Mencintai Rembulan

Mencintai Rembulan
Khuwatir


__ADS_3

Semalam hujan cukup lebat di temani dengan suara guntur yang menggelegar, Azka memutar alarm pukul 03:00, ia segera bangun dan mengajak istrinya untuk solat malam.


Keduanya solat, selesai Azka membaca sisa 4 surat. Sajaddah, Kahfi, Mariam dan Yusuf. Laila tetap di atas sajadahnya, sambil komat-kamit membaca dzikir.


Adzan subuh memanggil Azka dan Laila pergi ke Masjid. Waktu subuh berlalu terbitlah matahari, Azka dan Laila kembali ke rumah pukul 06:00 pagi. Kebiasaan mereka setelah solat subuh sampai dzikir selesai lalu jalan-jalan pagi, dengan sarung hitam dan taqwa biru muda membuat Azka sangat tampan dan terlihat sholeh. Dan Laila hanya mengenakan daster dan jilbab syar'i berwarna merah jambu. Mukena berada di tas kecil, Azka selalu mengandeng tangannya. Mereka berjalan pulang.


"Nanti malam aku akan lembur, tolong angkat telponku, jangan kebiasaan jauh dari hp, karna seingatku kamu hampir tidak pernah main hp." Azka mengatakan kebiasan Laila.


"Ya maaf, karna terbiasa saat di Jeju tak pakai hp, sekarang jadi malas pegang hp, bukannya anak kita lebih baik jika tidak terpapar sinarnya?" Laila memandang penuh harap, Azka mengamatinya lalu tertawa melihat wajah konyol istrinya.


"😆😆😆 Oke lah, tapi plis di sanding ya hpnya. Aku lembur pasti tersiksa rindu." Azka memandang rumah megahnya, mereka hendak masuk rumah.


"Emmm, so sweet." Laila mengoyang-goyangkan lengan Azka. Azka hanya tersenyum simpul, Laila merasa aneh.


"Kenapa? Ada yang di pikir 'kan?" Laila ingin tau isi hati Azka.


"Aku ingin Papi melihat cucunya, anakku punya Kakek dan Nenek, dariku masa tidak bisa lihat Kakeknya." Azka terlihat sedih.


"Kita doakan agar Papi mau kemari,menjenguk kita, lagian semua pegawai juga Kakek-Nenek anak kita! Jadi jangan bersedih. Aku yakin Papi akan segera kemari." Laila meredamkan keseihan Azka.


"Sudah hampir 15 tahun Papi keluar dari rumah ini. Makasih sayang," Azka mencium kening Laila, mata Laila terbelalak. "Ayo masuk, aku mandi..." Azka kabur, Laila tersenyum ia segera ke dapur.


Melihat maminya mendisain sesuatu ia menghampirinya.


"Mami sibuk apa?" Laila duduk di samping Mertuanya.


"Mami punya hadiah kecil, untuk kamu! Ini buatan Mami." Laila melihat kalung emas yang berbandul berlian dan alat-alat untuk menyatukan perhiasan, sungguh sangat teliti Mami Sofia.


"Kamu mau menjaga rahasia?" Mami Sofia menatap menantunya.


"Rahasianya apa?" Laila penasaran.


"Mami masih menyimpan banyak berlian, itu pun ada yang mengintai." cuplikan Mami Sofia,


"Siapa Mi?" Laila menyahut dengan cepat.


"Kau ingat Jams dan Ketti? Mereka pernah menyapamu di musium!" Mami Sofia mulai terbuka.


"Aku ingat! Tapi samar-samar." Laila meyakinkan diri jika wajah yang iya bayangkan adalah musuh dalam selimut.


"Aku kembali ke Indonesia tanpa mereka tau alamat rumah ini! Aku punya dua ajudan yang masih menetap di sana, dan aku yakin sebentar lagi mereka sampai kesini, karna orang yang bekerja untuknya sangat banyak dan pasti kedua orang itu akan segera tau. Mami menghilangkan jejak


karna tidak mau Azka, kamu, kita semua menjadi incaran orang itu. Dia teman tapi juga musuh, sewaktu-waktu dia juga bisa datang kemari, jadi aku memilih menjual dan membagikan ke fakir miskin dan beberapa panti asuhan. Tapi masih ada 7 berlian yang sangat istimewa, dan harganya fantastis, Azka tidak pernah tau soal itu." Mami Sofia menceritakan kegelisahannya.


"Ternyata jadi orang sukses itu memang banyak rintangannya." Laila berusaha memahami masalah Maminya.


"Tolong Laila! Jangan sampai Azka tau. Karna keberadaan Mami sudah di lacak, kita harus bersembunyi." raut wajah Mami Sofia sangat panik.


