Menepis Luka

Menepis Luka
Penculikan Berbuah Manis


__ADS_3

"Lukamu sudah di obati, ayo kita berangkat." Revin bangkit berdiri.


"Tunggu dulu, aku lapar Revin. Ini kan sudah lewat waktu makan siang." Daniela kembali berulah.


"Di sini tidak ada makanan sayang. Kita pergi dulu nanti kita makan sama-sama." Revin dengan sabar membujuk. Dia menyesal tidak punya makanan untuk Daniela.


"Minum bagaimana minum, Mada minum juga tidak ada?" ini harapan terakhir Daniela. Setelah ini dia pasrah jika harus di bawa pergi.


"Ambil minum." perintah Revin pada dua orang suruhannya.


"Saya ambilkan di mobil." Salah seorang berlari keluar menuju mobil. Tapi tiba di luar dia di lumpuhkan dan di pukul pingsan. Karena pintu terbuka beberapa polisi bisa menyusup masuk. Salah seorang polisi menahan Damian yang sudah ingin menerjang ke dalam. Hal itu demi keselamatan Damian. Tugas dan resiko para polisi jadi lebih besar jika harus melindungi Damian dan menyelamatkan Daniela. Maka Rama dan seorang polisi menjaga Damian agar tetap tenang. Sedangkan Danar bersama dua orang polisi mendekat dari arah belakang rumah. Danar mencoba membuka pintu belakang, ternyata terkunci. Perhatiannya beralih pada sebuah jendela, di hampirinya jendela itu. Danar berusaha menarik pintunya namun ternyata juga terkunci. Tapi Danar bisa merasakan jika kunci jendela itu rapuh. Danar pun memberi aba-aba pada polisi di belakangnya untuk membantunya menarik pintu jendela itu. Hanya sekali tarikan pintu jendela itu pun terbuka. Danar dan dua polisi itu masuk diam-diam. Dana mengintip ingin tau keadaan di dalam rumah. Tampak seorang suruhan Revin berdiri tidak jauh darinya. Revin sendiri berdiri di depan Daniela bersama Tony asistennya. Revin sedang marah-marah karena minum yang diambil oleh suruhannya tidak juga datang. Saat itu Danar mengambil kesempatan, dia melesat masuk dan menendang Revin yang langsung terjatuh karena tidak siaga. Danar menari Daniela pelan untuk bangkit dan berdiri di belakangnya. Dia melindungi Daniela. Dua orang polisi yang bersamanya meringkus orang suruhan Revin dan memborgolnya. Dari arah depan para polisi masuk dan meringkus Revin serta Tony yang sedang membantu Revin untuk berdiri.


"Bodoh, kenapa bisa sampai ketahuan." umpat Revin kesal. Melihat Revin sudah di ringkus Danar membantu Daniela untuk duduk kembali. Majikannya pasti terkejut. Pada saat itu Damian dan Rama masuk ke dalam rumah.


"Daniela sayang, kamu tidak apa-apa? Aku mencintaimu sayang." Seru Damian sambil memeluk Daniela. Yang di peluk terpana mendengar perkataan itu. Damian mencintainya. Karena Daniela diam saja Damian merenggangkan pelukannya dan menatap istrinya.

__ADS_1


"Kamu benar tidak apa-apa?" Damian meneliti tubuh Daniela, khawatir ada yang luka.


"Aku tidak apa-apa." jawab Daniela sambil tersenyum manis. Revin melihat itu dengan kesal. Tidak mungkin dia menyakiti wanita pujaannya. Polisi pun menggiring Revin dan Tony keluar. Ada polisi yang masih memeriksa keadaan rumah, khawatir masih ada orang suruhan Revin.


"Daniela, kami mengikutimu dari ponselmu. Sekarang ponselmu di mana?" Damian khawatir ponsel Daniela ada pada Revin. Daniela terdiam sejenak. Damian meraih tas Daniela dan membukanya. Ponsel tidak ada di sana. Alis Damian terangkat seolah bertanya pada istrinya.


