
"Bersama Ariadna? ok bro aku jemput sekarang. Tunggu ya." Tyler bersemangat memutus kontak dan langsung berangkat. Damian tertawa geli, lucu juga ternyata mengganggu temannya. Ariadna menerima kedatangan Damian dan Tyler dengan cemberut. Setengah mati dia menghindari pria di sebelah Damian ini, eh ternyata bertemu juga.
"Daniela, kamu pesan apa?" Damian bertingkah seolah dia tidak tau jika Tyler mengejar Ariadna.
"Aku pesan rawon, kamu mau?" Daniela juga pura-pura tidak tau kalau mata Tyler tertuju pada Ariadna.
"Mau, aku pesan yang sama saja." Damian setuju. Ariadna yang cemberut melihat suami istri ini kompak. Dia tidak tau dua D ini kompaknya lebih dari itu.
"Kamu pesan apa Ar?" tanya Tyler pada Ariadna. Sejak tadi dia tersenyum manis tapi di acuhkan Ariadna.
"Aku pesan soto." jawab Ariadna untuk menjaga kesopanan.
"Aku juga pesan soto deh." kata Tyler mengikuti selera Ariadna. Damian dan Daniela tersenyum. Mereka yang tau bisa melihat jelas minat Tyler pada Ariadna. Pertanyaannya apakah Tyler betul-betul jatuh cinta pada Ariadna? Mereka makan siang dengan cepat. Daniela tidak mau menyiksa sahabatnya yang gelisah itu. Damian juga tidak semurah hati itu pada Tyler yang senang bisa makan siang bersama gadis incarannya. Sedangkan Ariadna sudah panas dingin di tatap intens oleh Tyler. Dia selalu ingat pesan Andini untuk jauh-jauh dari Tyler. Pria itu punya pesona yang berbahaya.
"Kamu pulang ya, jangan kemana-mana lagi. Berenang saja dengan Ariadna di rumah." pesan Damian pada Daniela. Sekarang dia jadi posesif pada istrinya. Mendengar kata berenang dan Ariadna, pikiran mesum Tyler sudah sampai ke kutub Utara.
"Dam, kita tidak antar mereka dulu?" Tyler mencari kesempatan.
"Tidak, biar mereka dengan pak Sabri saja. Aku banyak kerjaan." Damian merasa cukup memberi ruang untuk Tyler. Selebihnya ya usaha sendiri dong.
"Ar, kamu sudah punya partner untuk ke pesta nanti?" Tyler makin berusaha.
"Sudah, aku sudah punya partner." jawab Ariadna cepat. Padahal di kepalanya sedang mengabsen nama temannya yang bisa di jadikan partner. Tyler kecewa, tapi dia masih berharap bertemu Ariadna di pesta.
__ADS_1
"Kami pulang dulu ya." Daniela pamit berdiri.
"Hati-hati." Damian mencium kening istrinya sebelum melepasnya pergi. Ariadna seperti mendapat angin, segera melesat menuju mobil. Daniela tersenyum melihat sahabatnya. Di mobil Ariadna mengomel panjang lebar. Bisa-bisanya dia bertemu Tyler. Ariadna juga minta Daniela membantunya mencari partner untuk ke pesta. Karena rasa bersalah, Daniela pun membantu sahabatnya. Dia menghubungi sepupunya.
"Dan, kamu jadi partner Ariadna ke pesta PT Cahaya ya." kata Daniela pada Danilo sepupunya.
"Maksudnya apa nih, kamu mau jodohin aku sama Ariadna?" tanya Danilo curiga di seberang sana.
"Bukan begitu, jadi partner saja tidak ada maksud lain. Kamu juga belum ada partner kan?" bujuk Daniela.
"Aku sih tidak masalah datang sendiri. Tapi ok lah, nanti aku jemput Ariadna." Danilo mengalah. Pembicaraan pun terputus.
"Bereskan." kata Daniela pada Ariadna yang bernapas lega.
"Siapa tuh super mesum?" tanya Daniela penasaran.
"Tyler." jawab Ariadna malas. Daniela tertawa.
"Tidak di angkat?" Daniela menggoda Ariadna.
"Biar saja, aku malas bicara dengannya." jawab Ariadna tidak acuh.
