Menepis Luka

Menepis Luka
Yang Merindukan


__ADS_3

Tyler menjalankan mobilnya menjauhi kantornya. Tentu saja menuju apartemen Juwita.


"Apa maumu?" tanya Tyler kesal. Dia tengah memikirkan Ariadna.


"Cuma minta tumpangan pulang." jawab Juwita manis. Tapi tangannya meraba Tyler. Rabaan Juwita tepat sasaran. Di bawah sana milik Tyler langsung gelisah. Tyler langsung paham tujuan Juwita mencarinya. Tyler pun mencari tempat sepi, dia lalu memarkir mobilnya.


"Kemari." perintah Tyler pada Juwita. Kasihan pada wanita yang kesepian. Juwita pun menurut. Dia lalu pindah ke pangkuan Tyler. Wajah Tyler tetap datar, menunggu apa yang akan di lakukan Juwita. Merasa di beri kesempatan Juwita lalu mengalungkan tangannya pada leher Tyler, perlahan dia mencium Tyler. Permainan Juwita lembut tidak terburu-buru. Satu tangan Juwita mengelus dada Tyler yang bidang dan bagus. Ya tubuh Tyler bagus dan berotot. Terlihat pria itu menjaga tubuhnya dengan baik. Di sentuh begitu Tyler semakin gelisah, dia menarik kepala Juwita untuk memperdalam ciuman mereka. Tangan Juwita mulai kemana-mana. Tyler jadi gemas. Hampir dia menggigit bibir Juwita. Tyler pun mengakhiri ciuman.


"Buka." kata Tyler sambil melirik ke bawah. Dia sudah terpancing permainan Juwita. Tanpa harus di jelaskan Juwita tau maksud Tyler. Dia lalu membuka celana Tyler.


"Pasang ini." Tyler menyodorkan pengaman. Dengan wajah senang Juwita melakukannya. Tanpa Pemanasan Juwita segera memadukannya. Tyler lalu merasakan sesuatu yang menyenangkan. Juwita pun bermain di atas Tyler. Napas Tyler lalu memburu. Tangannya membuka kancing blus Juwita. Tyler bermain di sana. Di hisapnya dengan kuat yang membuat Juwita memekik.


"Pelan-pelan dong yang, sakit." kata Juwita manja. Tyler tersenyum. Dia pindah pada yang satunya, lalu melakukan hal yang sama. Kembali Juwita memekik. Dia berhenti dan menikmati permainan Tyler. Tangan Tyler yang kanan masuk ke dalam blus Juwita dan mengusap punggungnya. Yang kiri tengah mengusap paha Juwita yang halus.


"Ayo mulai lagi, lebih dalam." bisik Tyler di telinga Juwita. Sekarang Tyler bermain di leher Juwita. Membuat tanda di sana. Juwita pun bergerak lagi. Tangan kiri Tyler pindah, *******-***** keindahan yang membuatnya gemas. Karena gerakannya yang semakin cepat Juwita pun tiba pada pelepasannya. Tapi Tyler belum. Juwita bersandar di dada Tyler dengan napas memburu. Masih menikmati rasa yang luar biasa. Tyler membiarkannya sebentar.

__ADS_1


"Pindah." bisiknya pada Juwita. Mengisyaratkan Juwita untuk pindah ke bangku belakang. Mereka pun pindah ke bangku belakang. Juwita membaringkan tubuhnya. Tyler segera memasukinya dan memacunya dengan kuat. Tyler menuntut pelepasan. Tangan Juwita membuka kancing kemeja Tyler dan mengusap dada itu. Juwita sudah merasakan pelepasan lagi ketika Tyler mendapatkannya. Tyler membuka pengamannya lalu membuang pengamannya keluar lalu menutup celananya. Dia lalu pindah ke kursi depan lagi. Juwita membereskan dirinya lalu pindah juga ke bangku depan. Tyler menjalankan mobilnya ketika Juwita sudah duduk manis. Dia memacu mobilnya ke apartemen Juwita. Tiba di sana Juwita tidak mau turun juga. Dia tetap duduk manis dan menatap Tyler sayu.


