
Ketidak beruntungan sudah di rasa Laila sejak kecil, karna ia yatimpiatu, kini ia merasa sangat istimewa karna memiliki Suami yang sangat amat mencintainya, mertua yang baik dan para pegawai yang seperti teman.
Manusia hidup bersama karna saling membutuhkan saling menyayangi dan mengasihi, di rumah istana pegawai pun bebas seperti di rumahnya sendiri, Azka dan Maminya sangat percaya dan memberi kenyamanan, mereka juga bersikap baik, biasanya orang memiliki watak yang berbeda-beda, ada yang mudah marah, mudah tersinggung, ada ceplas-ceplos dengan cara bicaranya, namun kesalah faham tak terjadi karna saling pergertian mungkin karna usia juga.
Laila dan Azka turun dari mobil mereka hendak masuk ke Vila, para pegawai sudah beres-beres, Bik Mia menyapu dan Bik Asih yang mengepel dan Bik Lastri yang menyapu di tanah memakai sapu lidi. Dan Bapaknya ada yang memangkas rumput dan lain-lain.
Laila ikut andil Azka juga, tanpa ganti baju mereka merebut sapu lidi Bik Lastri karna usia paling tua, Azka pun mengalah dan meminta sapunya Bik Miah.
"Sudah selesai Den." tegur Bik Mia, Azka tertawa sambil mengelus rambut di ubun-ubunnya sangat terlihat dia malu.
"Bik Asih, boleh saya bantu?" Azka mendekat, Bik Asih malah tertawa.
"Ini udah mau selesai Den! Lagian kami bagi tugas habis ngepel juga bisa nonton India, ini memang besar, tapi tidak sebesar rumah Aden." lanjur Bik Asoh sedikot berbisik, Azka tertawa.
"Ganti haluan Bik? Sekarang favoritnya India? Bukan Drakor lagi?" tanya Azka, sambil bersandar di tembok.
"Ya mana-mana yang bagus, film Indonesia juga bagus, tapi kalau aksinya nyata India den." Bik Asih pergi, hp Azka berdering lagu Armada yang berjudul Wanita paling berharga telah bersuara, jelas itu nada panggilan.
"Assalamu'alaikum?" Azka mengangkat telpon dari Pak Adi.
"Wa'alaikumsalam, Den, Gawat!" suara panik, Azka sontak berdiri tegap matanya terbuka lebar.
"Ada apa?" ujar Azka, Laila langsung menoleh karna mendengar suara Azka yang terdengar panik.
"Anak Pak Ahmad yang brandal itu ikut di mavia ini," Pak Adi memutus telponnnya, Azka tercengang ia melihat Pak Ahmad yang sedang memangkas rumput.
"Pak Ahmad," Azka melangkah ke tukang rumputnya sekaligus juga teman curhatnya, Laila tau mereka akan mgobrol penting, ia segera langsung masuk.
"Iya den" toleh Pak Ahmad, Azka di sampingnya, ia jongkok sambil mencabuti rumput dengan jarinya.
"Pak Ahmad sudah ada kabar soal Roji?" Azka mencoba bertanya.
"Sudah setahun ini tak ada kabar, bulan lalu saya pulang sebentar ke desa, tapi tidak ketemu, jika dia di jalan yang salah semoga Allah menghukumnya," ujar Pak Ahmad, Azka memandang Pak Ahmad.
"Jika dapat teruguran pasti dia jera dan taubat, dia terlalu urakan Den! Rusak! Apapun di lakukan, aku pulang untuk ganti rugi ke tetangga, di usia seperti ini hanya ingin lihat anak cucu dalam kehidupan baik. Heh.." hembusan nafas berat dari Pak Ahmad terdengar menyakitkan bagi Azka, Azka mengajaknya berdiri.
