
"Ar, duduknya sini dekat aku. Tidak enak bicara berjauhan begini." Tyler yang merasa mendapat lampu hijau menggunakan kesempatan.
"Tidak mau." tolak Ariadna tegas, dia jadi berdebar. Dia tau pasti apa yang Tyler akan lakukan.
"Aku yang ke sana atau kamu yang ke sini?" Tyler mengancam. Dia sudah bertekad untuk menjadikan Ariadna miliknya. Merasa Tyler tidak main-main Ariadna terpaksa menurut. Walau kakinya serasa di berati berkilo-kilo besi hingga sulit melangkah.
"Ya sudah, mau bicara apa?" tanya Ariadna malas setelah duduk di dekat Tyler. Hatinya berdoa agar tidak terjadi hal buruk padanya. Tyler segera mencium lembut bibir Ariadna, bibir yang sudah membuatnya penasaran. Ariadna terkejut, tapi melihat mata biru Tyler yang menghanyutkan dia terpana. Karena Ariadna diam saja Tyler memperdalam ciumannya. Sang pemain benar-benar ahli membuai. Tapi tiba-tiba bel pintu berbunyi. Tyler pun melepaskan Ariadna. Dengan kesal Tyler bangkit dan berjalan ke arah pintu. Ariadna lega terbebas dari Tyler, walau dadanya belum berhenti berdebar hebat. Ariadna menyesal bisa dengan mudah pasrah terperangkap pada ciuman Tyler. Sedangkan Tyler yang membuka pintu terkejut dengan adanya kurir pengantar makanan.
"Ar kamu pesan makanan?" tanya Tyler heran.
"Sepertinya iya." Ariadna tak percaya hasil tangannya mengetik berhasil. Sebelum ponselnya di ambil Tyler.
"Terima kasih." kata Tyler pada kurir itu yang langsung pergi. Tyler menatap bungkus makanan tersebut sambil berjalan ke arah Ariadna.
"Kamu lapar?" tanya Tyler lagi.
"Kamu tidak sedia makanan buat aku." alasan Ariadna sekenanya.
"Kalau lapar kan bisa bilang sama aku. Kamu pesan seblak mercon, selera kamu unik juga." Tyler menyerahkan bungkusan itu sambil tersenyum jail. Ariadna menerimanya dan membaca keterangan di dus bungkusan itu. Ternyata dia memesan seblak dengan bahan dasar....pantat ayam?? Wajah Ariadna langsung puas. Hasil ketikan terburu-buru di ponselnya seperti ini.
__ADS_1
"Ayo di makan, mumpung masih hangat." Tyler menantangnya. Dia duduk lagi di sebelah Ariadna. Dengan otak pintarnya dia tau Ariadna cerdik dengan memesan makanan. Tapi dia kecewa Ariadna ternyata tidak percaya padanya.
"Aku sudah tidak lapar lagi, aku mau pulang saja." Ariadna berdalih.
"Ya sudah, aku antar pulang. Kita kasih ini ke penjaga vila saja ya." Tyler meraih bungkusan itu dan berjalan ke dalam vila. Ariadna menghembuskan napas lega. Dia segera bangkit dan menunggu Tyler di depan vila. Khawatir Tyler berubah pikiran.
"Ayo kita jalan." Tyler keluar dan menghampiri mobilnya. Dia membukakan pintu bagi Ariadna. Walau ingin menjadikan Ariadna miliknya tapi dia tidak mau memaksa gadis itu. Dia harus menumbuhkan rasa percaya gadis itu dulu. Ariadna segera masuk ke dalam mobil. Tidak melewatkan kesempatan untuk pulang. Vila itu ternyata jauh dari jalan raya. Sulit juga jika dia ingin kabur sendirian.
"Kamu jangan bertemu dengan pria buluk itu lagi ya Ar." Tyler membuka percakapan. Ariadna menoleh pada Tyler yang menunggu kepastian. Ariadna mengangguk tapi lalu mengalihkan pandangannya dari Tyler.
"Dia panggil kamu apa tadi, Nana? Terus kamu panggil dia apa?" Tyler jadi penasaran, apa mungkin mereka berdua punya panggilan sayang?
