Mencintai Rembulan

Mencintai Rembulan
Harus


__ADS_3

Terkadang manusia harus berkorban untuk sesuatu di dalam hidupnya, walaupun dia tidak ingin melakukan hal itu. Namun yakinlah, ada balasan indah untuk pengorbanan yang pernah di lakukan, semua ada balasan belum di dunia namun pasti di akhirat.


Laila masih terenung di tempatnya, Azka masih sembunyi di balik papan tembok dinding.


'Kau menganggap apa cinta ku Laila, aku sudah bilang aku tidak akan memaksamu, namun Mas Asfi melakukan itu.


Aku berusaha tidak egois dalam cinta, aku bukan seseorang yang kejam, demi sesuatu yang di inginkan dia rela menyakiti dan memaksa orang yang di cintai, untuk bersamanya, aku tidak seperti itu, aku hanya ingin kau bersama dengan orang yang kamu cintai.'


Azka mengintip Laila, melihat Laila kembali berbicara di telpon. Azka melihat pemuda memainkan gitar. Azka menghampiri pemuda itu, om Kim juga datang tiba-tiba dengan membawa makanan suzi dan kimci.


" Om, pinjamkan gitar sebentar." minta Azka duduk samping pemuda yang kira-kira umur 19 tahun.


" Tentu dia anak ku," om Kim berbicara dengan putranya dengan bahasa korea.


Pemuda itu memberikan gitar itu.


" Kau sangat mencintai gadis itu, aku juga lihat cintanya untukmu," lanjut om Kim


" Namun aku tidak bisa melihat cintanya untukku." jawab Azka masih memandang Laila dari kejauhan.


" Cinta mu tulus, suatu saat kau akan mendapatkannya" ucapan om Kim menyemangati Azka.


" Cinta ku sudah tidak penting, terkadang orang melihat cintaku adalah kebodohan atau kekonyolanku. Namun aku tidak mencari bahagiaku, dia adalah jalan utamaku. Ketika dia bahagia baru aku akan pergi dan menghusyukkan diri bertaubat kepada Allah, karna aku berfikir aku akan tenang jika ku perbaiki dan mencari jalan surga. Siapa tahu Allah menjodohkanku dengan Merah jambu atau Laila Fariha di surga." Ungkapan Azka menanam luka haru di jawah om Kim.


" Semoga di dua alam Allah SWT menyatukan kalian, apapun mudah Nak! jika Allah menghendaki." Ujar om Kim dengan mata berkaca-kaca.


Azka memetik gitar. Sungguh lihai dan merdu. Ia menyanyikan lagu Elemant cinta tak bersyarat, pria spongbob ini sudah banyak berubah, konyolnya yang dulu ia tinggalkan. Kini ia menjadikan dia pria yang serius. Azka mulai bernyanyi.


'Tak ada sedikitpun sesalku...


T'lah bertahan dengan setiaku...


Walau di akhir jalan, ku harus melepaskan,


dirimu.....


Ternyata tak mampu kau melihat,


Dalamnya cinta ku yang hebat.


Hingga ada alasan, bagimu tuk tinggalkan


Setiamu.....Ohh.


Demi nama cinta...


Telah ku persembahkan


Hatiku hanya untukmu

__ADS_1


Telah ku jaga kejujuran


Dalam setiap nafasku....


Karna demi cinta...


Telahku relakan kecewaku atas ingkarmu


Sebabku mengerti, cinta itu tak mesti memiliki.....


Putra om Kim mendengarkan suara Azka ia merasakan walau tidak tahu artinya apa.


Lagu itu sangat pas dengan cerita Azka. Azka sangat menghayati lagu yang ia nyanyikan. pria satu ini sering mengungkapkan perasaanya lewat lagu.


Azka teringat masa Laila tinggal di rumahnya mereka berdua membuat vidio lagu Armada yang berjudul mau di bawa kemana.


