Mencintai Rembulan

Mencintai Rembulan
Go Bogor


__ADS_3

Keluarga kaya raya namun sederhana, Nyonya Sofia membawa semua Pegawai Rumahnya untuk ke Bogor sembilan asisten rumah tangga dan 3 tukang rumput, mereka naik naik bus mini, menuju Bogor niat liburan dan menjaga semua anggota rumahnya dari intaian Mafia.


Sementara Azka dan Laila naik mobil sport warna merah, Laila menikmati suasana mendung.


Laila membukan kan kripik pisang, dan menyuapi suaminya satu-persatu.


"Udah." pinta Azka, Laila asik ngemil.


"Aku merasa aneh." Azka sangat curiga, ia terus memikirkan sesuatu.


"Aneh kenapa?" Laila menghadap ke Azka.


"Tentang ke Bogor tiba-tiba! Aku tau kamu dan Mami menyembunyikan sesuatu. Tolong katakan padaku! Semua ini tentang berlian 'kan?" ujar Azka yang lalu menatap istrinya, Laila membuang wajah berusaha menyembunyikan expresinya yang terkejut.


"Aku merasa aneh saat urus paspor 2 tahun lalu, nama Mami di rubah dari Sofiana menjadi Sofia nandini dan penampilan yang tiba-tiba berubah dari glamor dan seksi tiba-yiba menjadi syar'i, ya Alhamdulillah berubah menjadi taat beribadah, aku tau Mami masih punya berlian mahal, maklum saja beliau disainer terkenal di Paris. Tapi tolong katakan padaku apa yang terjadi sampai kita pergi ke Bogor dengan tiba-tiba? Parcayalah padaku,soalnya kehidupan Mami itu tidak mudah, banyak musuh yang mengelilingi." ujar Azka yang kemudian meyakinkan Laila dengan genggaman tangan.


Laila menumpangkan tangannya di tumpukan tangan suaminya. "Mami menyuruh ini untuk di Rahasiakan dan aku terlanjur berjanji! Aku tidak bisa mengatakannya, sebaiknya kamu sendiri yang ngobrol dengan Mami, aku sangat percaya kau ingin ikut campur tentang masalah ini, tapi agar lebih baik, lebih akrab, jika kalian bicara berdua." Laila menolak untuk membeberkan rahasia ia dan mertuanya.

__ADS_1


"Mami tidak pernah ingin aku tau masalahnya, melarikan diri ke Paris dari umurku 5 tahun, hanya memberi uang tanpa memberi kabar, dulu aku sangat benci karna tidak tau alasan yang sebenarnya, setelah aku berlari ke Banyuwangi untuk menyembuhkan luka dan berusaha melupakanmu, aku pulang ke rumah megah itu, aku melihat sosok Mami berpakaian muslim, ia membuka jilbabnya dan ternyata tiada rambut satu pun di kepalanya, saat itu aku baru tau kalau Mami mengidap penyakit miningitis, beliau berhasil menyembunyikan rahasia besar selama 23 tahun." Azka bercerita kembali pada masa awal Maminya pulang ke rumah istananya.


"Keadaan Mami membaik karna beliau happy saat ini, bisa berkumpul dengan keluarga. Saat bertemu di Paris aku mengingat-ingat jika beliau adalah Mamimu, aku sangat yakin dan kemudian aku sok akrab, awal aku bertemu di musium, beliau kambuh dan saat itu aku sadar jika beliau bukan tak sayang tapi tak mau merepotkan atau membebani keluarga kecilnya, sama halnya aku yang melarikan diri karna kelumpuhanku. Mami sangat banyak pengawalnya, bahkan detektif yang menjaganya dari jauh, sangat sulit bisa bicara dengan Mami waktu itu! Suatu saat aku terjatuh dari kursi roda Mami menolongku, membantuku duduk di kursi roda, kemudian aku mengenalkan diri sebagai Fariha kami sering bertemu, ngobrol, membicarakanmu."


Azka menatap Laila, Laila tersenyum "Saat itu aku masih sangat ingat jika obat galaumu adalah nonton kartun Spongebob. Aku menceritannya ke Mami, dan Mamipun tertawa lepas kemudian beliau nekat pulang ke Indonesia dengan penampilan baru, awalnya aku mengira itu hal biasa, tapi setelah di pikir dengan pakaian muslimah, Mami di jauhkan dari orang jahat dan musuh-musuhnya. Lalu aku lanjut ke Korea, itulah cerita awal menantu bisa dekat dengan mertua karna sudah menjadi teman." ujarnya yang lalu menatap Azka, Laila tersipu malu ia menahan tawa.


"Kenapa kamu selalu membuang wajah dan menutupi jika kamu tertawa, padahal aku sangat senang jika melihat tawamu, sekarang obat galau dan penatku adalah kamu. Bidadari surgaku." Azka melihat ke jalan tapi masih menyempatkan melirik istrinya, kebuanya saling tertawa ringan.


