. Azka malu ia segera mengambil ponsel untuk mencari sesuatu yang nyangkut di giginya.
'Dasar ini memalukan, udah ser seran di hati ternyata malah hal menjijikan.' Batinya.
" Sudah tidak ada?"
" Iya.."
Azka memandang mentari yang akan tenggelam.
" Kak Azka..."
" Iya..., jangan memberi harapan palsu lagi," tegur cepat Azka karna ia tidak mau malu lagi.
" Sini mendekatlah." Suruh Laila membuat Azka melotot. Laila menarik Azka, Azka terjatuh tangannya menyangga di kursi roda. Mata mereka saling bertemu dan saling memandang.
" Mau berdansa..." Ajak Laila sambil mengulurkan tangannya. Azka berdiri lalu menggapai tangan Laila, mereka bergandengan.
'Mana bisa aku menolakmu, aku terpaut. Aku tersengat.' batin Azka.
Keadaan menjadi sahdu dan romantis,nyanyian alam di sore hari, desiran ombak menemani mereka.
Senja sore saksi mereka, tangan Azka merangkul pinggang Laila dan Laila berpegangan erat di pundak Azka, kedua kaki Laila sudah menumpang di atas kaki Azka. Memeluk dengan erat agar Laila tak terjatuh.
__ADS_1
" Kak Azka jangan grogi...,
sampai berkeringat," Laila menegur Azka yang mulai melangkah dan merunduk sambil tersenyum-senyem, Laila mengusap keringat Azka dengan kerudungnya, Azka menelan ludah, Azka berusaha menyembunyikan rasa bahagianya.
" Aku akan mengakui..." Ucap pelan Laila,
" Mengakui apa?" Azka terlihat sangat grogi.
" Kak Azka rilex dong. Detak jantungnya sangat keras deg deg deg, hem..." Laila tersenyum. Azka diam ia tak berani mengeluarkan suara.
" Trimakasih atas cintamu, dan kesetiaanmu," Ucap Laila yang tiba-tiba mencium pipi Azka.
Mata Azka terbelalak lebar dan menghentikan langkahnya sejenak, setelah mendapat ciuman yang membuatnya serasa tersetrum hingga melonggo.
" Aku tersetrum." Ucap Azka tanpa exprasi, wajah datarnya membuat Laila tertawa.
" Sejujurnya aku selalu menunggu kak Azka, aku sama sekali tak pernah jatuh cinta kepada Andre," Azka menatap Laila, Laila menyandarkan kepalanya ke pundak Azka,
" Jika aku mengakui cintaku itu akan memalukan, sangat memalukan, aku tak bisa mengajukan profosal cinta, atau artikel perasaanku. Aku hanya berpura-pura berpaling, tapi setelah melihat pengorbanan dan ketulusan kak Azka, aku sadar, jika aku juga harus berjuang, dan membalas cinta kak Azka. Aku tidak boleh egois, aku masih mencintaimu sampai kapanpun, dari dulu, aku tidak mau merepotkan kak Azka, tapi dari sekian lama, hatiku sakit jika terus berpura-pura dalam kebohongan, aku mengakui perasaanku."
" Katakan Laila ini bukan halu ku, 'kan?" Azka memandang tajam Laila, Laila mengangkat kepalanya, mata Azka berkaca-kaca, dan masih tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Laila merangkul erat, tanganya yang kanan menghapus air mata Azka.
" Kak Azka maafkan aku, membuatmu tersiksa selama ini, aku juga tersiksa, sangat, aku sangat tersiksa melihat kak Azka merawatku, namun aku terlalu egois, dan aku akan berdosa jika terus berbohong, aku di tegur abis-abisan dengan Mas Asfi." Ungkapan yang jujur baru saja di mulai.
" Aku tidak berbohong, apa perlu bukti?" Laila memandang Azka
" Aku perlu bukti." Cepat Azka memandang ke tempat lain.
" Oke. Apa?" Tanya Laila. Mereka masih hanyut dalam berdansa.
" Berikan malammu," Tantang Azka, Laila tertawa, ia tak takut sama sekali.
" Oke..., namaku saja sudah malam, malam yang bagaimana lagi?" Laila terlihat sudah capek, kakinya mulai melemas dan akan terjatuh. Azka langsung membopongnya, Laila menatapnya penuh dengan cinta.
