Mencintai Rembulan

Mencintai Rembulan
Terlalu


__ADS_3

Azka dan Pras akhirnya saling bicara, setelah bertahun-tahun tak bertemu, Pras terlihat sangat rindu akan putranya, yang kini akan segera menjadi seorang Ayah.


"Selama ini kenapa Papi tidak pernah memberi kabar! Aku dalam keadaan kritis Papi juga tidak menemaniku!" Azka meminta ke jelasan.


"Maaf Azka, hati ingin bertemu namun keadaan berbeda, Ibunya Laras sakit keras kangker, dan Papi tidak bisa meninggalkannya, maafkan Papi tidak ingin datang ke Jakarta," penjelasan yang masih kurang memuaskan untuk Azka.


"Maaf Mas Azka, Bapak sakit sekarang pun sakit." sela Laras,


"Laras!" suara Bapaknya dengan nada tinggi.


"Pi, aku sudah memaafkan, tapi tolong jujur, Papi sakit apa?" Azka ingin tau keadaan Papinya, Pras tersenyum namun matanya berkaca-kaca, lalu melinting celananya ke dengkul.


"Ya Allah..." Azka dan Laila melihat luka yang begitu parah di bagian bawah dengkul milik Papinya, bagi orang sangat menjijikkan luka itu.


"Diabetes?" tanya Azka matanya mulai berkaca-kaca, namun Azka segera menghapus air matanya.


"Iya." suara Pras pelan.


"Mari di obati, harus ikhtiar! Papi izinkan aku berbakti," bujuk Azka yang ingin merawat Papinya. "Laras bujuk Bapak." titah Azka pada adik beda Ibu.


"Bapak sulit Mas, apalagi tau keadaan uang." sungguh mengejutkan.


"Selama uang dari kerja untuk berobat Ibunya Laras, setelah di diaknosa penyakit diabetes Papi sudah tidak bekerja, ada sedikit modal untuk warung ini, Laras pun tak pernah mengeluh soal ini! Maafkan Papi." jelas Papinya, suasana menjadi haru.


"Bapak." suara pelan dari Laras karna terharu.


"Sudah makan dulu, cucu kakek biar sehat! di coba ini masakan Papi lho..." suruh Pras yang sudah menghidangkan makanan di depan Azka dan Laila, Pras meninggalkan keduanya, Laras membuntuti Bapaknya.


"By, kira-kira Papi mau bertemu Mami lagi nggak ya?" tanya Laila, Azka mencium kening Laila, tak lama mereka makan.


"Aku juga ingin menyatukan Mami dan Papi, masa-masa tua bersama anak cucunya, terkadang itu yang di harapkan orang tua, tapi Mami pernah bilang ingin minta maaf pada Papi, semoga saja mau bertemu saling bicara, trimakasih kamu meredam amarahku, awalnya aku sedikit marah pada Papi, namun melihatmu ada kedinginan di kepalaku, kau adalah penyejukku. Aku berfikir untuk apa marah sudah terlanjur terjadi." bijak Azka, Laila tersenyum.


"Ini enak." ujar Laila yang terlihat fokus pada makanannya.


"Aku ngomong serius tadi!" ujar Azka, Laila tertawa.


"Aku tau..., tapi ini kruyuk-kruyuk, trimakasih sudah tidak emosi, makanya sebelum bicara di fikirkam dulu." kritik dari Laila.


"Iya, dengan fikiran yang tenang. Dengan kepala dingin." jawab Azka. "Kasian Papi dan Laras mereka hidup sederhana! Aku juga ingin seperti ini, tapi jika hidup seperti ini sulit berbagi," ujar Azka yang mengamati warung kecil dari susunan bambu, dan rumah sederhana tanpa keramic.


"Aku selama ini hidup dengan harta, harta yang melimpah, sesukaku! Mau aku kemanakan uang dari Mami, saat aku pergi menyusulmu ke Paris lalu ke Korea aku baru sabar jika uang begitu penting. Dengan banyak uang yang di gunakan secara positif, dulu aku pemabuk tapi suka berbagi pada panti asuhan. Dan akhirnya aku menemukan jalan taubat. Aku pikir islam itu penuh dengan kesulitan, penuh dengan larangan dan aturan. Tapi ternyata selalu ada pilihan Nabi Muhammad selalu memberi contoh baik, bahkan ada sahabat pemabuk pun di mudahkan di beri cara untuk taubat, sungguh Allah Maha Pengampun." ujar Azka begitu dalam dengan perasaannya.


"Islam itu indah, jangan menuntut larangan-larangan, karna larangan dari Allah itulah yang terbaik untuk kita, misal **** bebas yang bisa menyebabkan penyakit HIV, Allah menegur lewat penyakit seperti itu jika orang melakukan kemaksiatan. Namun terkadang juga Allah menguji kesabaran hambaNya dengan di datangkan penyakit. Hidup ini hanya uji coba! Sabar, tawakal, ikthiar, hidup hanya sesaat." ujar Laila memang sangat berfikiran dewasa.