Azka tersenyum mengingat kenangan manis di antara mereka. Gombalan Laila, candaan Laila, Laila terjebur di danau dalam rumah Azka, Azka ingat nasihat Laila untuk mencari tahu masala lalu Mami dan Papinya. Azka tersenyum tipis


" Kak Azka..." panggil Laila, Azka tersadar dari kenangan indahnya dua tahun lalu. Azka meletakkan gitar lalu berlari ke Laila.


" Mas Asfi mau bicara" ucap Laila tak menghadap ke Azka, Laila mengangkat ponsel Azka, Aka menerima ponsel itu.


" Assalamualaikum..." jawab Azka, Azka duduk di atas batu belakang Laila berjarak satu meter setengah.


" Wa'alaikumsalam Azka, aku akan atur pernikahanmu!" seketika mata Azka terbuka lebar dan sangat terkejut, Azka memutus telpon itu.


Azka menatap Laila lalu berjalan di depan Laila.


" Kau yang membawaku kemari, aku tanggung jawab mu, namun pernikahan ini hanya sampai Andre menjemputku," Lanjut Laila, Azka meremat kepalanya dan membuang nafas.


" Dan aku mohon menyerahlah mencintaiku, aku tahu pernikahan bukanlah permainan, tapi kau yang memaksaku melakukan ini, jadi kau harus siap merasakan sakit yang lebih parah, sadarlah aku tidak akan


mencintaimu lagi, aku tahu aku akan dosa besar jika tidak menjadi istri yang baik, namun kau membawaku juga tanpa izin ku." ucapan tegas Laila.


" Aku sudah terbiasa sakit, baiklah.


Aku setuju menikahimu, merawatmu dengan menutup kedua mata ku. Aku tak akan memandang tubuh mu," jawaban jelas Azka.


'Mencintaimu bukan lah kebodohan tapi anugrah dari Allah. Kau banyak mengajarkan hal penting dalam hidupku. Aku menyerah untuk mendapatkan hatimu, tapi aku menang jika membuatmu bahagia. Asal kau bahagia aku rela melepasmu, mungkin aku akan terluka sangat parah ketikaku berikan kamu kepada Andre. Namun aku harus terima jalanku.'


Ponsel Azka derdering menyadarkan ia dari kata-kata di dalam hati.


" Iya Mas Asfi..." jawab telpon dari Azka.


" Kau cari imam yang bisa menikahkan kalian, aku udah mengurus surat-suratnya. Ingat Azka pernikahan bukanlah mainan, kau akan berdosa jika tidak tegas pada istrimu, apa kau mau?, Laila tambah berdosa dan mendapat siksa neraka." Teguran Asfi membuat Azka bingung dan galau lalu berfikir.


'Menikah dengan Laila, Laila tidak bahagia, aku berpisah dengan Laila, Aku takut Allah membenciku, ya Allah..Aku sangat takut kepada engkau aku seperti ada di dua jalan buntu, ini kesalahanku tapi ini ide Mbak Salwa dan Mas Asfi, Allahhurobbi...'. Ia menatap Laila yang mengusap kuku ibunya ke bibir. Azka memperhatikannya.


" Azka kau mendengarku....?

__ADS_1


Azka!." Asfi sedikit teriak.


" Iya Mas, aku galau seperti Spiderman yang tak bisa mengeluarkan jaringnya, aku buntu fikiranku terbelah jadi dua, lalu berkata nggak nyambung puyeng tujuh kurcaci." Perkataan Azka kembali konyol, tanpa Azka sadari Laila menahan tawa sebab perkataanya ke Asfi.


" Kau akan di laknat!"


" Yah. Mas jangan di sumpahin dong!" Sahut Azka takut akan ancaman dalam agama.


" Dengar dulu. Adik ipar tidak sopan!.


