
Tubuh melemas, tiada arah dan tujuan, ia mengikuti kakinya melangkah. Kesana-kemari tanpa kepastian.
"Aku kembali sendiri dan tersakiti. Apa keaalahan ku sangat fatal hingga kau pergi tanpa pamit," Azka berlari sekencangnya. Ia berhenti dengan berlutut di bawah bunga sakura.
" Aku tak bisa menemukanmu, aku tak menyerah, hanya saja hatiku terluka. Laila kau menghukumku." Azka mencoba berdiri, ia melihat wanita yang sangat mirip dengan Laila. Azka berlari menarik pundak dan memeluk wanita itu. Azka di tarik dengan sangat keras ke arah belakang, ia mendapat jotosan yang begitu keras hingga bibirnya berdarah.
" Maaf dia mencariku. Penampilan kami sama, maaf." Laila datang dari mana, Azka langsung memeluk istrinya dengan sangat erat. Bahkan Azka tak mempedulikan luka di bibirnya, Laila mendorong dengan kasar. Lalu pergi dari tempat iti, Azka mengikuti langkah Laila, dan tidak bicara apa-apa.
" Kurang jauh." Kata Laila menyuruh Azka tanpa menoleh, Azka pasrah dan.menerima kenyataan. 'Aku harus bersikap bagaimana? Apa cintamu itu sudah tidak ada,' Isi hati Azka.
Mereka berjarak sangat jauh 100 meter, Laila menoleh ke Azka, ia merasa sangat kasihan pada suaminya, Azka duduk, ia tak berdaya dan tak tau apa mau istrinya.
Azka memejamkan mata, menghela nafas, lalu kembali mencari Laila, Laila tak terlihat ia sudah mulai bingung lagi. Ia berdiri dan panik, ia mulai berlangkah cepat " Laila, tolong jangan siksa aku. Tolong jangan sembunyi. Laila, Laila..." Azka rukuk tapi kepalanya terangkat.
Ada yang mengetuk punggungnya dengan jari Azka langsung menoleh. Laila berdiri di depannya, dengan dua minuman dan obat untuk luka Azka. Azka sudah merentangkan tangan hendak memeluk tapi takut Laila mendorongnya lagi, ia tidak jadi memeluk Laila.
Hal yang tak pernah terduga Azka fapat, bukan pelukan melainkan ciuman di depan umum, tak lama itu berlangsung, Azka bingung dengan sikap istrinya.
Laila menutup hidungnya.
" Aku tidak tau, kenapa aku sangat ingin marah." Laila melepas kedua jari dari hidungnya lalu memukuli pundak Azka.
" Lakukanlah sepuasmu, jika kau senang aku trima walau sakit." Ucapan Azka yang meharukan Laila memeluknya dengan erat.
" Katamu aku bau." Tegur Azka, Laila melepas pelukan dan memandang suaminya, hidungnya mekar-mekar seperti menghembus sesuatu yang berbeda.
" Tapi sekarang wangi," Laila mencium baju Azka. " Ini sangat wangi, kenapa aku sangat aneh, seperti kerasukan, tadi baunya seperti kambing." Jalas Laila yang menarik lengan Azka dan memeluknya sangat erat.
" Aku lapar banget, aku ingin makan ramen kerang yang sangat pedas, selama 4 bulan di Jeju kak Azka hanya memberi kimci dan suzzi, jadi maukan? mau ya...?" Laila bersikap manja, ia menghentikan langkahnya berdiri di depan Azka, lalu meniup dengan mesra bibir Azka yang terluka, Azka memandanginya hatinya terguncang.
__ADS_1
" Oke, ramen kerang pedas, baiklah sayang." Azka setuju. Mereka pergi bersama bergandengan tangan, saling ngobrol lalu pergi ke lestoran. Membeli makanan, Laila terlihat sangat tidak sabar, Azka memandangi istrinya yang mulai aneh.
" Hai, Merah jambu ada yang aneh dari kamu." Azka minum.
" Aku juga meresa seperti itu by," Panggilan Laila membuat Azka tersedak.
" By?" Pelan Azka, Laila menggenggam tangan Azka mereka saling menatap, Laila merunduk dan jari telunjuknya mengruek punggung tangan Azka.
" By, by, by, tidak suka? bukankah kak Azka akan jadi Abi untuk anak-anak kita, ya udah maaf." Laila melepas tangannya, Azka menarik dan mengecup punggung tangan Laila, Laila mengumbar senyum bahagia, Azka pun tersenyum.
