
Dingin menyerang tubuh, membekukan badan menyerikan tulang-tulang. Malam ini sangat sahdu, rasa dingin membuat dua insan ini tak bisa tidur.
Azka dengan suara berisiknya ia mengigil.
"He.., he..., Ini sangat dingin..." Keluh Azka yang sudah memakai selimut tebal.
" Katanya akan turun salju." Jawab Laila, tetap santai. Laila duduk melihat kaki Azka yang memerah seperti nama panggilannya merah jambu, Laila menyentuh.
" A.." Tahan Azka.
Laila menarik kaki Azka dengan pelan, menumpangkan di pahanya, Azka duduk Laila memijat kaki Azka, jari-jarinya sangat lihai dengan pelan Laila memijit kaki Azka, agar Azka tidak kesakitan, Azka menikmati pijatan itu sambil senyum-senyum sendiri.
" Ini pasti sakit 'kan?" tanya Laila, Azka melihat mata yang mulai memerah.
" Jangan ada hujan," pinta Azka agar Laila tidak menangis, Azka menarik kakinya. Lalu meletakkan kepalanya ke paha Laila.
" Bolehkan?" tanya Azka, Laila tersenyum.
Azka memejamkan mata.
" Kakiku tidak sakit. Mau berdansa?" Ajak Azka yang akan duduk. Laila menarik pundak Azka mengembalikan ke pangkuannya.
" Kak Azka.., itu akan membuatku hujan deras tanpa petir." Cegah Laila, Azka menggenggam erat tangan Laila, tangan yang membuat rasa hangat dan nyaman, Azka tidak ingin melepaskan genggamannya.
" Aku tidak pernah ingin melepaskan, karna sangat sulit mendapatkanya." Azka mencium punggung tangan Laila. Laila hanya tersenyum.
" Aku baru dengar lagu india film Notebook,"
tunjuk Azka sambil memutar musik yang berjudul Laila Song Notebook India.
" Dengar sangat sahdu." Tunjuk Azka sambil menumpangkan tangan lembut Laila ke pipinya.
" Kak Azka, trimakasih sudah mencintai kekuranganku." Ucapan tulus dari Laila, Azka malah memejamkan mata.
" Pasti lelah." Keluh Laila lalu diam, ia mengambil ponsel Azka.
" Hayo ngintip apa?" Suara Azka mengagetkan.
" Aku hanya mastikan tidak ada foto yang kak Azka curi diam-diam 'kan?" Laila membuka ponsel Azka yang jelas awal buka Lafadz Syahadat. Lalu foto Laila terpampang di bagian aplikasi.
" Tuh, kan...," Laila mencubit hidung Azka.
" Biar, jangan di hapus sulit mencuri fotomu, Aku masih ingin pergi ke gembok cinta, atau lainya." Kata Azka, dengan mata terpejam, Laila menatap wajah tampan dari Azka Faisal. Azka membuka mata dengan lebar, mata yang memerah, Laila terkejut.
__ADS_1
" Ih. Kak Azka..., jantungku copot. Kenapa tiba-tiba membuka mata dengan lebar, itu mengerikan." Laila masih tidak mau menatap Azka, Azka tertawa senang melihat istri ya jantungan.
" Akhirnya kau sadarkan, jika aku memang ganteng, ha?" GR Azka menaikkan alisnya menggoda Laila, Azka duduk di depan Laila, ia meraih kedua tangan Laila lalu meletakkan ke wajahnya.
" Ini sangat hangat." Tatapan Azka sangat penuh arti, Laila menatapnya, mereka saling memandang. Lalu tertawa, Azka merasa malu, ia berdiri, berjalan dan mengambil makanan. Laila melihati Azka, yang berjalan kesana ke mari.
" Jangan memperhatikanku, aku malu," Azka duduk, menarok makanan, mereka makan suzi
" Bismilahirrohmanirrohiim" keduanya bersamaan, Azka menyuapi Laila, Laila tertawa.
