Mencintai Rembulan

Mencintai Rembulan
Permintaan Aneh


__ADS_3

Cuaca sangat panas di malam hari maupun di siang hari, Malam hari biasa dingin bersaamaan anginya tak di rasa Laila, Laila kegerahan ia hanya menyampirkan jilbabnya terlihat sedikit rambut di jidadnya.


Laila duduk di pinggiran danau buatan yang di sebelahnya kamar terbuka, sambil mengayunkan tanganya kasana-kemari,menikmati air jernih itu sesekali ia membuang nafas yang menyesakkan dada, ia merasa gelisah, galau tanpa alasan. Azka masih berada di atas sajadahnya sambil terus mengaji surat-surat Alqur'an yang sudah di ajukan Laila.


Azka menoleh ke istrinya "Dari pada galau mending ikut ngaji, sini dengarkan." Azka menarik Sajaddah tempat Laila tadi solat Isya', Laila berdiri dan patuh pada pinta suaminya. Ia duduk di sebelah suaminya, yang sudah membaca surat Al-Luqman Juz 21 terdiri dari 34 Ayat. Surat Alqur'an yang penuh nasihat untuk mendidik anak agar menjadi Soleh, Sholihah.


Azka mulai membaca, istrinya mengambil bantal dan tidur di sampingnya. Laila takut tersenggol kulit karna nanti bisa mbatalkan whudlu suaminya, jika mengikuti Madzhab Imam Syafi'i suami, istri akan membatalkan whudu jika bersentuhan.


Azka mengambil sorbannya dan meletakkan di perut sang istri. Sambil mrlotat ke arah perut dan membaca.


"يبني لا تشرك با الله" Ayat 13


Azka membaca Ayat itu tiga kali, sambil mengelus-ngelus perut istrinya, Sesudah itu Azka meniupnya dengan palan lalu lanjut mengaji lagi. Laila memandangi suaminya dengan pandangan istimewa, rasa bahagia, dan haru. Azka selesai mengaji, ia mencium Alqu'an meletakkan kitab suci umat muslim itu di meja, kemudian ia mencium kening istrinya.


"Trimakasih sudah mau menjadi pendamping hidupku. Nisfu Qolby (separuh hatiku)" Azka memandangi istrinya dengan penuh rasa, Laila tersenyum pipinya merona.


"By ceritakan tentang kiai Luqman yang barusan tadi kamu baca," pinta Laila, Azka membuang nafas dan berpaling muka.


"Aku sudah mengantuk dan besok harus ke kantor dan tempat kontruksi, maaf ya" Azka menolak untuk bercerita, Laila terdiam tanpa kata, jelas sekali ia marah.

__ADS_1


"Jangan marah!" Azka ikut berbaring, di atas sajadahnya, Laila menghadap ke Azka sambil menarik benang yang terlepas dari jaitan.


"Aku gelisah, tadi aku sudah menenangkannya dengan mengaji bahkan aku berhasil dapat 5 juz dalam satu dudukan. Tapi aku sangat ingin sesuatu, yang sangat aneh!" Laila memejamkan mata, Azka baru memiringkan badan ke arah Laila, mereka berada pada satu bantal.


"Apa yang kamu inginka?" tanya Azka yang mulai penasaran, Laila masih berfikir. "Aku tidak.mau anak kita gampang ces! ces! (ngiler)" ucapan Azka membuat Lailamenepuk dadanya.


"Au panas!" Azka memegang erat tangan istrinya, Laila memeluk suaminya.


"Aku ingin hujan-hujanan" ringiknya dengan bisikan lembut di telinga Azka, Azka melepas pelukan itu karna kaget, ia sepontan langsung duduk, Laila mengeluarkan senjata andalan para kaum Hawa yaitu diam dan menangis punya arti tersendiri, hingga membuat kaum Adam bingung.


"Kok aneh to by? jangan aneh-aneh ini kemarau panjang sayang. Kau marah lalu menangis kau berhasil membuat aku bingung," Azka mengaruk kepalanya yang mulai pening. Berfikir sebelum berkata, Laila masih menangis tersedu-sedu.


