Menepis Luka

Menepis Luka
Tanggung jawab


__ADS_3

"Dam, penting nih. M.Pro ingin menghentikan kerjasama dengan kita." kata Rama yang tiba-tiba masuk. M.Pro adalah perusahaan keluarga Morana. Damian tau ini pasti terjadi.


"Ini pasti tentang Juwita." Damian yakin ini teguran dari ayah mertuanya. Tadi pagi ayahnya sekarang ayah Daniela. Tapi ini memang harus di jalaninya.


"Aku akan menemuinya." Damian bangkit dan merapihkan pakaiannya. Bukan masalah besar jika Damian kehilangan kerjasama bernilai milyaran ini. Masalahnya ini ayah mertuanya. Tiba di sana ternyata Ardan tidak ada di ruangannya.


'Dari pagi tuan Ardan tidak kelihatan. Tapi ada tuan Danilo di ruangannya." jelas Ardila sekretaris Ardan.


"Ya sudah, saya temui Dani saja." kata Damian sambil mengetuk pintu ruangan Ardan. Begitu terdengar kata masuk Damian pun memasuki ruangan kerja Ardan.


"Dan, papa ke mana?" tanya Damian pada Danilo. Dia sepupu Daniela. Namanya mirip wajahnya juga mirip. Bedanya Daniela itu cantik sedangkan Danilo tampan.


"Om Ardan di rumah, hari ini tidak datang." kata Danilo canggung. Dia tau dalam rangka apa Damian datang ke M.Pro.


"Kalau begitu aku ke rumah saja." kata Damian memutuskan.


"Dam maaf, aku lakukan itu karena perintah om Ardan." kata Danilo tidak enak pada Damian. Karena kerjasama mereka memang tidak ada masalah.


"Tidak apa, aku ngerti ko. Ini papa yang mau. Alasannya juga aku paham banget." Damian yakin Danilo pasti tau sebabnya.


"Kalau itu aku tidak ikut campur. Aku tidak punya hak dalam hal itu. Aku tau kamu pasti punya alasan." jelas Danilo tau. Tapi dia mengerti dunia perjodohan itu tidak mudah. Itu sebabnya dia menolak di jodohkan, walaupun suatu saat dia pasti di sudutkan dengan itu.

__ADS_1


"Thanks untuk pengertianmu. Aku pamit dulu." Damian menghargai Danilo yang tau batasannya. Tidak membabi buta membela sepupunya. Damian pergi di iringi tatapan Danilo, dia berharap Damian bisa mengambil hati Ardan. Sayang sekali kerjasama mereka harus di hentikan. Hasil kerjanya akan sia-sia. Damian pun mendatangi rumah keluarga Morana. Dari pelayan di sana Damian tau Ardan berada di ruang kerjanya. Damian pun ke sana. Setelah mengetuk pintu Damian masuk. Tampak Ardan tengah membaca laporan.


"Papa pasti mau bicara dengan aku kan?" tanya Damian pelan. Dia tetap berdiri menatap Ardan. Dia tau dia salah.


"Benar. Bagaimana mungkin kamu menyakiti putri yang kami rawat dengan baik. Putri yang kami jaga dan kami sayangi. Apa yang ada dalam pikiran kamu Damian? Jika dia tidak cukup baik untukmu kembalikan pada kami. Atau dia membuat kesalahan yang tidak bisa kamu maafkan, lepaskanlah." wajah Ardan beralih pada Damian dan terlihat marah.


"Daniela tidak punya salah pa. Dia sempurna untukku. Hanya saja belum ada cinta dalam hatiku dan membuat aku jenuh. Papa kan tau, kami menikah karena perjodohan. Aku tau aku salah pa, aku tidak minta papa mengerti atas kesalahan yang kubuat. Tapi tolong papa mengerti untuk membiarkan aku memperbaiki semuanya." kata Damian hati-hati.


"Papa ingin tau alasannya." Ardan heran putrinya di katakan sempurna tapi Damian masih berpaling pada yang lain.