" Jangan tertawa nanti keselek (tersedak)" tegur Azka. Mereka menikmati makanan, selesai makan mereka minum.
" Cintaku nyata, bukan pura-pura, tapi aku hanya wanita biasa, wanita yang belum sempurna, dan pastinya aku mudah cemburu, siapa gadis yang bersama kak Azka saat di Seoul? yang di hotel itu..?." pertanyaan Laila membuat Azka berfikir, berfikir cukup lama.
" Siapa? Hi hu! 😆, kau cemburu dengan wanita itu, aneh, 😆😆😆"
Laila mencubit lengan Azka.
" Tidak." Laila mengelak.
Mereka saling diam sejenak, dan saling berfikir mau berkata apa, mereka kehabisan bahan obrolan.
" Hkem." Azka
" Hem, juga." Laila menyahut.
Mereka tertawa tanpa alasan yang pasti.
" Kak Azka jangan terlalu mencintaiku," ucapan tiba-tiba dari Laila, Azka melangkahkan jari tengah dan telunjuk berjalan mengitari lengan Laila, yang tertutup jaket tebal.
" Aku sudah mencintaimu, walau aku sendiri tak tau artinya cinta, cinta memang imajinasi tanpa ma'na. Kata yang tulus dari hati." Azka masih memainkan dua jarinya ke telapak tangan Laila.
" Geli, kak..." Laila mengenggam erat tangan Azka. Dan terus menatapnya, Azka salah tingkah di buatnya.
" Jika cinta memang imajinasi, maka seharusnya kakak bisa berkarya dengan imajinasi." Lagi-lagi Laila ingin membantu menjadikan Azka pria mandiri.
" Aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin jadi budak cinta, saling mencintai bukan dalam kebodohan yang membuat kita rapuh. Tapi kita bersama saling menguatkan satu sama lain. Aku juga sadar aku terlalu menuntut, seharusnya aku tidak egois untuk membantu tapi memaksa kak Azka untuk mandiri. Karna setiap orang yang jatuh cinta itu sering kali melakukan ambisi, obsesi, kebodohan. Aku ingin kita saling cinta sewajarnya, karna jika salah satu dari kita ada yang di ambil Allah harus iklas, fikiran ku sampai kesana, aku sering mengingat kematian sejak aku tidak bisa jalan, dengan ingat akan adanya maut, aku lupa cara bahagia di alam sesaat ini, namun kau berhasil menghidupkanku lagi, entahlah bagaimana nanti cerita cinta kita saat end nya, sampai nenek kakek, atau meninggal muda atau..." terang Laila panjang lebar.
" Syut..., aku tahu maut akan memisahkan tapi setidaknya, mari kita nikmati hari pemberian dari Allah saat kita bersama. Kau adalah perjalananku, kau pula tempat tujuanku, Sangat sulit memalui hidup tanpamu, kau adalah kebahagiaan di dalam hidupku, kau pula yang ku sertakan di setiap doa dalam sajadahku. Aku selalu meminta hidup bersamamu, bahkan aku meminta agar Allah SWT menyatukan kita sebagai jodoh akhirat." Jelas Azka, dengan kata puitisnya.
" Jika benar aku jodoh akhiratnya kak Azka, kak Azka pasti berpaling." Saut Laila cepat.
" Aku tidak mungkin berpaling." Azka ngotot, sambil menatap tajam Laila, Laila tak sanggup melihat tatapan yang menarik hati itu, Laila merunduk dan mengelus tangan Azka.
__ADS_1
" Jika Allah menghadiahkan bidadari, mana bisa kak Azka menolak. Di dalam hadits 'kan ada, yang menerangkan jika pria soleh mukmin, lalu masuk surga akan di hadiahkan 40 sampai 70 Bidadari. Ya pasti terbagi-bagilah cintanya." Perkataan Laila membuat Azka tertawa.