"Bagaimana caranya?" Laila duduk, ia penasaran dengan apa yang akan di lakukan suaminya.Tapi kemudian meragu "Aku inginnya dari la_ngit, a_ku tidak mau pakai air kran, hek" jelas Laila dengan suara terbata-bata, Azka membanting tubuhnya di kasur, Laila kembali diam dan menangis. Azka lelah mendengar itu. Ia bersikeras memahami istri yang sedang mengandung anaknya, ia berusaha sabar. Berdiri, lalu menggendong istrinya.


"Kita akan ngobrol tentang kisah Kiai Luqman Hakim, oke setuju." Azka mencoba mencari solusi, Laila menatapnya.


"Aku udah tau.." Laila merengek, di dada Azka, Azka membuang nafas, ia merasa susah dan bingung, ia membaringkan Laila di ranjang.


"Anakku inginnya jangan aneh-aneh, ayah bingung." Azka mengelus perut istrinya dengan berkata jujur, Laila tertawa, Azka melihatnya dan ikut senang.

__ADS_1


"Oke silahkan berikan nasihat Kiai Luqman kepada Anaknya." Laila meringankan bebannya, Azka mencium kening Laila dengan cepat.


"Riwayat menyebutkan Kiai Luqman berasal dari daerah Nubah ada pula yang mengatakan dari Sudan. Ada pula yang mangatakan Beliau adalah sorang hakim pada zaman pemerintahan Nabi Daud AS. Beliau terkenal dengan Nasihat-nasihatnya dan salah satunya, Yabunayya laatusriqbillah. Dan nasihat yang lain di antaranya: Aku menundukkan mataku, menjaga lisanku, berlaku iffah pada makananku (hanya mengonsumsi yang halal) aku menjaga kemaluanku, memulyakan tamu ku, menepati janjiku, menjaga hubungan dengan tetanggaku, aku tinggalkan semua yang tak berguna bagiku. Itulah semua yang menjadikanku bermartabat seperti yang kalian lihat. Begitulah sayangku, namun yang iri dan derengki kepada Beliaupun sangat banyak. Jangankan Kiai Nabi kitapun cobaanya sangat berat. Di ludahi, di lempar sampai giginya patah, tempat Imamnya di kencingi. MasyaAllah Beliau Nabi Kita Muhammad SAW, tidak marah bahkan mendoakan, untuk orang dzolim ya Allah." Azka teringat zaman dulu ketika ia mabuk dan dugem, hal itu membuatnya menyesal dan menangis.


"Allah Maha memaafkan. Dan aku mencintaimu apa adanya, karna jika dari kita menuntut kesempurnaan dari salah satu pasangan, maka pernikahan ini tak abadi, karna manusia tiada yang sempurna. Kak Azka sudah menyesali dan sekarang sudah menjadi Imam yang sangat sempurna untukku, tapi aku mohon bersabarlah dengan sikap kekanak-kanakan ku..., ya?" Laila mengenggam tangan Azka, Azka menatapnya.


"Sekarang boleh aku tidur?" pamit Azka yang menata bantal.


"Tunggu!" cegah Laila, Azka melemas. "Apa ada arsitek cantik?" tanya Laila, Azka menahan tawa lalu tak kuat 😆😆😆 Akhirnya tawa itu keluar dari Azka.


"Aku bertanya..." Laila memainakan bibirnya dengan merunduk, Azka berbaring.


"Ya jelas ada sayang, namanya Vita dia tomboi dan cantik." jelas Azka, Laila menceples pupu Azka, lalu pergi ke danau buatan yang punya banyak kenangan waktu ia jadi pengampit pria di rumah Azka. Azka mengikuti istrinya yang masih saja gelisah tanpa sebab.


"By, habiby..."Panggil Azka, Laila tak menghiraukan, ia menatap langit yang di penuhi hiasan, cahaya rembulan menambah keindahannya. Azka datang dan memeluk istrinya, lalu keduanya menikmati kesahduan di bawah rembulan malam.


"Cantik indah berseri itu hanya istriku, tiada yang lain, sama halnya aku selalu mencintai rembulan di malam hari aku bersama nisfu qolby, kau segalanya Laila, bahkan seumpama Allah memisahkan kita dengan maut, aku akan memintamu ketika di Surga, ya semoga saja bisa masuk surga Aamiiin. Jangan pernah peragukan cintaku. Selama ini aku berjuang sangat keras agas bisa mengikat hatimu." Azka membelai rambut Laila, mereka bersatu di bawah sang rembulan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2