"Janji ya, kamu tidak akan kembali sama dia." Tyler jadi khawatir. Dia yang sering meninggalkan wanita sekarang justru takut di tinggalkan. Ariadna kembali mengangguk. Tanpa di minta pun Ariadna tidak mau kembali pada Thareig. Tyler jadi tenang. Dia yakin Ariadna bukan wanita pengobral janji. Mereka tiba di rumah Ariadna.
"Balas pesanku ya Ar." Tyler memegang tangan Ariadna lembut, meminta kepastian. Ariadna menoleh dan mengangguk.
"Tidak cium dulu nih?" tanya Tyler usaha. Ariadna melototkan matanya. Sekarang adalah wilayah kekuasaannya jadi dia berani. Tyler tertawa geli. Tanpa membuang waktu Ariadna segera berlari masuk ke halaman rumahnya. Tyler pun melajukan mobilnya. Belum siap dia bertemu dengan keluarga Ariadna. Di jalan Tyler mengulang cerita pertemuannya tadi dengan Ariadna. Ternyata selama ini Ariadna menghindarinya bukan karena benci. Tapi takut jatuh cinta padanya. Terbukti gadis itu sering mengalihkan matanya.
"Jena kamu sayang." celoteh Tyler senang. Bisa membaca rahasia Ariadna. Di rumah Ariadna membuka ponselnya yang tadi di buat mode diam oleh Tyler. Ternyata banyak pesan dan telpon dari Rio dan Andini. Ariadna pun mengabari kakaknya kalau dia sudah di rumah. Sedang pada Andini Ariadna mengabarkan dia tidak jadi datang karena ada urusan mendadak. Belum saatnya Andini tau apa yang terjadi hari ini. Bisa-bisa Andini mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Ariadna sedang ingin menata hatinya dulu. Peristiwa hari ini mengguncang hati Ariadna . Tapi bukan pertemuannya dengan Thareig ternyata penyebabnya. Ciuman mesra Tyler membuat Ariadna tidak bisa tidur. Sedangkan Tyler tengah tidur nyenyak dengan bahagia karena berhasil mencium Ariadna.
__ADS_1
"Kamu sudah lebih sehat Daniela?" tanya Damian pada istrinya yang tengah duduk di meja makan.
"Sudah, ini aku sudah habis satu mangkok bubur ayam." jawab Daniela sambil tersenyum. Dia turun duluan karena lapar. Damian duduk di hadapan Daniela sambil mengamati wajah istrinya. Daniela sudah tidak pucat lagi. Porsi makannya juga sudah kembali. Damian merasa lega.
"Aku boleh keluar rumah hari ini?" tanya Daniela penuh harap.
"Mau ke mana?" tanya Damian lembut.
"Ke rumah mama." jawab Daniela cepat. Damian tersenyum. Daniela pasti ingin membagi berita bahagia mereka. Belum ada yang tau kalau Daniela hamil. Karena Daniela kemarin kurang sehat mereka menunda untuk memberitahu. Tidak mau keluarga menjadi cemas.
"Ok, minta pak Sabri antar. Tapi jangan terlalu lama di sana. Atau mau aku jemput?" Damian setuju jika Daniela ke rumah orangtuanya.
"Tidak perlu di jemput, aku juga tidak lama." janji Daniela. Ada yang dia rahasiakan dari Damian. Mereka tidak membahasnya lagi. Damian pergi bekerja seperti biasa. Daniela menghubungi Ariadna untuk datang. Tentu saja Ariadna setuju, dia perlu mencurahkan kegelisahannya. Tidak lama dia muncul.
"Hai Ar, sorry aku melewatkan panggilanku. Aku sedang kurang sehat." Daniela minta maaf tidak menjawab panggilan Ariadna kemarin.
"Memang kau sakit apa D?" tanya Ariadna ingin tau. Dia melihat wajah Daniela tidak secerah biasanya.
"Tadinya aku pusing, ternyata setelah di periksa aku hamil dan kurang nutrisi." jawab Daniela jujur.
__ADS_1
"Hah, hamil?" Ariadna terkejut. Tapi dia lalu menyadari Daniela dan Damian belakangan lekat seperti perangko dan amplop.