
Bogor adalah tempat yang sejuk, dan di juluki kota hujan dan sekarang pun mendung petang, hamparan tanaman teh berjejeran bak labirin, luas dan hijau setiap mata memandang sudah di suguhi pemandangan sejuk dengan keharuman dari tanaman tersebut, mereka sampai di kawasan puncak.
"Aku merasa ini lebih dari dua jam ini masih jam 07:30 masih pagi. Tapi..., aku laper, bayi ini kerencongan!" Laila tak tahan dan mengelus perutnya ingin makan, ia merengek manja tapi menghadap luar kaca.
"Aku sangat faham, katakan saja kamu ingin turun dan menikmati bau daun teh, ia 'kan?" Azka menghentikan mobil, Laila tersenyum lebar, suaminya sangat mengerti maunya hadia ciuman di pipi Azka, Azka tersenyum singkat.
"Trimakasih." Laila turun ia berjalan cepat dan segera bercengkrama dengan pemetik daun teh. Azka berkali-kali terpesona dengan kesederhanaan istrinya.
"Aku jatuh cinta dengan semuanya darimu, jangan pernah tinggalkan aku." gumamnya, yang terus memandang Istrinya dari jarak 200 meter.
Azka duduk di atas mobil depannya dan membuka hpnya. "Sudah ku tuntaskan semua nomer hp, tinggal milik Mami, tapi bisa saja mereka sudah berhasil melacak nomer Mami! Aduh. Gawat!"
Azka menelpon nomer rumahnya.
"Halo Siang. Ini dengan Agus, maaf tapi Nyonya dan keluarganya sedang berlibur ke luar Negri" Pak Agus menyambut dengan kata itu karna suruhan dari juragannya.
"😆, Keren Pak! Ini nomerku, apa sudah ada kabar soal alamat Papi?" Azka tertawa mendengar Pak Agus sedikit panik. "Yang rilex Pak! Agar mereka tak curiga, santai, badan Bapak kan besar, seperti gatot kaca, jadi..., santai dan tenang, jika Bapak panik akan bahaya. Ada kabar penting?" tegurnya.
"Baik Den,😆, Saya gugup Den karna baru makan jauh dari kaum Hawa sengsara Den, walau kami sering di abaikan gara-gara Film India dan Drakor, ternyata saat begini kerepotan. Oh. Ya, kembali ke topik! Belum Den, tapi Mbak Salwa berkunjung kemari, dan ada yang mengikutinya, Pak Adi sudah berhasil mengalihkannya, yang mengikuti Mbak Salwa!"
"Mbak Salwa!" sela Azka ia terus berfikir dan mulai panik, "Seperti apa Pak? Orang mana?" lanjutnya.
"Saya tidak faham Den! Kata Pak Adi wajah asli.., tulen Indonesia, Pak Adi berusaha mencari informasi, dia orang Kebumen Jawa Tengah, dia juga mafia besar, kata Pak Adi dia sering mematai-matai rumah ini, dan mempunyai tompel yang besar di lengan kanannya. Namanya Ferdi," cerita dari Pak Agus, membuat Azka khuatir soal Salwa, anaknya dan Asfi.
"Oke Pak, tolong putus semua kabel telpon rumah, dan beli hp kecil yang bukan android, lalu hubungi aku pakai hp itu ke nomer Vila, dan sembunyikan rapat hp kecil itu, hati-hati Pak Agus." Azka makin tegang ia segera menelpon Salwa.
"Assalamu'alaikum, maaf salah sambung." Salwa terdengar ketakutan.
"Tunggu, ini aku Azka," sela Azka cepat tanpa menjawa salam, Salwa menghembuskan nafas lega, " Wa'alaikumsalam, malah baru jawab salam, Mbak terburu-buru banget! Maaf ya Mbak! Gara-gara aku Mbak ikut sangkut paut, tolong Mbak dengar kan baik-baik, rumah Mbak tidak aman, bisa kah Mbak pergi ke rumah orang tua Mbak, nanti aku suruh beberapa Polisi untuk mengecoh para Mafia itu, Mbak nanti akan di antar sama Pak Adi, dia jago karate dan silat, Mas Asfi ada?"
"Mas Asfi sedang pergi ke Jogja, makanya Mbak ingin ngobrol dengan Laila, malah berbahaya, Ya Allah, aku takut Ya Allah lindungi hamba dan anak hamba," Salwa gelisah dan terus menciumi anaknya.
