
Azka sangat kesal karna istrinya sama sekali tidak merespon ingin marah tapi baca'an Ta'awudz meredam amarahnya.
"Neng!" panggil Bik Ani sambil menepuk pundak Laila.
"Kan udah banyak yang nolongin." ujar Laila tak menghadap ke Azka dan tetap di sofa tak bergeming.
"Aku minta maaf, kita perlu bicara." ujar Azka berani karna lelaki sejati.
Laila berdiri dan setuju, kini urusan mereka, para asisten rumah tangga meninggalkan mereka, di ruang tv.
Azka duduk, Laila juga duduk tapi tidak menghadap ke Azka memperhatikan kakinya yang di bungkus perban.
"Pasti sakit!" ujar Azka yang merunduk dan menyentuh kaki Laila, Laila menghindar.
"Dosa lo mengacuhkan suaminya." tegur Azka penuh dengan ancaman dalam adab seorang istri di agama Islam. "Kamu tau sendiri jika kamu terus cemberut, maka kamu akan dapat kemurkaan Allah, sampai aku melihatmu, dan sampai kamu bisa membuat aku tersenyum padamu. Kamu membuat hatiku susah, dan itu mendatangkan dosa. Wanita solihah tidak akan mendiamkan suaminya." Azka menarik tangan Laila, Laila pasrah.
Berbicara sesuka hati, setelah aku diam, dia mengaancam, aku jadi tidak berkutik. Astagfirullah, Ampuni hamba Ya Robb. Jika yang di katakannya adalah Hadits dari Sahabat Thalhah bin Abdillah, aku bisa apa! Aku juga takut akan dosa, senjata ampuh dari para Suami, adalah pembelaan yang dia ajarkan Nabi. Batin Laila.
"Kamu sudah memaafkanku!" tanya Azka penuh harap Laila merunduk, air matanya jatuh ketika kata-kata Azka kembali terngiang di fikirannya, wanita adalah mahluk lembut, perkataan sedikit yang menyakitkan saja bisa di kenang bertahun-tahun dan membekas lama.
"By, maaf." Azka mengangkat wajah Laila dengan kedua tangan di pipi Laila.
"Kamu menangis." Azka semakin bingun melihat deraian air mata sang istri, ia memeluk dan menyandarkan kepala Laila di pundaknya, Laila terisak tanpa kata-kata.
"Apa aku terlalu kasar! Maafkan aku sayang." Azka mencium kening Laila.
"He..., hiks, kamu menuduhku. He he hiks." ujar Laila dengan suara tersedu menyayat hati Azka, ia benar-benar merasa bersalah.
"Aku menyesal, aku sudah minta maaf, jadi jangan menangis lagi." Azka menenangkan istrinya, "Aku sangat khuawatir dengan keadaan Mami, hingga lupa dengan adanya calon bayi kita." jelas Azka, ia menghapus air mata istrinya.
"Tatap mata aku." Azka menaikan wajah Laila, mereka saling menatap.
"Kelebihan kaum laki-laki atas perempuan, adalah senjatanya para suami." ujar Laila
__ADS_1
"Tapi banyak Suami yang takut istri." sahut Azka, Laila mulai tersenyum, "Manisnya..., gitu, aku chat berkali-kali tidak kamu buka?" tanya Azka, Laila mengelengkan kepalanya.
"Aku sudah tau, tapi aku masih saja berharap kamu buca chat ku." ucap Azka lalu mengucap Basmallah, ia memakan stroberry.
"Kita satu bangunan kenapa harus chat, bicara secara langsung, itu yang aku tunggu." jelas Laila.
"Begini saja, maksudnya saling diem saja aku sudah tersiksa rindu, apalagi aku harus ke Jakarta 2 mingguan!."
"Apa?" Laila sangat terkejut, mendengar ucapan Azka yang akan pergi dengan tiba-tiba.
"Masalah pekerjaan itu lho, aku harus ke tempat kontruksi. Jadi kamu pegang hp oke, kamu cas jangan sampai lobet, karna bisa bosa jika aku tidak mendengar suaramu, batreku juga akan lobet." gombal Azka, Laila tertawa kecil.
"Kamu adalah kekuatannku, kamu adalah wanita hebatku. Memang Allah memberi keutamaan bagi pria, maka jika kamu wanita solihah tidak boleh protes, akan hal itu."
"Aku tidak protes, aku hanya mengharapkan kamu minta maaf dan merayu." Laiila membela diri.