" Sohibul Qolbi, hub, hub, hub." Mereka tertawa. Makanan di hidangkan di atas meja, "Bismillahirrohmanirrokhim." Mereka doa makan dengan pelan, Laila mulai makan dengan lahab. Azka hanya memandangi istrinya penuh dengan cinta.
" Kak, makan." Laila tak nyaman di tatap suaminya. " Ah..., ini enak banget, setelah ini go Jakarta. Maaf tadi tiketnya ku berikan kepada orang itu." Sesal Laila, Azka tersenyum.
" By, habiby jadi By." Pikiran Azka datang juga datang untuk panggilan baru untuk Laila. Laila tersenyum.
" Emmm, so sweetnya...,".Mereka makan, Laila memandang suaminya "huek.".Laila lari ke toilet, Azka mengikutinya.
" Merah jambu, Laila."
" Kak Azka bau kambing lagi, menjauhlah, huek, huek." Laila kembali mengejek Azka, Azka merasa aneh ia menelpon Salwa.
" Assalamu'alaikum, iya Azka kapan tiba di Jakarta." Tanya Salwa tanpa menunggu Azka menjawab salam.
" Wa'alaikumsalam mbak, Istriku bertingkah aneh, katanya aku bau kambing, mudah marah, aku bingung." Azka mengeluh Salwa tertawa, Azka semakin bingung.
" Mbak ini darurat, jangan tambah membuatku pusing." Lanjutnya, perasaan panik membuat ia sangat gugup.
" Itu biasa, palingan hamil muda, Laila udah periksa belum?" Jelas Salwa lalu bertanya.
__ADS_1
" Hamil? hamil? apa mungkin?" Telpon terputus, Laila keluar dari kamar mandi, menutup rapat hidungnya, menatap Azka dengan mata memerah, Azka menatapnya dan ia merasa kasihan.
" Menjauh jangan dekat-dekat 5 meter." Bentak Laila, Azka pun hanya pasrah dan mengikuti dari belakang.
" By, kau sudah periksa kehamilan?" Tanya Azka memberanikan diri, Laila berhenti berjalan dan berfikir, ia menoleh ke Azka, matanya menatap aneh dan penuh tanda tanya.
Entah apa yang ada di benak Laila, " Kak yang jauh, jangan mendekat." Suruh Laila, Azka menggangguk dan masih menunggu di lestoran. Laila berjalan cepat, ia berlari ke apotik.
Azka berdzikir dalam hati 'SubahanaAllah,' Berkali-kali, ia memainkan jari-jarinya di atas meja. Laila datang tanpa expresi Azka berdiri.
" Di situ saja. Aku tidak kuat, mandi sana?" Laila sangat kasar, Azka bingung Laila tertawa berhasil membuat Azka gugup.
Laila mendekat Azka mundur perlahan. " Aku mau memeluluk dan berbagi kebahagiaan tapi anak kita menolakmu."
Azka terkejut ia tersenyum lalu bersujud syukur, Laila pun mengikuti suaminya, Azka berdiri terlihat kebahagiaan yang sangat mendamaikannya, ia tak sabar dan memeluk Laila, Laila menahan rasa mualnya. Azka sadar jika nanti istrinya akan merasakan sakit di tenggoroan, Azka melepas pelukan lalu menjauh.
" Mari kita pulang ke Jakarta dan menghadiahkan kabar ini untuk mami." Ajak Laila, Azka tersenyum. 'Sukron kasirt ya Allah, Engkau memang is Magic.' Mereka keluar, Azka memanggil taksi, Laila berdiri cukup jauh dan ngobrol dengan calon anaknya.
" Sayang dia ayahmu, dia abimu, bagaimanapun baunya jangan menolaknya ya sayang, kamu maukan dekat dengan Ayah, mau ya..." Ucapan pelan Laila, membuat Azka terharu, ia berlari ke arah Laila.
" Sudah ku pesankan taksi, aku akan tunggu taksi selanjutnya." Jelas Azka, Laila mengembus bau Azka, ia tersenyum.
" By kamu wangi." Laila merangkul lengan Azka, Azka merasa sangat senang, mereka berjalan." Jadi tidak usah beda taksi." Lanjutnya, Azka membukakan pintu mobil, Laila masuk, Azka duduk di sampingnya.
" Aku bahagia trimakasih by." Azka mencium punggung tangan Laila, Laila tersenyum.
" He.., tapi jika aku panggil kak Azka By, kak Azka panggil aku By. Masa anaknya manggil aku By. " Mereka tertawa.
" Benar juga, tetap merah jambu." Fikir Azka mereka tertawa ringan, Laila bersandar di pundak suaminya yang sangat nyaman.
__ADS_1
Bersambung.