Mencintai Rembulan

Mencintai Rembulan
Marahan


__ADS_3

Satu jam sudah saling diam, dan sok tak kenal, mata diam-diam saling melirik tapi gengsi.


Laila meresa jenuh ia masuk ke kamarnya dan mengobati kakinya. Azka tidak tau kalau Laila berada di dalam kamar, ia sampai di pintu melihat punggung Laila. Azka tidak jadi masuk.


Azka memilih main hp di kamar Maminya. Namun ia tidak bisa menahan rindu, ia chat wa ke nomer Istrinya.


[Maaf]


Hanya itu chat Azka, Laila tak membalas, Azka mulai gelisah seperti cacing kepanasan. "Ya sudah, ayo kita lomba saling diam." gumamnya ia lalu solat dhuha.


Setelah solat ia bergegas melihat ponselnya, berharap istrinya membalas chatnya.


[Maaf, kamu marah beneran!]


Chat kedua di wastp aap tak kunjung di balas, Azka mencoba melupakan jika ia ingin berbicara dengan Laila, Azka sibuk main hp, ia nonton Spongebob di you tube.


Namun fikirannya tetap terbayang wajah sang istri, saat ketawa, saat mengeluarkan senjata ampuh alias pura-pura menangis atau air mata buaya.


"Apa aku tadi keterlaluan." gumamnya yang terus kepikiran. Azka mengembalikan aplikasi dari you tube ke wastp ap.


[Bi, apa aku keterlaluan.] Azka menghapus tulisannya. Ia menulis lagi [By, afwan, afwan] Ia kembali ragu dan menghapusnya lagi.


"Ini seperti kisah remaja yang risau, gelisah, merana, aku merasa hatiku nano-nano, permen karet! Rasa yang bergejolak di hati, aku satu rumah, tapi gengsi amat ya. Apa aku harus merayunya? Bagaimana kalau aku tercueki! Di Chat aja tidak balas. Heh Laila, merah jambuku..., Patrick ku.., kenapa jadi Patrick he he, dasar aneh." Azka kembali ngomong sendiri.


[Kamu lagi apa aku kangen]


Tulisannya tak jadi di kirim, "Kata ini terlalu naif, bilang aja udah tersiksa rindu, pasti nanti fikirannnya gitu. Aduh, aku benar-benar rindu. Gadis merah jambu..., calon Ibu dari anakku..." gumamnya sambil mondar-mandir.


Azka mengambil nafas panjang, ia memberanikan diri pergi ke kamarnya, pintu kamar di tutup.


"Jika aku nyanyi pasti romantis." gumamnya, ia mendehem lalu mulai nyanyi.


Cinta itu buta dan tuli...


Tak melihat tak mendengar


Namun datangnya dari hati...


Tidak bisa di pungkiri


Itu benar memang benar


Cinta itu ruang dan waktu


Tak sekejap harus mau...


Cinta butuh ruang yang sepi

__ADS_1


Tuk mengutarakan hati


Kamu aku bincang-bincang


Mau bilang cinta tapi takut salah...


Bilang tidak ya..., Bilang tidak ya...


Azka selesai ia tersenyum sudah berhasil nyanyi dengan suara yang lumayan. "Bi..." Azka membuka pintu, dan ternyata tak ada orang, ia kecewa. "Nyanyi ternyata tidak ada yang dengar." Azka mengetuk pintu kamar mandi tapi tidak ada orang.


"Susah payah di nyanyiin, malah orangnya hilang." Azka duduk di ranjang ia meng chat wastp ap.


[Aku minta maaf, maaf kata-kataku tadi kasar, plis! Aku rindu, tolong maafkan aku, Merah jambu...] Azka berbaring, tetap tidak ada balasan.


"Kemana sih," keluhnya ia beranjak dan segera mencari istrinya, ke dapur ke taman belakang ke kolam, ke depan namun tidak ada.


"Bik, lihat Laila?" ujar Azka, yang terus menatap layar hp. Bik Miah tolah-toleh.


"Aden tanya saya apa hp?" tanya balik bik Miah. Azka menatapnya


"Ya tanya Bibik. Tau?" ujar Azka.


"Tidak, tapi tadi sama mbak Ani." ujar Bik Miah. Azka mengangguk terlihat kecewa tak kunjung mendapat berita tentang keberadaan Laila.


"O. Sekarang Bik Ani kemana?" Azka tanya lagi padahal ia sudah melangkah.


"Halo Den. Assalamu'alaikum." jawab Bik Ani.


"Wa'alaikum salam Bibik bersama Laila?" tanya Azka di teras depan, matanya mencari kesana kemari,, namun tetap tak terlihat keberadan istrinya.


"Saya di Pasar Den! Saya tadi keluar sama neng Laila, tapi terpisah karna dia jalan-jalan di kebun teh, tapi ya yidak mungkin pergi jauh karna kakinya kan sakit." ceplos Bik Ani "Aduh keceplosan!"


"Sakit kenapa?" Azka mulai panik ia berjalan cepat menuju kebun teh.