"Mi, tenang! Kita akan menghubungi Polisi, jika Mami takut tinggal bersama kami, Mami tinggal dengan Mbak Salwa dan Mas Asfi!"


"Laila sayang," Maminya memeluk dan mencium kening Laila, mengelus perut Laila.

__ADS_1


"Masalahnya adalah kandunganmu! Pagi tadi Mami mendapat telpon dari Jez, dia ajudan handal dan bisa di percaya. Orang licik itu sudah terbang ke Indonesia. Dan mereka pasti merencanakan sesuatu sebelum bertindak. Jadi mari kita kosongkan rumah ini, membuat kebohongan seolah-olah kita pergi ke luar negri, aku punya teman untuk merekayasa, kita pergi ke Paris."


"Kenapa harus ke Paris Mi?" Laila menyahut.


"Mereka tidak akan percaya begitu saja, mereka pasti mencari bukti tentang keberadaan kita, nanti temanku itu akan membuat kepalsuan hingga terlihat nyata, agar mereka tak berhasil menemukan kita, jika pergi ke Bogor di sana Mami punya Filla, Mami tidak ingin apa-apa, menyimpan berlian untuk tujuan baik. Mami ingin memberikan ke sesuatu yang berguna, tidak untuk bermaksiat. Mami ingin mencari Kiai yang tepat untuk di titipi amanah. Agar berkah sayang." jelas Mami Sofia.


"Sangat mahal berlian ini, Mi?" Laila memperhatikan berlian biru.


"Berlian ini adalah berlian biru berbobot 45,52 carat harganya setara dengan 3,3 Triliun." jelasnya, Laila sangat terlejut ia memandang ke mertuanya.


"MasyaAllah." gumamnya terkagum dengan harga yang fantastis.


"Dengar rencana Mami! Kita pergi ke Bogor bersama semua pegawai kecuali doa orang, dan nanti Mami akan meminta pada beberapa Polisi untuk mengawasi rumah ini. Polisi pun ada orang mereka, tapi Mami punya 5 Polisi handal teman Papimu, mereka yang akan membantu kami. Walaupun kita ke Bogor mereka bisa saja menemukan kita, tapi itu urusan nanti, sekarang tolong bujuk Azka." Sofia sangat khuwatir, dia adalah wanita sukses yang di incar banyak orang.


"Lihat caraku membujuk kak Azka Mi!" Laila meyakinkan Maminya, Mami Sofia tersenyum, "Ternyata seperti ini memang sangat waw!" Laila masih memuji berlian itu.



"Tolong Mami, mintakan dia cuti dari pekerjaannya, Laila dia sudah mandiri, ini demi keselamatan kita. Mafia di Indonesia pun banyak yang bekerja sama dengan mereka. Mami selama ini sembunyi dan tidak keluar rumah. Andai ada Papimu pasti dia bisa melindungi kita. Papimu adalah detektif, kesalahanku. Dulu aku melepasnya karna takut membebaninya dengan penyakit ini tapi ternyata umur yang menentukan hanya Allah, Mami menuduhnya selingkuh agar bisa di ceraikanku." Mami sangat rindu dengan mantan Suaminya, Laila memeluk Ibu mertuanya.


"Duh. Romantisnya sampai lupa siapkan baju ke kantor." Azka datang tiba-tiba dengan mengikat dasinya.


"By, cuti ya..." Laila berdiri lalu berjalan 4 langkah dan mendekat ke Azka, rayuan maut sudah di mulai, Azka curiga, ia melihat ke arah Maminya. Tangan Laila merangkul lalu memakaikan dasi.


"Kalian pasti merencanakan sesuatu." Azka sangat teliti dari raut wajah Mami dan Istrinya


"Anak kita ingin ke Bogor." Laila memandang dan memasang wajah nelangsa.


"Ayolah..." Laila memohon, sambil menciumi berkali-kali punggung tangan suaminya.


"Turuti Azka..., Anakmu kalau ngecesan bagaimana!" Maminya dan Istrinya bersekongkol.


"Aku curiga nih!" Azka memandangi keduanya.


"Tidak mau ya sudah! Aku tidak mau makan!" Laila mulai mengancam lalu berjalan cepat ke kamarnya, Azka menghela nafas susah.


"Dulu di suruh kerja dan mencari jati diri, basan kerja di suruh cuti! Wanita." keluhnya sambil mengoles roti pakai selai "Bismillah, aem." Azka hendak menyusul istrinya.


"Jika kamu mau ke Bogor, kita bawa semua orang. Kita sisakan Pak Adi dan pak Agus untuk menjaga rumah ini." saut Maminya, Azka menghentikan langkahnya, ia menoleh ke Maminya.


