
Pernikahan adalah ikatan dua manusia menjadi satu, dalam ikrar dan janji.
Setelah selesai acara pernikahan magrib tadi, mereka solat isya' di masjid Arrahman. Dengan pengertian Azka mengambilkan air untuk berwhudlu untuk istrinya, lalu mengalirkan air suci itu dengan pelan agar baju bagian paha tidak basah.
Sungguh pemuda yang sangat romantis, peduli, pengertian dan tulus. Maklum ini cintanya, kalau bukan cinta tiada mungkin rela mengorbankan sesuatu yang sangat.
Azka mengamati cara whudlu yang sempurna dari Laila.
' Dia pun berwhudlu dengan sempurna tanpa meninggalkan sunnah. SubhanaAllah, dia gadis solihah ya Allah, bahagiakan dia. Maafkan hamba..., hanya saja rasanya tak adil melihat keadaannya seperti ini, aku melihat dia tak bahagia walau tak mengeluh, aku merasakan sakit. Apa cintaku ini yang keterlaluan?'isi hati Azka.
Sungguh air whudlu menambah kecerahan dan pancaran luar biasa, anggun berseri, dan merah jambu meronakan pipinya. Laila sederhana namun mempesona. Mereka masuk masjid dan solat, Laila solat dengan duduk di kursi roda.
Malam berlalu Azka menyewa rumah di dekat Masjid Arrahman.
Om Kim pulang ke rumahnya.
" Suasana sangat dingin, mari masuk, pemilik rumah sudah memasakkan sop buntut pasti segar dan hangat." Ajak Azka membuka pintu.
Azka membopong Laila.
" Aku ingin langsung tidur kak!"
" Oke..."
Azka masuk ke ruang petak ukuran 6x6 meter.
" Tidur di lantai." Azka menurunkan Laila ke kasur lantai.
" Silahkan istirahat." Azka keluar.
Makanan di meja tiada yang menyentuh. Azka duduk di depan rumah melihat bintang.
" Aku adalah mahbub komar(mencintai rembulan), bulanpun tak terlihat malam ini.
Ya Allah" Azka merunduk ia teringat masa-masa saat dia dugem dan mabuk.
" Atagfirullah" desahan nafas berat membelenggunya, dia benar-benar sudah taubat.
" Kak.."
Panggil Laila, Azka bergegas masuk.
" Iya!" Azka berdiri di depan Laila.
" Aku ingin pipis" ucap Laila pelan, yang terlihat mungkin tak nyaman.
Azka mengambil kain dan melipat lalu menutup kedua matanya dengan kain itu, agar dia tidak melihat Laila dalam auratnya.
Sebenarnya perasaan Laila mungkin tesayat, air mata itu dengan mudah membasahi pipinya yang merah jambu. Azka tak melihat Laila menangis.
Tapi Azka mendengar Laila bernafas berat.
'Aku tak tahu apa yang kau simpan Laila? perasaan apa yang kau pendam aku tak pernah tahu! kau tersiksa lebih dariku itu pasti. Laila, merah jambuku jangan
menangis.' Azka.
Azka membopongnya
" Beri aku arah" sangat sulit melihat dengan mata tertutup, Laila menangis di dada Azka, ia menangis melepaskan beban sesaknya, menangis tersedu-sedu dengan meremat baju di pundak Azka.
" Jangan membuatku lemah dengan tangisanmu Laila! " air mata Azka membasahi tutup matanya.
Air asin itu melintas mulus di pinggir hidung Azka lalu terjatuh di jidat Laila yang masih menyembunyikan wajahnya di balik dada. Laila menaikan wajah ketika air mata Azka mengalir ke alisnya. Melihat Azka yang terdiam dan air mata. Entah apa yang ada di benak Laila, apa mungkin kasihan atau lain-lain. Laila memang penuh dengan teka-teki. Katanya mencintai Andre itu nyata atau taktik belaka? Entahlah!
