Mencintai Rembulan

Mencintai Rembulan
Akhirnya


__ADS_3

Bersama dalam rasa bahagia, Azka dan Laila selesai solat magrib di Masjid, mereka keluar dari pintu yang berbeda saling memandang dari kejauhan, Azka melempar senyuman ke istrinya, Laila membuang wajah tapi tersenyum. Azka berjalan cepat menghampirinya kemudian duduk dan mengangat setengah badan, Laila merasa tak enak.


"By. Malu!" Laila menoleh kesana-kemari melihati orang yang keluar dari masjid.


"Robby habbli minash sholihiiin (wahai Robbku berikanlah aku keturunan yang Sholih Q.S. Al-Qashshash Ayat.110) " Azka membaca 3x lalu meniup perut yang tertutup baju. Ia berdiri, Azka takkan merasa malu dengan hal baik, Laila tersentuh pandangan haru dan bahagia tersirat dari bolamatanya. Mereka berjalan ke parkiran.


Laila segera meraih tangan kanan Azka dan mencium tangan suaminya, Azka memandang istrinya. "Jangan pernah berhenti mencintaiku walau aku berbeda, selalu di sampingku di saat apapun," permintaan Azka yang sederhana, Laila menatapnya namun ada yang menganjal dari lupuk hatinya.


"Jangan pernah berubah atau pun berbeda! tetaplah seperti ini." Laila merasa takut, kemudian ia menghadap ke Masjid dan mengankat kedua tangan."Ya Allah jaga hati dan raga suami hamba, dan jauhkan dari maksiat yang akan membawa kedalam belenggu dosa, sadarkan dia, ingatkan dia kepada Engkau ketika akan melakukan dosa." lanjutnya, kegelisahan Laila tak beralasan tapi Azka mengamini doa istrinya.


"Aamiiin ya Allah lindungi hamba dan izinkan hamba selalu berada di jalanmu, Aamiin," Azka menaiki motor Laila juga, motor melaju dengan sedang, wajah Laila mendekat agar mendengar ketika saling bicara. Kedua tangan Laila melingkar di perut Azka, sejenak tangan kiri Azka meninggalkan setir lalu menyentuh tangan Laila. Tak lama tangan kiri Azka kembali ke setirnya.


"By, ingin makan apa?" Azka bertanya dan fokus ke jalan.


"Kuah yang segar seperti bakso atau soto, tapi ingin gado-gado, tapi..., yang sangat aku inginkan adalah hujan." Laila melepas pelukannya mengangkat wajahnya ke langit dan menikmati langit malam.


"Semoga Allah menurunkan hujan, Aamiin" Azka merasa kasian pada istrinya di hatinya pun selalu berdoa mengharap hujan bak berdzikir. Ya Allah turunkan hujan, Ya Allah turunkan hujan, Ya Allah turunkan hujan.


"Ton"


Suara klakson trek yang sangat keras, dari samping motor Azka.


"Ya Allah, Astagfirullah, ya Allah aku syok." Laila histeris dan langsung memegang perut dan dadanya, "Ya Allah...," saking kerasnya suara klakson itu membuat meraka kaget dan sampai turun di jalan jelek, Azka langsung mengerem mereka turun dari motor. Melepas helmnya dan melepaskan helm istrinya, mata Laila kembali memandang.


"Ya Allah, rasanya aku ingin marah! tapi percuma!" Azka emosi dan mulai panik, Laila memegang lembut lengan atas dari suaminya. Azka merunduk "Sayang bagaimana? Bagaimana? Apa sakit perutnya? Nak kamu tidak apa-apa 'kan? Ayah di sini" Azka sangat khuatir ia memeluk istrinya, yang masih mengela nafas berurutan dan cepat.


"By, aku tidak pa-pa, cuma sedikit syok." Laila menjawab dengan suara pelan.


"Ayo kita ke dokter, kita perlu kedokter!" Azka lebih kuatir dari Laila.


"Sabar! tidak terjadi apa-apa." Laila menenangkan suaminya yang sangat takut dengan keadaan calon bayinya.


"Maaf ya..." Azka masih memeluk istrinya dengan tangan mengelus kepala Laila.