"Aamiiin Allah pasti akan melindungi Mbak! Mbak jangan takut! Aku akan pantau dari kejauhan hingga Mbak aman dari Mafia itu. Mbak harus ganti nomer hp, atau pakai nomer itu tapi pakai hp lawas hingga tidak ada jaringan internetnya, faham kan Mbak, lagi Mbak! Ketika nanti ada Polisi dengan suara sherenanya sudah ada di depan rumah Mbak, Mbak segera keluar dan perhatikan orang berpakaian Betawi dia pak Adi, ini adalah misi dia menyamar dan memantau rumahku dari luar, jadi Mbak segera bersama Pak Adi, karna saat ada Polisi tidak mungkin para Mafia itu di situ, pasti mereka bersembunyi, dan Mbak harus berpakaian atau menyamar, karna mata mereka sangat tajam bisa saja mereka tau kalau Mbak keluar dari rumah."
"Tuh kan! Malah nakut-nakutin." sela Salwa yang tambah panik.
"Mbak ingat saat kita pergi ke diskotic malam itu, penampilan Mbak sangat keren dan tak bisa di kenali, atau dasder nenek yang lagi momong cucunya Pak Adi kan Kakek. Jadi mereka akan mengira kalian kakek nenek yang sedang lewat." jelas Azka mencoba menenangkan Salwa yang terdengar menangis, tapi ia tahan.
"A_aku akan menuruti kata-katamu, entah itu jadi Nenek atau seperti malam itu, aku akan menjaga anakku." suara Salwa terpecah.
"Jangan menangis Mbakku..., hatiku terluka, sakit dengarnya, sakitnya tuh di hati...," Azka berkata lebai.
__ADS_1
"Kau masih bisa membuatku tersenyum."
"Aku beri waktu 15 menit, oke Mbak! Tidak boleh terlambat, aku putus telponnya, dan cepat ganti kartu hp ke hp lawas! Assalamu'alaikum." Azka menutup telpon.
"Wa'alaikumsalam." Salwa langsung bergegas, ia meng ofkan hpnya. Kini nomer hpnya tidak aktif.
Sementara Azka mengecoh Polisi pakai hp Istrinya dan mengatur suara hingga terdengar itu suara wanita. "Tolong...., ada perampok Pak..., di he he he hiks, saya takut" Azka merengek pelan namun di hatinya tertawa dengan puas.
"Dimana?" Polisi terdengar merespon dengan baik.
'Aduh Biyung..., Aku lupa!' Azka berfikir sejenak dan mengingat-ingat agar Polisi tidak curiga ia membuang nafas tergesa-gesa seperti ketakutan "He.., heh! heh. Perumahan elit Nomer 17 jalan merpati. Pak, cepat ya Pak, bahaya, keluarga Saya." Azka berbisik lalu memukul sesuatu dengan suara keras, dan menganti aplikasi suaranya, "Beraninya Kamu!" seolah-oleh hp sudah di rebut perampok, Azka berekting agar lebih nyata.
Polisi segera mematikan telpon, dan Azka yakin Polisi segera kesana.
Azka langsung memberi pesan lewat SMS ke nemer Pak Adi. "Jemput Mbak Salwa antar ke rumah orang tuanya." Azka hanya memberi pesan singkat.
[Oke Den!] Hanya itu balasan SMS Pak Adi. Azka tertawa sendiri ia merasa gila karna sudah berbicara berita hoax pada Polisi. Ia segera mengganti nomer Istrinya.
Ia turun dari mobilnya lalu melihat dan mengamati, setelah beberapa saat ia tak melihat keberadaan istrinya, ia berlari dengan sekuat tenaga ke tempat terakhir ia melihat istrinya.
"Laila..." Ia mulai berteriak, "Laila...!!!" Ia mulai panik dengan mata berkaca-kaca "Suasana genting malah hilang lagi! Kenapa kau suka membuatku mencarimu merah jambu, kenapa kau sangat suka membuatku panik, Ya Allah, ampuni hamba, hamba berbohong karna demi kebaikan untuk Mbak Salwa, untuk keamanan Azka junior walau Engkau selalu melindunginya," gumamnya,
Azka mengigit ibu jarinya tangan kanannya dan tangan kirinya ia letakkan kepinggang, sambil menoleh kekanan-kekiri tak ia dapat gambaran dari Laila, mendekati Ibu-ibu yang sedang memetik teh.
