
"Kakak rasa tidak salah Damian mendukungnya. Tapi kalau soal wanita kakak ragu. Namun kakak yakin jika dia serius denganmu tidak akan kekurangan hidup dengannya. Sekarang pastikan dulu dia benar serius tidak dengan kamu. Urusan nanti kita pikirkan lagi. Ingat ya kakak bukan memberikan restu pada hubungan kalian. Tapi kakak ingin kamu mencari tau dulu apa dia memang patut untukmu. Itu saja dulu." tegas Rio, dia tidak main-main.
"Kalau nanti terbukti dia serius?" tanya Ariadna ingin tau.
"Kalau dia pantas di cintai dan kamu bahagia sama dia kakak akan dukung kamu dek. Kakak akan bantu bicara pada mama dan papa. Tapi kalau dia tidak pantas kamu harus rela lepaskan dan lupakan dia. Kakak akan bantu bicara pada dia untuk tidak mendekatimu lagi. Paham?" Rio sadar, ini tentang kebahagiaan adiknya.
"Paham. Aku juga tidak mau punya kekasih yang tidak setia apalagi menikah." Ariadna jera di khianati. Tapi dia tetap menutup rapat cerita cintanya dulu dengan Thareig pada Rio.
"Kakak juga akan bantu untuk perhatikan sikapnya di luar sana." janji Rio.
"Terima kasih ya kak, aku akan cari cara untuk tau Tyler benar serius atau tidak." Ariadna tersenyum pada kakak tersayangnya.
"Jangan patahkan kepercayaan kakak, ingat itu." Rio mendorong adiknya keluar dari ruang kerjanya. Dia harus kembali ke kantor. Niatnya pulang hanya untuk makan siang. Tapi ternyata ada hikmahnya, dia jadi tau hubungan Ariadna dengan Tyler.
Sudah beberapa hari pak Sabri merasa mobilnya diikuti. Tapi dia merasa belum yakin, karena mobil itu kadang ada kadang tidak. Mobilnya pun berbeda-beda. Pak Sabri jadi merasa bingung. Untungnya Daniela tidak pergi ke tempat yang aneh-aneh. Hanya ketempat makan yang biasa mereka kunjungi, butik Andini dan rumah orangtuanya. Pak Sabri tidak mengatakannya pada Daniela, tapi dia menceritakan kecurigaannya pada Damian.
"Jangan ceritakan ini pada Daniela. Mulai besok di tukar saja, pak Sabri antar saya ke kantor Danar yang akan antar Daniela." Damian memutuskan.
__ADS_1
"Kenapa begitu, tuan meragukan saya?" pak Sabri sedikit tersinggung kemampuannya di ragukan.
"Bukan begitu. Ini untuk membuktikan kecurigaan pak Sabri. Selain itu jika ada apa-apa ingat istri dan anak pak. Sedang Danar itu kan masih sendiri." Damian dengan sabar mengutarakan pertimbangannya. Pak Sabri pun bisa menerima kebijakan Damian. Danaresta adalah supir pribadi Damian. Asalnya adalah anak jalanan. Dia mengalami kecelakaan motor ketika di temui Damian dan membawanya ke rumah sakit. Dokter setempat menyatakan Danar harus di amputasi. Tapi Damian mencegahnya dan memindahkannya ke rumah sakit lain. Damian mencarikan dokter terbaik yang dapat menyelamatkan kaki Danar. Tidak dapat Danar bayangkan, mau jadi apa dia dengan satu kaki. Kecelakaan itu merubah hidup Danar. Dia mulai menyayangi hidupnya. Apalagi Damian menawarkan pekerjaan. Rasa syukur dan hormatnya timbul pada Damian. Selain mendapat pekerjaan Damian juga menyekolahkan Danar. Sebenarnya Danar bukan berasal dari keluarga yang tidak mampu. Danar bersekolah dan pintar, buktinya dia selalu naik kelas. Tapi Danar malas dan ugal-ugalan hingga ayahnya muak dan mengusirnya. Dia tidak di akui lagi sebagai anak. Maka Danar hidup di jalanan. Danar kuliah malam karena pagi hari bekerja mengantar Damian. Hanya jika Damian ingin membawa mobilnya sendiri Danar bebas tugas. Selain mendapat pekerjaan Danar juga dapat tempat tinggal. Dia tinggal di rumah Damian. Danar menempati salah satu kamar di bawah pada rumah besar itu. Bukan di jajaran kamar pelayan. Rekan kerjanya pak Sabri yang seusia ayahnya sering menasehati dan memperhatikannya. Hidup Danar serasa lengkap. Damian menugaskan Danar mengantar Daniela katena selain Danar masih sendiri dia juga memiliki ilmu bela diri. Ternyata kecurigaan pak Sabri benar. Ada yang mengikuti mereka. Mobil itu berganti-ganti. Danar sempat mencatat semua nomer mobil itu. Tapi ketika Rama mengeceknya semua mobil itu mobil rental. Yang menyewa pun berganti-ganti. Tidak ada indikasi pada satu orang. Mereka jadi harus terus waspada. Hari ini Daniela keluar rumah. Sampai hari itu Daniela tidak tau jika mereka di ikuti. Daniela akan mengunjungi sebuah mal.
