Mencintai Rembulan

Mencintai Rembulan
Hujan


__ADS_3

Malam masih berlanjut, bersama dalam kasih sayang, Laila menyuapi suaminya. Azka mencegah.


"Seharusnya kamu By..., makan yang banyak! Anak kita harus sehat." Azka menyuapi Laila, Laila tersenyum dan tidak menolak, makan bersama dengan keromantisan yang akan melimpah pahala keduanya. Mereka membuat baper para kaum jomblo.


"Udah By, kasian tuh yang melihat kita pada iri." Laila menegur karna merasa di perhatikan dua pria tanpa pasangan.


"Lagi pula udah abis. Ayo Go Home!" Azka berdiri mengajak lalu membayar makanannya. Laila berjalan di parkiran motornya.


Cekrek-Cekrek


Azka mengambil foto dalam kegelapan, senyum Laila mengembang, mereka menaiki motor, dan segera pulang.


"Trimakasih By." Laila memeluk erat dan menyandarkan kepalanya ke punggung Azka, Azka menyentuh tangan lembut Laila yang melingkari pinggangnya. Laila mencium leher Azka, dia tersenyum karna sedikit geli.


"Gurtah..." Orang lewat menyurakkan itu, Laila dan Azka tertawa dan malu.


"Kamu terlalu cinta." ucap Azka, Laila melepas pelukannya.


"Iya, malu sih. Tapi....๐Ÿ˜†" Laila sangat bahagia, mereka sampai di gerbang rumah.


Azka langsung memarkirkan mobilnya, di pos jaga ada Pak Adi sambil mengaji.


Laila turun, Azka juga ia kembali melepaskan helm dari kepala Laila, Laila membalas dengan melepaskan helm Azka, Azka memandangnya.


"Tak karuan rasanya, setiap hari kau bisa membuatku merasa jatuh cinta." Azka menghadiahkan ciuman di kening Laila, Laila meletakkan helm.


"Aku masih ingin sesuatu..." Laila mengayunkan lengan Azka, sambil berkedip manja.


"Apa? Aku belum baca 5 surat lho.." Azka menawar, Laila langsung cemberut. "Oke, ayo." Azka setuju, Laila bergoyang sebentar, dan membuat Azka tertawa.


"Dasar istriku๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†" Azka mengandeng istrinya mereka keluar dari garasi. Laila memandang langit.


"Aku ingin jalan-jalan pakai kaki, sejauh satu kilo." Laila meminta hal unik, Azka membuang nafas. "Mau 'kan? Anak kita ngiler lo..., nanti!" Laila membuat Azka tak bisa menolak.


Mereka mulai berjalan.


"Mau kemana Den?" Pak Adi berdiri.

__ADS_1


"Cari angin sebentar Pak! Kurang banyak anginnya." jawaban Azka membuat Pak Adi tertawa ringan.


Berjalan dengan langkah sedang di malam hari, Azka memutar lagu Band Republik yang berjudul "Aku Takut," Laila memandang suaminya.


"Jangan terlalu cinta, kapan pun kita akan berpisah. Sewaktu-waktu biidnillah(dengan izin Allah)"


"Aku berusaha mencintaimu secara wajar, tapi aku akan meminta, jika salah satu dari kita sudah di ambil Allah, aku minta lebih dulu meninggalkanmu." Azka berkata seperti itu.


"Aku dulu!" Laila menyaut.


"Jangan sayang, aku dulu. Udah! Di antara kita.., entah siapa yang lebih dulu pergi kita harus saling mendoakan." Azka dan istrinya berebut soal mati duluan, namun Azka meredam. Mereka berjalan, namun Laila berhenti, Azka tau jika istrinya mulai lelah.


Azka berbalik arah lalu membopong istrinya, dengan cepat, Laila terdiam merangkulkan kedua tangan di leher Azka.


"Kau sangat berat sekarang. Apa anakku mulai tumbuh? Bagaimana kabarnya? Aku sangat penasaran dan setiap malam aku berdo'a." Azka berjalan dengan membopong istrinya.


"Doa bagaimana?" Laila penasaran, ia memandangi suaminya, yang melihat ke arah jalan.


"Mau tau?" Azka malah main rahasia-rahasiaan.


"Katakan aku penasaran?"Laila menyandarkan kepalanya di bahu Azka, "Ya sudah aku tak.memaksa, karna aku yakin doa kamu pasti untukku dan anak kita." Laila menyerah dan tak bertanya lagi. Azka melihatnya sebentar senyum itu melintas di bibir Azka.


"Bicara apa. Aku mencintaimu, mencintai bukanlah hal yang merepotkan satu sama lain. Ini adalah sebuah ketulusan dari rasa sayang. Aku meminta semoga saat kamu melahirkan, aku yang merasakan sakit itu." Azka membongkar doanya, Laila menatapnya ucapan Azka membuat Laila sangat bahagia, ia juga terharu.


