
Ternyata putrinya yang sempurna tidak dapat memuaskan suaminya. Damian tidak sesederhana dalam pikirannya. Sosok Damian yang telah berhasil berdiri di atas kakinya sendiri membuatnya tidak takut pada apa pun. Damian yang mencari kesenangan di luar karena tidak terpuaskan oleh istrinya di luar prediksi Ardan. Lalu niat Damian yang tidak mau melepaskan Daniela membuat Ardan bingung. Tidak mencintai tapi tidak mau melepaskan. Ardan jadi tidak mengenal sosok Damian. Dia tidak mau putrinya tersakiti. Tapi kalau Daniela ingin tetap di sana dia bisa apa. Ardan memutuskan untuk bersabar dan melihat apa yang akan di buat Damian.
"Untung kamu jemput aku. Aku tuh sudah pusing sama bawahannya mama. Bikin acara maunya begini, musti begitu. Bikin pusing. Harusnya tuh mama tetapkan saja acaranya mau bagaimana." keluh Daniela di mobil. Dia merasa beruntung Damian muncul tiba-tiba. Kesempatan untuk pergi.
"Daniela, menurutku kamu tuh berhak memutuskan. Kamu di minta bantu berarti kan kerelaanmu. Kalau kamu tidak merasa nyaman buat apa. Kamu putuskan saja apa yang kamu mau. Kamu bisa sedikit mengancam mama, kalau tidak setuju dengan pengaturanmu ya kamu keluar. Kamu tuh istri aku, Daniela Pradana. Bukan bawahannya mama." kata Damian santai. Egonya tersentuh kalau Daniela harus takluk di bawah orang-orangnya Arabela. Daniela memikirkan perkataan Damian. Betul juga kata suaminya. Dia kan membantu mamanya dengan sukarela karena dia punya waktu senggang. Kalau dia harus melakukannya dengan terpaksa malas juga. Melakukan sesuatu tapi tidak nyaman. Tidak di bayar pula, lucu rasanya. Selain membenarkan pendapat Damian, Daniela jadi kemana-mana pikirannya. Berarti Damian selingkuh karena nyaman. Dia senang melakukannya, jika tidak buat apa dia lakukan. Daniela jadi murung. Perasaannya jadi sedih.
"Daniela, kamu melamun. Tidak mau turun, kita sudah sampai." Damian memecah lamunan Daniela. Dengan segera Daniela menatap sekitar. Damian bahkan sudah membukakan pintu mobil. Daniela pun segera turun. Wajahnya yang murung menjadi pertanyaan di hati Damian. Apa Daniela tersinggung dengan kata-katanya? Damian mengikuti langkah kaki Daniela menuju kamar mereka.
"Daniela, apa yang kamu pikirkan?" tanya Damian, khawatir Daniela benar tersinggung dengan perkataannya.
"Aku pikir kamu benar, aku akan melakukan yang kumau. Untuk apa ku lakukan jika aku kesal?" jawab Daniela berapi-api. Dia menolak untuk merasa tertekan. Daniela ingin melakukan apa pun yang membuatnya senang.
"Bagus, itu baru istri Damian." puji Damian, dia lega Daniela tidak tersinggung. Daniela tersenyum, dia mencoba menepis perasaan sedihnya jika teringat Damian berselingkuh. Ini belum apa-apa, pikirnya. Ada banyak wanita yang di tinggalkan atau di permalukan suaminya karena perselingkuhan. Damian masih menginginkannya dan memperlakukannya dengan baik.
"Aku ke ruang kerja dulu ya, nanti kalau mau makan panggil aku." kata Damian yang beranjak meninggalkan Daniela sendiri di kamar. Damian kembali menggeluti pekerjaannya yang dia tinggalkan di kantor. Rama sudah mengirimkannya ke rumah, karena Damian memutuskan untuk bekerja di rumah. Daniela segera memikirkan konsep acara untuk organisasi Arabela. Mereka akan melakukan penggalangan dana untuk korban bencana.
Akhirnya tiba acara party Ariadna. Pesta itu memang hanya pesta kecil. Daniela sudah datang bersama Damian. Yang di undang Ariadna memang tidak banyak. Ariadna masih memeriksa hidangan, apakah sesuai pesanannya. Dia di bantu Daniela yang di lepas Damian karena ada Robin yang menemaninya. Dengan potongan rambutnya dan gaya busananya yang baru Daniela mendapat pujian. Damian menatapnya sambil tersenyum.
