Mencintai Rembulan

Mencintai Rembulan
Harapan.


__ADS_3

Azka tak bisa tidur semalam. Pagi pun datang.


" Kak..., bangun sudah Adzan!" Panggil Laila yang menyeret kakinya dengan kekuatan kedua tangannya, sampai ke tempat Azka, Azka terkejut.


" Ya Allah, Astagfirullah..., Kaki mu tidak sakitkan?" Azka panik ia menyentuh kaki Laila " Maaf ayo ku antar berwhudlu," Azka mengusap wajahnya berkali-kali, Lalu membopong Laila.


" Aku perlu ganti baju."


" Iya nanti ku ambilkan!"


Setelah mengantar Laila, ke toilet, Azka mengambil beberapa baju, melihat hijab pasmina merah jambu, awal mula cinta Azka bersemi.


Azka segera kembali ke toilet dan menutup matanya dengan kain. Azka membantu Laila ganti baju. Setelah selesai berpaikaan Azka membuka tutup matanya, Azka membopong ke kursi roda, lalu mengambilkan air untuk Laila berwhudlu. Ia ingat walau suami istri mereka tetap batal berwhudlu jika bersentuhan.


Selesai solat, Azka membaca surat Yasin dan Al mulk, setelah mentari bersinar terang, langit cerah, Azka menelpon Om Kim untuk mengatarnya. Azka ingin mengajak Laila jalan-jalan di tempat paling indah di Jeju Island.


Tak butuh waktu lama Om Kim datang. Azka membopong Laila. Masuk mobil,


mereka saling diam. Dan berangkat ke tempat yang Laila tidak ketahui, ini adalah rencana laki-laki romantis.


" Gunung Halla masih erupsi tapi tidak terlalu parah, hanya hujan abu normal, kau harus hati-hati Azka, harus waspada," tegur Om Kim.


" Siap. Haj.., haj...," Azka tak jadi bersin


" Om!" Azka memanggil tapi ia membuka kaca.


" Iya?" singkat Im Kim


" Katanya..., ada gembok cinta? memang benar bisa mengabadikan hati? akumah atuh tak percaya, kari hoax pisan," ceplos Azka sesukanya, Om Kim tak tahu apa artinya bahasa yang campur aduk.


" Kangen iki setengah mati mung riko seng biso nambani." Gumam Azka menyanyikan lagu Banyuwangi milik Wandra.


" Aku mundur alon-alon lalu lupa apa liriknya." Kembali nyanyi ngawur.


" Untung aja sedikit merdu." Gumam Laila, Azka menoleh


" Kak Azka bicara apa sih? kari ayam?" Laila bicara lain.


" Diam-diam kau mendengarku, aku merasa tersanjing."


" Tersanjung." Jelas Laila jutek.


" Anna uhibbuka, wa maridun qolbi because you!" Makin ngawur ucapan Azka.


" Dasar mahbub qomar." Sahut Laila cepat


" Aku memang selalu mencintai rembulan di tempatnya, yaitu malam hari." Ucap Azka menaikan alis bangga.


Azka menyaksikan ke indahan bunga Sakura yang berwarna lebih cerah. "Ada rame-rame apa Om?" Tanya Azka penasaran.


" Ini festival Cerry Blossom. Soegwipo. silahkan menikmati kalian beruntung datang pada tanggal 23maret sampai tanggal 30." Terang Om Kim, memelankan mobil.


" Aku tidak mau!" ucap cepat Laila


" Lanjut Om, dia kalau marah memang seperti vampir penghisap darah, dingin!" ceplos Azka sangat mudah.


" Ucapanmu itu sangat menyebalkan!" Laila sangat tidak menikmati perjalanannya.


" Bukannya semua dariku sudah menyebalkan! jadi jangan kau respon! merah jambu!" Azka berusaha menguatkan hatinya.


" Aku punya telinga, aku tak akan respon jika tidak mengataiku." Jelas Laila yang sedikit kesal.


