Mencintai Rembulan

Mencintai Rembulan
Perintah Tiba-tiba.


__ADS_3

Allah SWT memberi keindahan luar biasa di manapun tempat. Keindahan alam adalah hiasan bumi dan kenyamanan semua mahluk. Di Indonesia banyak tempat indah nan mempesona.


Begitu pula di Korea selatan. Alam yang indah untuk di nikmati,di syukuri,di rasakan. Bukan untuk di cemari.


Mari kita jaga lingkungan dengan cara tidak mengotori.


Azka dan Laila masih menikmati indahnya hamparan bunga colona dan berjatuhannya bunga sakura.


" Kau senang?" Tanya Azka tak memalingkan tatapannya.


" Alhamdulillah. Tapi..."


" Kenapa?" Tanya Azka sambil menfoto gadis yang di panggil nya merah jambu,tanpa Laila tahu.


" Kok menangis..." Azka memasukkan ponsel ke saku celana.


" Ini tidak nyaman." Keluh Laila.


" Ayo masuk mobil." Azka membopongnya, Laila membuka pintu mobil. Lalu mendudukkan Laila dengan pelan. Jidad mereka berjadukan.


" Maaf" Ucapa Azka pelan


" Tidak apa?" Wajah Laila menahan sesuatu yang Azka tidak tahu. Laila menangis tersedu-sedu, Azka sangat bingung ia bergegas memasukkan kursi roda lalu masuk mobil.


Mobil melaju.


" Laila kau kenapa?"


" Mungkin dia lelah,rumah ku dekat sini,kalian boleh istirahat" Beri tahu Om Kim.


" Laila..." Azka sangat bingung,wajahnya resah gundah melanda.


" Aku tidak bisa apa-apa..., kau tahu kan...?" Rengek Laila.


" Aku minta better lagi" Lanjut Laila mengejutkan Azka. Azka segera mengambilkan biskuit anti galau itu.


" Laper?" Azka memberikan biskuit itu,Laila sangat cepat menyautnya. Lalu makan namun merengek.


" Ini enak....eh..he..hiks..he" Laila makan tapi menangis.


" Enak kok nangis!" Tanya Azka ia sangat kuatir,matanya tak henti memandang gadis cinta pertamanya bertingkah aneh.


" Aku...."


" Apa?" Azka masih menghadap ke Laila yang duduk di belakangnya. Azka sangat penasaran.


" Aku ingin pup..., he...., hiks kan..., memalukan...." Ungkap apa yang di tahan Laila selama itu,akhirnya ia sudah tak tahan.


" Ya Allah." Azka sangat terharu dengan sikap Laila yang menahan sesuatu itu.


" Kamu pasti tidak akan menerimaku..."


Keluh Laila menjadi-jadi. Karna dia sangat malu jika apa-apa harus di bantu


ketoilet,memakai baju ia tidak bisa melakukan semua sendiri karna keadaan lumpuhnya.


" Jika jadi suamimu aku akan melakukan semua itu." Yakin Azka dalam gumamnya.


" Aku menerimamu apa adanya Laila..." Lanjut Azka meyakinkan Laila. Laila mengigit better.


" Kebelet kok makan?" Tanya Azka mengerutkan kening.


" Ini cara ku menahanya...,he..hiks he,eh" Laila terus menangis sambil makan biskui coklat vanila itu,seperti tupai mengrogoti batang pohon,cepat dan gesit dalam mengigitnya.

__ADS_1


" Om masih jauh?" Tanya Azka ke Supir.


" Tuh." Tunjuk Om kim yang sudah dekat.


" Ha....., ini memalukan." Laila menangis tersedu-sedu,sambil menutupi wajah engan kedua telapak tanganya.


" Udah keluar?" Tanya Azka malah menahan tawa. melihat expresi gadi yang di cintainya pertama kali.


" Kau harus tanggung jawab." Suara lemas Laila. Mobil berhenti.


" Oke." Azka langsung turun, ia bergegas mengambil kursi roda membuka lalu membuka pintu.


" Ayo." Azka sangat serius dengan ucapannya.


