
Damian Reza Pradana membasuh dirinya di bawah shower. Tubuhnya terasa segar setelah kegiatannya semalam yang membuatnya puas. Setelah merasa tubuhnya bersih dan segar dia menyudahi acara mandinya. Damian mengeringkan tubuhnya dan mengenakan pakaiannya yang bersih. Di bereskannya bajunya yang kemarin tanpa ada yang tertinggal satu pun. Dia tidak menyukai kecerobohan. Juga pantang baginya untuk mengenakan pakaian yang kemarin. Damian selalu membawa stok baju bersih di mobilnya. Dia merasa dirinya siap untuk pergi. Di tengoknya wanita yang masih terlelap di tempat tidur. Kelelahan karena ulahnya semalam. Damian pun pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan kamar hotel. Hari masih pagi suasana hotel masih sepi. Damian turun ke lobby. Di sana di lihatnya seseorang duduk menunggunya. Daniela, istrinya menatap tajam. Damian menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Damian pada Daniela tidak suka.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan di sini." jawab Daniela menantang.
"Ikut aku." Damian tidak suka mereka ribut di hotel.
Dia menuju mobilnya yang sudah tersedia. Daniela ikut masuk ke dalam mobil dengan patuh. Mereka menuju rumah tanpa bicara. Damian yakin Daniela tau apa yang di lakukannya dan istrinya sedang menahan kemarahannya. Dari jawaban Daniela yang menantang tadi Damian bisa membaca suasana hati istrinya. Mereka menikah baru satu tahun, tapi Damian tau Daniela pandai mengontrol pembawaan dirinya. Daniela selalu lemah lembut. Marah, kecewa atau kesal tidak pernah di tampilkannya. Daniela mendapat didikan yang baik untuk menjadi pasangan hidup bagi suaminya. Damian tidak mengenal Daniela awalnya. Pada saat dia harus menikah ibunya menyodorkan beberapa nama gadis pilihan dari keluarga terpandang. Damian memilih Daniela. Ketika bertemu gadis itu Damian memiliki penilaian sempurna untuknya. Daniela pun setuju untuk menikah dengannya. Selama satu tahun pernikahan mereka Damian memperlakukan Daniela dengan baik, layaknya ratu di keluarga Pradana. Tapi dia memang tidak mencintai istrinya. Tepatnya belum. Mereka tiba di sebuah rumah mewah. Damian turun dari mobil, memasuki rumah menuju kamar mereka. Daniela mengikutinya dalam diam. Dalam kemarahannya pun Daniela tetap tenang.
"Sejak kapan kau ada di sana?" tanya Damian membuka percakapan. Dia duduk di sofa dengan santai.
"Belum lama sebelum kau keluar. Aku tau kau terbiasa bangun pagi." jawab Daniela tenang tapi matanya berapi-api. Dia duduk bersebrangan dengan suaminya.
"Baiklah apa yang akan kau tanyakan, aku yakin kau pasti ingin tau." Damian sudah tau dia harus jujur pada Daniela.
__ADS_1
"Siapa wanita itu, sejak kapan dan mengapa?" tanya Daniela menuntut.
"Namanya Juwita, bukan siapa-siapa. Dia hanya suka menggodaku dan aku hanya bermain-main dengannya, tidak serius. Kami kenal sejak dua bulan yang lalu. Kalau kau tanya mengapa, aku rasa mungkin karena aku sedang bosan dan butuh hiburan. Dan dia menawarkannya." jawab Damian terus terang. Daniela menatap Damian dalam diam. Namun tiba-tiba dia menangis. Damian terkejut.
"Ayolah Daniela, kita menikah bukan atas dasar cinta." Damian terkejut Daniela menangis. Itu berarti kontrol diri Daniela telah lepas. Damian segera bangkit dan duduk di sebelah Daniela. Damian memegang tangan Daniela lembut.
"Kau salah. Selama satu tahun ini aku sudah mencintai dirimu. Bahkan pernikahan tanpa cinta pun bila suami berselingkuh istri akan sakit hati." Daniela berkata sedih. Damian terpana dengan ucapan istrinya. Daniela mencintainya, pantas dia menangis.
