
Setelah saling diam dan tidak saling bicara selama berjam-jam, akhirnya Azka tidak sabar lagi.
Ia menelpon nomer istrinya berkali-kali tidak di angkat. "Jelas saja dia hampir tidak pegang hp. Istriku..." Azka bergegas ke kamarnya, namun Laila entah kemana, nafas berat keluar dari lubang hidungnya.
Melihat hp hanya tergeletak di tempat Azka mengecasnya, Azka mencaput cok casnya, dan memeriksa. "Toh! Nggak di buka! Dasar wanitaku, aku menantimu dari tadi, tapi kamu tidak menganggapnya. Apa aku harus mengungkapkan betapa aku rindu, harus mengatakan maaf. Hal kecil menjadi besar. Kemana lagi dia." ujar Azka yang kemudian berjalan cepat. Ia keluar dari kamar dari lantai atas melihat Laila ternyata sedang menikmati pijitan Bik Ani sambil memakan buah.
"Dasar Ratu!" ejeknya tersenyum kecil melihat istrinya.
"Sudah bik sakit, apa gara-gara tidur di lantai ya." perkataan Laila di dengar Azka,bik Ani menghentikan pijatannya.
"Kasihan istriku." Azka berjalan menghampiri istrinya, namun Laila sadar jika Azka sudah menuruni anak tangga, Laila masih belum ingin bicara, jika bicara pasti tangisannya meluap. Ia memilih kabur dari sofa.
"By." panggil Azka cepat, Laila tidak berani menghadap ke suaminya, ia memalingkan wajah dan tetap berdiri di tempatnya.
"By, kita perlu bicara." ajak Azka nekat walau rasa gengsi ada ia benar-benar melawannnya untuk berbaikan dengan istrinya.
Bagaimana ini, jika aku berbicara pasti aku menangis, ini saja udah gerimis dari mataku. Batin Laila
"Neng buah stroberry dan jeruk nya datang, cepat di makan." Bik Miah membawa buah segar dari kebun. "Sudah saya cuci." Bik Miah meletakkan di meja, Laila tersenyum lalu kembali berjalan ke sofa, ia makan dengan asiknya, tanpa Azka tau matanya berkaca-kaca dan akhirnya terjatuh air bening itu melintas di pipinya.
"Oke kalau mau diam-diaman! Aku juga betah." ucapan Azka dengan nada tinggi, dan pergi begitu saja.
Sebenarnya aku harus bagaimana? Aku sudah memberanikan diri dengan mengajak ngobrol eh, dia malah diam, dan asik makan. Dan nanti katanya aku nggak peka. Wanita yang rumit, emang aku tau isi hatinya, aku kan bukan dukun yang bisa menerka-nerka isi hati seseorang. Ini sangat rumit.! Batin Azka.
"He..., he..., toh! Dia kembali membentakku, sakit tau... he he he hiks dadaku sesak." ucap Laila pelan sambil meluapkan kesedihannya dengan makan.
__ADS_1
Waktu berlalu malam telah tiba seperti biasa di waktu setelah solat isya' Azka membaca 5 surat dalam Alqur'an.
Istrinya sama sekali tidak kembali ke kamar. Padahal ini sudah surat Al-luqman. Saatnya Azka mengelus dan melotot ke perut sang istri dengan mengucapkan ayat Al Qur-an 13-14 yang biasa Azka menasehati bayi dalam kandungan dengan ucapan Yabunayyalatusriq billah.
Ia tetap melanjutkan mengajinya. Azka selesai mengaji ia keluar kamar dengan sarung hitam dan taqwa putih, matanya mencari istrinya, melihat istrinya bersama para asisten rumah tangga, yang sedang asik nonton film India Notebook.
"MasyaAllah gara-gara TV, sampai lupa!" Azka terlihat kecawa, ia membuang nafas, lalu berjalan ke kamar Maminya, Laila hanya melihat suaminya melintas di depannya.
Aku tidak butuh rayuanmu By, aku hanya ingin mendengar maaf, kamu sama sekaki tidak minta maaf. Dan sekarang hiburan ku nonton bareng, filmnya keren pula, aduh so sweetnya cinta melalui buku, mengenal dari tulisan yang tertinggal. Hmmm. Batin Laila.