Kreak
" Maju dua langkah kak..." tunjuk Laila memberi arah-arah. Laila tidak bisa melakukan semua sendiri.
Tak bisa di ceritakan pengorbanan Azka sangatlah besar. Dalam keadaan Laila tak bisa di bayangkan bagaimana Azka membantunya dalam segala hal, seperti membopong membantu ke toilet, membantu mengenakan baju, dan lain-lain tanpa melihat. Apakah ada cinta setulus Azka di dunia ini? mungkin ada dan mereka yang bisa tulus berkorban adalah orang hebat.
Azka mengurus semuanya termasuk memakaikan baju, dalam gelapnya mata yang di tutup.
" Kak..., Aku tersiksa melihat pengorbananmu" suara Laila benar-benar terpecah, " Hiks. Aku tak bisa memberikan apa-apa.
Setelah selesai mereka kembali ke tempat tidur. Azka melepas tutup matanya.
" Au...!" teriak Azka
" Kak kenapa? " Laila panik
" Jariku sengaja ku injak dengan kaki " ucapan Azka mengingatkan kelakuan Laila dulu. Tangis Laila terganti dengan senyuman, ia teringat kekonyolannya.
__ADS_1
" Kau sama sekali tidak melupakanku!" Laila memandang Azka dengan penuh makna yang tidak bisa di artikan.
" Tok, tok, tok. Permisi..., hati milik merah jambu bolehkan aku masuk? hanya sekedar menghibur, takkan lebih dari itu!" Azka menatapnya, Laila tersenyum, senyuman yang membuat Azka benar-benar bahagia.
" Kreak..., silahkan!" Sambut Laila, Azka tertawa ringan.
" Mari kita hany moon, bersama menyaksikan bulan sabit dan gugusan bintang." Ajak Azka.
" Aku mau..., tapi aku laper..., kalau makam nanti pup..." Laila ragu akan mengatakan itu. Azka malah tertawa dengan puas.
" Ayo!" Azka kembali membopong Laila baru kali ini Laila berpegang dengan kedua tangan melingkar di belakang leher Azka.
Mereka makan sup buntut
" Lihatlah nasinya sangat sedikit!" keluh Azka mendemo nasi di mangkuk kecil.
" Ini sangat tidak cukup untukku!" lanjutnya, Laila memberikan nasinya.
" Kakak harus sehat karna akan merawatku," saran Laila menyodorkan mangkuknya, Azka menatap Laila.
" He... Kau pikir aku sungguh-sungguh, aku hanya mencari sesuatu agar kau selalu tersenyum, He.. aku tak sekonyol dulu.." Ceplos Azka, Laila tertawa
" Udah sadar kalau kak Azka konyol?😆😆😆he..., masih suka nonton Spongebob?"
" Tidak, aku melihatnya..."
" Apa? palingan fotoku..." PD Laila sambil menyruput sup itu.
" Bukan! bukan foto, tapi gadis merah jambu di depanku." Canda Azka ponselnya berdering panggilan Vidio Call dari Asfi. Azka meletakkan ponselnya di depan Laila, Azka keluar dan kembali menatap hamparan bintang malam di bawah bunga berguguran bunga sakura. Azka mendengar suara Laila.
" Assalamu'alaikum..." Jawab Laila. Azka menghindar agar tidak mendengar percakapan mereka. Dia menjauh.
" Awal dan akhir kisahku sudah Engkau tulis di Louhul mahfudz."
Azka hampir melangkah jauh. Ia berlari sekuat tenaga untuk kembali ke rumah sewaan.
Melihat Laila menyapa Azka junior, Azka tersenyum, lalu masuk. Dia duduk di samping Laila.
" Hai Om Azka..." Sapa Salwa, Azka tersenyum tipis. Panggilan vidio terputus.
" Azka ku..." gumam jelas dari Laila
" Ulang dong!" pinta Azka
" Kak Azka tidak lelah?" tanya Laila khuwatir
" Ada cerita mau mendengar?" ucap Azka lalu menyruput teh
" Itu teh ku!"