"Aku tergoda mencari kesenangan di luar." jawab Damian jujur.


"Mencari kesenangan? Apa hubunganmu dengan Daniela tidak membuatmu senang?" tanya Ardan tajam.


"Lalu, apa kata Daniela? Papa belum bicara padanya tapi pada ingin tau dulu isi kepalamu.' kata Ardan tetap marah.


"Daniela mencintaiku pa, dia minta waktu untuk menimbang keputusan yang akan dia buat. Jujur aku tidak mau berpisah. Aku sudah meninggalkan wanita itu seperti yang Daniela minta. Aku akan mencintai Daniela pa." Damian tidak yakin usahanya akan berhasil. Dia tau keluarga Morana sangat mencintai putri mereka. Tapi dia harus tetap berusaha kan.


"Kau sudah dapat kesempatan itu, tapi kau abaikan. Biar papa bicara dulu dengan Daniela. Apa pun keputusannya papa akan mendukungnya. Termasuk berpisah denganmu." Ardan belum tau harus berbuat apa, mendengar putrinya mencintai suaminya. Dia tetap harus bicara pada putrinya. Damian pun meninggalkan Ardan. Dia merasa harus lebih keras lagi membujuk Daniela. Agar Daniela tetap jadi miliknya. Damian berjalan menuju keluar. Tanpa sengaja melewati ruang kerja Arabela. Pintunya tidak tertutup. Damian berhenti dan menatap ke dalam. Tampak ada beberapa orang di sana. Salah satunya Daniela. Damian sudah melihat mobil Daniela di luar tadi. Tapi karena pikirannya sibuk akan bertemu Ardan dia lupa.


"Mama." sapa Damian menghentikan kericuhan di dalam. Yang menoleh bukan hanya Arabela, tapi semua.

__ADS_1


"Kamu Damian, mau jemput Daniela?" tanya Arabela heran. Dia menghampiri Damian diikuti Daniela.


"Kebetulan kalau begitu. Yuk kita pulang." kata Daniela cepat.


"Loh sudah mau pulang?" tanya Ardan yang tiba-tiba ada di belakang Damian.


"Papa ada di rumah? Apa papa sakit?" tanya Daniela terkejut.


"Papa cuma mau melatih Danilo saja. Siapa lagi yang bantu papa coba, papa kan sudah tua." Ardan mencari simpati Daniela.


"Damian masih sanggup ko bantu papa bilang saja kalau papa butuh bantuan." Damian cepat menanggapi. Dia tidak mau Daniela bekerja. Bisa habis waktunya nanti. M.Pro itu perusahaan besar. Cabangnya di mana-mana. Baguslah jika Danilo yang terjun di sana, pikir Damian.


"Ya nanti kalau perlu, biar Danilo bekerja dulu." Ardan berupaya bersikap biasa.


"Ayo kita pulang." ajak Damian pada Daniela, dia merasa terancam dengan adanya Ardan. Dia harus membujuk Daniela dulu.


"Kalian tidak mau makan dulu?" tanya Arabela ranah. Dia pura-pura tidak tau masalah rumah tangga putrinya.


"Kita makan di rumah saja ya." kata Daniela pada Damian. Suaminya mengangguk setuju. Damian ingin cepat-cepat membawa Daniela pulang ke rumah mereka.


"Kami pamit dulu pa, ma." Damian menggandeng tangan Daniela dan menariknya pergi menuju ke luar. Daniela mengikuti langkah Damian tanpa keberatan. Arabela segera masuk kembali ke dalam ruang kerjanya. Berbeda dengan Ardan yang terus mengikuti perjalanan Damian dan Daniela hingga keluar. Tampak Damian membantu Daniela memasuki mobilnya.

__ADS_1


"Kamu ikut aku saja, biar pak Sabri pulang sendiri " kata Damian memutuskan. Daniela pun menurut. Mereka lepas dari tatapan Ardan ketika mobil Damian menghilang dari pandangan. Tapi pikiran Ardan masih tetap pada mereka.


__ADS_2