
"Berharap banget di cium ya." Daniela menerima sikat gigi dan langsung menyikat giginya.
"Mau dong di cium." tantang Damian.
"Nih." Daniela menyodorkan mulutnya yang penuh busa pasta gigi. Damian tertawa dan menggeleng.
"Ayo cepat, perutmu harus segera di isi." perintah Damian khawatir sakit Daniela bertambah parah. Daniela pun bergegas. Damian menggendongnya lagi menuju tempat tidur. Rindu sudah membawakan bubur untuk Daniela dan sandwich untuk Damian.
"Makan ya, aku suapin buburnya." Damian duduk dan mengambil bubur.
"Dam kamu tidak bekerja?" tanya Daniela heran.
"Nanti jika buburmu sudah habis." Damian ingin memastikan istrinya sarapan dan beristirahat. Walau kepalanya pusing tapi di perlakukan demikian oleh Damian membuat Daniela merasa nyaman. Maka dia menerima suapan bubur yang di sodorkan Damian. Setelah Daniela menghabiskan buburnya, Damian mengambil sandwich ya dan memakannya.
"Aku mau itu." kata Daniela menatap sandwich yang di makan suaminya. Damian mengambilkan yang baru, tapi Daniela menolak. Dia menunjuk roti yang sudah di gigit Damian. Dengan tersenyum Damian memberikan sandwich ya, dia mengalah. Daniela memakannya dengan nikmat.
"Istirahat ya, aku ke bawah sebentar." Damian membantu Daniela berbaring, lalu dia keluar kamar. Di bawah Rama baru saja datang. Dia membawa berkas pekerjaan Damian.
"Ada pertemuan penting dengan bapak Darmana." lapor Rama pada Damian.
"Kita berangkat setelah Daniela tidur." putus Damian. Dia naik lagi ke kamar untuk melihat Daniela. Sedangkan Rama menuju ruang kerja Damian untuk menaruh berkas pekerjaan. Rama yakin Damian tidak akan ke kantor hari ini. Di kamar Daniela telah tertidur. Damian mengenakan dasinya dan membetulkan lengan kemejanya. Damian sempat mencium pipi Daniela sebelum meraih jasnya dan turun ke bawah. Sementara Ariadna terbangun pagi ini dengan gelisah. Dia teringat permintaan Tareigh untuk bertemu siang ini. Sebisa mungkin Ariadna bersikap biasa, mengikuti sarapan pagi bersama keluarganya. Tapi dia tidak bisa menipu mata Rionara, kakaknya.
"Kamu kenapa dek, seperti orang bingung?" tanya Rio perhatian.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kakak tidak ke kantor?" Ariadna segera mengatur sikapnya.
"Sebentar siang, kakak sedang tunggu orang. Kenapa memangnya?" Rio heran melihat sikap adiknya yang biasanya tenang.
"Nanti aku ikut ya, ada janji dengan teman." Ariadna malas membawa mobil sendiri. Sebenarnya dia mencari kenyamanan dengan pergi bersama Rio, walau dia tidak berani berterus terang.
"Ya nanti kakak antar." Rio tidak curiga. Ariadna masuk ke kamarnya, di sana dia mundar-mandir dengan gelisah. Ariadna tidak mungkin tidak pergi. Dia ingat ancaman Tareigh. Jika keluarganya sampai tau dia pernah punya hubungan dengan pria itu, apa lagi dengan reputasi Tareigh sekarang Ariadna pasti akan di batasi kegiatannya. Tapi kalau pergi dia malas melihat wajah pria itu lagi. Dengan tingkahnya yang seperti itu Ariadna bersyukur dia meninggalkan Tareigh dulu. Walaupun dia menyimpan nama itu lama di hatinya. Tapi mendengar kelakuan Tareigh membuat Ariadna harus melupakan pria itu. Dia betul-betul malas bertemu lagi dengan Tareigh. Ariadna mencoba menghubungi Daniela. Dia ingin membagi kegundahan hatinya. Tapi tidak di respon. Dia lalu menghubungi Andini, dan di jawab.
"Hai An, kamu di butik?" tanya Ariadna ragu.