" Maaf, sengaja 😅" Azka santai
" Kak Azka berkeringat!" Laila mengambil tisu lalu mengelap keringat Azka.
" Aku habis lari maraton😅, cuaca sangat dingin. Jadi jika berkeringat mungkin sedikit mengurangi!" Kata Azka, Laila tersadar jika ia menunjukan perhatian maka Azka akan berfikir lebih.
" Tadi kak Azka mau cerita apa?"
" Saat di pondok aku pernah berkunjung kerumah alumni yang sudah jadi Ustadz. Namanya kang Salim. Beliau di uji lumpuh total, istrinya setia mendanpingi, padahal kehidupannya juga pas-pasan, rumahnya saja tidak layak. Aku mendengar walau lumpuh beliau ahli kitab kuning. Dan benar ketika aku datang beliau sedang matla'ah kitab. Ya Allah. Heh..., dan hebatnya beliau dan istri sama sekali tidak mengeluh. Laila La tahzan innallaha ma'ana." Azka mencoba memberi semangat
" Susah untuk tidak mengeluh jika merepotkan orang lain." Jelas Laila.
" Aku bukanlah wanita Solihah untuk kak Azka. Aku akan berdosa besar dan mungkin tak akan mencium bau surga. Ini jalan uang ku pilih. Aku durhala kepadamu!"
" Tidak Laila. Masuk surga atau tidak hanya Allah yang tahu. Karna setiap perbuatan mempunyai hisab. Semua akan dapat balasan dari perkara kecil sampai besar. Akan di kupas satu-persatu dengan tajam, setajam silet!"
ucapan serius jadi konyol. Laila membuka mata dengan lebar ketika mendengar 'setajam silet' Laila menahan tawa.
" Kok jadi gosip sih, kamu tahu maksudku! aku jadi salah tingkah, mari ku antar tidur."
" Tunggu dulu buat aku terpukau dengan satu hadist." Pinta Laila mengejutkan. Mata Azka terbuka lebar.
" Sulit. Sebagai laki-laki yang mencintaimu. Tunggu! kau akan terpukau?" tanya Azka menatap penuh harap.
" Mulai! ya sebatas kagum."
"وضعالميزان Ù„Ù„ØØ³Ø§Ø¨ بعد دخول هوءلاءالجنة"
" Maka di pasangkanlah timbangan amal untuk keperluan hisab, setelah mereka yang tersebut masuk ke surga" Azka menghela nafas panjang.
" Hisab adalah urutan dari hari Kiamat, ada berapa urutan itu?" Laila menantang Azka.
__ADS_1
" Kalau hadiahnya bulan madu, aku akan menjawab!" ledek Azka
" Memanfaatkan keadaan!" keluh Laila mulai malas.
" Mana bisa bulan di beri madu! ada-ada saja!" gumam Azka.
" Nanti beri aku nilai, ini sama saja ujian nasional memikat hatimu walau tak terikat. Nelangsanya aku..." Lanjut Azka, Laila tersenyum lalu tak jadi.
" Sudah terlanjur aku melihat senyumanmu. Yes! Alhamdulillah.., Sekarang aku serius. Urutan-urutan arena kiamat adalah, titik dua.
Satu: Kebangkitan dari kubur.
Dua : Penghimpunan di Mahsyar.
Tiga : Menghadap Tuhan sekalian alam.
Empat: Pemisahan Nabi-nabi dengan membawa umat masing-masing.
Azka mengangkat kedua tangan" Laila angkat tangganmu" Laila bingung tapi dia mengankat kedua tangannya. Azka berdoa."Ya Allah, salamkan Nabi Muhammad akui hamba dan istri hamba sebagai umatnya Amiin..." Ceplos cepat Azka. Laila memandang Azka dengan penuh tanda tanya dan sedikit rasa kagum. mungkin? Azka melanjutkan
Lima: Pembagian catatan amal, ada yang mengambilnya dengan tangan kanan, ada pula dengan tangan kiri.
