Mencintai Rembulan

Mencintai Rembulan
Aku Dan Kamu


__ADS_3

Pemandangan indah membuat Alam dan Insan menyatu. Sungguh kekuasaan Allah SWT. Memang tak bisa di bandingkan dengan apapun.


Azka menggendong Laila di punggungnya. Mereka sangat dekat.


" Kita harus banyak bersyukur," ucap Azka memandang lurus ke anak tangga.


" Iya, jika di fikir-fikir kesehatan yang kita miliki dan sakit itu, banyak sehatnya. Allah memberi banyak hal di organ-organ tubuh. Ya Allah..., Aku sering melupakan dan lupa harus bersyukur." Bijak Laila.


" Aku cukup berat, kak Azka tidak capek? pasti lelah," Laila mengusap keringat Azka dengan tangan lembutnya.


'Sumpah mati, ini rasanya terbang ke langit, sentuhan sederhana yang menentramkan.' Batin Azka


" Pasti kak Azka membatin sesuatu? hayo..., apa?" Ledek Laila.


" Kamu tau banget, memang kamu si pembaca seperti paranormal?" Mereka saling tersenyum.


" Aku deg-degkan." Azka berkata dengan cepat.


" Pastesan ada suara petasan yang tak kelihatan," Laila mencoba bercanda Azka tersenyum, lalu di susul dengan tawa.


" Di sini indah untuk melukis." Tunjuk Laila.


" Siap....," Azka menurunkan ke kursi toda yang Sudah di pasang Om Kim.


" Tapi...," Laila menggantung kata.


" Kenapa? kurang nyaman?" Azka mencoba memasang semua alat lukis.


" Aku lelah, bayangkan saja, duduk, melamun, tidur, makan, mengangkat sendok, itu semua juga pekerjaan yang sangat berat, mengangkat kuas itu juga pekerjaan." Keluh Laila sengaja.


" 😆😆😆 Jika semua di hitung, pekerjaan manusia juga tidak ada hentinya. Bersyukur semua masih berfungsi dengan baik. Aku tak suka jika kau mengeluhkan hal kecil." Azka tertawa lalu menegur.


" Gitu dong..., cintai juga kekuranganku yang amat banyak. Aku hanya sedikit sedih." Laila merunduk, Azka duduk di hadapannya.

__ADS_1


" Sedih karna banyak santai?" Ucapan Azka membuat Laila mendorong hingga terjatuh. Laila tertawa sejenak, lalu menghentikan tawa itu.


" Aku sedih karna tidak bisa berkhidmad." Raut wajah Laila benar-benar sedih, walau senyum tipis terlihat namun air matanya tak bisa di bendungnya lagi.


Azka berdiri, " Sudah jangan bahas berkhidmad, itu penting tapi yang lebih penting saat ini adalah." Azka melingkarkan tangan Laila ke pundaknya. Lalu mengangkat pelan pinggang Laila, Laila masih bingung apa yang akan di lakukan Azka.


Azka menumpangkan kaki Laila di atas kakinya, lalu mengangkat tubuh Laila, Laila tak bisa berdiri tegak, Laila baru faham kalau Azka akan mengajarinya berjalan.


Semakin erat tangan Azka di pinggang Laila. Azka mencoba terus agar Laila tidak melemas dan agar tidak terjatuh. Laila memandanginya, matanya semakin berair dan menetes begitu saja. Laila mempererat pegangannya di pundak Azka, tubuh keduanya sangat dekat, menempel erat. Dan hal itu membuat Azka tegang gairah mulai muncul, Azka menelan ludah ia berusaha menahannya. Tinggi Laila jika tegak setinghi telinga Azka, namun kaki Laila di atas kaki Azka.


Laila menangis di pundak Azka. Setelah kesana kemari sekitar 10 menit, Azka mendudukkan pelan Laila. Laila sudah di atas kursi roda dan masih menangis tersedu-sedu. Sebegitu besar cinta Azka. Cinta dalam diam yang tertahan dan terkunci.


" Udah dulu," Azka berlari ke toilet. Setelah sadar jika ada yang keluar dari miliknya.


" Aduh..., jangan bergerak-gerak hentikan itu." Suruhnya, ia sangat kesal, Azka melihat ke air yang mengalir dan menunggu sesuatu itu berhenti.


" Jadi kini aku laki-laki sungguhan," Azka bertanya pada diri sendiri. Ia mengingat teman dugemnya yang dulu pernah mengajaknya berhubungan **** dan Azka tak bisa karna ia mengira, ia bukan pria tulen.