"Aku sudah merayu, tapi di chat." ungkap Azka dengan mata melihat ke jempol Laila yang di perban.
"Ya sudah nanti aku baca, dan aku comen." ujar Laila, senyum Azka mengembang di pipinya, "Trimakasih sudah menegurku! Jika tidak di tegur Allah akan semakin marah kepadaku." sadar Laila.
"Jangan ngambek lagi." ujar Azka yang menatap penuh cinta.
"Jangan lagi berbicara dengan nada tinggi, ya!" minta Laila kepada suaminya sambil berkedip-kedip, Azka tertawa puas.
"He he..., istriku." Azka mencium kening Laila, "Mari ke kamar kita ngobrol, biar Bibi-bibik lihat TV." Azka membopong istrinya, Laila sangat terkejut mendapat perlakuan istimewa dari suaminya. Azka mulai menaiki anak tangga tanpa keberatan dengan berat badan istrinya yang bertambah.
"Aku jatuh cinta berkali-kali, setiap hari, setiap saat. Tapi ini sedikit berat! Beda dengan saat pertama kali aku membopongmu, saat di Korea." jelas Azka.
Laila mencium pipi Azka,
"Ciuman adalah stamina untukku." Azka berhasil membawa istrinya ke kamar.
"Aku mau cerita." ujar Laila yang sudah turun di ranjang.
__ADS_1
"Cerita apa?" tanya Azka yang mengambil kotak obat, pria ini memang sangat manis dan sangat mencintai istrinya.
"Jangan mrngobati kakiku! Tidak sopan!" Laila mencegah Azka, "Sinj duduk saja." Laila mengangkat kakinya dan mengobati kakinya sendiri, Azka yang melihat kuku istrinya mulai copot, ia merasa ngeri.
"Apa sakit sekali." Azkq memandang istrinya dengan rasa iba. "Maafkan aku..." Azka masih menyesali jika ia sudah membentak istrinya.
"Iya..., mari kita lupakan, aku ingin cerita sebab turunnya Ayat 34 dari surat An-nisa." ujar Laila menatap suaminya.
"Oh ya! Aku tau..." sahut Azka.
"Yah, seharusnya..." Laila merunduk.
"Kita bahas itu, biar aku yang menceritakan." pinta Azka, membuat Laila bangga ia tersenyum dengan gambaran ia semakin cinta pada suaminya.
"Lalu bagaimana ceritanya?" tantang Laila.
"Sebab turunnya Ayat الرجال قوامون على النساء
Ayat ini berkaitan dengan peristiwa sahabat Sa'ad bin Ar-Rabi' Al-Anshari yang telah menampar istrinya, putri Muhammad bin Maslamah. Istri Sa'ad menghadap kepada Rosulullah SAW. Dan beliau memutuskan untuk di balas. Maka turunlah Malaikat Jibril seketika itu juga kepada beliau membawa ayat ini Arrijalu. Yakni mereka kaum laki-laki di kuasakan menangani urasan istri dan mendidiknya. Jadi sudah jelaskan, laki-laki mendidik istri itu bukan hal yang mudah lho!" jelas Azka.
"Kamu sangat tahu soal wanita solihah iyalah?" Azka mulai mengetes istrinya.
"Seperti Hadits dari Abu Urairah RA. Dia berkata : Nabi Muhammad SAW bersabda: Yang artinya. Sebaik-baik perempuan adalah perempuan yang jika engkau pandang, maka dia mengembirakanmu, jika engkau perintah, maka dia taat kepadamu (suami) dan jika engkau tinggal pergi, maka dia (istri) akan memelihara harta bendamu dan dirinya sendiri." jelas Laila berhasil pula membuat Azka terpesona.
"Jadi?" tanya Azka, Laila mengerutkan kening.
"Harus setia, aku juga harus mereda rasa marah yang akan menjerusmuskan dalam jurang dosa, tanpa sadar setan semakin membisiki agar aku makin marah. Ya Allah." sesal Laila, "Maaf kan aku..." Laila juga menyesal sudah mendiamkan suaminya.
"Jadi..., bisakah malam ini? Besok aku akan pergi." ajak Azka yang kurang jelas.
"Lihat kuku kakiku copot." Laila menunjukkan kukunya yang lepas. Azka serius Laila fokus ke kukunya.
"Pasti sakit!" Azka meniupi kaki Laila, Laila ***** Ini rahasia mereka.
__ADS_1
Bersambung