Jika suami takut istri maka berdosa laki-laki itu, Suami adalah pemimpin seperti imam solat, jadi jangan mau kalah sama Laila, karna ketika dua insan sudah dalam ikrar suci, surga istri di dapat dari ridho suami, Allah memberi kemulyaan pada suami, jika suami dapat membimbing istri ke jalan beribadah. Aku yakin kau sudah pantas menjadi imam untuk Laila. Kamu mau Laila bahagia di dunia yang sementara. Sedangkan di siksa di akhirat yang jelas abadinya?" Tanya Asfi membuat Azka melongo dan berfikir.


" Sumpah bingung aku otakku di bekukan kartun frozen." Celetuk Azka membuat Asfi ketawa.


" He...,he...Bicara apa kamu!, kalau ada laki-laki yang mencintai seperti kamu tapi tidak sekonyol kamu ku berikan dia ke Laila, sayangnya hanya kamu yang di beri Allah, dengan terpaksa aku harus rela memberikan adikku ke kamu.


Hanya kamu yang mencintainya dengan tulus dan apa adanya. Jadi berfikirlah takut kepada Allah, karna aku yakin cinta pertama Laila akan ada lagi jika kamu mau bersabar. Azka takutlah kepada Allah jadi jangan pernah ceraikan dia walai dia memaksa." Ucapan Asfi yang mengejek memuji lalu menasehati Azka.


" Ah...., aku berada di situasi gawat darurat, Masnya ngotot adiknya apa lagi! Aku bagai di serbu bumro(lebah). Aku tidak janji mas Asfi, jika aku melepas Laila untuk kebahagiaannya.Ah......., kenapa kau mengancam mas Asfi aku sangat takut di hukum Allah, aduh ya Allah gusti kulo nyuwun ngapuro (aku minta maaf)." Azka benar-benar bingung.


" Aku udah sekongkol dengan Mami mu jadi semua surat sudah siap, aku juga sudah mengantar ke KUA. Ada foto kopi KTP dan lain-lain, kau tinggal mengucap ijab." Asfi belum selesai bicara.


" Rujak soto enak tenan jos." Sahut Azka cepat. " Maaf mas Asfi fikiran ku ambyar," ceplos Azka ringan walau di hatinya perasaan resah dan gundah di antara dua pilihan satu kebahagiaan Laila, dua takut atas dosa yang tadi di bicarakan Asfi.


" Cepat cari Mudin lalu kalau sudah dapat vidio call, aku akan jadi wali Laila.


Satu Lagi Azka jika kau melepas Laila aku tidak akan merestui Laila dengan siapa pun!" Tegas Asfi memperjelas bahwa dia memberikan Laila kepada pemuda AKa Faisal. Azka membuka mulut.


" Assalamualaikum..." Tutup Asfi


" Wa'alaikumsalam. Gempa bumi melanda, hatiku bergejolak tak karuan." Keluh Azka tak sadar Laila di belakangnya.


" Ku kira ini kesempatanmu, namun aku salah maafkan aku." Sesal Laila sudah nerprasangka buruk ke Azka.


" Aku dari dulu hanya ingin mencintai secara diam, klik ku kunci di dalam hati.


Namun semua berubah Laila, ketika aku mendapat surat dari mbak Salwa." Azka baru menghadap Laila, pipi Laila saja warnanya merah jambu walau tanpa make up.


" Mari makan." Ajak om Kim.


Azka mendorong Laila.


" Tenang saja aku sudah memberi uang." Bisik Azka menjelaskan pada Laila.


'Aku bingung Laila, Ya Allah jika ini jalan yang terbaik tumbuhkanlah rasa di hati Laila untukku, hadirkan cinta itu kembali Ya Robb, karna semua cerita hidup Engkau yang merancang dan Engkau memudahkan.'


Isi hati Azka.


Azka membuang nafas berat. Sampai di pondok, Azka membopong Laila tanpa melihat, duduk di samping orang asing namun sangat baik. Mereka makan makanan khas Korea Kimci.

__ADS_1


....Bersambung....


__ADS_2