"Jadi Tyler suka menelponmu dan kamu tidak menjawabnya?" Daniela ingin menegaskan dugaannya.
__ADS_1
"Seperti itu " jawab Ariadna bercanda. Daniela jadi penasaran dengan nasib keduanya. Apa Tyler akan berhasil? Sedangkan Ariadna masih menyimpan seseorang dalam hatinya.
Pesta datang. Daniela sudah siap dengan gaun merahnya. Dia mengikat rambutnya di satu sisi, membuat wajahnya tampak lebih muda. Menghias rambutnya dengan jepit berlian. Aksesoris lainnya senada dengan jepit rambutnya. Walau Daniela malas tampil glamor tapi dia harus menghargai status suaminya.
"Cantik." puji Damian yang siap dengan Tuxedonya. Daniela tersenyum, menggandeng Damian yang sempurna. Karena di manapun mereka berada akan jadi pusat perhatian.
"Rindu, kami pergi dulu. Tidak perlu siapkan makan malam." kata Damian pada Rindu yang selalu siap di ruang bawah.
"Baik tuan." jawab Rindu sambil mengantar majikannya ke pintu depan. Daniela memang sudah berpesan tidak akan makan di rumah. Mereka berangkat membelah malam.
"Ariadna tidak di jemput?" tanya Damian memastikan.
"Tidak perlu, dia pergi bersama Danilo." jawab Daniela cepat.
"Wah, ada yang panas nanti." komentar Damian ingat pada Tyler.
"Ternyata Tyler sering menghubungi Ariadna. Lalu Ariadna menamainya super mesum." cerita Daniela pada suaminya. Damian tertawa lepas.
"Memang tidak jauh-jauh sih pikirannya dari situ. Sepertinya tepat julukannya. Tapi aku tidak begitu ya. Hanya sekarang kalau melihat kamu ya jadinya begitu." Damian berkata lalu tersenyum. Tangannya meraih tangan Daniela, dia menggoda istrinya. Daniela tersenyum. Dia senang Damian menggodanya. Dulu Damian tidak pernah sedekat ini walau perhatian padanya. Candaan Damian membuat Daniela merasa lebih santai. Ada perasaan tegang dalam diri Daniela yang dia simpan sendiri. Daniela merasa khawatir tentang keadaan rumah tangganya di ketahui orang lain. Apalagi ini pesta besar. Ada perasaan sedih di hatinya jika ada yang tau apa yang Damian lakukan, menikah lagi. Apa pun alasannya orang lain tidak akan mencoba untuk memahami. Tapi yang pasti akan menghakimi. Dan dia sebagai istri Damian tentu akan di pandang tidak bisa membahagiakan suami. Mungkin ini perasaan Daniela saja. Tapi perasaan itu ada. Candaan Damian berhasil menyingkirkan perasaan tersebut. Daniela jadi lebih percaya diri. Mereka tiba di hotel mewah tempat di adakannya pesta. Damian menyodorkan lengannya untuk di gandeng Daniela. Mereka berhenti sebentar untuk menyocokan tanda di ponsel Damian yang berarti mereka di undang. Setelah itu berganti Damian yang merangkul pinggang Daniela memasuki ruangan pesta. Daniela sedikit gugup karena banyak mata yang memperhatikan mereka. Damian tetap tenang dan mengangguk kecil pada mereka yang menyapanya. Damian bukan orang yang murah senyum. Lagi pula Damian tidak mengenal semua yang menyapanya. Hanya beberapa yang dia tau. Damian tau tujuan mereka yang tidak dia kenal adalah untuk mendekatinya. Mereka menemukan orangtua Damian. Ramon dan Amaira. Damian membimbing Daniela menghampiri mereka.
"Pap, mam. Kalian datang juga." sapa Damian pada orangtuanya.
"Walau sudah tua tapi kami perlu bergaul juga." Ramon memeluk Daniela dengan sayang. Tanda rasa syukurnya Daniela masih mau bersama Damian. Setelah itu Amaira memeluk Daniela. Walau dia sayang pada menantunya tapi dia masih belum bisa menerima gaya berbusana Daniela sekarang ini.
__ADS_1