Menepis Luka

Menepis Luka
Saran Ariadna


__ADS_3

Supir Daniela telah lama bekerja pada keluarga Pradana. Daniela berdebar menuju rumah ibu mertuanya. Ada apa gerangan dia di panggil? Apa mam sudah tau tentang ulah Damian? Daniela mendapat jawabannya ketika sudah berada di hadapan Amaira Pradana. Wanita cantik yang kaku.


"Maaf mam memanggilmu secara mendadak. Mam sudah dengar tentang ulah Damian. Lalu bagaimana tanggapanmu?" tanya Amaira tanpa senyum. Mam tau dari mana? pikir Daniela. Tapi dia tidak berani bertanya.


"Daniela belum memutuskan apa-apa mam. Sedang di pertimbangkan." jawab Daniela hati-hati tapi jujur.


"Daniela pria main-main itu biasa. Bukan berarti tindakan Damian itu benar. Tapi mungkin ada yang dia tidak dapat darimu. Tidak mungkin kan dia lakukan itu jika dia tidak suka." kata-kata Amaira yang tajam membuat Daniela ingin menangis. Tapi di tahannya sekuat tenaga. Dia sudah tersakiti tapi masih di salahkan. Itu perasaan Daniela. Selama satu tahun menikah dengan Damian, Daniela selalu harus menjaga sikap extra pada wanita ini. Selain tidak pernah tersenyum Amaira wanita yang arogan. Mungkin Damian dapat sifat itu dari ibunya. Daniela telah di ajar untuk hormat dan patuh pada orangtua. Dia menahan amarahnya dengan baik.


"Daniela akan pikirkan itu mam. Biar kami bicara baik-baik masalah ini." dengan halus Daniela menolak campur tangan Amaira.


"Ya tolong pikirkan dan bicarakan baik-baik." Walaupun Amaira bicara dengan lembut tapi tetap terasa dingin karena dia tidak tersenyum. Daniela pun pamit dengan alasan akan ke bandara. Wajah Daniela jadi muram. Sepanjang perjalanan ke bandara, pikiran Daniela jadi melayang-layang. Daniela marah bukan hanya pada Amaira, tapi juga Damian. Sang pencetus luka hatinya. Ingin rasanya Daniela membalas rasa sakit hatinya, agar suaminya itu merasakan apa yang dia rasakan. Hingga bertemu Ariadna kesedihan Daniela tidak dapat di tutupi.


"Kamu kenapa D?" tanya Ariadna khawatir, tidak biasanya Daniela seperti ini. Daniela memberi isyarat ada supir yang bisa mendengar mereka.


"Kita nongkrong dulu yuk, di mana gitu." ajak Ariadna.


"Kamu kan baru balik, tidak capek?" Daniela tidak enak pada sahabatnya.


"Kita cari tempat yang aku bisa santai." solusi Ariadna. Mereka pun mampir ke sebuah tempat.

__ADS_1


"Ada apa sih? kamu tuh beda dari biasanya." tanya Ariadna penasaran. Daniela menceritakan masalahnya. Semua yang dia dapat di labuhkan pada sahabatnya.


"Kamu mencintai Damian ya D?" tanya Ariadna prihatin.


"Kalau kamu tidak mencintainya, aku yakin saat ini kamu sudah melayangkan gugatan cerai." jelas Ariadna.


"Aku memang mencintai Damian. Makanya aku sakit seperti ini " Daniela mengaku. Ariadna tersenyum miris. Problem Daniela membuatnya jadi sosok yang berbeda dari karakternya yang biasa. Itu langsung terbaca. Begitu besarkah cinta Daniela pada Damian?


"Sekarang aku mau tanya D, kamu berat untuk cerai karena cinta atau karena sudah terbiasa bersama Damian?" tanya Ariadna ingin tau.


"Aku benar cinta sama Damian dan aku juga sudah terbiasa bersama dengannya." jawab Daniela jujur.


"Sebenarnya aku bisa memaafkan, tapi saat ini hati aku sakit banget." jelas Daniela.


"Nah itu. Sakit hatimu butuh waktu untuk sembuh. Lalu kamu juga mungkin jadi curiga pada Damian efek sudah di selingkuhin. Harus membangun lagi rasa percaya padanya. Kalau Damian mau menunjukan itu, akan lebih mudah bagimu. Tapi semua berbalik pada kesiapan hatimu." tambah Ariadna.


"Itu yang jadi masalahku sekarang. Apa aku bisa percaya lagi padanya? Apa dia sungguh-sungguh bisa membuktikan janjinya? itu saja yang ada di kepalaku." kata Daniela lesu.


"Berarti kamu harus kasih dia kesempatan untuk membuktikannya. Butuh proses itu sih. Sambil berjalan sambil koreksi juga apa yang kurang, jangan sampai ada celah untuk yang kedua kalinya. Komunikasi di perbaiki. Seperti kata Damian, dia tidak tau kau mencintainya. Jadi pernikahan di lihatnya sebagai urusan untung rugi saja. Tapi aku juga heran dengan ulah Damian. Apa sedemikian menariknya wanita itu?" Ariadna merasa Daniela sahabatnya sudah sangat baik, bisa-bisanya melirik wanita lain.

__ADS_1


"Menurut mama bukan wanitanya yang menarik bagi Damian. Tapi bermainnya. Itu sebabnya Damian dengan mudahnya meninggalkan wanita itu. Ini hanya permainan baginya." jelas Daniela yang mencerna perkataan Arabela.


"Apa dia wanita malam?" Ariadna jadi penasaran.


"Aku rasa bukan. Memangnya Damian mau menyentuh wanita yang seperti itu?" Daniela merasa itu mustahil.


"Tidak akan. Damian itu menempatkan dirinya tinggi. Istri saja dia cari yang seperti kamu, perfeck." Ariadna tau Damian. Pria yang jadi incaran para wanita. Yang single atau sudah bersuami tetap meliriknya.


"Perfeck dari Hongkong, nyatanya di duakan " Daniela berkata sinis.


"Tapi dia tetap mempertahankan dirimu. Damian yang rugi jika dia melepaskanmu D. Dunia perjodohan akan ramai kalau kamu lepas dari Damian " kata Ariadna yakin.


"Kamu ko jadi pintar ngomong begini? Selama di Paris makan apa?" Daniela mengejek Ariadna.


"Iya ya, aku nikah saja belum. Pacar tidak punya. Tapi waktu kuliah dulu aku pernah diam-diam menjalin hubungan. Dia selingkuh. Waktu aku tau, kita putus. Tapi kemudian dia menyesal dan minta balikan lagi. Aku tidak mau. Karena aku tidak bisa percaya lagi sama dia. Terus terang aku tidak mau hidup dengan perasaan curiga atau khawatir. Pokoknya aku tidak mau saja. Tapi dia memang spesial sih." Ariadna bercerita dengan sendu.


"Melihat wajahmu yang seperti itu, jangan bilang kamu belum bisa lupa ya. Kamu masih ingat dia makanya kamu masih sendiri." tebak Daniela. Ariadna sahabatnya tidak tertarik di kenalkan pria seganteng apa pun. Bahkan dia senang ketika Damian tidak memilihnya. Tapi Ariadna langsung bungkam.


"Aku kan memang tidak boleh pacaran sama papa." alasan Ariadna.

__ADS_1


__ADS_2