
Di rumah Damian bertemu Rindu di lantai bawah.
"Daniela sudah makan siang?" tanya Damian sambil berjalan masuk.
"Nyonya belum makan siang tuan. Belum bangun sejak pagi." Rindu berkata dengan khawatir. Dia tidak berani membangunkan Daniela.
"Belum bangun?" tanya Damian heran. Dia bergegas ke kamar.
"Daniela, bangun dong." Damian menghampiri tempat tidur di mana Daniela terbaring. Di tepuk-tepuknya pipi istrinya lembut. Daniela terbangun, dia membuka matanya.
"Dam, kamu pulang. Sudah sore ya?" tanya Daniela dengan bingung.
"Aku pulang siang. Sudah cukup ya tidurnya. Sekarang makan siang dulu. Ini sudah terlambat waktunya." Damian menarik tubuh Daniela perlahan agar dia duduk.
"Tapi kepalaku masih pusing." keluh Daniela, itu sebabnya dia memilih terus tidur.
"Masih pusing? kita ke dokter ya. Tapi makan dulu sebentar." Damian mulai khawatir.
"Boleh makan bubur lagi?" tanya Daniela memelas. Damian menggeleng.
"Makan nasi walau sedikit." jawabnya tegas.
"Ya sudah." Daniela menyerah. Damian segera menyuruh Rindu membawakan makan siang Daniela. Istrinya hanya bisa makan sedikit. Damian membantu Daniela mengganti pakaiannya, lalu menggendongnya menuju mobil. Damian meminta pak Sabri membawa mereka ke rumah sakit. Mereka akan menemui dokter Ramdan, dokter keluarga Daniela. Kalau menunggu dokter Ramdan yang datang pasti lama, karena pasiennya banyak. Damian tidak sabar untuk segera tau ada apa dengan Daniela. Damian merebahkan Daniela di pangkuannya.
"Pejamkan matamu jika merasa pusing." ucap Damian lembut. Daniela segera melakukannya. Dia tidak mau pusingnya bertambah karena melihat ramainya lalu lintas di jalan. Damian mendudukan tubuh Daniela perlahan ketika mereka sudah tiba.
__ADS_1
"Mau aku gendong atau jalan sendiri?" tanya Damian lembut.
"Jalan sendiri saja, malu di gendong." jawab Daniela cepat.
"Memangnya bisa jalan sendiri?" Damian sangsi.
"Bisa kalau di tuntun." Daniela berkata yakin, dia tau kapasitas tubuhnya. Damian menuruti istrinya. Perlahan mereka memasuki rumah sakit menuju ruang dokter Ramdan. Tangan Damian merangkul pinggang Daniela agar tidak jatuh. Daniela tidak menanggapi tatapan orang-orang pada mereka. Dia fokus tetap berjalan. Namanya juga sakit. Damian mendudukan Daniela di bangku tunggu di depan ruang praktek dokter Ramdan. Masih ada beberapa pasien. Damian mendaftarkan Daniela. Ada seorang ibu yang duduk di dekat Daniela. Dia tersenyum ramah. Daniela membalasnya, tapi dia tidak sanggup untuk mengobrol. Jadi Daniela lalu fokus menatap ke depan. Tidak lama Damian datang kembali.
"Tunggu sebentar ya." kata Damian sambil duduk di sebelah istrinya.
"Dam, rasanya ko dingin ya." ucap Daniela pelan.
"Dingin?" Damian memperhatikan Daniela sejenak. Damian pun melepas jasnya dan mengenakan pada Daniela. Dia paham istrinya sedang sakit, tentu tubuhnya tidak fit.
"Tidak dingin lagi kan?" melihat Daniela mengangguk, Damian lega. Perlahan di bukanya dasinya, dilipatnya dan di masukan ke dalam saku jas yang di kenakan Daniela. Damian lalu menggulung lengan kemejanya. Mengurusi Daniela dia jadi lupa mengganti pakaiannya. Melihat mata Daniela yang terpejam Damian meraih tubuh halus itu dan menyandarkan kepala Daniela pada bahunya. Pasti tidak nyaman bagi Daniela duduk menunggu dengan kepalanya yang pusing. Ibu tadi melihat itu dengan tersenyum. Andai anak dan menantunya bisa seperti itu.