"Aman nih benteng?" tanya Robin yang melihat itu.
__ADS_1
"Sejauh ini aman bro." jawab Damian santai.
"Dengar-dengar M.Pro melakukan kudeta." kata Robin lagi.
"Buset, santer juga gosipnya. Pantaslah, putrinya di sakiti pasti protes. Tapi aku sudah siap sih. Terserah papa saja maunya bagaimana." Damian tetap tenang.
"Kalau dia mau ambil anaknya?" Robin memancing.
"Jangan dong, itu yang kuhindari. Aku sedang menjauhkan Daniela dari papa. Biar aku rayu dulu anaknya. Agar tetap betah di sampingku." Ternyata satu yang Damian takut. Takut di tinggalkan Daniela.
"Kamu sayang ya sama Daniela?" Robin curiga. Seberat itu Damian melepas Daniela. Damian berpikir sebentar. Satu tahun hidup bersama Daniela bukan sosok asing dalam hidupnya.
"Mungkin. Atau bisa jadi aku sudah terbiasa dengan Daniela." Damian berkilah. Ada banyak alasan mengapa dia mempertahankan Daniela. Percakapan mereka terputus karena kedatangan Tyler.
"Yang mana lagi yang bikin telat bro?" tanya Robin curiga.
"Wo, kalem bro. Lagi kosong sekarang. Kemaren saja nyoba mainannya Dami. Lumayan juga, aku cukup puas. Aku pake sampe subuh tepar dia." kata Tyler santai. Robin tersenyum, penasarannya terjawab.
"Trus lanjut?" tanya Robin. Siapa tau Tyler berniat menyimpan Juwita.
__ADS_1
"Males ah. Cuma pingin tau saja kemaren. Tidak niat nyimpen-nyimpen. Repot nanti minta ini minta itu." jawab Tyler yang berjiwa bebas.
"Dia tidak gitu ko. Cukup tau batasannya kalau minat serius. Tapi aku tidak mau tau lagi ya. Jangan bawa-bawa di depan kita." kata Damian malas. Mendengar Tyler tidur dengan Juwita, Damian tidak berminat lagi pada Juwita. Dia bukan tipe pria yang suka berbagi.
"Tenang aku tau ko etikanya. Mana pernah yang begituan aku seriusin." Tyler hanya penasaran. Setelah tau lain lagi acaranya. Mulai mencari yang lain. Pandangan Tyler mulai mengikuti arah pandangan Damian. Ternyata papa sedang menatap mama yang sedang cekikikan dengan temannya.
"Wow, itu Daniela? cantik banget. Rambutnya beda. Wah, papa musti hati-hati nih. Mama mulai tebar pesona." Tyler berkata dengan kurang ajarnya. Daniela memang berbeda malam ini, dia lebih lepas. Dengan bebasnya dia bercanda dengan yang lain. Itu sebabnya Damian sejak tadi mengawasinya. Robin tersenyum, dia lihat Daniela walau tidak di cintai Damian mencari kebahagiaannya sendiri.
"Yang di sebelahnya siapa, cantik juga." Tyler mulai siaga satu.
"Ariadna, teman Daniela. Dia yang punya acara." jelas Robin.
"Ariadna? sepertinya aku pernah melihatnya, tapi tidak secantik itu." bantah Tyler.
"Dia baru pulang dari Paris. Ya lebih cantiklah." kata Damian membela Ariadna.
"Ariadna ya." Tyler bergumam. Matanya tidak lepas dari gadis itu.
"Itu sahabatnya Daniela loh." Robin mengingatkan, dia tau Tyler terpesona.
__ADS_1
"Aku kan temannya Damian." Tyler tidak mau kalah. Damian tidak berkomentar. Mereka kan sudah dewasa, kalau Tyler ingin mengejar Ariadna siapa yang bisa melarang. Ariadna yang kurang beruntung jika jatuh dalam pelukan Tyler. Kecuali jika Tyler serius. Tapi tidak ada yang bisa memastikan kapan Tyler serius. Tyler pun beranjak menghampiri Daniela. Melihat itu Damian merasa khawatir.
"Ayo kita ke sana." ajak Damian pada Robin.