
Waktu berlalu dengan sangat cepat, usia kandungan Laila menginjak 4 bulan. Ia setiap pagi ia jalan-jalan dengan suaminya, jalan bersama menikmati embun pagi, dan terbitnya mentari.
Memilih pendamping hidup bukanlah hal yang mudah, karna suami-istri bukan cuma teman tidur melainkan teman untuk berbagi apapun, saling mengerti dan menghindari cemburu buta. Laila merasa sangat bahagia karna mendapat sosok Imam yang sabar, pengertian dan sangat mencintainya.
Kini pun Azka sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya, ia berhasil membagi waktu, saat kerja lembur pun ia masih mengingat solat Malam dan menepati janji pada istrinya untuk mengaji 9 surat dari Al-Qur'an setiap harinya.
Kini cinta Laila terlihat jelas dari matanya dan perhatiannya, ia berada di dapur ikut memasak bersama para pegawai, Mami Sofia datang dengan batuk-batuk, wajah pucat karna penyakit Miningitisnya kambuh.
Laila bergegas menuntun mertuanya lalu mendudukkannya di sofa dengan pelan. "Kerumah Sakit ya? Mi!" raut wajah Laila panik.
"Sayang kamu tidak boleh capek," Sofia menelus dahi Laila yang berkeringat, sangat bahagia jika punya mertua yang baik. Sofia bisa kembali kepada Azka atas permintaan Laila saat bertemu di Paris Prancis, hingga mereka menjadi teman.
Laila kembali merasakan bau tak sedap, ia merasa kurang ajar jika mual di situ, ia lari ke toilet. Azka datang dengan kertas-kertas yang besar dan lebar, disaen perumahan padat. Ia menggelar satu disain lalu memotonya dan di kirimkan ke bosnya. Laila keluar dari kamar mandi, Azka mengangkat telpon, Laila sangat lemas setelah muntah-muntah.
Duduk sebentar untuk meringankan tenggorokan, ia mengambil minum lalu meletakkan minum itu, namun tanpa sengaja air dalam gelas tumpah ke kertas pekerjaan Azka.
"Ya Allah...," Laila takut ia mengangkat kertas itu dan segera mengeringkan, Azka datang ia melihat Laila yang sibuk mengeringkan, Azka segera merebut kertas itu.
"Kamu ceroboh banget sih!" Azka sangat kesal ia membentak dengan suara keras, matanya menatap tajam Laila.
"Maaf by..." Laila hanya melontarkan itu dengan mata memerah, ia tak berani melihat suaminya, Laila diam seribu bahasa.
"Hah." Azka membuang nafas berat karna lelah 'Pasti seru jika di kerjai ha ha ha.' lanjutan di batinya.
"Aku capek by, tidak berguna!" Azka membanting kertas itu, Laila tak tahan ia pun meluapkan isi hatinya dengan berlari sambil menangis. Azka mengejarnya lalu menutup pintu kamarnya. Laila dan dia terkurung di dalam kamar.
"Maaf by," Azka mendekat dan menghapus air mata istrinya, "aku capek sayang!" Azka memeluk Laila.
"Ini salahku, tapi jangan menggetakku. Sakit hatiku..." Laila memeluk Azka, Azka tertawa puas 😆😆😆.
Laila mengangkat kepalanya lalu memukul dada suaminya.
"Au..." Azka teriak kesakitan "Lagi!" pintanya manja sambil menaikan kedua alisnya, Laila mencubit suaminya yang genit.
__ADS_1
"By udah ah! Mami kambuh cepat antar ke Dokter," Laila membuka pintu.
"Kamu serius?" Azka mulai panik dengan keadaan Maminya, Laila mengangguk Azka segera berlari mencari Maminya.
"Bi Ima..." Azka berlarian, kesana-kemari
"Iya Den." Bi Ima datang dengan nafas terputus-putus.
"Mami, bagaimana keadaanya? Apa baik-baik saja? Heh..., ya Allah..." Azka bertanya berurutan.
"Mami baik-baik saja," datang Maminya dari kamar sebelah. "Azka ajak istrimu jalan-jalan agar fikirannya rilex dan bahagia, itu sangat berpengaruh untuk cucu Mami." Sofia sangat pengertian, Azka membalas dengan senyuman hangat lalu memeluk Maminya.
"Trimakasih Mi, Bik titip Mami." Azka tak sabar, bik Imah mengangguk, Azka bergegas ke Laila. Ia mencari Laila di manapun, kesana-kemari mengelilingi rumah, membuka semua kamar satu-persatu, kamar Azka ada 14 ia pun tak bershasil menemukan istrinya. Azka menelponnya, dan terdengar deringan lagu *Anna uhibbukafillah* Azka lari ke kamar dan Laila tidak ada, hpnya pun hanya tergeletak di ranjang.
