
Waktu berlalu dengan cepat, usia 7 bulanan sudah di lewati oleh Laila, Maminya mengundang anak yatim piatu dan ibu-ibu jamaah untuk menggemakan solawat Al-berjanji.
Tiada hal indah selain berbagi, Mami juga sudah memberikan 3 berlian mahalnya di jual dan uangnya untuk biyaya membangun 5 pondok yang ada di Bogor.
Rasanya sangat bahagia apalagi tau kalau Azka puasa senin kamis, untuk tirakat, berdoa kepada Allah agar lancar semuanya. Dan di jadikan anaknya, Anak yang soleh dan berbakti.
Azka dan Laila sengaja tidak bertanya soal kelamin calon anaknya, agar spesial, hanya kesehatan yang di tanyakan oleh Laila dan Azka.
Keduanya jalan-jalan setelah semalam sibuk pengajian. Di pagi hari di cuaca yang dingin mereka jalan-jalan dia area kebun teh.
"Hati-hati licin," Azka siap siaga, menjaga Laila, karna hujan setiap hari jalanan sangat becek.
"Gandeng." Laila mengulurkan tangan, Azka tertawa, terlihat Azka sangat bahagia.
"Oh, ya, lagi puasa." ingat Laila, Azka mengandeng erat tangan istrinya.
"Kalau ingin makan! Makan, aku akan merasa kenyang. Aku juga tidak mau anakku kelaparan." bujuk Azka yang kasihan melihat Laila mulai lapar.
"Di sana ada warung, tapi ini masih pagi, apa sudah buka ya?" Laila menunjuk ke warung sederhana 500 meter dari tempatnya.
"Kita jalan kesana," Azka meletakkan telinganya ke perut istrinya.
"Kalau begitu tidak akan dengar." tegur Laila, Azka merasa konyol ia tertawa karna merasa aneh pada diri sendiri.
Laila menarik tangan Azka lalu meletakkan di perut buncitnya, terasa benjolan yang bergerak, mata Azka terbuka lebar.
"Itu..., itu..., SubhanaAllah," Azka menelan ludah ia kembali memegang perut sang istri.
"Anakku..., SubhanaAllah ya Allah." di tengah rasa bahagia Azka terharu, ia melihat perjuangan seorang istri yang membawa perut besarnya kesana dan kemari, ia sangat bahagia. "Trimakasih," ujar Azka yang memeluk sang istri dengan erat.
"By malu, banyak petani." tegur Laila, Azka melepas pelukannnya, ia tertawa dan juga tersipu.
Mereka berjalan ke warung. "Bagaimana rasanya? Kalau dia nendang sampai begitu Apa sakit?" tanya Azka khuwatir. "Karna membenjol kesana-kemari."
"Sakit, gantian ya!" Laila bercanda tapi Azka serius.
__ADS_1
"Sungguh, tidak bohong! Andai bisa aku gantikan." Azka sangat panik.
"He he he, suamiku..., suamiku." Laila tertawa puas, Azka berjalan cepat karna ia sedikit kesal.
"Hai Spongebob, tunggu..." Laila hampir terpeleset, "Allahu akbar!" teriaknya, Azka langsung menghampiri istrinya.
"Hati-hati." ujar Azka datar membuat Laila merasa bersalah.
Mereka saling diam, sesekali Laila mendehem. "Ehkm." Kode dari Laila tak di respon.
"Jangan marah." suara manja dari Laila, sambil menjalankan jari telunjuk dan jari tengah ke lengan Azka.
"Aku tidak marah hanya saja.., aku sadar begitu dalam dan berat pengorbanan seorang Ibu, dulu aku sering marah karna aku merasa aku anak yang tidak di inginkan. Secueknya seorang Ibu kasih sayangnya tak terhingga sampai kapan pun. Mungkin papi juga menyayangiku tapi aku tidak pernah mendengar pengakuannya, kini aku akan jadi seorang ayah, aku mulai merasakan takut, senang, dan terharu."
"Takutnya?" tanya Laila dengan tatapan heran.
"Takutnya aku tidak bisa mendidik. Takutnya aku mengecewakanmu, banyak ketakutan, aku meredam dengan berpuasa, semoga Allah melindungi keluarga kecil kita Aamiin, menguatkan iman islam kita, di zaman kita saja pengaruh ponsel canggih bisa menjerumuskan. Bagaimana dengan zaman anak kita sedang aku saja hobi main game. Tegur aku ketika mulai mencuekimu," sadar Azka, Laila tersenyum.