"Apa ada sesuatu yang aku tidak tau! Plis Mi! Jangan menyimpan rahasia lagi." Azka berjalan cepat, lalu duduk di sofa samping Maminya. Bibik-bibik berjalan menata makanan.


"Tidak Azka, menurut Mami kita perlu liburan. Iya kan Bik Jah, Bik Ma!" Maminya mengalihkan pembicaraan.


"Enjjeh Nyonya." Serempak.


"Aku baru kerja. Masih dua bulan dan aku mulai sibuk." Azka mulai bingung.


"Pikirkan anakmu, kasian lo nanti ngeces, terserah kamulah." Maminya menakut-nakuti, Azka mulai pusing.


Di dalam kamar Laila menelpon Andre. "Kamu, sudah ku bebaskan dari tanggung jawab, jadi sekarang aku boleh meminta sesuatu?" Laila tau Azka bekerjasama dengan Om Haris ayahnya Andre.

__ADS_1


"Apa? Kamu minta apa?"


"Aku minta tolong beri cuti pada kak Azka, 6 bulan, dia akan kerja lewat hp, laptop, oke!"


"Itu sulit, dia arsitek." Andre terdengar bingung.


"Dia dia tetap kerja, dan memantau jalanya kontruksi tapi lewat vidio, bukankah dia juga sudah memperjelas disainnya. Jadi tolong sekali ini saja suruh Pak Haris memgatakan itu, aku akan memberi 4 lukisan termahal yang pernah aku buat, sekali ini kita bisnis, aku yakin tak akan yang rugi, jikakau rugi aku yang akan bayar," Laila menjelaskan panjang lebar.


"Oke nanti aku akan bicara sama Ayah, setelah ini Ayah akan menelpon Azka."


"10 menit makasih, Assalamu'alaikum"


"Kamu unik oke! Wa'alaikumsalam."


Panggilan tertutup, Laila duduk di pinggir kasur dan pura-pura galau.


"Telpon siapa?" Azka datang dengan membawa susu untuk ibu hamil dan buah-buahan segar.


"Kak Andre." sinisnya sambil memonyongkan bibirnya.


"Kenapa telpon dia? Aku saja yang kerja tidak pernah kau telpon, tanya kek! By udah makan? kenapa kamu perhatian sama Andre." Azka cemburu ia meletakkan makanan di meja dengan sedikit kasar sampai susunya hampir tumpah.


Laila diam lalu berbaring tengkurap ia mengeluarkan senjata ampuh, ia menangis.


"Aku hanya tanya he.., hiks he.., Apa kak Azka tidak boleh cuti?" suara Laila tak jelas karna tertutup bantal, Azka malah tiduran di sampingnya Ia memeluk Laila.


"Maaf, aku cemburu karna kamu tidak pernah menelponku, dan kemarin saat aku mencarimu, malah hpnya bunyi di sini dan orangnya di ujung sana. Aku selalu ingin mendengar suaramu, ingin kamu menanyakan kabar. Setiap saat aku merindukanmu, sayang, by ku." jelas Azka, Laila menoleh mata mereka saling menatap, Azka menghapus pipi Laila yang basah.


"Palingan hoax." bantah Laila, Laila duduk, Azka mengela nafas berat berkali-kali. Laila mulai khuwatir.


"Heh.


Heh.., sesak." keluh Azka memagangi dadanya.


"Kenapa?" Laila menyentuh tangan Azka yang ada didadanya.


"Sangat sesak jika kamu marah." Azka menggombal.


"Ah..., ke Bogor ya?" Laila memohon, "Ya? Ya? Ya?" Laila berkedip-kedip, ciuman satu detik mendarat dengan sempurna, Azka pergi dari ranjang 4 langkah.


"By. Belum menjawab." Laila mengikutinya, hp Azka berdering ia menoleh, berhenti berjalan dan benar itu panggilan dari kantor, panggilan masih berlanjut Azka memberi kode 👌. "Yes! Alhamdulillah." gumam Laila bersyukur rencananya berhasil.


"Puaskan! Kita akan ke Bogor." Azka berjalan mendekat ke Laila, dan memberikan segelas susu.


"Jangan marah lagi, minum!" Azka memberikan, Laila menerima dan membalas dengan ciuman satu detik.


"Au..., lagi! Aku lemas." Azka membantingkan tubuhnya ke ranjang, Laila meminum susunya.


"Aku selalu ingin memandangi wajahmu, karna kamu yang di kirimkan Allah untuk menambah isnpirasi ku." ucap Azka, Laila menoleh, dan selalu terjadi hal romantis.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2