"Saya sudah iklas, jika dia perlu di hukum lewat penjara, saya juga terima karna dia berbuat salah, apapun yang terbaik yang dapat membuatnya tobat, hingga tidak berbuat jahat lagi," lanjutnya karna mengenal tingkah dari anaknya, "Ngomong-ngomong kenapa Aden menanyakan Roji?" susul Pak Ahmad yang heran, Azka tersenyum.
"Tidak Pak! Aku hanya ingin tau kan lama kita tidak ngobrol, keadaan diabetes Bapak bagaimana?" Azka tak mengatakan sejujurnya, karna takut membuat Pak Ahmad merasa tak enak.
"Alhamdulillah sudah membaik, ya di suruh berjemur di sini dingin, hujan den ayo masuk," Pak Ahmad masuk dengan berlari, Azka menaikan wajah ia ingin merasakan kenikmatan sama saat Laila menikmati itu, Laila yang mendengar suara hujan pun langsung keluar, ia berdiri di teras, melihat Azka yang menikmati air segar dan halal dari Allah itu mengaliri wajahnya.
"Sayang...." panggil Laila, Azka menoleh ia segera ke teras, berdiri di samping Laila, Laila mengelapi wajah Azka dengan sapu tangan milik Azka yang bertulis Merah jambu dan Spongebob.
__ADS_1
Azka memegang tangan Laila, "Aku harus bagaimana?" Azka bingung ia menyandarkan kepalanya ke pundak Laila, walau sangat tak nyaman, tapi itu yang di inginkan Azka.
"Kita masuk, ganti baju, kita ngobrol" ajak Laila, mereka masuk ke kamar, Mami Sofia hanya melihati Azka, langkah Azka berlalu ia kembali dan memeluk Maminya.
"Mami sempat cemburu, dan Mami mengira kamu tak peduli, karna kamu lewat begitu saja." keluh Mami Sofia,
"Jangan berfikiran begitu Mam, ada yang perlu kita bahas!" Azka melepas pelukannnya,
"Mami tau. Sana ganti baju dulu, nanti kita ngobrol, maafkan Mami Azka." ujar Maminya penuh sesal karna melibatkan Azka ke soal berlian.
"Mi..., tidak perlu minta maaf, aku ganti baju dulu." Azka ke kamar, ia menaiki tangga.
"Laila buatkan wedang jahe dulu." suruh Mami Sofia yang lalu duduk di sofa.
"Iya Mi.." Laila kedapur, tak lama ia kembali.
"Sayang kamu tidak boleh banyak fikiran," kata itu tiba-tiba terucap, Laila meletakkan minuman hangat lalu memeluk mertuanya tak lama melepasnya, mereka duduk bersama.
"Kamu istimewa bagi Mami, Azka milik kita, trimakasih kamu sudah membantu Mami, tapi Mami tahu Anak Mami itu cerdas, dia sangat cepat tanpa kita sadari dia maju satu langkah dari Mafia itu, cepat bawakan minuman itu, nanti kita atur strategi lagi." suruh Mami Sofia.
"Aku sangat bahagia, mempunyai Mertua yang amat baik padaku, trimakasih Mi, aku merasa istimewa" Laila mencium tangan tangan Mami Sofia matanya berkaca-kaca, sentuhan halus membelai kepala Laila.
"Mami yang bahagia, kamu berhasil membuat Azka mandiri, sudah cepat sana antar wedangnya!" suruhnya, Laila berdiri mengambil cangkir lalu pergi ke kamar.
Azka bangun dari tempat sujud ia mengusap wajah dengan kedua tangannya, Laila duduk di depan Azka.
"Minum dulu!" pinta Laila menyodorkan cangkir, Azka minum teh jahe buatan istrinya.
"Boleh aku pinjam pahamu?" pintanya menatap penuh iba, Laila mengangguk, Azka berbaring kepalanya berbantal paha Laila. Laila memijat kepala Azka.
"Aku bingung, harus bagaimana?"
"Soal apa?" tanya Laila berhenti sejenak dari pijatannnya.