"Alhamdulillah..., kalau begini kan aku sudah dapat perintah." ujar Laila.
"Apa aku keterlaluan." Azka lebih pengertian, hingga takut mengecewakan.
"Trimakasih ya Allah, istriku pengertian. Soalnya kemarin aku lihat gosip Artis siapa itu..., eh lupa, mau cerai gara-gara lakinya main game meluluk, aku jadi takut. Jadi kalau salah tegur oke, maklumlah kesalahan sering terjadi." ujar sikap dewasa dari Azka, Laila tersipu.
Mereka masuk ke warung. "Assalamua'laikum," Azka berdiri di depan pintu yang terbuka.
"Wa'alaikumsalam." datang pria dengan celemek tapi merunduk.
"Sudah buka Pak?" tanya Azka membuat pemilik warung mengangkat wajahnya. Azka melihat ke Laila dengan tersenyum sok keren.
"Azka!" panggilan dengan suara tak asing, Azka menoleh benar saja orang itu adalah Papinya, Pras.
Azka tercengang matanya terbelalak seakan tak percaya, ia terdiam.
"Bi, By..." Suara Laila menyadarkan Azka, Laila mendekat ke Azka, hingga terlihat jelas orang yang mulai beruban itu, adalah papinya Azka.
__ADS_1
"SubhanaAllah..." Laila tanpa ragu mencium tangan mertua lelakinya.
"Kamu siapa? Apa kamu istrinya Azka?" tanya Pras kepada Laila, Laila tersenyum dan terharu, Laila melepaskan tangannya.
"Iya Pa. Dia istriku..." jelas Azka, Azka kemudian memeluk Papinya dengan sangat erat, langkah yang tadinya berat kini ia ringankan karna dia ingat, ia akan menjadi seorang Ayah.
Isak tangis haru, bersatu padu di warung sederhana.
"Siapa Pak!" keluar gadis manis yang kira-kira kelas 2 SMP.
"Dia adikku?" tanya Azka, Papinya tak bisa berkata-kata hanya mengangguk lalu mengusap air matanya.
"Mas Azka? Iya kan?" sorak gadis itu yang terdengar bahagia melihat kakak tirinya.
"Ayo duduk dulu." titah Papinya, Azka dan Laila duduk di lantai yang sudah di gelari karpet tebal.
"Wah..., cantiknya...," puji gadis itu ke Laila, Laila tersenyum tipis. "Aku Laras Mbak, Mas," gadis itu memperkenalkan diri dengan mencium tangan kakak dan kakak iparnya, Laila malah memeluknya tak lama pelukan itu terlepas.
"Kenapa nggak main ke Jakarta?" tanya Laila, Laras tersenyum.
"Ingin tapi malu, Bapak masih menyimpan foto kak Azka 18 tahun yang lalu, ternyata memang keren." pujinya kepada Azka.
"Di mana Ibu?" tanya Azka yang tak berani melihat adik tirinya.
"Ibu sudah meninggal, setelah melahirkan aku." jelas Laras, membuat Azka terkejut ia seketika resah dengan memandang Laila, Laila tau Azka takut kehilangannya saat melahirkan nanti, Laila mengenggam erat tangan suaminya.
"Maaf ya dik," ujar Laila, Laras tersenyum.
"Sebentar ya..." Laras menyusul Bapaknya ke dapur.
"Aku sangat takut." Azka menangis.
"By, maut itu akan terjadi..., cepat atau lambat, jangan pernah menyesali apapun yang terjadi, akan berdosa jika tidak terima." penjelasan Laila membuat Azka berfikir.
"Ya Allah ampuni hamba jika terlalu cinta, Ya Allah jangan ambil nyawanya, izinkan dia bersamaku lebih lama lagi, aku sangat takut jika Engkau pisahkan dengan maut, maut itu pasti dan juga rahasia Engkau, tolong beri waktu kepada kami sampai bisa berhasil mendidik anak titipan dari Engkau." doa Azka.
__ADS_1
"Aamiiin ya Robbal a'lamiin." Laila mengamini doa Azka, Azka menghapus air mata istrinya.
Bersambung.