" He.., he meledug gaes," Azka malah asik dengan ponselnya. Sikapnya sedikit aneh ada apa sebenarnya heh Azka.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’




Mereka sampai ke Hallim Prak. Taman ini adalah dinasti wisata favorit Jeju terletak 33 km di barat Kota Jeju. Tempat wisata mempunyai banyak tanaman favorit seperti. hamparan bunga tulip, Taman Bonsai, Taman air, Taman Botani.


Azka turun lalu mengambil kursi roda, lalu membuka pintu samping Laila.


" Kau diam berarti kau mau di sini." Azka membopong Laila. Laila diam membisu.


" Aku melihat ada sesuatu yang gelap!" Laila memeluk erat Azka, seakan ketakutan.


" Apa? dimana?"


" Wajahmu menutupi sinar mentari," jawab Laila, Azka tersenyum lalu tertawa.

__ADS_1


" Modus. Aku menutupi agar kau tidak silau." Jelas Azka. Laila tersenyum.


" Trimakasih." Suara lembut dari Laila


" Cieh manisnya..." Azka tersenyum lebar.


" Apa?" Laila mengerutkan kening


" Gula jawa di senyumanmu!"


Mereka mulai saling bercanda. Azka menurunkannya di kursi roda.


" Heh..., kak Azka, kak Azka. Kak Azka ku..." Ucapan Laila sangat membuat hati Azka bahagia. Azka benar-benar terlena akan senyum manis pembawa kebahagiaan.


' Merah jambuku, aku terbuai, aku bahagia, akhirnya kau mau untuk bercanda lagi.'


Batin Azka.


" Tapi tadi pelukanmu begitu erat." Bisik Azka, Laila tersenyum.


" Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu bersamamu, aku berfikir untuk menikmati ini." Tegas Laila memberi harapan baru kepada Azka. Azka mulai mendorongnya mereka berjalan di lorong-lorong indah.


Hamparan bunga tulip berwarna-warni.


" Apa bedanya bunga sakura dan tulip?" Pertanyaan Laila tiba-tiba.


" Apa? aku nggak tau." singkat Azka.


" Sakura pertama kali aku melihatnya di rumah kak Azka. Dan tulip adalah cerita yang akan jadi kenangan. Sakura


lagunya Teh Rosa." Kata Laila lalu tertawa. Azka mengikuti tawa itu.


" Aku kira apa? Jika aku harus mengumpulkan rasa bahagiaku yang segudang itu, tidak akan membuatku puas." Kata Azka sambil berjalan di depan Laila.


" Kok bisa? lalu kebahagiaan apa yang membuat kak Azka merasa puas? "


" Memandangmu, melihatmu seperti ini?" ungkapan Azka membuat Laila tersenyum dan merunduk.


" Masak?" Laila menaikan wajah, Azka tersandung.


" Awas kak Azka!" Teriak Laila terkejut. Azka tak terjatuh ia malah tertawa tak henti, Laila ikut tertawa.


Azka kembali mendorong Laila.


" Aku hanya ekting, ternyata kau memperhatikanku." Jawab Azka, membuat Laila malas.


" Bahagia? kalau kak Azka jatuhkan, au..., Pak Adi juga tak di sini, nanti siapa yang membopong kak Azka, dan juga..., nanti siapa yang merawatku."


" Kau masih ingat di malam aku kejedot πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† Itu memalukan! di malam ketika pangampit pria menginap. Aku masuk kamar dengan melepas baju." Azka mengingat kenangan awal Laila memasuki rumahhnya. Keduanya bernostalgia.


" πŸ˜…, Kak Azka salah masuk kamar yang di sediakan untukku. Dan pagi hari teriakanku menguncangkan seisi rumah, gara-gara CD. Apa kak Azka masih menyimpan barang itu? barang konyol yang di kumpulkan dari berbagai Negara, tapi cuma celana dalamπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†" Laila tertawa lepas. Azka memperhatikannya, dan ikut tersenyum.