"Kemarin aku mengintrogasi Pak Ahmad," ujar Azka, Laila memperhatikan Azka dan penasaran, " Pak Ahmad mengatar Mami ke suatu tempat dan menjual beberapa berlian miliknya, lalu uang itu di sumbangkan ke 7 Panti Asuhan. Dari situ aku mengira Mami masih punya berlian yang mahal, menyimpan kekayaan bukanlah hal yang membahagiakan, Mami berbagi untuk menambah amal di akhirat, aku tidak mau menumpang tangan walau aku tau kekayaan Mami tak kan habis walau sampai buyut kita." Azka menghentikan mobilnya mengenggam erat kedua angan istrinya.


"Yakinlah. Cintaku padamu juga pembuktian, aku bekerja untuk menafkahi keluarga kecil kita, jika suatu saat, Allah akan mengambil kekayaan itu aku sudah iklas, karna itu memang benar milikNya, aku juga ingin memberikan sebagian rumah istana untuk di jadikan panti atau pondok agar berkah, dan di ramaikan dengan suara kebaikan, Bibi-bibi dan Bapak- bapak juga sudah waktunya istirahat, mereka semua merawatku dan rumah istana, aku tidak bisa membalas kebaikan mereka, aku membayar dengan uang tetapi kasih sayang tulus dari mereka lebih dari uang, mereka juga mulai tua dan ingin berkumpul dengan cucu-cucunya, jika mami mengizinkan mereka pensiun akan lebih baik." keinginan dari hati yang terdalam dari Azka Faisal, Laila mencium punggung tangan dan membalik ke telapak lalu menciumnya lagi.


"Aku juga Alfin hub Laila Fariha kepadamu, jika baby kita laki-laki beri nama Alfin ya?" Azka merayu dengan menaikan alisnya berkali-kali.


"Terserah Ayahnya saja..." ujar Laila tersenyum manis, namun raut wajah Azka berubah ada yang membebani fikirannya.


"By..., kenapa?" Laila mengelus pipi Azka, Azka memegang tangan yang berada di pipinya.

__ADS_1


"Aku ingin kesalah fahaman antara Mami dan Papi berakhir. Aku ingin Papi tau bahwa Mami selama ini hanya pura-pura tak cinta! Ya, walaupun aku tau Papi sudah memiliki kehidupan baru, sekian lama ini hanya menjadi sesuatu yang menyakitkan, aku sempat membenci kedua orang tuaku, dan saat itu kamu memberi saat aku pun pura-pura tidur! Apa kau ingat." Azka mengungkit kenangannya, Laila tersenyum


"Tak ada yang bisa di lupakan dari cerita kita, aku selalu ingat, dan selalu merasa dag dig dug, saat bersamamu. Cuman waktu itu kau sangat menyebalkan!" Laila memukul pelan lengan Azka, Azka mengerutkan kening


ia berfikir.


"Tunggu! Aku akan bertanya dan jawab jujur, apa kau saat itu bicara nyata? Bukan kebohongan! Aku pernah tanya kau jatuh cinta? Lalu kamu jawab sekarang! Sama kak Azka! Apa itu ungkapan dari hati atau asal ceplos?" Azka memandang juga penasaran.


"Aku terpesona dan hatiku searasa di dor! Dor! Dor! Saat kamu memberi semangat ketika Andre mencium pipiku, aku jatuh ci ta saat itu." pengakuan Laila mengembangkan senyum di bibir Azka.


"MasyaAllah berarti itu nyata? Aku bahagia SubhanaAllah..." Azka memeluk Laila.


"Memelukmu adalah kekuatanku. Aku sebenarnya tau masalah Mami, para Mafia, musuh dalam selimut," Laila terkejut mendengar pengakuan Azka, matanya membulat. "Aku tau semuanya, dan kita harus lebih lihai mengelabui mereka, aku sudah memalsukan alamat berlian milik Mami di satu desa ang sangat jauh dari sini maupun dari Jakarta, aku di bantu para intelejen handal teman-teman Papi, mereka pasti akan ke sana, aku memberi 3 berita palsu, dan kini aku harus ikut campur, butuh kerja keras selama ini! Kita harus ada di samping Mami. Mami adalah orang hebat yang di intai karna benda miliknya, dan Mami tidak akan memberikan sesuatu itu untuk keburukan. Semua usaha kerasnya tidak boleh sia-sia, aku juga ingin menyatukan Mami dan Papi lagi, bukan sebagai suami istri tetapi menjadi teman." Azka melepaskan pelukannya.


Laila bersandar di bahu Azka, "Ternyata suamiku sangat brilian. Muahc" kecupan singkat di beri Laila, Azka hanya tersenyum dan melanjutkan perjalanan.


"Lagi! Di sini!" suruhnya meletakkan jari telunjuk ke bibir, Laila hanya mencubit lengan Azka.

__ADS_1


Kebahagian cinta dan kasih sayang, tapi nyawa mereka juga dalam bahaya.


Bersambung


__ADS_2