" Ini sangat bau...., he..., hiks." Laila merunduk menutup wajahnya karna sangat malu. Azka berusaha menenangkannya.


" Dengar. Ah...,Ayo aku tidak apa-apa. Sini ku bantu." Bujuk Azka.


" Sungguh!" Laila menaikan wajah menatap ke pria yang mencintainya selama hampir dua tahun. Entah apa arti pandangan itu,hanya Allah yang tahu.


" Sini" Azka meletakkan tangan kanan Laila ke pundaknya dan membopong Laila ke rumah om Kim.


" Aku malu." Laila menyembunyikan wajahnya ke dada Azka. Detak jantung berdetang normal,hanya hatinya berkecamuk. Azka komat kamit hanya terdengar gigi yang bergesekan Thek Thek Thek.


padahal yang di katakan Azka.👇


"Aku menerimamu apa adanya,setulus hatiku. Kalau Andre ada aku bejek-bejek sampai lungset,apa di kira mudah apa,orang punya kaki tapi tidak bisa gerak. Fikiran dia kemanasih. Ya Allah...,aku sangat marah sama Andre kenapa dia setega itu dasar hati sekeras batu Malin kundang. Ah..., lagi-lagi bujukan setan,bagaimana pun Laila sudah mencintainya. Sementara aku seperti orang berdiri di pantai,kandas dan terhenti saat di terjang ombak,aku pun terjatuh karna tak kuat menahan terjangan itu. Ya Allah.OMG." Gumam yang tak jelas dan sangat aneh. Laila memperhatikankanya.


" Berdzikir?" Tanya Laila.


" Mengrutu,membicarakan Andre." Jelas Azka.


" Aku tidak marah kak...,ini sudah takdirku... Mungkin ini yang terbaik untukku,Allah lebih tahu yang terbaik untukku." Ucapan tegar dari Laila,semakin menyayat hati Azka. Mata Azka berkaca-kaca mendengar Laila pasrah dengan keadaanya.


" Andai kau mau menerimaku Laila." Bisik Azka sangat jelas Laila menatapnya,entah apa yang ada di fikirannya. Terdiam sejenak lalu.


" Kak...,sudah waktunya kau membuka hati untuk orang lain,banyak gadis cantik dan solihah yang disiapkan Allah untukmu." Suruh Laila mencoba meyakinkan Azka bahwa Azka berhak mencintai orang lain.


" Namun aku tidak akan memaksamu,dan aku tidak bisa biarkan cintaku seperti ini tanpa memilikimu."Lanjut Azka.


" Di sini Az..." Tunjuk Om Kim membukakan pintu toilet.


Laila memukuli pundak Azka.


" Bagaimana ini siapa yang membantuku...,kenapa kau tega....,hiks...heehe"


" Maaf kan aku Laila. Ini semua


kebodohanku." Sesal Azka yang masih membopong Laila.


" Biar istriku yang membantunya." Ujar Om Kim membantu masalah.


" Trimakasih Om."


" Kak...,he...,ehe..hiks" Sungguh nelangsa wajah Laila. Azka pun tak tega.


Istri om Kim datang Azka mendudukkan Laila ke kamar mandi. Ia bergegas ke mobil mencari pakaian Laila. Lalu memberikan baju Laila ke Istri om Kim. Azka berdiri di depan pintu toilet.


'Kau menderita Laila,jadikan aku sesuatu yang halal untukmu,aku tak akan menyia-nyiakanmu. Ya Allah satukan aku dan Laila, Ya Allah aku kembali berharap,ampuni aku ya Allah,berilah Laila kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.


Azka menunggu di luar,perasaan tulus muncul di sanubarinya ia tak mudah menyerah.


Ini lah cinta apa adanya yang sejati,cinta Azka Faisal****. Menerima orang yang di cintai apa adanya,setia,berkorban untuk kebahagiaan orang yang di cintainya,dan tak mempedulikan perasaanya walau sangat sakit dan pedih di dalam hati.

__ADS_1


Ponselnya berdering. Azka mengambil ponsel dari sakunya lalu berjalan ke halaman depan rumah.


" Nomer siapa."