"Tidak apa nih dok, kami lebih dulu?" tanya Damian sungkan.
"Tidak apa, istrinya sudah pucat begitu. Pasien lain hanya kontrol biasa." dokter Ramdan berkata dengan tenang. Dokter yang sudah lanjut usia itu bisa menilai keadaan pasiennya.
"Coba di periksa dulu, apa keluhannya?" tanya dokter Ramdan sambil bangkit berdiri. Seorang perawat membantu Daniela menuju tempat periksa.
"Pusing dok, dari tadi pagi." jawab Daniela pelan. Dokter Ramdan memeriksa Daniela dengan wajah serius.
"Apa hanya pusing, tidak mual dan muntah?" tanya dokter Ramdan menyudahi pemeriksaannya. Dia kembali duduk di bangkunya. Perawat tadi membantu Daniela untuk duduk di sebelah Damian.
__ADS_1
"Tidak mual atau muntah dok." jawab Daniela lagi.
"Sepertinya ini awal kehamilan, tapi ibunya kurang nutrisi. Mungkin tidak selera makan ya, tapi harus di lawan. Ini awal pertumbuhan janin, kasihan jika tidak di beri makan. Satu bulan lagi coba periksa ke dokter kandungan, atau nanti di rumah bisa coba pakai test pack dulu juga boleh." dokter Ramdan menulis resep untuk Daniela. Damian dengan wajah berseri menatap istrinya yang masih bingung. Daniela masih tidak percaya dia hamil.
"Istri Damian Pradana kurang nutrisi dok?" kata Damian sambil mencium pipi Daniela karena senangnya. Dokter Ramdan tertawa lepas.
"Bisa saja karena selera makannya terganggu. Ini saya kasih vitamin untuk membantu nafsu makan." dokter Ramdan membesarkan hati Daniela. Dia memberikan resep pada Damian.
"Terima kasih dokter kami boleh masuk lebih dulu. Kami permisi." Damian membantu Daniela untuk berdiri.
"Ya sama-sama. Selamat ya atas kehamilan pertamanya " dokter Ramdan ikut berdiri dan berkata ramah. Perlahan Damian membimbing Daniela keluar ruangan dokter Ramdan.
"zkita tunggu di mobil saja ya. Biar pak Sabri yang menebus resepnya." kata Damian lembut. Daniela setuju. Lebih nyaman baginya untuk menunggu di mobil. Pak Sabri pun menebus resep yang di berikan Damian. Untungnya antrian tidak banyak sehingga dia cepat kembali ke mobil.
"Daniela kita makan dulu ya. Kau mau makan soto ayam kesukaanmu?" tanya Damian ketika pak Sabri sudah menjalankan mobil.
"Atau nona mau bakso yang biasanya?" pak Sabri ikut memberi ide.
"Soto ayam saja. Tapi biar Rindu yang buat di rumah." Daniela cepat menjawab. Dia ingi cepat pulang, selain itu bisa bahaya jika Damian di bawa ke warung bakso langganannya. Pak Sabri pun segera memacu mobil untuk segera pulang ke rumah. Sedang Damian menelpon Rindu agar membuatkan soto ayam untuk Daniela. Tiba di rumah Daniela segera merebahkan diri di kamar. Damian ikut berbaring di sampingnya.
"Apa aku harus libur sebulan nih, tidak boleh menyatu?" tanya Damian menggoda Daniela.
"Salah sendiri kenapa tidak tanya tadi. Nanti aku belikan pepaya deh atau semangka untuk sementara kau gunakan." jawab Daniela asal. Damian segera mencium Daniela dengan ganas. Beraninya sang istri menggodanya.
Sementara itu Ariadna keluar dari rumah untuk bertemu dengan Thareig. Dia di antar oleh Rio. Tanpa mereka sadari sebuah mobil mengikuti mereka. Hingga tiba di sebuah cafe tempat perjanjian Ariadna dan Thareig.
__ADS_1
"Apa temanmu sudah datang, perlu kakak tunggu atau jemput?" tanya Rio perhatian pada adiknya.
"Tidak perlu kak. Sebentar lagi di juga datang. Setelah ini aku akan ke tempat Andini." tolak Ariadna, bisa bahaya jika Rio tau dia janjian dengan Thareig saat ini.