"Maafkan aku bila apa yang kulakukan melukaimu." Damian mencium tangan Daniela.
"Ya aku menikahinya karena dia merengek terus. Tapi aku tidak berencana untuk punya anak dengannya. Aku pastikan itu tidak akan terjadi, aku selalu menggunakan pengaman. Dia pun aku paksa untuk menjaga. Hanya kau Daniela yang akan melahirkan anakku." dari jawaban Damian hati Daniela semakin sakit. Air matanya kembali turun. Entah mengapa Damian ikut sedih melihatnya.
"Daniela aku akan melakukan apa pun untuk menebus kesalahanku." kata Damian bersungguh-sungguh. Baru kali ini Daniela melihat Damian merendah. Betulkah dia berharga bagi Damian?
"Bagaimana jika aku minta kau menceraikannya?" Daniela mencoba.
__ADS_1
"Akan aku ceraikan dia saat ini juga." jawab Damian yakin.
"Lalu kalau aku minta bercerai darimu?" Daniela mencoba lagi.
"Aku tidak mau bercerai darimu. Dalam keluargaku tidak ada perceraian. Tapi jika sebegitu menderitanya kau hidup denganku, aku bisa apa. Mungkin aku pengecualian dalam keluargaku. Tapi Daniela tolong pikirkan lagi." Damian tidak mau kehilangan Daniela. Istrinya merupakan aset yang besar, milyaran bahkan triliunan. Tapi selain itu Daniela wanita sempurna untuk menjadi istrinya. Cantik, anggun dan pengendalian dirinya luar biasa. Dia tau bagaimana harus bersikap. Banyak teman-teman Damian yang iri padanya.
"Apa sebelumnya kau pernah lakukan ini?" Daniela mencari fakta untuk membuat keputusan.
"Aku tidak pernah punya hubungan dari sebelum menikah hingga menikah denganmu. Baru kali ini aku main-main. Aku menikahinya karena dia merengek terus. Dan hanya Juwita aku mencari kesenangan tidak ada yang lain " ada yang tidak Damian katakan secara jujur pada istrinya mengapa dia menikahi Juwita . Tapi itu tidak penting, toh dia akan menceraikan wanita itu.
"Aku akan memikirkannya baik-baik." kata Daniela akhirnya.
"Pikirkanlah, aku tidak mau kehilanganmu." Damian mengusap pipi Daniela, dia bangkit berdiri dan berjalan menuju keluar kamar.
"Kau mau ke mana?" tanya Daniela ingin tau.
__ADS_1
"Melakukan apa yang kau minta." jawab Damian sambil menatap Daniela sekilas. Semudah itukah? pikir Daniela. Damian akan menceraikan wanita itu. Setau Daniela pria bila sudah terlibat dengan wanita akan sulit untuk melepas selingkuhannya. Tapi Damian segera melepaskannya seperti yang dia mau. Daniela harus menyelidiki apakah Damian benar-benar meninggalkan Juwita. Damian sendiri memang langsung menuju apartemen Juwita. Dia yakin istri mudanya itu sekarang sudah pulang ke sana. Menghadapi keganasannya semalam pasti Juwita memilih untuk beristirahat di apartemennya. Damian memang menyewakan apartemen untuk Juwita. Sejak wanita itu resmi menjadi miliknya dia menyediakan kebutuhan Juwita, termasuk mobil. Hal ini Damian lakukan karena Juwita tanggung jawabnya dan bisa memuaskannya. Bukan berarti Damian dan Daniela tidak tidur bersama. Sejak menikah Damian merasa hubungan intimnya dengan Daniela biasa saja, tidak ada sensasinya. Dia memperlakukan Daniela dengan lembut karena istrinya aset yang berharga. Damian menikmati tubuh istrinya karena dia ingin saja, tapi tidak ada gairah yang menggebu-gebu. Karena Daniela menanggapinya dengan datar. Maka Damian jarang menyentuh Daniela. Hanya bila hasratnya tidak tertahankan. Berbeda dengan Juwita, tingkahnya membuat Damian bergairah. Ada saja ulahnya untuk memancing Damian. Dan Damian pun menikmati permainannya.