
"Daniela itu kan baju kerja aku, ini baju kerja kamu. Kalau aku kerja di siang hari di luar rumah, kamu di malam hari di dalam kamar." Damian memeluk istrinya merayu.
"Sudah sana mandi, aku sudah lapar." Daniela menolak rayuan suaminya.
"Siap sayang, aku mandi dulu setelah itu kita makan. Aku juga banyak pekerjaan." Damian mengecup bibir Daniela sekilas lalu beranjak masuk ke kamar mandi. Daniela merapihkan kembali baju tidurnya yang tadi di pilih Damian. Karena tau istrinya sudah lapar dan ada bayi di dalam perutnya, Damian tidak berlama-lama mandi. Mereka pun segera makan malam. Ini salah satu alasan Damian tidak bisa pulang terlambat. Daniela akan menunggunya makan malam. Setelah makan malam mereka kembali ke kamar. Damian segera sibuk dengan berkas-berkasnya. Daniela merasa heran Damian tidak bekerja di ruang kerjanya, tapi dia juga senang. Tidak sendirian di kamar. Daniela tidak menonton TV karena khawatir Damian terganggu konsentrasinya. Dia memilih mengobrol dengan Andini di ponselnya. Terkadang dia senyum-senyum sendiri. Suasana jadi hening. Damian sesekali melirik Daniela, lalu kembali bekerja. Itulah enaknya bekerja di kamar, ada wanita cantik menemani. Damian kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Daniela yang selesai mengobrol melirik Damian. Ada hal penting yang ingin dia bicarakan tapi dia menunggu waktu yang tepat. Karena penasaran Daniela menghampiri Damian.
"Pekerjaanmu masih banyak?" tanya Daniela sambil duduk di sofa. Tidak bisa duduk di sebelah Damian karena ada berkas di samping pria itu.
"Lumayan kenapa? Bosan atau sudah mau tidur?" Damian jadi berpikiran lebih nih. Dia mengira Daniela ingin tidur dalam pelukannya. Itukan yang di lakukan setiap malam.
"Belum, aku hanya ingin tau." jawab Daniela sambil melirik berkas Damian.
"Ya sudah, bantu aku sebentar ya." Damian memberikan berkas pada istrinya, sementara dia akan menyelesaikan yang dia kerjakan. Itu dulu yang lain belakangan.
"Tapi ilmu aku tidak seberapa." mulut Daniela menolak tapi rasa penasaran di baca juga berkas itu.
__ADS_1
"Di coba dulu, Masa sudah menyerah." Damian memberi semangat. Daniela pun mengambil kertas. Setelah membaca berkas itu dia menuliskan analisanya pada kertas itu. Tetap saja nanti yang harus menandatangani berkas itu Damian. Selesai dengan pekerjaannya Damian menutup laptopnya, dia memperhatikan Daniela yang sedang menulis. Apa itu , pikirnya. Damian pun mendekati Daniela.
"Ini di lihat dulu." Daniela menyerahkan berkas dan hasil tulisannya. Damian menerimanya dan membacanya. Tak lama kemudian kepalanya mengangguk.
"Boleh juga, bisa jadi asisten aku nih." Damian meletakan kertas-kertas itu di meja. Damian meraih Daniela untuk duduk di pangkuannya.
"Kalau muji itu jangan ketinggian. Aku jatuhnya sakit." kata Daniela yang masih tidak percaya pujian Damian.
"Loh analisanya bagus walau belum sempurna." Damian tertawa.
"Rama itu asistenku di kantor, kamu asistenku di rumah. Memang kamu masih harus banyak belajar. Kalau tertarik nanti aku bantu biar cepat pintar." Menurut Damian tidak ada salahnya Daniela belajar bisnis. Sekolahnya juga tentang bisnis kan. Tapi untuk bekerja di kantor Damian tetap keberatan.
"Memang aku boleh bekerja?" tanya Daniela penasaran.
"Kerjanya di rumah, bajunya juga khusus." Damian menaikan kedua alisnya menggoda Daniela.
__ADS_1
"Ish itu sih kerja apaan." Daniela kesal merasa di jebak.