"Iya say, banyak pesanan. Mau ke sini?" Andini pagi-pagi sudah di butiknya.
"Aku bingung, nanti siang Tareigh mau ketemu." jelas Ariadna.
"Menurut aku sih ketemu saja, biar jelas maunya apa. Tidak usah takut soal Metia, aku rasa Tareigh tau harus bagaimana menghadapi istrinya. Kan Tareigh yang ingin bertemu. Mau ku temani?" Andini mengerti kegelisahan Ariadna. Dia rela mengorbankan waktunya.
Damian bertemu Darmana di sebuah cafe di salah satu hotel. Pembicaraan mereka cukup lama di sambung makan siang. Tapi pikiran Damian terkadang tertuju pada Daniela. Tidak sabar rasanya untuk tau kabar istrinya. Setelah Darmana pergi Damian melihat Revin Ardiansyah mintas dengan wajah kesal dan marah-marah pada asistennya.
"Ram, kenapa tuh?" Damian menunjuk Revin pada Rama.
"Saya rasa ada pertemuan yang tidak sesuai dengan keinginannya." jawab Rama asal. Tidak lama Daniela muncul melewati cafe tempat Damian dan Rama duduk.
"Danilo." panggil Damian. Danilo segera menoleh. Dia tersenyum melihat Damian dan Rama.
__ADS_1
"Wah ada tamu penting rupanya." seru Danilo menghampiri Damian.
"Kamu habis bertemu Revin?" tanya Damian curiga.
"Revin? tidak tuh. Aku habis makan siang dengan teman-temanku. Kemarin di pesta kami janji untuk makan siang bersama." jelas Danilo.
"Tadi tuan Revin lewat, tampaknya sedang kesal." Rama menjelaskan.
"Kalau Ardiansyah group sih sudah tidak di respon oleh M.Pro. Yang aku dengar dia mengajukan kerjasama dengan salah satu perusahaan milik temanku. Ardiansyah sedang mencari investor besar-besaran. Tapi temanku menolak pengajuan kerjasamanya karena yang di fokuskan Revin hanya keuntungan saja tidak termasuk resikonya. Sudah pasti yang menanggung resikonya si investor. Ada ya orang yang kerjanya seperti itu." cerita Danilo pada Damian dan Rama. Hal itu membuat Damian dan Rama berpandangan dengan sejuta makna.
"Terang-terangan seperti itu?" tanya Rama tidak percaya.
"Tidak terang-terangan, tapi terbaca oleh kuasa hukum perusahaan temanku " Danilo yakin temannya mengatakan hal yang benar. Tidak mungkin mereka menolak Revin tanpa alasan yang jelas.
"Nah lihat kan, dari cara kerjanya saja sudah sangat berbeda denganmu. Tidak salah papa percaya padamu." kata Damian pada Danilo.
"Ya aku merasa beruntung di latih oleh om Ardan. Aku jadi tau bisnis." Danilo benar merasa demikian walau dia tetap merasa dirinya bukan siapa-siapa karena dia bukan pemilik perusahaan. Dia hanya keponakan Ardan Morana, pemilik M.Pro.
"Papa tidak sia-sia percaya padamu. Sebentar lagi orang taunya M.Pro itu kamu." Damian menambahkan.
"Tapi M.Pro kan kamu yang lebih berhak Dam. Ini kan warisan Daniela suatu hari nanti." Danilo menyadari kedudukan mereka.
"Aku sih setuju dengan yang papa lakukan. Aku sudah sangat sibuk. Daniela juga tidak semahir dirimu. Aku tidak mau dia sibuk bekerja. Tidak perlu khawatir soal itu." Damian membesarkan hati Danilo. Tapi tetap saja pria itu merasa kecil. Itu sebabnya dia tidak berniat cari pasangan. Danilo hanya fokus pada pekerjaannya saja.
__ADS_1
"Baiklah jika menurutmu begitu. Aku kembali dulu ke kantor. Ada rapat nanti siang " Danilo pamit menyadari masih punya tanggung jawab.
"Ok sampai nanti." Damian mengerti. Setelah Danilo pergi Damian pun memutuskan untuk pulang. Rama mengantarnya ke rumah, laku dia kembali ke kantor.