'Ya Allah ini adalah kebahagian yang lebih. Rasanya aku tidak ingin menusaikan hari ini.'


Azka .


" Menyesal aku membeli barang mahal tiada guna. mengoleksi CD itu unik dulu, tapi jika aku hidup denganmu akan ku pakai, apa singkirkan ya." Bingung Azka. Mereka tertawa.


" Ada-ada aja." Gumam Laila, Azka melamun "Apa yang kak Azka fikirkan?" Tanya Laila menoleh lalu menatap Azka.


" Apa aku boleh tanya?" Azka duduk di depan Laila. Laila memandang Azka yang merunduk.


" Silahkan!"


" Apa benar kelemahan wanita adalah uang? apa benar juga, kata yang orang. Bahwa wanita tidak bisa hidup tanpa uang?" Tanya Azka, Laila tersenyum sejenak terdiam. Lalu memegang tangan Azka.


" Au..., aku tersetrum!" Azka mengipatkan sentuhan Laila.


" Dasar pria latah" ejek Laila dan tersenyum miring.


" Kalau menyentuh dengan perasaan merah jambu. Cuek aja dengan sikapku. Jawab pertanyaanku." 'Aku takut akan sentuhanmu yang membuat aku berharap lagi.'


" Kita hidup di dunia butuh uang untuk biyaya hidup, kalau aku pribadi butuh, bukan sebagai kelemahan, ada sebagian wanita memproiritaskan uang karna untuk kebutuhan, kebutuhan rumah tangga atau pribadi."


" Emas permata?" Sahut Azka terus melihat Laila dengan tatapan tajam nan mempesona.


" Jangan memandangku aku salting." Laila benar-benar grogi dengan pandangan Azka yang menarik hati.


Azka tersenyum.


" Emas dan permata, itu adalah suatu benda hiasan. Siapapun wanita akan dengan senang hati jika di beri benda itu, bukan senang lagi, kebahagiaan menjatuhinya." Lanjut Laila.

__ADS_1


Azka mendorong Laila di labirin Taman Bonsai.


" Aku melihat kau berbeda dengan semua, gadis yang bermerek dengan tas dan bajunya. Kau mungkin dengan kesederhanaanmu yang membuat kau istimewa, maka dari itu aku tak bisa muve on." Ucapan Azka membuat raut wajah Laila murung.


" Aku ingin tahu bagaimana cerita lengkap kejadian kecelakaanmu." Azka sangat ingin tahu.


" Tolong jangan bicarakan itu." Pinta Laila.


" Kenapa kau berbohong kalau kau akan menikah? kenapa kau membohongiku? kenapa kau lakukan ini?" Pertanyaan beruntun Azka membuat Laila menangis sejenak lalu menghapus air mata itu.


" Mencintaimu adalah hal yang tak pantas kak, Aku memilih jalanku, dan cita-cita ku, kau inspirasi hidupku. Gadis yang awal mula hanya penjaga di apotek, bisa menjadi pelukis itu adalah hal yang tak mudah." Ceplos Laila belum selesai bicara.


" Kau bilang aku inspirasimu?" Azka berjalan lalu bersimpuh di depan Laila.


'Kenapa aku masih melihat cinta itu, matamu mengatakan kau sangat mencintaiku, harus bagaimana memecahkan teka-tekimu, Merah jambu. Ya Allah beri aku petunjuk.'Azka


" Kak Azka tolong jangan memaksaku." Pinta Laila yang terdengar sangat kesakitan di dalam hatinya.


" Sudah ku bilang, kau juga segalanya, tapi bukan cinta. Kau adalah sesuatu penting dalam hidupku. Aku sakit kak..., hiks, hek


he...., hiks. Aku sakit melihat cintamu." Laila kembali menunjukkan rasa yang di pungkirinya, agar Azka tak yakin cinta itu tak tersisa di antara mereka.


