Mencintai Rembulan

Mencintai Rembulan
Rumah Istana.


__ADS_3

Walaupun berada sangat jauh, mereka pasti kembali ke tempatnya. Mengembara cinta dan mengejar cinta kini sudah Azka dapatkan. Rumah adalah hal yang paling nyaman, jika penuh kasih sayang.


Azka membawa Laila kerumahnya, keluarga kecil berkumpul. Salwa, Asfi, Azka junior dan Mami Sofi serta para pegawai, antusias mereka sangat terlihat, mereka sangat bahagia.


Laila mengumbar senyum ia mencium tangan mertua dan memeluknya. "Hek...," Laila menutup mulutnya, ia segera lari ke toilet. Pelukan dan jabat tangan.


"Akhirnya aku akan punya cucu, trimakasih ya Allah..," Saut maminya.


" Maaf Mami.." Azka memeluk Maminya, lalu memeluk Asfi. Ia tak sabar mengendong Azka junior.


" Urus istrimu, dan istirahatlah." Suruh Salwa, Azka tersenyum lalu memeluk semua pegawainya.


" Pak Adi." Panggil Azka menaikkan alis ada tujuannya.


" Iya Den" Pak Adi senang di panggil Azka.


" Gendong." Suruhnya cepat Maminya melempar bantal sofa, tertawalah semua isi di ruang tamu. Azka berlari ke kamar satu persatu dan melihat Laila. Ia bersandar di tembok sambil melipat kedua tangan keperutnya, memandan Laila denganpenuh cinta.


"He..." Laila merengek dan duduk di pinggir kasur.


" Kenapa by" Azka panik, lalu duduk di sampingnya.


"Mami bau kambing..., apa nanti fikiran mami kepada ku...? jika aku berpendapat Mami bau he..., he he he...hiks." Laila memandang Azka dengan mata berair, lalu merunduk.


"Mami pasti faham kok." Azka menenangkan istrinya. Sentuhan halus mengitari pipi Laila, dan tangan kirinya menggenggam erat tangan Laila.


" Tapi aku merasa aneh, ini parah by, memalukan by." Laila terus bicara dan terhenti ketika Azka memandangnya dengan penuh cinta, perasaan istimewa menyelimuti hati keduanya. Tiada ungkapan kata saling menatap pun sudah mengartikan segalanya. Jodoh telah di kirimkan Allah untuk menentram jiwa, penghibur lara dan ada di saat apapun.


Apa akan jadi kemesraan, "Hek" Laila menuntup bibirnya dan berlari ke toilet.

__ADS_1


"Yah...," Azka kesal namun ia tertawa, Laila kembali dengan tak karuan, wajah lesu dan tubuh yang lemas, ia langsung berbaring. Azka memijat kakinya. Laila menolak tanpa berkata, ia menarik kakinya. Azka ikut berbaring di sampingnya, tiduran miring menyangga kepalanya.


" By, ngaji dong." Suruh Laila, yang tiba-tiba datang kesemangatan.


" Baik. Ada berapa surat di Al-Qur'an yang bisa di tirakatkan untuk iman islam anak kita?" Azka ikut duduk, mereka saling berfikir lalu tersenyum.


"Surat Mariam, Kahfi, Yusuf, Yasin, Arrahman, Waqi'ah, Sajjaddah, Almulk, Luqman, itu udah sembilan surat 'kan?" tanya Laila yang kembali menghitung dengan jarinya.


" Luqman yang ayatnya ada Yabunayya Lha tusriq billah. ketika membaca ayat itu sambil memegang perut mu dan melotot karna menasehati anak kita agar tidak musrik, iya 'kan?" Ingatan Azka sangat tajam, Laila memberi kecupan di pipi Azka dengan sangat cepat.


" Waw kilat menyambar." Ceplos Azka, mereka tertawa. "Aku ingin..." Lanjutnya menggoda, Laila tersenyum. Adegan romantis sudah mulai panas, menambah bumbu di antara keduanya.


" Tunggu!" Laila mencegah suaminya yang sudah tak tahan dan mulai 🌸🌸🌸🌸, Laila mencegah tangan Azka memegang dengan erat. " Aku belum ingin melepaskan ini, kalau di lepaskan kesana-kemari." Lanjutnya.


" Apa?" Azka sangat nafsu, hingga terlihat raut tak sabar di wajahnya.


