Menepis Luka

Menepis Luka
Rahasia Andini


__ADS_3

"Pemiliknya sedang pergi tapi ada keponakannya. Silahkan tunggu dulu ya." Maya lega dan dia menjawab mereka dengan ramah. Maya beranjak menuju ruang kerja sang pemilik. Ariadna melihat-lihat koleksi baju sedangkan Daniela memilih duduk.


"Koleksinya baru-baru." kata Ariadna pelan pada Daniela. Berarti pilihan mereka pada butik itu tidak salah. Maya kembali tidak lama kemudian.


"Mbak sepertinya sang pemilik tertarik pada bazar mbak. Silahkan ke ruang kerjanya, sudah di tunggu." kata Maya dengan ramah. Daniela dan Ariadna pun segera mengikuti Maya menuju ruang kerja sang pemilik butik. Maya mengetuk pintu.


"Silahkan mbak." kata Maya sopan. Mereka pun membuka pintu dan masuk. Tapi mereka langsung terkejut.


"Andini." seru Ariadna dan Daniela berbarengan. Andini juga terkejut melihat dua temannya.


"Loh kalian. Jadi kalian yang mau bikin bazar ." kata Andini cepat.


"Jadi kamu pemilik butik ini? Ayo jujur, kenapa tidak pernah bilang." kata Ariadna tidak mau kalah. Andini terdiam sebentar.


"Duduk dulu deh. Sepertinya kalian memang tidak bisa di kelabui." Andini menyerah. Ariadna dan Daniela pun duduk di hadapan Andini.


"Begini say, kalian kan tau bagaimana keluargaku. Aku diam-diam bikin usaha untuk persiapan jika aku harus meninggalkan mereka. Aku ingin hidup sesuai yang aku mau. Jadi uang yang aku punya aku gunakan untuk buka butik ini. Tapi aku pakai nama tanteku. Jadi aku bekerjasama dengannya. Walau kami juga bekerja bersama untuk kemajuan butik ini, Tapi semua modal usaha dari aku. Jadi tolong ya tetap rahasiakan hal ini." kata Andini menjelaskan.


"Sama kita-kita buat apa rahasia segala." kata Ariadna kesal.


"Soalnya nanti kalian minta diskon." Andini berkilah.


"Dasar pelit, tidaklah. Kita tau kualitas baju-baju di sini." kata Ariadna membantah anggapan Andini.


"Sudah, sudah. Jadi kamu mau ikut bazarku." Daniela tidak sabar.


"Mau say, nanti aku pilih yang mana yang mau diturunkan. Ini juga bisa aku gunakan untuk cuci gudang. Lagi pula aku kan juga bisa sekalian promosi butik aku." Andini merespon baik.


"Pintar. Tapi bajunya di kombinasi juga dengan yang baru. Aku lihat koleksimu bertambah tuh." pinta Ariadna. Dia jagonya fashion.


"Aduh, jeli ya matanya. Untuk yang baru harganya berbeda. Tapi karena ini aksi amal, aku mau menyumbang untuk baju-baju lama. Jadi kamu nanti dapat berapa persen gitu la." Andini berkata pada Daniela.


"Aduh baiknya. Tidak salah kita ke sini Ar." puji Daniela. Andini tidak memikirkan keuntungan semata.

__ADS_1


"Ya aku kan bisa promosi trus jualan pula pastilah ingat yang membutuhkan " Andini semangat dengan tawaran Daniela.


"Kalau begitu nanti ada yang akan menghubungimu. Kami pamit dulu ya." Daniela ingat tugasnya masih banyak.


"Loh kalian tidak belanja dulu nih." Andini tidak lupa jualan.


"Aku sih lihat pas bazar saja. Biar menarik." Ariadna tau Daniela masih banyak tugas.


"Iya, siapa tau nanti ada yang kami suka. Tidak seru kalau lihat sekarang." Daniela setuju dengan Ariadna. Mereka pun berlalu menuju rumah Arabela.


"Ingat ya, jangan kamu yang kerjakan semua. Kamu tuh nyonya bos." Ariadna memperingatkan. Daniela seorang yang tidak tega.