"Kenapa minta maaf, kita sudah memberi jalan lebar tapi supir truk itu.., heh sudahlah." Laila mencoba menenangkan Azka yang lebih panik dari dirinya, Azka melepas pelukannya, lalu meletakkan kedua tangannya di pinggang terlihat jelas Azka masih sangat kesal dengan kelakuan supir truk itu.


"Aku saja yang tidak hamil jantungan! apa lagi anak kita, pasti dia lebih syok dari kita, sayang kamu harus sehat Ayah akan menyayangi dan menjagamu oke sayang." Azka mengelus perut istrinya rasa takut dan sangat khuatir, terlihat jelas Laila menahan senyum dengan.melipat bibir, melihat tingkah Azka yang sangat peduli dan pengertian.


Azka melihat senyuman dari Laila, "Aku sangat takut! tapi sepertinya kau bahagia melihatku sengsara?" Azka berkata dengan sangat keras.

__ADS_1


"By, aku sangat bahagia karna ayah dari anak kita sangat peduli, trimakasih" ucapan tulus dari Laila, Azka merangkul dengan lengan tangan kananya, lalu mencium kening sang istri. " Kita duduk di sana," Azka mengajak, mereka berjalan 17 langkah kemudian duduk bersama di bangku panjang yang terbuat dari besi.


"Begini rasanya akan jadi seorang Ayah, tanggung jawab dan ingin selalu bersama. Dan selama ini Ayah yang merawatku, sampai akhirnya meninggalkanku saat usiaku15 menginjak 16 tahun. Aku sangat rindu, namun mungkin beliau sudah mendapat kebahaiaan dan tidak ingin menjengukku." Azka kembali mengingat masa lalunya.


"Walau begitu tidak boleh benci, dan terus mendo'akan untuk kesehatan beliau." Lailamengingatkan Azka, Azka memandanginya Laila menoleh, Azka memegang dahi Laila, keduanya salin menatap.


"Aku malu..." ucapan Laila sedikit manja.


"He he he 😄, kita sudah 7 bulan bersama, tidur bersama hidup bersama, masak masih malu?" Azka bertanya tapi menatap ke langit luas, Laila juga melihat langit sepi.


"Ya salting!" singkat dari Laila.


"Bahkan hiasan malampun tak terlihat malam ini, membuat malam ini sunyi dan sepi, rembulan entah kemana? bintang-bintang pun ikut bersembunyi." Azka menghadap ke istrinya, "Namun kau adalah hiasan ku, tanpamu aku akan sehampa seperti langit malam ini" Azka mengatakan rayuan.


"By! By! By!" Laila tak mendengarkan suaminya, ia malah menepuk-nepuk paha Azka dan memberi tahu sesuatu.


"Kasian" Laila sangat tak tega matanya berkaca-kaca dan akhirnya jatuh juga air matanya, ia melihat orang tua dengan rambut putih dan masih terus bekerja, hatinya sangat lembut dengan punuh kasih sayang dengan sesama, sesama yang mau bekerja dan tidak malas.


Azka melihat apa yang di tunjuk istrinya Kakek dan Nenek, yang sedang mendorong grobak barang jualannya.


Azka berlari ke arah Kakek-Nenek, Laila mengikuti dengan langkah sedang.


Barang dagangan yang jelas tidak laku, kacang rebus dan jagung rebus.


"Di borong ya by!" pinta Laila "Di rumah banyak orang, untuk jaga malam para bapak(tukang rumput dan supir)" Laila sangat setuju, Azka tersenyum.


"Alhamdulillah, kami jualan dari tadi jam 3 tiga tidak ada yang beli." curhatan si Nenek, Kakek membungkuskan, Nenek yang kemudian melempos trotoar yang di paving, Laila mendekati Nenek itu.


"Rumahnya jauh?" Laila ikut melempos dan tak merasa takut kotor.


"Sudah dekat neng, tuh di sana" tunjuk Nenek itu, Laila melihat lalu mengangguk-angguk.


"Sudah semua, ini Mas semuanya 300 ribu," tiga kantung plastik besar warna merah. Azka menerima jagung 2 kantong dan kacang 1 kantong dan itu masih sangat panas.