"Dengar ya sayang, kamu bisa belajar bisnis sama aku. Tapi kamu bantu aku bekerja di rumah. Jadi aku tidak bekerja sendirian." Damian mencium pipi Daniela.
"Tidak mau ah itu pekerjaan yang tidak di gaji." Daniela pura-pura menolak. Dia mau ko membantu Damian.
"Eh, upahnya khusus loh." Damian jadi punya peluang merayu.
"Aku kasih DPnya ya." Damian bangkit berdiri sambil mengangkat Daniela.
"Eh kamu mau apa Dam?" tanya Daniela terkejut.
"Ada pekerjaan yang lebih penting." Damian membawa Daniela ke tempat tidur. Maksudnya sudah sangat jelas. Masa bodoh dengan pekerjaannya. Ada yang lebih menarik.
Ariadna tengah mengikuti saran Daniela. Membuntuti Tyler. Hari ini dia sudah siap di lapangan tenis. Karena ini tempat umum tentu banyak yang sedang bermain tenis di sana. Ariadna duduk di salah satu sudut dengan kostum dan raket tenis. Jelas dia harus tampak seperti orang yang ingin olah raga di sana. Club tenis ini cukup bergengsi. Oleh sebab itu ramai di kunjungi di akhir Minggu. Pemiliknya adalah salah satu teman Damian, itu sebabnya Damian menjadi salah satu anggota di sini. Dia mendapat kartu anggota gratis dan untuk menghargai temannya dia main tenis di sini. Tentu saja dia memboyong sahabatnya main di sana. Untung saja Tyler hobi main tenis. Kalau main golf akan susah bagi Ariadna memantaunya. Di sebelah bawah tempat duduknya tampak segerombol gadis duduk dan menggunakan baju sport mereka yang seksi. Mau main tenis atau pamer badan nih mbak? pikir Ariadna sinis dalam hati. Tidak lama Damian datang bersama Robin. Karena lapangan sedang di gunakan mereka duduk menunggu sambil mengobrol. Ada dua lapangan di bawah sana, yang kiri dan kanan. Keduanya sedang di gunakan. Gerombolan gadis di bawahnya diam dan mulai kasak-kusuk. Oh ternyata sama seperti dirinya datang bukan untuk main tenis. Tapi mencari mangsa, pikir Ariadna sadis. Danilo datang kemudian. Menghampiri Damian dan Robin lalu ikut duduk bersama mereka. Ariadna hari ini mengikat rambutnya, mengenakan topi lebar dan kacamata hitam. Tapi dia merasa tidak aman dengan kedatangan Danilo. Dia pun turun duduk sejajar dengan gerombolan gadis-gadis tadi. Ariadna merasa tersamarkan. Tapi karena sejajar dia jadi bisa mendengarkan apa yang di ributkan para gadis itu. Ternyata mereka memperbincangkan tiga pria itu. Astaga, Daniela harus tau nih. Ternyata ada gadis-gadis kurang kerjaan yang mengincar suaminya. Ketika akhirnya Tyler datang kasak-kusuk semakin heboh. Memang Tyler itu punya pesona, puji Ariadna di dalam hati. Tyler bergabung dengan teman-temannya. Mereka menunggu lapangan di sebelah kanan selesai di gunakan. Tidak lama kemudian lapangan pun kosong. Damian bersama Robin, di seberang Tyler dan Danilo. Mereka pun mulai bermain. Karena baru mulai mereka bermain santai, hasilnya seri. Di ronde kedua Damian dan Robin kalah. Di ronde ke tiga Tyler dan Danilo kalah. Damian dan Robin berusaha menebus kekalahan. Itu pun menang tipis. Ternyata Tyler dan Danilo tidak boleh di satukan. Mereka menyudahi permainan lalu duduk di pinggir lapangan. Di sebelah gadis-gadis semakin ramai. Terdengar mereka berkata jika Tyler yang paling mudah di dekati. Ariadna terkejut, benarkah demikian? Lalu majulah salah satu peserta para pencari pacar yang ganteng dan keren.
__ADS_1