Setelah asik ngobrol dan makan,


Pras dan Laras datang, dengan raut wajah kusam dan brewok, Laila ingin mempertemukan Mami dan Papinya, ingin menyatukan kedua mertuanya yang terpisah karna keadaan. Laila sangat faham jika Ibu mertuanya masih setia dengan Papinya Azka, mungkin juga masih menyimpan perasaan cinta.


Cinta yang terkubur karna tidak ingin saling merepotkan. Sofia menahan sakitnya dan membuat drama agar berhasil bercerai dari Pras.

__ADS_1


Kejadian itu membuat Azka menjadi korban tapi semakin bertambahnya usia, kini Azka lebih dewasa dan tidak terlihat konyol lagi.


"Ini sangat enak, makanannya lezat." puji Laila terhadap hidangan dari mertua laki-lakinya.


"Pi, ajak adik ke Jakarta, Papi hanya kerja di warung? Ayolah Pi..." Bujuk Azka, Pras tersenyum kecil.


"Aku ingin ke Jakarta, ya Pak! Boleh ya..." pinta Laras, Laila tersenyum.


"Tapi..." Bapaknya ragu dan pasti merasa sungkan jika bertemu dengan mantan istri.


"Aku akan bujuk Mami, lagian juga rumah istana sangat besar, dan pegawai akan segera pensiun, mereka beruban dan waktunya istirahat." jelas Azka yang di susul tawa kecil, Pras terlihat bingung.


"Iya Pi, kita kumpul, bersama, Mami pasti setuju kok." Laila sangat yakin.


Hp Azka berdering. "Syut Mami." bisik Azka lalu mengangkat telponnnya.


"Halo Assalamua'laikum." jawab Azka.


"Wa'alaikumsalam, kamu di mana? Mami merasa sesak, cepat ke Vila. Heh, heh," suara Maminya terdengan kesakitan dan desahan nafas yang nerurutan, Azka mematikan panggilannya.


"Ayo! Mami kambuh." Azka bergegas, ia berdiri dan berjalan cepat, Laila berjalan di belakangnya, Azka sedikit berlari tapi Laila berjalan pelan.


"Azka pakai motor ini!" suruh Pras yang datang dengan mengendari motor metic vario dan juga terlihat khuawir dari raut wajahnya. Begitu sigap Papinya.


Azka bergegas, Laila masih berjalan pelan karna licin ia takut terpleset.


"Ayo dong! Lama banget!" Azka mulai berbicara dengan nada tinggi. "Apa kamu nggak khuwatir sama keadaan Mami!" bentak Azka, Azka menaiki motornya, Laila menaiki motor dengan mata memerah, akan jatuh air matanya.


Terlihat jelas Laila sedih dengan ucapan Azka, Azka masih tak menyadari perkataannnya yang telah melukai hati sang istri.


Azka juga sedikit ngebut. "Aku turun, jalan kaki saja!" pinta Laila, Azka langsung menghentikan motornya.


"Sana jalan. Palingan memang kamu tidak peduli dengan keadaan Mami." suruh Azka ketus salah faham tentang istrinya, karna jalanannya tidak bagus , dan Azka ngebut Laila minta turun untuk menjaga kandungannya.


Laila turun dari motor tanpa kata, ia faham jika suaminya terlalu panik dengan keadaan Maminya, Azka pun melaju dengan kecepatan tinggi.


Laila berjalan pelan dengan deraian air mata. "Aku sayang Mami, tapi aku juga menjaga kandunganku, kenapa kamu setega itu heks, he.., kamu malah berkata kasar, kamu membentakku." deraian air mata menemani langkah Laila. Nafas berat terhembus berulang-ulang, Laila menangis tersedu-sedu, beberapa penati teh melihatnya, dan merasa kasihan.


"Neng kunaon (kenapa)?" sapa ibu-ibu, Laila menghentikan langkahnya sejenak, menutupi tangisannya dengan senyum tipis.


"Kelilipan." Laila berjalan sedikit cepat, ia hampir terpeleset, namun berpegangan pada pohon, ia merangkul pohon itu. Tangisannya terpecah.


Ia juga lelah berjalan, nafasnya sangat menyesakkan dada. "Sangat menyakitkan mendengar suami marah, kenapa? Apa kamu lupa kalau aku hamil Ha!" ujar Laila sangat kesal pada suaminya. Bibirnya bergetar, air matanya tak henti, kempas kempis dadanya.


"Eh, he..., he..., hiks. Huh..., Laila kuat apa pikiran dia nanti jika aku tak sampai vila." gumamnya, Vila megah sudah terlihat di depan sana, Laila mengambil nafas panjang dan kembali berjalan.


