
Azka dan Bik Nah pergi untuk menyembuhkan luka hati Azka. Naik Lion Air. Dari pesawat terlihat di bawah sana pememandangan di luar kaca sangat indah,lautan, gunung, rumah, terlihat kecil seperti mainan, Azka membatin.
'Aku berusaha membuang rindku dari jarak, waktu dan tempat, mencoba menghilangkan rindu di maskapai penerbangan,. Agar aku bisa ON Air,. Aku selalu merindukanmu merah jambu, rindu yang tak berujung, rindu yang tak bertepi, aku meninggalkan**mu tanpa kata, tak ada keberanian, rindu yang ku rasakan sendiri, dan selalu menyiksa ketika malam Hari, apa lagi ketika terbangun di Waktu tahadjut, rasa rindu seperti Menjatuhi Ku, melandaku, menerpaku, dingin dan rindu menyerang tubuhku, aku Selalu Tersiksa rindu Yang ku buat sendiri. Aku sadar aku lebay.
Semoga kau bahagia Laila, merah Jambu, Adiknya Mas Asfi, selamat Tinggal Laila,.'
Azka naik pesawat ke Banyuwangi, ikut ke rumah Bik Nah pegawai janda.
"Assalamua'laikum, Mbak Salwa doakan aku terus ya..Wa'alaikum salam." Chat terakhir dari Azka untuk Salwa, Azka mematikan HPnya.
*****
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun.
Setelah mendengar kabar pernikahan Laila, watu itu, Azka melarikan diri tanpa meninggal kan jejak. Hari silih berganti,.
Satu tahun berlalu dengan begitu saja, Azka berusa menyembuhkan luka hati namun tak berhasil,.
Malam itu Azka kembali ke rumah megahnya, setelah satu tahun pergi ke Banyuwangi untuk menenangkan diri, dan menimba ilmu agama di pesantren kecil, yang santrinya hanya tiga ratusan.
Azka datang ke rumahnya.
"Assalamu'alaikum, penghuni rumah istana! " Teriak Azka bersemangat.
"Wa'alaikummussalam " sambut hangat para pegawai. Azka memeluk satu persatu,. keluarga angkatnya.
"Wa'alaikumsalam " suara yang tidak asing datang dari belakang Azka, Azka menoleh.
"Mami, Ya Allah, " Azka sujud syukur, lalu memeluk erat Maminya.
Rasa haru dan bahagia di rasakan semuanya.
"Ini adalah hadiah dari Allah, trimakasih Ya Allah, engkau maha baik..!" Ucap Azka melepaskan pelukan dan berzikir Alhamdulillah tidak henti, ia bahagia.
"Mami, akan nginap di sini selamanya
boleh?" Lanjut mami Sofia.
"Sungguh, tentu saja, aku tidak mimpikan?, " Azka masih tidak percaya dan melihat
Maminya memakai hijab dan syar'i, Azka memeluk erat lagi.
" Mami lebih bahagia dari kamu, mari duduk kita ngobrol!," lanjut Maminya Mereka duduk, Bik Imah membuatkan kopi susu.
"Kamu masih belum percaya, banyak cerita dan rahasia yang mami sembunyikan
serapat-rapatnya, jika di ceritakan malam ini pun tidak cukup, selama ini Mami merahasiakan sesuatu." Nyonya Sofia melepas jilbabnya, tak ada rambut satu biji pun,.
Azka syok berat, dan terdiam kaku
" Ya Allah, Ma...?"
Mata Azka berkaca-kaca.
__ADS_1
" Selama ini Mami sakit Azka!, miningitis atau radang selaput otak, Mami tidak mau Papimu bersama Mami, karna mami tidak ingin membebanimu dan Papimu, mami memilih pergi, agar Papimu benci Mami, pura-pura selingkuh, dan menyuruh Laura datang kemari ngaku-ngaku sebagai selingkuhan papi, agar mami punya alasan untuk jauh dan tidak menyakiti, keadaan Mami sudah begini Azka!!," Azka memeluk erat Maminya dan menangis di pelukan Mami Sofia lalu melepas pelukan itu dengan pelan.
"Mungkin hidup mami juga tidak lama!" Ucap pelan Sofia membuat semua menangis, ruang tamu saksi bisu tangisan semua bersatu.
"Mami!, " Panggil Azka dengan suara merintih.
"Mami punya teman, kami bertemu di rumah sakit, dan di pameran lukisan dan perhiasan, kami satu CEO di Paris, dia lumpuh masih muda dan cantik, dia pelukis ternama, kami sering bertemu dan ngobrol, Mami menceritakan semuanya, katanya walau pun kita akan meninggal tapi jika bersama keluarga, akan jadi hal terindah, di saat menutup mata. Kata-kata itu terngiang-ngiang setiap saat,. Mami juga ingin bersamamu,
He..h berbulan-bulan mami berfikir, dan akhirnya ini keputusan Mami, untuk hidup sama kamu, Mami tidak ingin menyesal nantinya, Mami ingin bersamamu sampai menutup mata,.
