
Setelah mentari beranjak, Azka baru kembali dari masjid, Arrahman masjid satu-satunya di Jeju, ia menikmati udara yang sangat dingin, hingga jaket tebal pun masih tidak bisa menghangatkan tubuhnya tiba-tiba ada sesuatu putih kecil mulai menetes satu persatu ,ia menaikkan wajahnya, dan baru ini ia melihat salju.
" Ya Allah, Engkau memang hebat memberi musim yang begitu indah," gumamnya sambil tersenyum mensyukuri kekuasaan Allah SWT, menikmati rasa dingin di wajahnya. Ia segera berlari dengan sekuat tenaga menghampiri Laila, ia akan memberi kabar ke Laila tentang salju yang mulai turun. Azka memang pelari yang sangat cepat,
Azka sampai di rumah kecil yang ia sewa.
Ia tersambut dengan senyum bahagia di wajahnya, saat akan masuk, " Ini sungguh indah, Laila aku tak sabar ingin bersamamu di musim ini." Ia tak sabar memberi kabar kepada sang istri, dan ingin mengajak sang istri jalan-jalan ke tempat-tempat romantis di Jeju, ia segera masuk, dengan semringah.
" Apa? kau ingin menikahiku?" Suara Laila terdengar di balik dinding dari susunan kayu, Azka bersembuyi, 'Pasti Andre ' dalam hatinya, ia sangat terkejut dan sakit hati seperti ada yang tertusuk, ia rapuh tidak ingin mendengar hal yang lebih menyakitkan lagi, Azka mengambil mantel dan ia melarikan diri.
" Kak Azka..., kamu di sana..." Panggilan Laila tak di gubris, ia berlari dengan sangat kencang.
Dadanya terasa sangat sesak, ia berjalan dengan cukup jauh, di bawah salju yang turun. Dingin tak di rasa, air mata ikut membeku bersama salju itu, matanya memerah karna menahan air mata, ia tahan rasa dingin yang membekukan tubuhnya, hidung telinganya memerah.
" Ternyata ini lebih menyakitkan jika aku terlalu berharap dan terlalu cinta, kenapa tak tepat dan aku selalu saja begini, rasanya aku tak sanggup berdiri di depan Laila, aku tidak ingin mendengar apapun, semakin aku mendengar aku semakin dalam kebingungan, ternyata sangat berbeda menanti dan menunggu harapan, keduanya hampir sama tapi sangat berbeda kala hati terluka, lebih memyedihkan menunggu dengan adanya harapan, Ya Allah...., dan aku selalu ingin bertahan, Ya Allah cuaca hati ku berubah bersamaan salju turun, heh." Azka melihati pemandangan indah sendiri dengan rasa hampa.
" Kemarin jalanan ini sangat indah karna aku bersamanya, dan sekarang jalanan ini tetap indah namun aku sendiri, rasa yang sangat berbeda hampa melanda belahan jiwaku, ada yang hilang dari sebagian hatiku." Lama Azka berdiam diri di tempat dingin itu, ia berdiri dengan tegak tanpa lelah, " Apa sebaiknya aku meminta penjelasan tentang perasaan Laila, aku harus bagaimana? Heh. Ya Allah, dia bilang tidak pernah mencintai Andre, tapi setelah mengatakan itu, malah Andre ngajak nikah, heh...., sangat sulit di parcaya," Azka melanjutkan perjalanannya, semakin cepat langkahnya, ia mulai berlari, ia berlari sekeras mungkin, ia ingin berlari dari masalahnya. Ia berteriak sekuat tenaga.
"Aaaaaaaaaa," Azka mengambil nafas panjang,
" Kenapa..., eehkeh, Astagfirullah, Azka kau tidak boleh seperti ini, sadar Azka jika banyak mengeluh kau akan berdosa." Azka mengontrol dirinya ia mulai sadar dan meredam kemarahan pada diri sendiri.
Ia terjatuh lemas bersimpuh di jalan yang penuh salju, terjatuh lemas air mata yang tertahan akhirnya meluap, tak bisa di bendungnya lagi.
__ADS_1
"Hek hek, huh... heh, hiks, heks." Rasa remuk di hatinya menjadi kepingan yang berserakan.
Jika wanita menangis sudah biasa, namun jika laki-laki menangis harunya luar biasa. Hati Azka memberontak ia sangat hancur, ia berdiri, berjalan tertatih tidak ada semangat hidup, tiba-tiba ada pria berdiri di depannya yang terlihat kakinya Azka menaikkan wajah, " Om Kim," bersama Laila. Ternyata Om Kim membawa Laila kepadanya.
Azka terkejut, ia mengucek matanya, memastikan bukan hayalannya. Ia melihat Laila berdiri dari kursi roda dan menghampirinya, Azka melongo dan menghapus air mata, senyum itu hadir di kala hatinya berkecambuk dan sisa bekas air mata masih menjejak di pipinya, rasa bahagia melihat Laila berjalan walau pelan. Mereka berjarak 8 langkah, Laila dengan pelan menyeret kakinya dengan usaha yang sangat keras ia berhasil berdiri tegak di hadapan Azka.
Laila tidak memakai sarum tangan, ia hanya memakai gamis tebal warna Abu-abu dan jaket merah menyala, jilbabnya juga warna merah. Salju membuat ia juga terlihat manis dengan pipi merona dan hidung yang memerah.
