
Hari hari berlalu dengan sangat indah, berlalu dengan cepat. Azka dan Laila memutuskan pulang ke Jakarta.
Cukup lama mereka berjauhan dengan keluarga. Kini mereka memutuskan kembali, dan bersatu. Keindahan dan keromantisan terjaga, Azka selalu memperhatikan istrinya.
Namun ada yamg berbeda hari ini.
" Kak Azka mandi tidak sih? kok bau kambing!" Laila menutup hidung dengan jarinya.
" Aku mandi. Bauku seperti biasanya." Jelas Azka yang berjalan di samping Laila, Laila berjaga jarak.
" Aku lagi ilfil, jadi jangan mendekat." Laila memberi lampu merah pada Azka. Azka hanya menuruti istrinya sambil menggaruk kepalanya.
Mereka berada di bandara Ghimpo, Laila sangat jauh duduknya, Azka mendekati. Laila menjauh lagi, Azka kembali mendekati.
" Kak Azka bauk. Aku tidak suka." Laila mengindari Azka. Azka menciumi bau tubuhnya. Ia merasa sedih dengan sikap Laila.
" Kak Azka jangan mendekat aku tak mau." Keluh Laila, Azka membuang nafas lalu fokus dengan ponselnya, ia mulai mengejar cita-cita ia mulai membuat pola sisi ruangan disain perumahan.
" Kak Azka, aku ingin es crem." Pinta Laila, Azka sudah terlanjur fokus pada ponselnya. Laila merebut ponsel itu, lalu menjauh dari Azka.
__ADS_1
" Sebenarnya mau mu apa sih!" Azka terlihat kesal dengar suara keras yang menyakitkan hati, Laila malah diam dan menangis, ia merunduk.
" Maaf, tadi kamu mengejekku bau dan sekarang meminta sampai merebut hp, dan aku mulai fokus dengan pekerjaan yang kamu inginkan aku mandiri, jangan seperti itu aku bingung." Azka duduk di bawahnya, Laila mendorong Azka sampai terjatuh. Azka sangat kesal, ia menjauh duduk di kursi sebrang dan mereka saling diam. Setelah beberapa menit Laila beranjak dari tempat duduknya lalu meletakkan ponsel Azka di paha Azka, Laila pergi dengan cepat, Azka hanya memperhatikan istrinya.
Setelah 5 menit Azka mulai mencari istrinya, ia menelpon Laila dan Laila tidak mengangkatnya.
Azka mendatangi toko-toko dan menunjukkan foto Laila, mereka tidak tau, Azka mulai panik. Azka berlari kesana kemari. Dan masih tidak menemukan Laila.
" Kamu di mana merah jambu? Ternyata aku mengalami hal yang sangat sulit mengerti, diamnya wanita yang ingin pria peka, tapi mana bisa para pria tau kalau dia hanya diam dan terus menangis, senjata paling ampuh terah meluncur, wanita, wanita..." Gumamnya.
Azka masih mencari Laila, air matanya berlinang, kebingungan mulai melanda dan menabrak hatinya. Azka tak berhenti dalam penjarian, Azka masih terus mencoba menghubungi nomer ponsel istrinya. Ia meninggalkan pesan suara.
" Kau dimana? aku kuatir, Laila..., kau dimana? tolong lah, setidaknya jawab aku." Pesan singkat, Azka menoleh ada yang menepuk pundaknya, Azka tersenyum lebar ia menoleh, matanya terbuka lebar saat tau ternyata bukan Laila.
" Iya. Siapa ya?" Azka sangat asing dengan wajah itu.
" Tadi istrimu memberikan tiket pesawatnya, dia yang menguruskan karna kami sangat butuh, dan kami kehabisan tiket." Jelas pria berkaca mata yang kira-kira umurnya 50 tahun.
" Lalu sekarang istriku dimana?" tanya Azka dengan wajah yang sangat gugup.
__ADS_1
" Dia menenangkan diri, pesannya jika kamu mencintainya kamu pasti bisa menemukannya." Jelas orang itu.
" Kenapa jadi teka-teki, ya Allah." Azka berlari, tanpa tau tujuan.
" Ini uangnya..." Teriak pria itu.
" Ambil saja doakan aku supaya bisa menemukannya." Teriak Azka sambil berlari. Uang berapapun tak bermasalah bagi Azka, ia mulai mencari ke Hotel Silla.
" Hay Azka..." Teriak Andre, Azka menoleh lalu berlari ke Andre.
" Apa kau lihat Laila?"
" 😆😆😆 Selama ini kalian sangat lengket kenapa bisa berpisah?" Andre tak serius.
Azka sangat malas melihatnya, ia berlari tak memperdulikan Andre lagi. Azka memanggil taksi dan terus mencari, ia mencoba mencari di GPS. Namun tak berhasil.
Kebingunan melandanya ia mulai gelisah. Kesana kemari tapiasih tak menemukan keberadaan istrinya.
'Kau di mana, apa kesalahanku terlalu fatal? hingga kau menghukumku seperti ini. Laila..., Merah jambu, apa tadi aku terlalu kasar? jangan tinggalkan aku Laila, aku takkan sanggup..' Air mata Azka nerlinang rasa takut kehilangan telah datang.
__ADS_1
Rasa takut kehilangan, apa yang sudah di dapat, yang sudah di perjuangkan selama ini, masa akan terpisah karna hal sepele.
Bersambang