Menepis Luka

Menepis Luka
Ketahuan


__ADS_3

Ada taman bunga dan di sediakan tempat duduk di sana.


"Harusnya kita duduk dan makan di sini Ar." kata Tyler menyesal. Ariadna setuju, tapi itu berbahaya untuk hatinya. Tempat itu sangat cocok untuk mereka yang berpacaran.


"Kita foto yuk." Tyler menarik Ariadna untuk berdiri di sampingnya. Ariadna tidak sempat menimbang, Tyler segera mengatur posisi mereka dan mengambil gambar.


"Senyum dong Ar, walau tetap cantik sih." Tyler memperlihatkan foto yang di ambilnya. Ariadna melihat raut wajahnya yang datar. Sedangkan Tyler tampak tampan dengan senyumnya yang menawan.


"Sekali lagi ya." Tyler mengambil ponselnya dari tangan Ariadna dan mulai mengarahkannya pada mereka berdua. Kali ini Ariadna tidak mau tampil datar seperti tadi.


"Nah gini dong, tambah cantik kan." Tyler puas dengan foto yang di ambilnya. Di perlihatkannya pada Ariadna.


"Kirim ke nomerku." pinta Ariadna, lumayan dia punya foto bersama Tyler untuk di pamerkan.


"Ok. Lumayan buat kamu lihat kalau kamu kangen sama aku." kata Tyler dengan percaya diri.


"Yakin aku kangen sama kamu." bantah Ariadna tidak terima.


"Yakin, aku bisa bikin kamu kangen sama aku. Kamu mau tau caranya?" tanya Tyler nakal.


"Tidak mau, ayo jalan. Antar aku pulang." Ariadna menghindar. Dia berjalan menjauhi Tyler. Jantungnya berdebar membayangkan apa saja yang bisa di lakukan Tyler. Melihat Ariadna yang menghindar Tyler tersenyum. Dia pun melangkah mengikuti gadis itu. Mereka pun meninggalkan cafe. Ariadna larut dalam lamunannya. Tyler tersenyum senang karena ada kemajuan dalam usaha pendekatannya. Dia merasa Ariadna punya rasa untuknya. Walau sedikit. Perlahan di raihnya tangan Ariadna mendekat ke arahnya, lalu di ciumnya punggung tangan Ariadna yang halus. Ariadna terkejut, terlepas dari lamunannya.


"Terima kasih ya Ar, siang ini mau bersamaku." kata Tyler manis, tangannya masih terus menggenggam tangan Ariadna.


"Hm." jawaban Ariadna yang sangat singkat. Dia sedang menata jantungnya yang berdebar kencang. Semua yang di lakukan Tyler manis tidak ada yang pahit. Ariadna yakin jika terus seperti ini pria itu akan segera membobol pertahanan hatinya. Tyler semakin tersenyum lebar melihat pipi Ariadna yang merona.

__ADS_1


"Kegiatanmu apa saja Ar?" tanya Tyler kemudian.


"Belum ada. Aku masih belum tau mau apa." jawab Ariadna, dia senang Tyler mengalihkan perhatian. Apalagi Tyler melepaskan tangannya. Dia bisa salah tingkah kalau terus-terusan begitu.


"Sayangkan sekolahmu." Tyler sebenarnya bukan ingin Ariadna bekerja, tapi dengan adanya kegiatan Ariadna di luar dia akan semakin mudah mendekatinya.


"Aku masih memikirkan, karena aku tidak mau setengah-setengah atau terpaksa melakukan sesuatu." jawab Ariadna tegas. Tyler paham itu. Seperti juga hubungannya dengan Ariadna, gadis itu ingin memantapkan hatinya untuk menjalin hubungan. Ariadna tidak mau asal memilih.


"Kau bisa punya usaha dengan brand kosmetik mamamu di sini " usul Tyler. Di Paris Ariadna bekerja untuk mamanya kan.


"Bisa di perhitungkan." Ariadna menjawab asal. Sebenarnya dia mulai belajar dari Andini. Jika dia berkeinginan menikah dengan pria pilihannya sendiri, tentu dia harus berdiri sendiri. Lepas dari usaha orangtua.


"Atau kamu mau bantu di perusahaanku? tapi usahaku cuma perusahaan kecil." Tyler nekat menawarkan. Dengan begitu dia bisa dekat-dekat dengan Ariadna.