"Masih pingin?" tanya Tyler lembut. Juwita mengangguk. Tyler pun turun dari mobil di ikuti Juwita. Mereka berjalan menuju apartemen Juwita. Tanpa membuang waktu mereka menuju kamar. Tyler membuka bajunya dan memasang pengaman, itu yang tidak boleh terlupakan. Juwita sudah bersiap dengan senang. Tyler pun segera memulai permainan. Dengan lembut Tyler membuai Juwita. Dia tidak pernah bermain kasar pada wanita. Kali ini dia akan memuaskan dahaga Juwita.


"Ingat ya beb, jangan muncul lagi di kantorku. Aku yang akan menghubungimu jika aku ingin." kata Tyler pada Juwita dengan nada yang tidak ingin di bantah. Jika ingin bermain dengannya, harus mengikuti aturannya. Juwita mengangguk tanda mengerti. Dia harus main cantik jika ingin di sayang. Tyler pun segera menikmati tubuh yang menggoda itu. Memberi kepuasan untuk Juwita dan dirinya. Setelah puas, Tyler pun menyudahi permainan mereka. Tyler memakai bajunya, Juwita sudah tertidur kelelahan. Permainan mereka sudah di mulai di mobil. Tidak lupa Tyler mentransfer sejumlah uang pada rekening Juwita. Walau pun Juwita tidak memintanya tapi Tyler merasa dia harus melakukannya. Juwita tidak pernah menuntut materi. Mungkin itu yang membuat Damian senang menyimpan Juwita, walau Damian sanggup memenuhi keinginannya. Juwita memang butuh uang, tapi yang di utamakannya adalah kasih sayang. Tyler memutuskan meninggalkan Juwita, dari pada usahanya meraih Ariadna gagal. Karena saat ini yang ada di pikirannya adalah gadis itu. Karena itu pula Tyler tidak mau Juwita muncul di sekitarnya. Tyler pun pulang. Tidak menyangka, selesai dengan pekerjaannya hari ini di hadapkan pada petualangan.


Daniela tengah menyusun acara penggalangan dana dengan Ariadna.


"Sudah, lakukan saja seperti biasa. Bikin bazar lalu peragaan busana. Tinggal cari yang mau ikut bazar. Trus hubungi perancang terkenal. Bereskan?" usul Ariadna.


"Boleh juga sih, dari pada aku pusing. Tapi kalau perancang terkenal bajunya pasti mahal. Trus donasinya ada tidak nanti? Jangan-jangan sudah belanja baju mahal, jajan mahal mereka malas donasi." keluh Daniela.


"Bagaimana jika kita tetap buat bazar. Tapi kita buat orang-orang yang butuh. Misalnya kita cari mereka yang punya jajanan enak tapi belum terkenal. Kita bisa bantu mereka untuk promosi dan dapat penghasilan." jelas Daniela.


"Cakep. Boleh tuh, minta saja pegawai mamamu untuk mencari yang model begitu. Mereka juga harus kerja kan." balas Ariadna. Daniela mengangguk-anggukan kepala.

__ADS_1


"Tapi peragaan busananya gimana?" tanya Ariadna.


"Peragaan busana......" Daniela tampak berpikir.


"Ah, ingatkan butik langgananku. Bajunya bagus-bagus kan. Mungkin kita bisa bekerja sama dengan pemiliknya. Harganya juga tidak semahal baju perancang." usul Daniela dengan penuh harapan.


"Tapi apa mereka mau beli?" Ariadna ragu.


"Kita minta saja dia juga tampilkan baju branded. Jadi bajunya beragam." Daniela yakin banyak yang suka akan koleksi burik tersebut.


"Kalau begitu kita temui saja pemilik butik. Semoga dia mau ikut bazarmu. Tapi mengingat nama mamamu, aku rasa dia akan tertarik." Ariadna setuju sekarang. Mereka pun menuju butik tersebut. Seperti biasa kedatangan Daniela di sambut. Mereka mengira Daniela dan Ariadna akan berbelanja.


"Kami mau bertemu dengan pemilik butik ini." kata Ariadna pada staf di situ. Ariadna membaca namanya di dada kanan gadis itu. Maya.


"Ada apa ya mbak?" Maya langsung pucat wajahnya. Dikiranya Ariadna dan Daniela akan mengeluhkan kinerja para staf di sana.

__ADS_1


"Begini Maya, kami akan buat bazar dan peragaan busana. Karena kami suka akan koleksi baju di sini, kami mau menawarkan untuk ikut bazar kami." jelas Daniela ramah.


"Oh begitu, saya coba bicara dulu ya."


__ADS_2