"Iya Bu, kemana ya?" Azka langsung menghadap ke Ibu itu.
"Tuh di sana" tunjuknya.
"Trimakasih Bu!" Azka bergegas, ia berlari 23 langkah.
"By!" panggil Laila muncul dari persembunyiannya. Azka menoleh ke arah Laila, ia berlari ke Laila memeluknya dengan sangat erat.
"Kau sangat suka membuat aku panik!" Azka menangis, ia segera menghapus air matanya karna malu menjadi tontonan.
"Maaf aku ikut makan, aku laper aku membeli makanan Ibu itu," jelas Laila menunjuk ke Ibu yang tadi memberitau Azka. "Makan di sini sangat nikmat. Nih!" Laila menunjukkan rantangnya. Azka yang tadi terlihat kesal kini ia pun tertawa.
"Jangan lakukan ini lagi" Azka mengecup kening Laila, "Sampai belepotan, jangan malu-malu in dong. Sayang!"
"Aku membeli makanan ini, ini seperti piknik, jangan marah.., Ya?" Laila menatap Azka, Azka tersenyum.
__ADS_1
"Tidak! Tapi kita harus cepat pergi dari tempat ini. Ada sesuatu penting." Azka mengandeng Laila, dan berjalan cepat, Laila masih tak rela ia menyebar senyum ke warga. Dan masih membawa rantang itu.
Mereka masuk mobil, Azka langsung menancap Gas. "Aku harus carikan tempat aman untuk kamu dan Mami, mereka sangat cepat, aku mengganti nomer telpon mu,dan tolong untuk kali ini, jangan pernah jauh dari hp, jangan membuatku takut lagi. Ingat!" Azka sangat serius, Laila merasa sangat di lindungi.
"Kau mengerti? Kok malah nangis!" Azka melirik, Laila menghapus air matanya.
"Aku baper, hatiku berkecambuk karna ketulusan cintamu, by..., i love you." Laila bersandar di pundak Azka.
"Kau tadi bersembunyi, jangan pernah ulangi itu lagi? Kau tak tau rasanya!" jelas Azka, sontak Laila duduk tegap.
"Aku sangat tau, kehilangan orang yang pertama ku cintai Bapak dan Ibu, maaf tadi aku memang jail, tapi aku tak tega, jadi aku memanggil, awalnya Ibu itu aku suruh bohong, tapi kemudian hatiku yang terlalu cinta tak mau kamu berlari lebih jauh, saat sudah di dekatku, aku kalah dari persembunyian." ucapan dari Laila, Azka memandangnya, Laila menarik tangan Azka dan meletakkan di perutnya, Azka tersenyum.
"Kamu..." Azka kembali meletakkan kedua tangannya ke setir.
"Tidak tau malu, kan aku bilangnya laper! Ya memang ingin juga menikmati bau dari teh. Trimakasih By ku..." Laila kembali menikmati perjalanannya.
Hp Azka berdering pesan SMS dari Pak Adi.
[Aman Den, mereka terkecoh dan tak mengenali kami, hp neng Salwa juga
pakai hp lawas, saya kerja lagi Den.
Detektif Conan jadi Adi]
Azka hanya tersenyum dan membalas [Oke].
"Kenapa tersenyum?" Laila curiga.
"Aku takut! Saat mencarimu, seperti Qais yang meratap di dinding rumah Laila, tapi tak bisa berjumpa," ujar Azka, Laila mencubit pelan lengan Azka.
"Memang nyata?" tanya Laila mengangkat kedua alis.
"Kisah itu fenomenal, melegenda!"
"Nyataan kisah kita," singkat Laila, Azka menghentikan mobil, "Kenapa berhenti?"
"Aku laper, butuh asupan untuk menyrtir," jawab Azka, Laila mengambilkan rantang.
"Doa dulu!" dan menyuapi suaminya, tak lama, Azka menjalankan mobil, dan hanya jalan 5 menit berhenti lagi.
"Kok berhenti?" Laila heran.
__ADS_1
"Noleh ke belakang!" suruhnya, Laila menoleh senyumnya terbuka mereka sampai di vila.
Bersambung