Setelah selesai nonton Laila ke kamar ia berwhudu lalu mengaji.
Sedangkan Azka sedang asik ngobrol dengan Maminya. "Kata Bik Ani, bawa motor prang desa? Motor siapa?" tanya Maminya penasaran.
"Tapi Mami tidak boleh marah." tegur Azka.
"Besok antar Mami bertemu Papi, Mami ingin minta maaf, dulu sudah memitnahnya!"
"Mami beneran?" Azka masih tidak percaya jika Maminya punya niatan baik pada Papinya.
"Iya Azka, minta maaf adalah mengakui kesalahan, terkadang orang gengsi atau apalah. Tapi Mami harrus meminta maaf sebelum terlambat. Apa kamu masih belum bicara dengan istrimu?" tanya Sofia, Azka membuang nafas.
"Dianya yang susah aku sudah mengajaknya untuk bicara, dia diam tidak menjawab."
"Dengar Azka, minta maaf atau memaafkan itu perkara kecil tapi terkadang orang yang membuatnya rumit karna gengsi. Dan jika sudah suami istri lebih baik untuk rebutan salah!" perkataan yang belu jelas dari Maminya, mata Azka punuh tanya.
__ADS_1
"Maksudnya?" Azka bingung dengan ucapan Maminya.
"Rebutan salah, ini salahku aku minta maaf entah kamu duluan atau istrimu, apa sulitnya sih? Sulit karna ego yang menguasai diri, pengakuan kecil yang tambah mempererat hubungan. Ingat! Manusia tidak ada yang sempurna. Jadi mengalah bukan berarti salah datanglah ke kamarmu, bujuk dia." titah Maminya, Azka menatap aneh.
"Aku sudah mengechatnya." jawab Azka.
"Kamu tahu istrimu, dia hampir tidak pernah pegang hp. Masa kamu nggak faham! Mengalah kasian anakmu, dia pasti diam-diam menangis!" ujar Maminya yang membela Laila.
"Kata siapa!" Azka mengelak, "Orang asik nonton tv, sampai aku lewat pun dia tidak menghiraukan. Sampai tidak solat isya' berjamaah, biasanya kan dia menemani saat aku ngaji 5 Surat Al-Qur'an yang dia minta." Azka membela diri dengan nada emosi.
"Mami wanita, jadi faham kamu tidak tau dan tidak peka, dia itu minta kamu ngomong secara live! Langsung maksudnya, pasti dia menunggu itu dari kamu. Jadi ngalah dikitlah. Ya!" bujuk Maminya, Azka malah berbaring di pangkuan Maminya dengan bersikap manja.
"Setiap laki-laki di bilang nggak peka emang bisa baca pikirannya. Dasar wanita!" keluh Azka yang kemudian di cubit Maminya.
"Au sakit Mi!" Azka berdiri.
"Iya deh, nih cus, tapi kalau dia sibuk nonton tv aku tidak mau memanggilnya. Gengsi dong banyak para Bibik pula!" ujar Azka yang lalu berjalan keluar kamar.
Ia berjalan sambil hpan saat di ruang tv, ia melirik, tidak ada istrinya, ia berlari ke kamar juga tidak ada. "Hilang lagi!" Azka keluar kamar dari atas, ia melihat istrinya sudah duduk bersama para Bibik. "Kapan kesitunya. Heh." Azka menuruni anak tangga, ada niatan di hatinya untuk memanggil.
Ia hanya mondar-mandir ke dapur balik lagi, ke dapur lagi. "Aku yang tidak peka, atau dia yang tidak peka. MasyaAllah" gumamnya. Muncul ide.
"A...." Azka sengaja teriak kesakitan, semua menoleh dan mendatanginya, tapi Laila sudah tau jika itu hanya kepura-puraannya. Melihat Laila tidak menghiraukan, ia menginjak kakinya sendiri sampai benar-benar sakit.
"Den kenapa?" tanya Bik Ani datang dari belakangnya.
__ADS_1
"Tidak." Azka sangat kecewa istrinya tidak menghiraukannya.
Bersambung