Azka menggeser layar ponsel berarti menerima panggilan masuk.


" Halo." Jawab Azka.


" Assalamua'alaikum." Jawab suara laki-laki yang suaranya sangat asing untuk Azka.


" Maaf No kenal" Jawab Azka bahasa campur.


" Aku Asfi." Ungkap pria itu. Azka melempar ponselnya karna terkejut.


" Azka konyol." Gumamnya,Azka mengabil ponsel itu.


" Wa'alaikumsalam kakak ipar." Kaki Azka bergemetar tak pernah menyangka jika kakak kandung Laila akan menelponnya. Telapak tangannya juga dingin karna grogi.


" Azka." Panggil Asfi mengejutkan.


" Adem Mas." Ceplos Azka.


" Ada apa Mas...,maksudnya?" Lanjut Azka mencoba rilex.


" Laila sudah bersamamu?" Tanya Asfi membuat Azka sangat gugup.


" Aku tidak macam-macam Mas,sumpah demi Allah." Saking takutnya Azka menjawab tidak nyambung dengan pertanyaan.


" Kalau tidak macam-macam nikahi dia." Suara jelas,lantang,tegas dari Asfi.


" What. Saya seneng,tapi saya tidak bisa memaksakan cinta Laila." Jawab Azka serius.


" Kamu tidak takut dosa kepada Allah,menyentuh yang bukan muhrimnya?" Lanjut Asfi membuat.


" Takut ful tidak setengah. Tapi Mas cinta tidak harus memiliki" Kata Azka tidak mau menyakiti Laila lebih dalam.


" Berarti kamu lebih takut ke Laila?,bukan kepada Allah." Tanya Asfi membuat hati Azka dalam belenggu dilema,yang meninggkat kegalauanya menjulang ke ubun-ubun di kepala Azka.


" Beh...,perintah Mas ini membuat hati


syok,aku mencintai tidak berdasar dan apa adanya sungguh. Suwer! namun aku tidak sekejam itu memaksa Laila, hanya untuk keegoisanku." Beri tahu Azka tentang perasaannya sambil menjambak rambutnya.


" Bukan soal keegoisan namun takut kepada Allah. Aku akan bujuk Laila. Kamu harus setuju." Suara lantang Asfi membuat wajah Azka memarah seperti sedang berhadapan secara live.


" Plis....,Mas...,Laila akan tambah benci kepadaku." Ungkapan Azka lalu duduk jongkok.


" Laila sangat mencintaimu Azka. Aku kakanya,aku tahu berapa dalam dia mencintamu,demi cinta dari Allah maka berkenankah kau menikahinya?" Bujuk Asfi meyakinkan Azka.


" Kalau kau mau,aku akan urus pernikahan yang sah kita vidio call itu sudah cukup aku wali nikahnya. Surat-surat semua akan ku atur hingga menjadi pernikahan yang sah secara agama,sepulang dari Korea kau hanya akan menandatanganinya." Perkataan Asfi mantab tanpa ragu,memberikan adiknya kepada Azka.


" Ya Allah di saat aku mulai mundur pelan-pelan harapan muncul tanpa di undang,aku galau." Azka meremat kepalanya ketika permintaan dari kakak yang di cintainya. Asfi mendukung dan merestui,Asfi percaya penuh dengan Azka.


" Azka...,aku yakin tidak ada yang berubah dari Laila,beri dia waktu agar terus terang tentang perasaannya." Jelas lebih lanjut.


" Cinta bukan begini Mas. Saat ini aku hanya bisa diam,semua terserah Laila. Terserah Mas Asfi mau membujuknya atau tidak semua terserah,aku puyeng,karna aku walau mencintainya aku takkan memaksanya." Itulah jawaban Azka,yang masih sangat terkejut mendapat perintah tiba-tiba dari Asfi.


" Kau mencintainya dengan yulus dan sabar ambil kesempatan ini,atau kau akan menyesal. Nanti aku telpon lagi."


Tegur Asfi lalu menutup telpon.


" Aku takkan menyesal kalau membuat merah jambu bahagia,walau bukan bersamaku.


....Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2