" Itu hadis yang doif (lemah) sayang..." Panggilan Azka menyejukkan hati, Laila tersenyum Azka mengulangi" Sayang, lagi?" Laila mengangguk. Azka tersenyum
" Sayang. Wallahu a'lam, ya semoga saja, bisa dapat 40 bidadari dari surga sangat membahagiakan pastinya, kau tidak akan dapat bidadara..., 😆😆😆"
" Kenikmatan surga, aku takkan cemburu jika kak Azka bercumbu dengan bidadari. Karna hadiah untuk istri solihah sangat iatimewa, lagian jika di surga tidak ada rasa iri hati, dendam, dan cemburu, saking bahagianya, perasaan panas itu tidak ada. SubhanaAllah"
" Aku maunya denganmu." Goda Azka menaikkan alisnya, tangannya mulai meraba, Laila menepis " Ok, maaf. Membicarakan soal surga, membicarakan bidadari adalah cara Allah agar menambah semangat dalam ibadah, bagaimana hati tidak bahagia jika kenikmatan surga tiada duanya, dan tidak ada di bumi ini. Melihat burung terbang lalu kita ingin makan burung itu, tiba-tiba jatuh dan sudah menjadi makanan enak, ayam geprek, atau ayam sambel hijau. SubhanaAllah..., tidak sampai jika di fikir dengan otak, " Mata Azka memandang Laila, Laila tersenyum.
" Kau pasti cemburu jika aku mendapat bidadari?" Azka menggoda dengan pertanyaan.
" Tidak, karna ketika kau bercumbu dengan mereka aku akan menikmati hadiah dari Allah SWT. Ya semoga saja kita bisa menjadi penghuni surga, karna aku sadar diri dosaku terlalu banyak." Wajah Laila sedih.
" Namun Rahmat Allah segala-galanya, selagi kita mau mendekat dan meminta ampun, tidak melakukan maksiat, ingsyaAllah seperti firman Allah SWT Dalam surat Qaaf ayat 31, yang artinya: Dan dekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertaqwa. Yang perlu kita perbaiki adalah hati dan akal fikiran,mari kita jernihkan akal fikiran dan qolby." Perkataan Azka membuat Laila merasa tenang dan di hujani banyak cinta.
" Astagfirullah, kau membuat aku kagum pada diri sendiri ya Allah, ini menyesatkan hati, merah jambu." Lanjut Azka yang masih di tatap tajam Laila.
" Au aku tertusuk."
" Apa?"
" Matamu."
Laila tertawa lalu menyeples paha Azka.
" Aku hub, hub, hub, kepadamu." Azka mengungkapkan betapa ia sangat mencintai Laila tanpa batas.
" Aku tidak bisa mengukur dalamnya lautan dengan dasar cintaku, aku tidak bisa menimbang"
" Syut, jangan merayu lagi, hatiku jungkir walik," Jari telunjuk Laila menempel di bibir Azka. Mereka tertawa.
Azka menginginkan sesuatu dari Laila, ia meraba bibir Laila, dengan ibu jarinya, Laila tidak faham keinginan Azka, Laila menurunkan tangan Azka.
'Laila sensitif dong.'
" Kak Azka, jika cerita di Drakor paling sering, teman kecil lalu terpisah dan saat dewasa bertemu, tapi tidak ingat lalu kemudian saling benci tapi rindu, setelah ada cinta di pisahkan lagi selama 2 tahun atau 3 tahun. Lalu saat bertemu lupa-lupa ingat, dan akhirnya bersatu lagi."
" Aku tidak faham." Azka bingung sambil menggaruk rambutnya.
" Sangat sulit menjelaskan dengan pria yang sukanya lihat Spongebob. Ah, tidur saja, biar bisa solat tahajjud." Laila berbaring. Azka masih di tempatnya berjarak satu meter.
" Kak Azka peluk, ini sangat dingin." Pinta Laila membuncahkan gairah Azka, Azka mendekat dan memeluk erat, sangat erat. Azka masih saja sungkan untuk meminta haknya.
__ADS_1
Mereka terlelap di cuaca yang dingin.
Bersambung..