
Daniela tampak bukan Daniela seperti biasanya. Perlahan akhirnya Daniela menghabiskan makannya. Damian mengiringi langkah Daniela menuju kamar. Tiba di kamar Damian menggandeng Daniela untuk duduk di Sofa bersamanya.
"Kita harus bicara, keluarkan lah semua yang ada di pikiranmu. Apa kau sudah buat keputusan?" tanya Damian cemas. Dia berusaha percaya pendapat Robin, Daniela tidak akan meninggalkannya. Daniela menatap suaminya. Dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Damian melihat luka di mata itu. Hatinya jadi sedih. Ada banyak pertanyaan di kepala Daniela, tapi dia ragu untuk bertanya. Damian masih menunggu Daniela bicara.
"Apa kamu sudah menceraikan dia?" tanya Daniela mencoba satu pertanyaan.
"Sudah. Aku langsung melakukannya tadi pagi kan. Setelah itu aku ke tempat Robin. Dia titip salam untukmu." jelas Damian. Perkataan Damian memberitahu Daniela, dia menghabiskan waktunya di tempat Robin. Bukan dengan wanita itu. Ada sedikit kelegaan dalam hati Daniela.
"Damian aku belum bisa memutuskan apa pun. Aku sedang memastikan hatiku apa aku bisa terus bersamamu. Aku juga ingin bahagia. Beri aku waktu." kata Daniela akhirnya.
"Tentu, aku akan memberi waktu. Aku juga akan bahagiakanmu walau aku belum tau caranya. Seperti yang sudah ku bilang, aku akan menebus kesalahanku karena aku tidak mau kehilanganmu. Tapi Daniela kumohon untuk ungkapkan apa yang ada di pikiranmu, jangan minta aku untuk menebak-nebak." Tidak masalah bagi Damian istrinya belum memutuskan. Yang penting Daniela tidak minta bercerai. Damian mengusap lembut rambut Daniela. Sungguh dia egois tidak mau melepas Daniela. Tapi Damian tetap pada pendiriannya, memiliki Daniela seumur hidupnya. Damian merasa masih punya waktu untuk meyakinkan istrinya untuk tetap di sisinya.
"Sebaiknya kita tidur cepat. Kamu baru kembali sore tadi kan, pasti lelah." kata Damian perhatian. Daniela membenarkan, bukan tubuhnya yang lelah tapi hatinya. Mungkin sebaiknya dia tidur. Daniela sudah naik ketempat tidur tapi belum bisa terlelap ketika Damian baru selesai mandi.
"Kenapa belum tidur?" tanya Damian yang menyusul naik ke tempat tidur. Dia tau Daniela belum terlelap. Perlahan di tariknya Daniela dalam pelukannya. Hal yang belum pernah Damian lakukan. Selama satu tahun pernikahan, Damian tidak pernah tidur sambil memeluk Daniela. Walaupun tidak tidur saling memunggungi, malah sering berhadapan. Tapi Daniela merasa nyaman. Perlahan dia memejamkan mata dan terlelap. Damian belum memejamkan matanya sebelum Daniela tidur. Setelah dia memastikan Daniela telah pulas, dia pun tidur. Keesokan paginya Daniela terbangun masih dalam pelukan suaminya. Damian suaminya, miliknya pikir Daniela. Ada perasaan tidak rela Damian di miliki wanita lain. Tapi dia kecewa, begitu mudahnya Damian memeluk wanita lain. Daniela mengangkat kepalanya, ingin menatap wajah Damian. Ternyata suaminya tengah menatapnya dengan lembut.
__ADS_1
"Morning." kata Damian sambil tersenyum lembut. Dia sudah bangun sejak awal. Tapi dia enggan meninggalkan Daniela, khawatir istrinya tidak nyaman bangun sendirian.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Damian melihat Daniela lama hanya menatapnya. Daniela mengangguk.
"Damian kira-kira sampai kapan kau akan menyembunyikannya dariku? Dia pasti bangga dan senang memiliki kamu." Daniela sedang mengurai pertanyaan di kepalanya satu persatu. Damian mengerti.