Azka menelpon seseorang, tak lama ia memutus telpon, "Nih Kek, untuk beberapa hari, istirahat jangan jualan dulu, ya." Azka memberikan uang yang sangat banyak yang mungkin 3 jutaan. Ia memberikan uang lebih pada Kakek-Nenek itu. "Ya Allah trimakasih Mas, Alhamdulillah ya Allah."


"Sama-sama bertrimakasihlah kepada Allah karna sudah mempertemukan kita, saudara sesama manusia." Azka membuat Laila sangat terpesona. Dan ucapan hamdallah, rasa syukur terus terucap dari Laila berkali-kali.


Kakek-Nenek pamit, dan langkah tuanya semakin jauh, Azka malah duduk di samping Laila, duduk melempos di balah malam.

__ADS_1


"Kau mengerti apa mauku, aku sangat tidak tega udah waktunya istirahat, beribadah untuk bekal di sana, karna kebutuhan ekonomi keluarga masih saja bekerja." jelas Laila.


"Sayang ku, kita harus bersyukur karna lebih beruntung dari mereka," kata Azka.


"Alhamdulillahirobbil a'lamiin" ucap Azka dan Laila bersamaan, mereka saling tertawa ringan.


"Ayo pulang nanti dingin!" ajak Laila, hendak berdiri, Azka menarik tangannya, ia kembali duduk


"Sebentar!" cegah Azka.


"Nunggu apa sih?" Laila penasaran


"Nunggu pak Agus, aku tidak mau istriku keberatan bawa semua ini. Jadi kita kencan dan dinner dulu, lalu Go home." Azka menjelaskan sambil melihat langit gelap.


"Semoga Allah menurunkan hujan malam ini." Azka berdoa singkat.


"Aamiiii, Aamiiin, Aamiiiin" Laila sangat senang Azka berdoa soal hujan.


Datang mobil Sport warna merah, berhenti di samping motor Azka, Azka berdiri membuka pintu mobil. "Situ saja! biar aku yang memasukkan, ini untuk kalian teman jaga malam dan camilan untuk nonton drakor, Aku sebentar lagi pulang." Azka segera memasukkan 3 kantong besar itu ke kursi belakang, Azka menutup pintu mobil lalu mengintip sambil tersenyum


"Trimakasih den!" Pak Agus menjalankan mobil. Azka mengulurkan tangan, Laila menerima lalu berdiri, kemudian mereka menaiki motor Azka sangat berhati-hati dalam melajukan motornya.


"Di depan situ sotonya enak!" tunjuk Azka tempat yang tak begitu jauh dari tempanya istirahat.


"Cuz makan di situ..." Laila setuju, motor di parkirkan, mereka turun Laila akan melepas helmnya, tapi Azka lebih pengertian dan membantu Laila lebih dulu. Laila menghadiahkan ciuman namun malah Dugh "Sakit..." terjadug helm, Azka tertawa sambil mengelus jidad Laila.


"Aku sadar kalau aku sangat memukau, hingga istriku tak tahan ingin menciumku, iya 'kan?" canda Azka sambil menaikan alis sok keren, mereka tertawa, Laila terlihat malu,


Azka mencium kening yang terjadug helm.


"Ini adalah vitamin C," ujar Laila yang kemudian berlari ke warung soto, Azka tersenyum bahagia di tempatnya, Laila memesan, Azka berjalan dengan cepat lalu duduk Laila ikut duduk.


"By." Laila memanggil Azka membuka hpnya.


"Hemm" Azka langsung mengantongi hpnya, ia tidak mau ada yang mengganggu saat sedang berduan dengan istrinya.


"Trimakasih sudah membuatku jatuh cinta setiap hari, sama halnya tadi kamu bilang aku adalah hiasanmu." Laila belum selesai


"Jadi kau mendengarkan?" saut Azka, Laila menganguk. "Trimakasih sudah menjadi pendampingku." ucapan tulus dari Azka.

__ADS_1


"Aku juga bertrimakasih dan meminta maaf." Mereka seperti orang yang baru pacaran, setiap hari berpacaran.


Bersambung


__ADS_2