"Soal anaknya Pak Ahmad, namanya Roji dia ikut komplotan mafia itu, Pak Ahmad siap jika Roji di hukum, tapi aku tak tega jika harus mengatakan, kalau Roji adalah salah satu musuh dari majikannnya! Selama ini Pak Ahmad merawatku seperti anaknya, beliau teman ceritaku dalam segala hal, termasuk aku memendam rasa untukmu, beliau adalah Ayah pengganti, bisakah kau carikan aku solusi?" pinta Azka dengan pejaman mata.
"Kita buat Roji taubat!" ceplos Laila mudah, Azka langsung duduk, ia terkejut dengan ucapan dari istrinya.
"Apa maksudmu? Bagaimana bisa?" Azka bingung, Laila tersenyum ia meraih tangan suaminya.
"Orang jahat karna kebanyakan motifnya hanya uang, ingin kaya, ya perkara dunia! Sekarang gini..., apa motif Roji ikut anggota mafia itu? Kita tidak tau 'kan, mungkin saja dia merasa kurang uang atau ingin bekerja sendiri dan berfoya-foya. Lalu jika sama-sama mencari uang dengan bayaran mahal antara nyawa aman dan terancam, pasti banyak orang akan memilih kerja banyak uang dan aman, otomatis"
"Aku faham, jadi menurutmu, kita kerjakan Roji dengan bayaran mahal, gitu?" sela Azka, "Tapi tidak mudah sayang, mavia mengerikan! Jika salah satu ada yang berhianat pasti..." belum selesai bicara, Laila menyahut.
__ADS_1
"Allah lebih kuasa dari mereka, kita akan bantu anak Pak Ahmad di jalan yang benar, dan kita bisa melindungi lewat Polisi, kita akan aman setelah dapat bukti kalau mavia itu mengincar berliannnya Mami," jelas Laila, Azka terdiam dan terus berfikir, ia merunduk.
"Percayalah akan bantuan Allah, cari cara dan bujuk Roji." lanjutnya, Azka menatap istrinya.
"Aku akan usahakan. Bismillah bantu hamba ya Allah niat hamba baik Aamin, tapi sebelum itu aku harus berasil menemukan keberadaaan Papi di sini! Karna bantuan Papi sangat berguna! Trimakasih By.." Azka mencium kening Laila, Laila mencium tangan punggung Azka,mereka saling tersenyum.
"Berarti Papi di Bogor?" tanya Laila yang baru tahu.
"Mungkin! Karna Papi hidup di desa katanya di Desa ini, tapi belum tau pasti!" ujar Azka tapi tatapannnya lain, membuat Laila gugup, Azka tertawa.
"Kan Ku Sayang Engkau,
Sampai Akhir Dunia,
Kan Ku Jadikan...,
Kamu Wanita...
Paling Bahagia di Seluruh Dunia...
Karna kamulah satu-satunya...."
Azka menyanyikan lagu itu, Lagu dari band Armada. Ia persembahkan untuk istrinya, Laila tersipu malu.
"Untung suaranya lumayan." puji Laila, Azka tertawa 😆😆😆.
"Dari dulu memang merdu," GRnya "Lagi? Lagu apa ya..., dengar!" Azka melipat sajadahnya.
"lihat Hujan pun Turun...
Begitu Lebat, Begitu Deras...
Itulah..., Titik Airnya, Sebanyak Itulah..
Rasaku Untuk Mu...."
Azka berhenti bernyanyi, "Lupa..." ujarnya sambil menggaruk leher, Laila tertawa mereka berdiri.
"Berikan aku sesuatu.." Azka memeluk erat secara cepat, Laila sangat terkejut.
"Aku belum solat!" ujar Laila, Azka melepaskan pelukannya.
"Cepat solat dhuha." titah Azka yang kemudian membaringkan tubuh ke ranjang, Laila tersenyum lalu ke kamar mandi.
__ADS_1
Bersambung.