" Oke. Kau tahu apa bedanya hujan dan kau, di hidupku?" Tanya Azka berusaha mencairkan suasana.


" Tidak, tapi aku ingin tahu." Laila kembali berusaha ceria.


" Kalau hujan memeranakan hatiku dengan mendungnya, kalau kau memberi warna cerah di hidupku, ini nyata tak hoax. Aku mulai menyukai rintikan hujan ketika si merah jambu menikmati itu. Dia juga yang membuatku bersyukur saat hujan turun. Manusia memang pengeluh terbesar." Perkataan Azka banyak lebar.


" Aku boleh minta sesuatu?" ujar Laila sambil merentangkan tangan kirinya hingga menyentuh lembut bunga-bunga kecil warna ungu bercampur putih.


" Apa yang kau pinta." Tanya Azka tetap mendorong tanpa henti


" Jika kak Azka mencintaiku, lakukanlah hal pisitif untuk kak Azka sendiri, seperti kak Azka yang menjadi inspirasiku. Jadikan aku juga inspirasi kebaikan untuk kak Azka. Jadilah orang mandiri tanpa uang dari Mami kak Azka. Berilah cinta kak Azka energi kesemangatan, cobalah susah dengan cara cari uang yang halal. Bercita-citalah jangan hanya mengejarku." Jelas Laila mencoba membimbing Azka sebagai sosok yang mandiri.


" Siap guruku, apakan dengan ini cintamu akan kembali?" Tanya Azka tanpa berfikir


" Berdoa saja." Santai Laila.


" Alhamdulillah ada setitik harapan putih di warna hitam." Teriak Azka senang.


" Jika Allah berkehendak sangat mudah cinta itu tumbuh. Teruslah berdoa karna Allah maha mengabulkan tegur Laila." Ucapan Laila memberi nutrisi semangat untuk Azka.


"Ψ§Ψ―ΨΉΩˆΩ†ΩŠ Ψ§Ψ³ΨͺΨ¬Ψ¨ Ω„ΩƒΩ…"


" Berdo'alah kepadaKu (Allah) niscaya akan ku kabulkan do'a kalian semua. Qur'an Surat Ghofir ayat 60." Terang Azka.


" Sepertinya kak Azka sudah layak untuk di jadikan imam." Puji Laila.


" Ilmu yang masuk ke otak mungkin hanya 1 persen dari seratus, hah, susah untuk merendah diri dan tidak sombong. Ya Allah Engkau maha segala-galanya, jauhkan hamba dan istri hamba dari penyakit hati."


" Amiin."


" Aku sering menyombongkan diri, karna kelayaan." Keluh Azka. Mereka selesai melewati labirin.


" Kak Azka berhasil...." Suara Laila senang.


" πŸ˜… Sungguh. Allah yang menjalankan


kakiku. Laila..."


" Ya.." Suara lembut Laila.


" Kau senang?" tanya Azka berhenti mendorong.


" Alhamdulillah..., Kak Azka."


" Ya."


" Hal apa yang membuat Ibu membatalkan solatnya, bukan karna batal whudunya?"


Pertanyaan Laila membuat Azka berfikir, sejenak.


" Celana anaknya robek, mungkin." Jawaban Azka membuat Laila terpingkal-pingkal.


" Jadi benar," Azka ikut tertawa.


"πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† He.., Anak-anak adalah kebahagiaan orang tua, tingkah lucunya terkadang muncul selagi orang tua solat. Masya Allah. Bukan hanya vidio celana anak robek saat solat, tapi setiap anak memang hiburan tapi vidio itu memang lucu & konyol."


" Coba lihat ini." Azka menunjukan vidio orang luar bicara bahasa jawa. (kesrimpet, kejungkel, geblak, nyungsep, glundong,) Vidio itu membuat keduanya tertawa terbahak-bahak sampai menangis. Tak lama mereka saling menatap dan sedikit canggung.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2