"Ada di dalam celana dalamku." bisik Daniela, tapi bisikannya masih terdengar oleh beberapa polisi. Mereka tersenyum mendengar bisikan vulgar Daniela namun cerdik.


"Hah, bagaimana bisa ada di situ?" tanya Damian heran.


"Masa harus aku sebutkan kronologinya di sini?" kata Daniela kesal dan malu melihat para polisi senyum-senyum. Damian tertawa, dia memeluk Daniela erat. Bersyukur istrinya baik-baik saja. Rama juga tertawa melihat ulah istri bosnya itu. Tapi menurut Rama Daniela cerdik. Damian bangkit dan membantu Daniela untuk berdiri juga.


"Kita ke kantor polisi sebentar ya untuk memberi keterangan. Tidak lama ko." jelas Damian pada istrinya.


"Tapi aku lapar, niatnya tadi kan aku mau makan siang." keluh Daniela. Dia memang lapar.

__ADS_1


"Memangnya kamu mau makan apa?" Damian jadi teringat istrinya sedang hamil.


"Aku ingin makanan Jepang yang ada di salah satu restoran di mal." Daniela mengingatkan tujuan dia datang ke mal.


"Ya sudah, kita makan ke situ sebentar." putus Damian, dia paham bagaimana istrinya yang punya keinginan. Namanya juga wanita hamil.


"Tidak mau, aku tidak mau kesana." Daniela memeluk Damian dengan takut. Dugaan Damian benar, istrinya belum baik-baik saja. Itu sebabnya dia ingin memangku Daniela dan memeluknya.


"Ya kita tidak kesana. Biar Danar saja yang beli dan kamu nanti makan di mobil, setuju?" tangan Damian mengusap punggung istrinya untuk menenangkan. Daniela mengangguk. Damian segera mengirim pesan pada Danar yang mengikuti mobil mereka di belakang untuk membelikan pesanan Daniela. Mobil yang di kendarai Danar segera memisahkan diri, menjalankan permintaan majikannya. Pak Sabri yang mendengar percakapan majikannya menjadi sedih wajahnya. Selama ini dia menjaga dan menganggap Daniela seperti putrinya sendiri. Daniela tidak pernah kasar dan sombong. Dia bisa merasakan bagaimana Daniela menghargainya walau dia hanya seorang supir.


"Sekarang cerita sama aku, bagaimana ponselmu bisa ada di situ." Damian mengalihkan perhatian. Daniela teringat ponselnya. Dia melepaskan pelukannya. Sebelah tangan Daniela mengangkat roknya yang lebar, sebelah lagi merogoh ke dalam. Keluarlah ponsel itu.


"Daniela, ponselmu pasti wangi. Aku boleh pinjam?" Damian berbisik di telinga Daniela, menggoda.


"Aku kan tidak menaruhnya tepat di situ ich." Daniela kesal. Tangannya mencubit lengan Damian. Di cubit istrinya Damian malah tertawa. Dia senang Daniela tidak takut seperti tadi, malah wajahnya merona malu.

__ADS_1


"Cepat cerita." Damian menarik hidung Daniela, dia semakin penasaran.


"Aku sedang menunggu Danar. Tiba-tiba ada dua pria yang mengapitku. Dengan galak mereka memaksaku mengikuti mereka. Yang seorang menjauh dan masuk ke dalam mobil, yang seorang lagi membukakan pintu mobil untukku. Aku tau mereka akan membawaku pergi, jadi aku pura-pura jatuh dan cepat-cepat menyelipkan ponselku. Makanya kakiku luka. Di mobil mereka memeriksa tasku tapi tidak mendapatkan ponselku. Mereka mungkin tidak memperhatikan aku memegang ponselku ketika mereka menggiringku."


__ADS_2