"Dia sangat suka, membuatku capek!" Azka merasa lelah, ia mencari ke kamar terakhir kamar yang sering ia tiduri.
Ia naik sepeda karna jaraknya lumayan jauh, Rumah istana yang megah dan lebar serta luas. Entah siapa yang punya ide membangun rumah sebesar ini yang jelas cukup di huni 100 orang. Azka sampai "By.., by" ia tak berhasil menemukan istrinya.
"Allahhuyakarim anjil a'laina minassaamai ma'am midrooro... (doa minta hujan)" gumamnya.
"Sayang, di cari-cari malah senyum sendiri, jangan jadi Laila majnun donk!" Azka jongkok di bawahnya.
"By jangan di bawah!" Laila mangangkat lengan Azka pun berdiri.
"Aku masih galau, aku ingin Allah menurunkan hujan. Dan ternyata harus bersabar," Laila berdiri dan memandang langit cerah yang sangat muhal sekali jika turun hujan, Azka merasa kasihan.
'Ya Allah turunkan hujan untuk kami,berkai kami, ya Allah Engkau sangat mudah mengabulkan apapun, semoga Engkau mengabulkan. Aamiiin.' batin Azka.
"Awas ada ulat!" Azka melempar jauh ulat yang berada di kerudung Laila, Laila menatapnya.
"By..." Laila kesal, raut yang tak mengenakkan di pandang.
__ADS_1
"Lho? Kok malah mau hujan air mata, aku salah apa sayang?" Azka bingung melihat mata Laila berkaca-kaca, terkadang wanita hamil sangat sulit di mengerti.
"Kak Azka bunuh ulat itu, katanya kalau nyiksa hewan akan berpengaruh pada baby kita, jadi jaga-jaga!" Laila meminta Azka melakukan sesuatu.
"Aku bingung, aku harus bagaimana?" tanyanya sambil mengigit bibir bawah.
"Istigfar 1000 kali sambil menangis,minta ampun kepada Allah, bagaimana pun ulat itu tak bersalah, dan kak Azka menyiksanya," perkataan Laila sangat cepat dan membuat Azka tertawa, "Ih. Malah ketawa!" Laila cemberut sambil melempari Azka dengan bunga melati di sampingnya.
"Sayangku..., setiap malam aku bermunajat di atas sajadah, mendoakanmu dan anak kita. Oke nanti malam khusus aku beristigfar, tapi maukah kamu jalan-jalan bersamaku? Kita berpacaran!" Azka menggoda dengan menaikan alis sok kerennya, senyum Laila melebar ia pun menjawab dengan mengangguk.
"Tapi naik motor?" pinta Laila dengan penuh harap.
"Oke. Ngeng mbrem..., cus. Ayo!" tanpa ganti baju mereka berjalan bergandengan, lalu sampai di parkiran.
"Aku sangat ingat pertama kali, aku tak sengaja menginjak jarimu by." Laila berkata karna apa yang ada di fikirannya, teringat awal pertemuan mereka di Kampus.
"Tapi aku jatuh cintanya sebelum itu!" ucapan yang masih samar dari Azka, ia mulai menaiki Motor Sprot warna merah.
"Biar ku tebak," Laila berfikir dan terus mengingat matanya kesana kemari, ia tak kunjung menemukan. Azka tersenyum dengan cepat Azka mencium kening istrinya.
"Au aku tersetrum," ceplosnya mereka tertawa ringan. "Aku tidak bisa menjawab, ingatanku sangat lemah!" keluh Laila, Azka memberikan Helm Laila memakainya, Azka mengegas-ngegas motornya.
"Ingin tau?" Azka berkata di tengan-tengah kebisingan, Laila mematikan Motornya dengan kunci.
"Kapan?" Laila sangat penasaran, Azka sangat suka menjaili istrinya, bukannya menjawab Azka malah tertawa, Laila meniup tangannya yang berkeringat.
"Saat itu hujan di bawah lampu merah aku melihatmu, di Halte Bis, saat itulah aku mencintaimu jadi akulah yang pertama kali mencintaimu." Azka mengatakan sejujurnya, Laila mengangguk ia naik motor, memeluk erat suaminya, Azka tersenyum.
"Aku sadar aku memang cantik." Laila memuji diri sendiri lalu tertawa sejenak. "Aku bercanda," lanjutnya.
"Cantik dong istriku..." puji Azka. Lalu menjalankan Motornya, naik motor dengan pelan, santai karna menjaga buah hatinya.
Bersambung.
__ADS_1