"Iya sih, ya sudah kamu pikirkan dulu." perkataan Tyler menggantung. Toh dia bukan ingin Ariadna bekerja. Dia hanya ingin lebih bebas bertemu dengan Ariadna. Mereka pun tiba di rumah Ariadna.


"Tunggu Ar, jangan turun dulu." kata Tyler yang membuat Ariadna menoleh kepadanya. Dengan sekejab Tyler segera menyatukan bibir mereka . ******* bibir Ariadna sebentar lalu melepaskannya.


"Biar kamu kangen sama aku." dasar si mas masih terus usaha. Dengan tersipu Ariadna segera keluar dari mobil dan buru-buru masuk. Tyler pun menjalankan mobilnya dengan penuh kegembiraan. Harapannya semakin besar untuk bersama Ariadna. Namun bagaimana jika Ariadna nyaman dengan hubungan tanpa status? Tyler kembali resah. Sementara Ariadna masuk ke dalam rumah di sambut tatapan tajam seorang Rionara.


"Mobil siapa itu dek, kamu di antar siapa?" tanya Rio tajam. Ariadna terkejut, tidak menyangka ada yang memperhatikannya.


"Pasti kakak sudah tau siapa." jawab Ariadna pelan. Tidak mungkin Rio marah jika tidak tau. Ariadna juga tidak mau berbohong.


"Ikut kakak !" titah Rio sambil melangkah menuju ruang kerjanya. Ariadna mengikuti dengan gelisah. Dia tau Rio marah.

__ADS_1


"Jelaskan pada kakak semuanya !" kata Rio tegas. Dia menanti penjelasan adiknya. Rio hafal betul mobil yang berhenti di depan pintu gerbang rumah mereka. Karena tadi pagi baru saja di lihatnya. Apalagi pengemudinya. Rio sangat terkejut melihat adiknya turun dari mobil itu dan berlari masuk ke dalam rumah. Ariadna tidak punya pilihan, terpaksa menceritakan dari awal perkenalannya dengan Tyler. Mendengar cerita Ariadna Rio terdiam dulu sejenak.


"Kamu suka sama dia dek?" tanya Rio lembut. Ingin agar adiknya jujur tanpa rasa takut. Ariadna mengangguk.


"Kamu cinta sama dia?" Rio penasaran.


"Belum." Ariadna menjawab sambil menggeleng. Rio bernapas lega. Tapi dia tetap curiga. Bisa saja adiknya belum menyadari perasaannya.


"Kamu tau dia siapa kan dek?" Rio menggali isi hati adiknya.


"Tau, dia teman Damian " jawab Ariadna lugu.


"Is, bukan itu. Maksud kakak dia itu player. Bisa saja dia main-main sama kamu. Harus hati-hati." Rio berkata tegas. Mau melarang adiknya bergaul dengan Tyler Ariadna sudah dewasa. Rio yakin adiknya masih bisa menilai dengan baik. Tidak harus di kekang.


"Itu sebabnya aku masih mempertimbangkannya. Tyler bilang dengan jalan bersama aku bisa membuktikan jika dia serius. Tapi aku masih ragu." Ariadna mengutarakan kebimbangannya.


"Tidak bisa begitu dek. Dengan jalan sama kamu dia akan menjaga tingkah lakunya. Justru kamu harus mengamatinya diam-diam. Jika dia mencintaimu dia tidak akan main-main dengan yang lain." saran Rio.


"Begitu ya, jadi aku harus mengamatinya diam-diam. Caranya?" Ariadna setuju dengan Rio.


"Kamu pikirkan sendiri, kamu kan pintar dek. Kan kamu yang suka sama dia. Untung saja tadi kakak yang melihatmu turun dari mobilnya. Bagaimana jika papa atau mama yang lihat?" kata Rio gemas akan ulah adiknya.


"Nah itu juga yang jadi pemikiranku. Belum tentu papa dan mama setuju. Tapi dari mana kakak tau kalau itu mobil Tyler?" tanya Ariadna heran.


"Tadi pagi kakak bertemu dia, kami ada kerjasama bisnis. Jika dilihat dari cara bekerjanya kakak akui dia punya potensi besar."

__ADS_1


__ADS_2