"Aku tau non. Biar mereka yang kerja." Daniela paham posisinya. Daniela dan Ariadna tiba di ruang kerja mamanya. Di sana sudah banyak yang menunggu. Daniela melaporkan idenya dan menyodorkan nama butik yang akan berpartisipasi. Arabela suka akan idenya. Arabela langsung membagi tugas pada para bawahannya untuk meneruskan ide Daniela. Selain itu mereka juga membuat konsep yang lebih matang.


"Mama suka ide kamu, walaupun bukan ide baru tapi ada sentuhan kasih di dalamnya. Memberi kesempatan para pedagang yang belum memiliki pasar yang luas padahal produk mereka bagus." puji Arabela pada putrinya.


"Selain itu Tante, biasanya bazar itu kan KKN. Yang ikut biasanya sanak saudara atau teman penyelenggara. Kali ini berbeda. Kalau bisa di seleksi nih Tante. Jangan ada kecurangan." tambah Ariadna.


"Belum ma. Kami baru usul acaranya saja." Daniela baru ingat.


"Tolong bantu cari tempatnya ya." pinta Arabela.


"Ok ma." Daniela menjawab sambil mengedipkan mata pada Ariadna.


"Kalau begitu kami keluar dulu untuk hunting tempat." Daniela pamit.


"Kesempatan." bisik Daniela pada Ariadna. Dia segera menarik sahabatnya keluar dari sana.


"Maksudmu apa?" tanya Ariadna tidak mengerti.


"Kita bisa jalan-jalan sambil hunting tempat." jelas Daniela.


"Oh dasar nyonya bos ini. Tidak mau kerja." Ariadna mengomel.

__ADS_1


"Biar saja stafnya mama yang urus semua. Kita cari tempat saja." Daniela tidak mau repot di sana.


"Pak Sobri kita ketempat penjual cendol yang enak dong." kata Daniela pada supirnya ketika sudah di dalam mobil.


"Boleh juga tuh cendol." Ariadna setuju.


"Benar nih non, di mana saja." pak Sobri biasa menyebut Daniela nona.


"Yang penting bersih, sehat dan dingin ya." udara panas membuat Daniela ingin minuman yang dingin. Pak Sobri langsung menjalankan mobilnya. Dia menuju tempat penjual cendol yang enak.


"Benar ini tempatnya?" tanya Ariadna ragu. Mereka berhenti di penjual cendol pinggir jalan. Daniela percaya pada pilihan pak Sobri, karena tempatnya bersih. Yang beli juga banyak.


"Non berdua di mobil saja. Bapak yang pesankan, nanti makannya di mobil biar tetap adem." kata pak Sobri, dia membiarkan AC mobil tetap menyala. Pak Sobri turun dari mobil memesan es cendol tiga gelas. Sudah biasa Daniela pasti tidak lupa padanya kalau jajan di luar.


"Ini non cendolnya." kata pak Sobri menyodorkan dua gelas es cendol.


"Ko pak Sobri bisa dapat duluan, yang beli banyak loh?" tanya Ariadna.


"Makan di sini di utamakan." jelas pak Sobri, dia kembali mengambil jatahnya di tukang es cendol. Daniela dan Ariadna segera menikmati es cendol itu.


"Enak juga, pak Sobri tidak salah bawa kita ke sini." puji Ariadna.


"Boleh nih di masukin ke bazar. Nanti aku suruh datangi tukangnya. Siapa tau mau ikut bazar." kata Daniela sambil melihat ke sekitar penjual es cendol.


"Setuju, menurutku ide bagus itu." timpal Ariadna.


"Pak Sobri, nih bayar ya. Sekalian pak Sobri beli buat keluarga di rumah " kata Daniela menyodorkan uang dan gelas pada pak Sobri.


"Cuma istri bapak yang suka non. Anak-anak tidak suka." jawab pak Sobri sambil menerima gelas dan uang.


"Beli aja lebihan. Nanti kalau pak Sobri mau lagi kan ada." bantah Daniela.


"Iya non terima kasih." pak Sobri menghampiri tukangnya. Membayar dan membeli lagi es cendol untuk di bawa pulang.

__ADS_1


__ADS_2