"Tersandung kuku jempol kakinya lepas." jelas bik Miah, Azka sangat terkejut.


"Apa! Kenapa dia tidak bilang. Dasar!"keluh Azka yang mulai kesal dan khuwatir.


"Kan judulnya lagi marahan. Jangan marah-marah Den! Kasihan nanti bayinya bisa syok!" tegur Bik Ani, Azka merasa menyesal ia menghela nafas panjang.


"Aku khilaf, Ya Allah..." Azka mematikan telponnya. Ia mulai berlari berhenti sejenak berharap Laila membalas chatnya.


[Bi, maafkan aku menyakitimu, aku sungguh memyesal Laila, tolong balas sayang. Nanti akan ku obati kakimu, jangan sampai infeksi sayang, Laila, balas dong kamu di mana? ]


Azka menghilangkan rasa ngengsinya, ia berkali-kali menelpon nomer Laila tapi tak kunjung di jawab. Adzan dhuhur memanggil Azka pulang untuk solat dhuhur, ia mengajak Pak Ahmad solat berjama'ah.


Setelah selesai solat dan berdzikir, Azka kembali mencari istrinya, ia ke kamar dan terus menelpon nomer Laila.

__ADS_1


Dreettt


Dreettt


Dreettt


Suara itu berasal dari jaket Laila. "Heh...,kebiasaan. Di mana dia hpnya di rumah, orangnya di mana ya Allah..." Azka lupa jika istrinya jarang memegang hp, bahkan batre hpnya sampai merah pun tak pernah di chas.


Azka kembali mencari Laila, "Sekarang hampir jam satu seharusnya dia sudah pulang dan segera solat. Kemana kamu..." Azka mulai pusing. Ia mencari berlari tanpa tujuan pasti.


"Apa ini tak tik mu? kenapa? Kamu selalu saja mumbuat aku gelisah. Kenapa? Kamu sangat suka membuatku mencarimu, mancari berlari, kemanapun aku akan tetap mengejarmu sayang, Paris dan Korea pun sudah aku lewati, hanya untuk cintaku padamu, tapi ini kebun teh kau membuatku terjebak di tengah-tengah luasnya bahkan hektaran tanaman ini. Tolong Ya Allah berikan petunjuk." Azka terlihat sangat lelah.


Ia menelpon orang rumah, tetap saja jawabannya tidak ada yang melihat Laila.


Azka pergi ke Masjid, di Masjid Bantul banyak wisatawan yang mampir dari berziaroh Wali Songo.


Namun tak terlihat seseorang yang mirip dengan istrinya. Ia terus melangkah, ia hanya menuruti ajakan kakinya.


[Aku mencintaimu, niatku tidak ingin membuatmu menangis tapi apa daya, aku sangat khuwatir dengan keadaan Mami hingga lupa, jika kamu sedang mengandung, aku sadar aku keterlaluan tolong maaf kan, aku, aku adalah Imammu, maafkan aku yang belum sempurna. Laila..., Merah jambu..]


Azka mengchat walau sadar hp Laila ia bawa. Perasaan tak karuan telah menerpanya, melanda hati dengan rasa gelisah. Matanya berair, ia segera menghapus air matanya dan segera mencari lagi.


Ia kembali ke Villa jam setengah dua, melihat Tivi yang menyala namun tiada orang, ia masuk ke pos ronda untuk mematikan Tivi.


"Astagfirullah." Azka terkejut melihat Laila tidur di bawah tanpa bantal tanpa alas lantai, Laila terbangun. Ia teringat ia masih marahan.


"Belum solat, cepat solat." titah Azka, Laila melihat jam.


"Astagfirullah..." Laila segera beranjak dan berjalan cepat.


Azka menahan tawa dan masih berdiri di tempatnya.


"Aku mencari kemana-mana ternyata dia di sini. He..." Azka menekan tombol TV sampai mati kemudian ia berjalan ke kamarnya.


"Apa aku masih gengsi ah, biar dia baca chatku dulu. Siapa tau dia membalas chatku dan memaafkanku, kan tidak bisa gombal secara langsung." Azka masuk kamarnya, Laila masih solat ia sengaja mengecas hp nya.


Sebentar ia keluar lagi, menuruni anak tangga, lalu duduk di tengah-tengah tangga, dan mengirimi beberapa chat di wastp ap.


[Sayang bagaimana kabarmu, maafkan aku,] Azka menghapus chat itu lagi. "Aku kok grogi sih, seperti awal jatuh cinta canggung dan terasa ser, ser! MasyaAllah..." gumamnya.


[Saat saling diam aku sangat tersiksa, tersiksa rindu ingin saling bicara, maafkan aku, aku banyak meminta maaf, soal perkataan kasarku, sayang i love you.] Azka mengirim chat itu.


Ia mulai senyum-senyum sendiri. Dan pergi ke meja makan.


"Sampai kapan pengangguran seperti ini, mending aku lihat pak Ahmad sibuk dikit, gerakkkan badan agar sehat" ia bicara pelan dan segera pergi ke Pak Ahmad.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2