"Saya cuma makan siang Danar. Setelah itu saya pulang." Daniela menjelaskan pada Danar.
"Saya akan mengantar ibu. Sesuai pesan bapak saya ikut ke dalam." Danar menjawab sambil mengamati kaca spion. Mobil yang mengikuti mereka tampak menghilang ketika mereka masuk ke area mal. Danar tidak khawatir lagi.
"Saya akan turunkan ibu di lobby. Tunggu saya sebentar ya Bu, saya parkir sebentar." Danar menuju lobby mal dan berhenti. Perlahan Daniela turun berjalan menaiki tangga lalu berhenti menunggu Danar. Sang supir kembali menjalankan mobil untuk parkir. Danar segera turun dan berlari ke arah lobby menyusul Daniela. Tiba di lobby Danar terkejut karena Daniela ternyata tidak ada. Danar mengedarkan pandangan ke semua arah. Dia yakin Daniela menghilang. Danar segera menghubungi Damian.
"Ibu hilang pak di lobby mal Darmawangsa." kata Danar cepat.
"Kamu yakin ?" tanya Damian terkejut.
"Yakin pak." Danar tau pasti Daniela akan menunggunya.
"Tunggu sebentar." Damian meraih ponsel miliknya yang lain. Ponsel itu tersambung dengan ponsel Daniela. Sejak pak Sabri mengatakan kecurigaannya Damian mulai berjaga-jaga.
__ADS_1
"Daniela sudah keluar dari area mal. Kamu ikuti jalan prasasti. Jangan tutup sambungan telpon, saya akan arahkan kamu ke mana Daniela pergi." Damian berkata sambil berjalan keluar dari ruang kerjanya. Terdengar dia memberi instruksi pada Rama, lalu berjalan keluar dari kantornya. Danar berlari ke mobil dengan cepat menuju jalan prasasti yang di sebut Damian. Terus mengikuti jalan itu sambil menunggu perintah dari Damian.
"Danar, nanti ada persimpangan kamu belok ke kanan." titah Damian yang ada di mobil bersama pak Sabri.
"Baik pak." Danar fokus memperhatikan jalan di depannya.
"Sepertinya ini arah ke pinggiran kota." terdengar suara pak Sabri.
"Kita ikuti saja. Percepat jika mungkin pak Sabri." Damian khawatir akan istrinya.
"Baik tuan." Pak Sabri mempercepat laju mobil. Bukan hanya pak Sabri, Danar pun melakukan hal yang sama. Jangan ragukan Danar si anak jalanan. Dia sudah sering kebut-kebutan. Dalam sekejab Danar sudah tiba di persimpangan.
"Saya sudah belok ke kanan pak." lapor Danar.
"Ikuti jalan itu terus. Bagaimana kamu bisa kehilangan istri saya tadi?" tanya Damian ingin tau. Tidak bermaksud memarahi. Damian yakin Danar sudah berhati-hati.
"Tadi kami diikuti, tapi sampai di mal mobil itu menghilang. Saya pikir kami sudah di lepas. Saya menurunkan ibu di lobby karena saya lihat ada banyak orang di sana. Setelah saya parkir ibu sudah menghilang." jelas Danar.
__ADS_1