Apa Mami masih Mamimu,?" Tanya Maminya.
" Mami satu-satu Nya!" Azka memeluk erat wanita yang melahirkannya.
"Siapa gadis itu aku ingin bertrima kasih!? "
"Fariha, jika dia tidak lumpuh Mami ingin menjodohkan kalian."
" jika dia mau, aku akan menerima dia apa ada nya!" Jawab Azka tanpa ragu sedikit pun.
"Sungguh, kau yakin ?" Tanya balik mami Sofia sbil menghapus air matanya.
"Seratus persen, triliyunan persen, yakin!" Jawab Azka memantabkan hati.
"Mami akan membujuknya, sama seperti dia membujuk mami,".
Jelas Sofia memakai hijab syar'i.
Terlihat pancaran kebahagiaan di mata Azka. Rasa yang tak bisa di ungkapkan.
Do'aku adalah hidup bersama mami,." Ucap Azka membuat mata Sofia berkaca-kaca.
Ia memeluk erat Azka.
Kebahagian datang dan menyembuhkan luka hati, semua senang, penghuni rumah sangat senang melihat Azka akhirnya bersama Maminya.
"Ayo kumpul kita jepret jepre..t " Ajak Azka berpose, mereka seperti keluarga .
Setelah mengambil beberapa foto, maminya membuka HP.
"Azka !"
"Iya ma.." Azka duduk di samping Maminya.
"Ini dia Fariha, ini Wa dia tidak main medsos, hanya WA, " Terang mami Sofia.
"Tidak ada fotonya Ma.!", Foto di kursi roda membelakangi kamera .
"Coba lihat." Azka meminta ponsel Maminya.
"Nih," Maminya memberikan ponselnya Azka.
"Dia cocok jadi motifator , karna kata kata nya dalam status WA , " Jelas mami Sofia.
__ADS_1
"Di larang rempong dengan urusan orang lain, perbaiki diri sendiri sebelum berkomentar " Azka membaca kata itu, ia tersenyum manis.
"Hukum karma masih berlaku, gaes! jadi jangan jahatin orang,. Awa...s azab " Lanjut baca Azka.
"Ana uhibbuka wa mahbub qomar " Kata itu membuat Azka terdiam ia berfikir,
" aku mencintai mu, dan mencintai rembulan, Ma..? dia punya pacar! " Lanjut Azka
"Enggak, dia sering sering sama mami, enggak punya!," jelas mami Sofia sangat yakin.
"Dia suka bunga teratai dan tulip Ma, ?" Tanya Azka yang masih memeriksa
ponsel Maminya.
"Itu bahan lukisannya, sebenar dia mengenal mu !" Kata Sofia mengejutkan Azka.
"Siapa?, tidak mungkin!, aku enggak pernah punya temen pelukis, aku saja menghilang tiba-tiba, dan tidak punya teman satu pun!, hanya Laila dan keluarga kecilnya" Ngotot Azka sambil mengingat, mengerutkan alis dan berfikir.
" Tidak ada," Lanjut Azka.
"Mami ingat-ingat dulu sebentar, e...h , aduh pusing Mami?." fikir-fikir Sofia memaksa ingatannya.
"Tidak usah di paksa Ma!.." Pelan Azka sambil merangkul bahu Maminya.
"Sini ponselnya, ada kok lukisan rumah ini, dan ada pula lukisan seperti kamu memandang rembulan malam,". Mami sofia sangat yakin dan berusaha mencari foto, di galeri yang ia simpan di balik nama Fariha.
"Tuh lihat! " Tunjuk mami Sofia.
"Apa mungkin gadis merah jambu " Ceplos Azka ringan dan sedikit penasaran.
"Itu.., merah jambu " Sofia membenarkan Azka.
" Iya itu, kau memanggilnya dengan sebutan itu?" Yakin Maminya.
"Itu Laila bukan Fariha, Laila sudah
menikah! " Jelas Azka yakin dengan hatinya.
"Terserah siapa yang penting kamu mau?, Mami senang, jika Mami meninggal dan kamu bisa hidup dengan Fariha, Mami akan sangat bahagia!." Jelas Sofia.
"Dianya mau tidak sama Azka!?, Mami asal jodoh-jodohin, ayo solat malam Ma! " Azka melihat jam.
"Ayo..".
Mereka berdiri Azka menuntun Maminya.
" Aku sangat bersyukur, trimakasih Ma!" Bisik Azka.
" Mami lebih bahagia, " Maminya mencium pipi kanan putra satu-satunya. Azka tertawa bahagia,
" Aku rindu belasan tahun!" Keluh Azka.Maminya tersenyum
" Mami juga!" Saling senyum
__ADS_1
Pergi wudlu dan lanjut solat malam.
...Bersambung....