Enam: Sidang tuntutan.
Tujuh: Hisab (perhitungan semua amal)
Delapan: Mizan (timbangan amal)." Stelah menjelaskan Azka membuang nafas.
" Heh. Mengerikan! Firman Allah ini memang benar. Dasar manusia tidak tahu di untung!"
" Mamang bagaimana? FirmaNya!"
"وكان الانسان اكثرشيءجدلا"
"Artinya: Dan manusia itu memang sesuatu yang paling banyak membantah. Astagfirullah..., aku masih sedikit menimba ilmu," Azka memandang istrinya, " Wau..., ternyata ilmunya ada yang masuk ke dalam otak..!" ledek Azka pada dirinya sendiri. Mereka tertawa ringan.
" Kok tahu isi hatiku? ini hanya kagum belaka!" terang Laila kembali meminum teh yang tadi di minum Azka.
" Itu, tadi sudahku minum, Laila!"
" Lupa!" Laila nyengir.
" Aku mempelajari hal-hal yang menakutkan. Seputar siksa kubur, gonjang-ganjing kiamat, agar aku tidak mengulang maksiat itu lagi." Ucapan Azka membuat Laila terdiam dan memikirkan sesuatu.
" Mari tidur" Azka berdiri lalu membopong Laila, " Kenapa tiba-tiba melamun?" Azka tanya karna wajah Laila murung.
" Kau masih menyukai hujan?" Tanya Azka, membuat Laila menatapnya, jarak mereka hanya satu jingkal antara jari kelingking dan ibu jari.
Laila bersandar di bahu Azka,
'Tingkahmu seperti ini menunjukkan apa Laila? apa memang aku sandaranmu? atau hanya titik yang tak ku temukan jawaban. Rahasia hatimu, di mana kau Menyimpannya? aku Ingin tahu rasa apa yang kau Miliki untukku. YA Allah aku yakin dia Mencintaiku, aku kembali berharap.'
Batin Azka.
" Katanya mau ajak aku jalan-jalan! kapan?" Tanya Laila menyadarkan Azka.
" Besok, sekarang tidur simpan energi biar kamu semangat." Azka membaringkan Laila.
" Kak Azka maaf dan trimakasih," ucapan tulus dari Laila.
" Kenapa minta maaf dan trimakasih?" Tanya cepat Azka berusaha mengalihkan pandangannya ke ponsel.
" Maaf aku tak bisa mencintaimu, dan trimakasih kau sudah tulus mencintaiku." Ucapan Laila sangat menyedihkan.
" Sudah cepat tidur," Azka berdiri.
" Tunggu kak Azka!" Panggil Laila, Azka menoleh.
" Nikmatilah tubuhku, sebagai
balasannya," Kata Laila menawarkan diri, Azka sangat terkejut.
" Kau kira aku hanya ingin tubuhmu! untuk memuaskan hasratku. Aku tak menyangka Laila..." Azka marah dan kecewa ia menyahut perkataan Laila tadi dengan bicara keras. Azka hendak melangkah.
Laila menangis lalu berkata
" Aku lebih sakit kak, Heh..., hiks, aku istri tapi tak bisa melayani sepenuh hati, heh...hek...,huh..., aku tahu dosaku tak bisa di ampuni, aku juga tidak bisa berpura-pura mencintaimu, hiks..., aku tersiksa melihat pengorbananmu." Tangis pecah suara Laila terbata-bata.
" Aku mencintaimu untuk teman hidupku, bukan untuk memuaskan ke inginnanku, kau wanita terhormat, aku tidak bisa melakukan itu, " jelas Azka pergi dari kamar dan duduk di ruang makan.
" Ya Allah..." Azka meremat kepalanya lalu menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia memejamkan mata.
__ADS_1
...Bersambung....