" Aku sadar aku memang cukup tampan, keren, untuk di kagumi," Azka sangat GR.
" Untung saja aku sudah mengenal, kalau tidak, akan ku cubit." Kata Laila masih mandangnya, Azka tersenyum tipis,
" Jika keren dan ganteng kenapa tidak ada yang mau berteman dengan kak Azka. Malah berteman dengan Mbak Salwa." Lanjut Laila.
" Ah..., awalnya pria kesepian, atau pria malang. Aku masih belum percaya dengan perkataanmu." Azka menuruni anak tangga, Laila memandang ke arah matahari yang akan tenggelam.
" Aku bukan perangkai kata, aku tidak bisa puitis, aku hanya pelukis yang mendambakan cinta, cinta yang tulus bukan karna kasihan. Kata-kata yang tak bisa di ungkap kan, aku bahagia," air mata haru berlinang.
__ADS_1
" Sudah sekian lama aku menyimpan, dan aku tak tahan lagi, aku rindu. Trimakasih Suamiku. Aku tidak ingin menjadi embun, karna embun hanya di pagi hari mengendap lalu menguap, itu hanya beberapa jam, dalam bertahan. Aku hanya gadis yang ingin mencintai dan di cintai dengan ketulusan, aku ingin cinta ini menjadi hal positif dan kebaikan, dan menambah ketaqwaan kepada Allah, namun aku meminta satu hal dari Kak Azka."
" Apa?" Azka memandang dengan sorot mempesona, Laila berpaling karna sudah terperangkap dalam tatapan Azka.
" Jangan bergantung pada kekayaan, kak Azka harus punya cita-cita, cita-cita yang sudah di dukung dengan cinta harus terlaksana, jadikan aku kekuatan untuk meraih cita-cita kak Azka." Laila memberi semangat kepada Azka.
" Cita-citaku ingin jadi Arsitek, agar bisa memahat namaku di hatimu," Laila tak menyangka Azka akan mengombal, senyum Laila melebar. Hatinya serasa di sirami bunga-bunga.
" Aku sangat suka membangun dan mendisain sesuatu, termasuk dekor pengantin, lalu menurutmu?" jawab Azka, begitu yakin dia mangempunyai bakat dalam mendesain rumahnya, seperti pernikahan Salwa dan Asfi ia yang mendisain.
" Itu sangat baik. Aku akan mendukung,namun jangan memakai uang modal dari Mami Sofia, aku yang akan memodalinya, kita akan sama-sama mandiri." Tegus Laila.
" Jika mendapat modal darimu, aku akan menganggap hutang, karna suami yang wajib mencari nafkah untuk istrinya. Aku juga ingin mendirikan panti jompo." Lanjut Azka.
" Aku akan mendukung." Laila bersemangat.
" Lalu apa bukti cintamu? aku masih belum percaya.." Lanjut Azka mengungkit hal tadi.
Azka menurunkan Laila ke kursi roda dengan pelan.
" Aduh berat juga." Keluh Azka, wajah Laila berubah. Laila membuang nafas.
" Jangan meneluh, ini pilihanmu 'kan."
" Maaf," Azka mencium punggung tangan Laila.
" Minta lah haq kak Azka, aku sudah siap." Kata Laila, Azka tersenyum.
" Maukah malam ini?" ajak Azka berharap, Laila tertawa.
" Kak Azka..." Laila menarik lengan Azka yang ada bercak darah. Laila mengusap-usap sampai hilang bekas noda darah di lengan Azka. Laila panik, Laila menangis malu.
" Emmm, darah M ? udahlah," Tanya Azka, Laila mengangguk malu ia menutup wajahnya.
" Siap-siap bantalnya hamil lagi.." Azka bergurau, dan berhasil membuat Laila tertawa. Azka tertawa.
" Bolehkah..., aku?..."
" Cium, silahkan."
Azka tersenyum, ia sangat Bahagia. Perasaan yang tak bisa di gambarkan. Mentari tenggelam.
" Jangan, nanti tegang, aku harus solat magrib." Azka mendorong Laila, ia sedikit tergesa-gesa karna akan solat.
__ADS_1
Bersambung...