"Menyembunyikan?......sepertinya aku harus jujur padamu. Aku tidak bermaksud menyembunyikan darimu. Menurutku ini hanya permainan dan sebentar akan game over. Dia wanitaku ya, tapi dia hanya mainanku. Aku menikahinya agar dia tau batasannya. Aku bukan miliknya. Damian hanya milik istrinya ..Daniela Pradana. Jadi kalau kau tidak suka aku di miliki wanita lain maka jangan lepaskan aku." Damian mengusap pipi Daniela. Dia juga tidak rela Daniela di miliki pria lain dan dia tidak akan melepaskan Daniela.
"Tapi kalau kamu tidak cinta sama aku, untuk apa aku bersamamu? Kamu tidak mau kehilangan aku apa karena papa?" tanya Daniela curiga.
"Maksudmu aku takut sama papamu? " Damian bercanda, dia tau maksud Daniela.
"Mungkin itu salah satunya. Itu tidak bisa di pungkiri kan? Tapi yang jelas karena kamu pilihanku. Dari semua wanita yang kutau , kamu yang terbaik. Apa salah aku memilih yang terbaik?" Damian menjawab dengan terus terang. Daniela bingung dia harus senang atau sedih.
"Daniela karena aku sudah melukaimu biarkan aku menyembuhkan luka itu. Percaya padaku. Aku akan buktikan kata-kataku." Damian berkata yakin. Dia akan membangkitkan lagi cinta Daniela padanya.
__ADS_1
"Mandi yuk, kamu mandi duluan atau aku?" tanya Damian manis.
"Kamu mandi duluan." Daniela masih sibuk dengan pikirannya. Damian pun bangkit perlahan dan masuk ke kamar mandi. Daniela juga bangun. Dia menyiapkan pakaian Damian. Dia jadi ingat perkataan Arabela tentang mengenali suami. Sekarang dia jadi tidak mengenali Damian. Pernikahan yang dilihatnya sederhana dan mudah di jalaninya tiba-tiba penuh teka-teki dan membuatnya terluka. Dengan arogannya Damian berkata dia tidak mau di miliki sembarang wanita. Hanya Daniela yang memilikinya. Apakah berarti kedudukannya sangat kuat? Walau Damian tidak mencintainya tapi mau menuruti keinginannya. Apa dia harus belajar lagi mengenali Damian?
"Daniela hari ini aku akan sibuk sekali di kantor. Banyak pertemuan penting. Kamu rencananya apa hari ini?" tanya Damian yang sedang memasang dasi.
"Hari ini aku akan ke bandara, menjemput Ariadna. Dia baru kembali dari Paris." jawab Daniela sambil memeriksa lagi ponselnya. Khawatir Ariadna batal pulang.
"Paris? kamu mau kapan-kapan kita ke sana?" tanya Damian jadi punya ide untuk mengambil hati Daniela.
"Memangnya kamu punya waktu. Kerajaanmu kan lagi sibuk-sibuknya. Aku juga masih harus bantu mama." Daniela menolak secara halus.
"Untuk kamu aku pasti punya waktu. Ya sudah kalau kamu belum mau pergi sekarang. Tapi ke bandaranya sama supir ya. Aku mungkin pulang agak malam, tapi aku usahakan sebelum makan malam aku sudah pulang." janji Damian. Daniela selalu ada di rumah sebelum Damian pulang. Damian tidak pulang pun dia ada di rumah. Hati Daniela jadi perih.
"Sarapan yuk." ajakan Damian membuyarkan lamunan Daniela. Mereka pun menuju ruang makan. Seperti biasa Daniela melayani Damian. Tapi kali ini wajah Daniela tidak secerah biasanya. Damian paham, tidak mungkin mengembalikan perasaan Daniela seperti membalikan telapak tangan. Butuh waktu. Damian bersabar karena ini juga perbuatannya. Seperti biasa Daniela mengantar Damian hingga ke pintu. Setelah Damian pergi Daniela bersiap untuk berangkat. Sebelum menjemput Ariadna Daniela harus mengunjungi rumah orangtua Damian. Ibu mertuanya memanggilnya.
__ADS_1
"Pak kita ke rumah utama Pradana ya." pesan Daniela pada supirnya.
"Baik nyonya." Supir Daniela menjawab dengan sopan.