Laila memeluk Azka dengan sangat erat, menangis dan tertawa menjadi satu. " He, he, he, Aku mencintaimu... he he hiks." Ungkapan Laila, Azka melepaskan pelukan itu, bukan tak mau di peluk, tapi Azka melihat luka di kedua telapak tangan Laila, Azka menarik tangan Laila dan mengelap bercak darah, entah tangan Laila tergores apa. " Kenapa kau ceroboh?" Azka menunjukan kepanikannya, walau tak banyak Azka sangat kuatir sambil meniupi perlahan, Laila mengangguk tertawa dan menangis sampai tidak bisa berkata-kata, lalu tak peduli dengan tanganya ia memeluk Azka dengan sangat erat dan tak ingin melepasnya, Azka menyambut pelukan itu. Meletakkan kedua tangannya ke punggung Laila.
" Dia menelpon ku, aku datang dia sudah berjalan dan terjatuh-jatuh, dia mencintaimu Azka, kau berhasil mendapatkan cintamu." Jelas om Kim " Kursi rodanya?"
" Tolong di simpan itu adalah kenangan." Pinta Azka Om Kim tersenyum lalu pergi dan membawa kursi roda yang sekarang tidak di butuhkan oleh Laila, Om Kim meninggalkan sepasang kekasih itu, untuk saling meluapkan segala rasa. Mereka melempar senyum dan keharuan, menangis dalam bahagia.
Azka memeluk erat istrinya dengan rasa bahagia, itu sudah lengkap. Azka melepas pelukan itu, lalu meniupi lagi telapak tangan Laila. " Pasti perih ya?" Laila senang suaminya sangat perhatian, ia melengketkan bibirnya sambil menahan senyum, Azka melihatnya dengan tatapan istimewa, Laila memalingkan wajah karna tidak kuat melihat tatapan Azka.
" Maafkan aku, aku meragukan cintamu." Sesal Azka, Laila tersenyum, mereka berjalan di bawah turunnya salju.
" Aku takut jika kamu akan memilih Andre, aku memilih agar tidak mendengar hal yang menyakitkan, aku kabur, maafkan aku." Sesal Azka menggenggam erat tangan Laila, Laila tersenyum.
" Jangan minta maaf, aku kedinginan dan perutku sangat lapar ada kruyuk-kruyuk itu sangat rame, aku berjuang untuk mengejarmu, lain kali jangan berlari seperti itu lagi, aku takkan mampu mengejarnya." Keluh Laila, Azka tertawa.😆😆😆 Lalu sujud Syukur. Rasa bahagia yang tidak bisa di ungkapkan.
Dimana pun tempatnya Azka sangat bahagia, ini adalah hadiah dari Allah yang sangat berbeda dan istimewa. Azka berdiri dan loncat-loncat, sambil meniupi telapak tangannya.
" Sebenarnya aku yang menelpon Andre," ucapan Laila membuat Azka terkejut dan terpaku.
" Kenapa?" Azka menunjukan kecemburuan.
__ADS_1
" Aku kau culik, aku tidak bawa hp, baju tebalku banyak di Seoul, dan di sini sangat berrr, coll banget, aku butuh, jika beli lagi mubadzir suamiku, aku meminta Andre mengirimnya. Apa aku salah?" jelas Laila,
Azka meringis bahagia, " Suamiku," Pinta Azka menggoda sambil menaikkan kedua alisnya, agar Laila mengulangi kata Suamiku, ia melepas mantelnya dan memakaikan mantel itu ke pundak Laila, Laila membalas dengan senyuman hangat, mereka berjalan lagi.
Berjalan bersama tapi canggung.
" Hkem." Laila mendehem dan menelan ludah Azka menoleh ke Laila, malu-malu tapi mau.
Azka mengumpat senyuman.
" Minta gandeng?" tawar Azka, perasaan tak karuan menyerang hatinya, dag dig dug, ser ser, seperti ada kembang api yang menyala-nyala. Laila tersenyum menutupi bibirnya dengan tangannya, sambil membuang muka malu-malu.
Azka meraih tangan yang menutupi bibir Laila.
" Hap. ketangkap," gurau Azka menaikan alisnya, mereka bergandengan. " tangan yang kiri masukkan ke saku." Suruh Azka, Laila menurutinya.
" Tapi kakiku capek, istirahat sebentar ya?" pinta Laila, Azka melangkah di depannya lalu berjongkok.
" Naik." Sambil meminta Laila naik ke punggungnya, Laila tetap diam dengan menunjukkan wajah kesal dan tidak mau. Azka berdiri menyentuh pipi Laila.
" Ini turun salju bukan mendung?" ucap Azka, Laila mencucu dan tetap diam sambil menekuk kedua tangan ke perutnya.
" Jangan marah tanpa alasan aku bingung," jelas Azka menggaruk rambutnya yang penuh salju " Hu, hu, hu, wanita memang sulit di mengerti." gumamnya, Laila melirik.
" Aku ingin di manja tapi plis, jangan menggendongku lagi, kaki kak Azka bengkak, aku lebih sedih dari itu," Jelas Laila, Azka tersenyum dan memalingkan wajah ke arah kiri, ia menyusul senyum dengan tertawa. 😆😆😆
" Bajumu tipis dan aku, kamu, genjot(lapar) jadi biarkan aku menggendongmu sampai ke lestoran di ujung sana," pinta Azka, Laila merapatkan bibirnya sambil melihati Azka, lalu tak tahan ia tertawa.
__ADS_1
" Genjot guys,😆" Mereka tertawa, dan Laila setuju naik di punggung Azka untuk di gendong. Rasa bahagia untuk mereka, Azka masih bisa berlari walau menggendong Laila. Mereka masuk resto dan menikmati makanan sambil memandang salju turun.
Bersambung.