" Tadi kak Azka belum setuju untuk membaca Surat-surat AlQur'an yang aku bilang." Jelas Laila yang menuntut Azka, untuk membaca Al-Qur'an dan surat khusus untuk bayi dalam kandungan. Laila berharap Azka tak keberatan, wajahnya menunggu sambil melipat bibirnya kedalam dan tatapan penuh harapan.


" Aku bahagia, sangat bahagia..." Ucapan Laila dari isi hatinya yang terdalam dan sangat sahdu. Azka tertawa sebentar dengan menepuk bantal.


" Apanya yang lucu?" Laila kesal Azka tertawa tanpa alasan. Azka menarik Laila dan menarik selimut.


"Azka, Laila..." panggil Maminya, Laila melepaskan tangan Azka dan segera turun, Azka memejamkan mata dengan memeluk gulingnya.


"Mami memanggil, ayo..., by" suruh Laila dengan mengoyangkan kaki Azka


"Panggilan darurat datang," Azka menghela nafas susah "Heh.." dan segera duduk.


"Ayo..," Laila menarik tangan Azka " By. Apa pendapat mami nanti kalau kita hanya di dalam kamar, pamali tau! " mereka keluar bersama menuju ruang makan.

__ADS_1


"By, duluan sana!" suruh Laila, Azka menuruti dan menyapa semua orang dengan senyuman ia berjalan didepan Laila.


Sementara dengan Laila hanya menahan rasa mualnya yang menjadi ketika berada satu ruangan dengan semua orang, ia bersikeras menahan agar tidak melukai hati mertuanya. Ia mendorong Azka, Azka duduk di ruang makan, Laila masih berdiri di tempatnya dengan perasaan kacau serba salah.


"Mami juga mengalami sepertimu sayang, Mami faham, kamu yang santai seperti kita berteman di Paris itu lho.., tidak usah canggung, tapi ingat! jangan makan di kamar! pamali!" teguran Sofia, Laila malah lari karna lama menahan rasa mualnya.


"Maaf Mi..," Azka merasa tak enak karna Laila pergi begitu saja tanpa menjawab.


"Dia tidak sopan karna ada alasan, mami maklum, silahkan Mbak Salwa, Mas Asfi." Mereka mulai makan.


"Aku udah mengambil pekerjaan dan akan jadi arsitek, aku kerjasama dengan Papanya Andre. Kemarin saat di Seoul beliau memberi alamatnya, dan aku sudah mempersiapkan. Do'akan semua." Azka memberi kabar tentang perkerjaan, inilah awal baru dari Azka Faisal yang bukan lagi anak mami yang cengeng.


Mereka makan tanpa ngobrol, selesai makan mereka duduk di ruang tamu, Azka junior berjalan dengan langkah kecil menuju Azka, Azka menggendongnya.


"Mbak sama Mas pasti ingin bicara sama Laila silahkan! Azka junior biar aku gendong." Suruh Azka, Azka faham betapa lama mereka berpisah, sejak kepergian Laila tanpa pamit dan baru ini bertemu lagi.


"Iya. Benar kata Azka, silahkan." Sofia juga pengertian, Azk duduk di samping maminya, mereka berdua bermain dengan Azka junior, Azka melihat Maminya yang terlihat bahagia.


"Maaf ya Mi..." Azka melontarkan kata itu, kata yang tulus dari hatinya.


"Untuk apa minta maaf sayang, Mami sangat bahagia Laila bisa membawa mu kembali, awalnya mami takut kamu akan menetap di Jeju. Rasa cemburu akan cinta anaknya terbagi menyelimuti hati, dan seharusnya mami bisa terima dan bahagia, dan sekarang mami sangat bahagia karna akan ada cucu." Sofia tersenyum, senyum yang memiliki arti. Namun senyum itu hilang dan ada beban di fikirannya. "Azka..."


"Iya," Azka menatap mata Maminya.


"Mami sudah bertahan cukup lama, dan rasa sakit ini sangat menyiksa, jika sewaktu-waktu Papimu kembali dan meminta haqnya, kamu turuti apa maunya, untuk penebusan dosa mami. Jujur saja jika Allah memberi waktu, Mami cuman ingin melihat anakmu tumbuh dengan sangat baik dan jadi anak soleh atau sholihah. Hanya itu keinginan terakhir mami." Sofia menghapus air matanya, Azka memeluk Maminya.


"Aku akan menuruti kata mami, bahkan jika aku harus keluar dari Istana Rumah ini, aku akan terima. Laila membuatku jadi pria yang berakal Mi..., aku harus meraih cinta dan cita-cita sampai di genggammanku."


Mereka saling tersenyum dalam keharuan, Akza junior pun ikut tertawa.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2