"Jangan. Biar aku yang merasakan sakit. Kamu suami ku, berjanjilah jangan meminta itu lagi," Laila menghentikan langkah Azka. Azka menatap Laila.


"Dengar. Jika aku yang merasakan sakit,mungkin hanya mondar mandir, tapi kamu! Aku tidak bisa, pengorbanan seorang Ibu itu sangat berat, jadi tolong jika Allah menghendaki, biarkan aku yang melasakan sakit itu." Azka sangat yakin dengan keputusannya.


"Tapi memang bisa?" Laila jadi penasaran.


"Jika Allah menghendaki apa yang tidak bisa.Karna satu bulan yang lalu, teman kontruksi istrinya melahirkan, dianya sampai sujud-sujud kesakitan. Suaminya yang merasakan sakit." Azka mencuplik cerita dan itu nyata.


"Baiklah, tapi turunkan aku," pinta Laila, Azka akan menurunkan. "Tunggu!" Laila mencegah, ia menciumi pipi Azka berkali-kali.


'Sayang apa yang tidak untukmu, kau asalah kebahagiaan ku dan cintaku, selalu bersama ku, Ya Allah Engkau Maha Segalanya, Jangan pisahkan kami, satukan kami di dunia dan di Akhirat. Aamiiin Ya Robbal a'lamiiin.' Azka selalu membuktikan rasa cintanya.


"Sekarang baru turunkan aku." Laila turun dari bopongan Azka, berjalan lebih dulu, Azka menarik tangannya, mereka saling berpelukan. Saling menatap satu sama lain, rasanya seperti terhipnotis.

__ADS_1


Azka mengambil sesuatu dari kantong celananya. Dan langsung memakaikan di jari manis sisi kanan Laila, Laila sangat terkejut ia tersenyum lalu tertawa.


Cincin sederhana berwarna emas, dan satu permata, sangat indah di pakai Laila dan semakin cantik jari Laila yang berkulit kuning langsat.


"Akhirnya aku bisa membelikan cincin itu dengan hasil kerjaku, tanpa uang dari Mami." Azka mengatakan itu.


"Alhamdulillah, MasyaAllah, SubhanaAllah, aku bahagia." Laila memeluk Azka dengan sangat erat, Azka membalas pelukan itu.


Sesuatu telah turun dari langit percikan gerimis, mereka menaikan wajah.


Dan bersamaan mengucap.


"SubhanaAllah walhamdullillah wala ilahaillallah Allahu akbar." Serempak mereka bersujud di jalan.


Kebahagian Laila akhirnya benar-benar datang, hujan yang di nanti-nanti selama dua bulan akhirnya turun.


Mereka main hujan di jam sembilan malam. Azka lebih bahagia melihat istrinya menikmati air itu, air dari langit yang benar halalnya.


"SubhanaAllah aku bahagia, sangat bahagia ya Allah." saking bahagianya Laila menangis haru. Ia berjalan beberapa langkah, lalu menoleh ke Azka dan memercikkan air di wajah Azka, apapun yang di lakukan Laila membuat Azka lebih dari bahagia.


"Ah..., langit udah hujan kamu hujan pula, sini peluk aku." Azka merentangkan kedua tangannya, Laila berlari pelan lalu memeluknya.


'Trimakasih Ya Allah Engkau memang Is The Bets. Love Allah, hub Allah. Walau dulu aku tak suka hujan, dan sangat kesal saat turun Hujan. Namun sekarang aku bersyukur dan bahagia, Allah menciptakan tulang rusuk Yang sangat menyukai hujan, dan aku pun mengikutinya. Trimakasih Ya Allah.' batin Azka.


"Tak bisa di ungkapkan, aku sangat bahagia. Semoga tidak ada cobaan yang berat setelah ini." ucap Laila, Azka memandangnya.


"Cobaan pasti ada, kau harus selalu menemaniku, di sampingku, apa pun yang terjadi. Saling percaya itu kekuatan kita." Azka mencium kening istrinya. " Ini sangat dingin beri hadiah setelah ini." Azka meminta haknya, Laila menaikan wajah.


"Tapi belum baca 5 surat di Al-Qur'an, Yasin, Arrahman, Waqia'h, Almulk dan Luqman.


ูŠุจู†ูŠ ู„ุงุชุดุฑูƒ ุจุงุงู„ู„ู‡ ุงู†ู‘ ุงู„ุดุฑูƒ ู„ุธู„ู… ุนุธูŠู… ูกูฃ


Artinya: Wahai anakku! Janganlah kamu menyekutukan Allah, Sesungguhnya menyekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar." Laila mengingatkan dengan mengelus-elus perutnya. "Kita mengaji bersama lalu titik-titik." lanjut Laila, Azka tersenyum.


"Ok siap." Azka sangat bersemangat


mereka berjalan pulang dengan saling bergandengan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2