" Astagfirullah..., Astagfirullah ini di dalam toilet kok istrigfar." Azka melihat kebawah lalu " Akhirnya..." Azka keluar dari toilet ia mencoba rilex.


'Jatuh cinta baru satu kali ini,aku sudah dewasa dan ketulenan priaku baru muncul, ini gila..., Ya Allah harusnya aku bersyukur jika pisauku ini seperti ini maka dari dulu aku sudah melakukan zina, Ya Allah Engkau melindungiku. Dan bagaimana cara menahan ini.' Azka tak berani mendekat ke Laila, Laila sudah asik melukis.


Azka duduk menikmati pemandangan, pemandangan luar biasa. Angin segar berhembus. Suara ombak membuncah, percikkan air laut sampai ke Azka.


Dunia ini sangatlah singkat, sejatinya ini hanyalah mainan, kehidupan adalah permainan Allah SWT. Jika mengingat soal kiamat pasti akan meredam rasa ini. Sesungguhnya jika manusia teramat bahagia, maka mereka lupa akan hari penting yang akan membawanya di alam keabadian.


Azka membuka layar ponsel dan membaca surat Al qur'an Al-Buruj sampai Al-Insyiqaq. yang menerangkan tentang hari itu. Azka meresapi dan hatinya bergetar Azka segara berdzkir menyesali perbuatanya dahulu.


'Ya Allah aku ini hanya apa, Ya Allah.' Azka mendekat ke Laila, lalu mengamati lukisan Laila yang sangat indah dan terlihat nyata. Ia terus memandangi lukisan itu Azka berdiri di belakang Laila.


Lukisan saat mereka bersama dan sangat dekat.


Hati Laila masih tidak ada yang tahu perasaannya, jelas cinta itu ada tapi ia masih menyembunyikan secara rapat dan rahasia.

__ADS_1


" Laila, itu lukisan kita?" Tanya Azka, memegang pundak Laila, Laila menoleh. Azka melepaskan sentuhan itu.


" Kak,"


" Iya."


" Allah SWT menurunkan obat mujarab, walau dulu kita sering terjerumus ke maksiat, tanpa kita sadari, pandangan. Kak Azka sampai saat ini sudah berhasil memendam hasrat. Apa kak Azka?..."


Azka faham ia lalu mendorong Laila, ke dekat pagar pagar. Azka duduk di pagar dari kayu yang di cat coklat. Laila memandang mentari jam 3 itu.


" Aku laki-laki tulen, tapi aku tak bisa memaksa, aku sudah sejauh ini Laila. Nafsu itu melaju secepat Kereta Api melintas, melaju terus sampai di Stasiun lain, dan terkadang aku tak bisa mengerem lalu aku mengoffkan dengan memaksa bantal-bantal atau Spongebobku."


Laila langsung memandang Azka.


" Aku terbiasa melakukan dengan bantal atau Spongebob." Jelas Azka, Laila tertawa.


" Hasrat itu datang tiba-tiba Laila, tanpa melihat gadis jika gairah datang maka, bisa dengan mudah mengeluarkan air." Aka tak memandang Laila, ia fokus menatap pandangan kedepannya, Laila tersenyum, Azka menghela nafas panjang.


" Ya Allah, seharusnya bisa jadi anak malah hanya terbuang di bantal-bantal," Keluh Azka, ia sadar dan merasa malu. Laila menahan tawanya. Laila lalu berfikir dan menyesal.


" Kalau gitu mari, jangan sia-siakan." Ucapan Laila tanpa ragu, Azka menoleh mereka saling menatap.


" Bantal-bantal itu tidak bisa hamil, dari pada terbuang sia-sia 'kan ada aku." Laila menawarkan diri. Azka tersenyum miring.


" Dengarkan aku." Azka mencium punggung tangan Laila.


" Aku sudah mengatakan berulang kali kepadamu, aku tidak mau kau terpaksa Laila, karna cukup bersamamu, itu adalah obat penawar racun.


Semua rasaku tersimpan dalam bait-bait kata kasih, sayang dan cinta. Rasa cintaku tersirat. Tiada ungkapan rasa yang bisa di katakan, karna rasaku lebih dari apapun. Aku masih akan setia menunggu ketulusan dan keiklasanmu... Sudah Asar mari solat.


Azka berdiri mendorong Laila mereka pergi solat, Azka ganti sarung.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2