Laila menghibur diri dengan bernyanyi, menyanyikan lagu yang sering di nyanyikan Azka untuknya, jika Azka bersikap romantis, dan memperlihatkan betapa besar cinta Laila merasa, "Tadi hanya kesalah fahaman kecil. Nanti juga romantis lagi." ujar Laila menguatkan diri dan berusaha melupakan perkataaan Azka yang menyakitkan hati.


"Aku takut kehilangan cintamu...

__ADS_1


Aku takut, takut kehilanganmu...


Aku tak akan bisa, Aku yang bisa gila." ia terhenti bernyanyikan lagu Band Republik, tapi kata-kata Azka muncul di fikirannya dan kembali mengundang tangisannya.


"He..., he..., hem, hiks hiks, kenapa kamu suu'dhon aku peduli sama Mami, aku juga sayang. He..., hiks." Laila kembali bernyanyi sambil menangis.


"Kan ku sayang engkau sampai akhir dunia, kan ku jadikan kamu wanita..., he...., hiks hiks, he he..." Laila menghapus air matanya, kini vila sudah terlihat jelas di depan mata, Laila menghapus air matanya dan segera masuk, kakinya tersandung. "A..., Alhamdulillah tidak jatuh." Laila segera masuk, jari kaki jempolnya berdarah.


Bik Miah terkejut "Ya Allah.., neng!" Ia segera menuntun Nyonya mudanya.


"Bagaimana Mami! Di mana Mami? Bagaimana keadaannya?" tanya Laila sangat khuwatir.


"Sudah membaik neng, tadi nafasnya sesak, wajahnya pucat, pingsan juga, tapi dokter sudah kemari, dan harus di rujuk ke Rumah Sakit, Tapi..., Nyonya Sofia tidak mau." jelas Bi Miah, yang menuntun Laila ke kamar Nyonyannya,


Laila mengambil beberapa tisu lalu membungkuk "Ah." dan segera menutupi kakinya yang derdarah, agar Azka tidak tau.


"Jangan membungkuk, kasian adik bayinya, sini bibik pasangkan." Bik Miah merebut tisu, namun Laila duduk dan mengelap darah yang terus keluar dari kukunya, ia kemudian melingkarkan tisu itu, sampai tak terlihat jika terluka.


"Bik, tolong jangan bilang ke Kak Azka." tegur Laila, bik Miah mengangguk. "Aku bisa! Jangan di tuntun ya." tolak Laila, menurunkan pelan tangan Bik Miah. Bik Miah merasa kasiahan pada Laila, Laila masuk kamar Maminya.


"Mami," ujar Laila yang langsung duduk di ranjang. Azka terlihat masih marah dan kesal, ia keluar.


"Mami udah baikan sayang, kamu bertengkar? Soal apa? Apa soal Mami?" Maminya melihat raut wajah Azka, dan memperhatikan sikap putranya yang acuh pada Laila.


"Tidak Mami, sudah makan? Sudah minum obat?" Laila sangat perhatian Azka tak melihat itu.


"Mami sudah membaik dan butuh istirahat, sana bicara sama suamimu! Kesalah fahaman sering terjadi, saling bicara perlu, cepat." titak mertuanya, Laila tersenyum.


"Cepat..." Laila berdiri dan pergi dari kamar mertuanya.


"Kalau bicara pasti aku malah menangis. Dan tidak jadi ngobrol." gumam Laila, darah di kakinya menetes ke lantai tanpa dia tau.


"Neng kenapa?" sorak Bik Ani, Laila melihat Azka menuruni anak tangga, Laila duduk dan segera mengelap darahnya dengan lap yang ada di pundak Bik Ani. "Bik Ani diam." Laila berbisik.


"Ngapain!" ujar Azka.


"He..." wajah Bik Ani aneh Laila diam, Azka pergi ke depan. Laila membuang nafas.


"Aku ingin kamu tau, tanpa aku omong, aku ingin di perhatiin." gumamnya, ia sangat gengsi.


"Neng sama Aden marahan?" Bik Ani mulai bertanya, karna penasaran.


"Biar aku duduk yoga di sini, biar tenang fikiranku." ujar Laila, Bik Ani tertawa kecil melihat Laila yang mulai aneh.


Laila memejamkan mata dan benar-benar yoga. "Bahkan rasa sakit karna ke sandung pun tak sesakit hatiku...,he, kamu terlalu, keterlaluan! Sungguh terlalu!" gumamnya. "He..., hua..." teriakan Laila sangat mengejutkan, hingga menjadi tontonan.


Laila sadar jika di perhatikan ia membuka mata. Lima pegawai mengamatinya ia terkejut.


"Katanya harus latihan ambil nafas, jika mau melahirkan aku menyiapkan diri, sejak kini." Laila beralasan, alasan yang juga masuk akal. Dan juga membuat tertawa para pegawainya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2