
"Apa itu karena Daniela berubah?" Robin curiga.
"Bisa jadi, aku rasa Daniela lebih hidup sekarang." kata Damian jujur.
"Berarti sekarang Daniela benar-benar sempurna untukmu." Robin merasa Damian benar-benar tidak akan melepas istrinya kali ini.
"Dia baru belajar saja sudah buat aku senang, bagaimana sudah mahir nanti." Damian berangan jauh. Robin tertawa. Dia cukup senang melihat pernikahan sahabatnya baik-baik saja.
"Dimana Tyler?" tanya Damian tiba-tiba.
"Kau tidak tau dia sedang mengejar Ariadna?" Robin yang lebih tau memberi info.
"Dia mengatakannya padamu?" Damian heran Tyler tidak bercerita padanya. Ariadna itu kan sahabat istrinya.
"Tidak, aku melihat gelagatnya. Buktinya dia tidak muncul kan." jawab Robin.
"Apa dia serius? Ariadna tidak sembarangan bisa di dekati. Keluarganya cukup ketat. Kalau hanya main-main sebaiknya jangan. Aku jadi tidak enak pada Daniela." Damian keberatan dengan ulah Tyler.
"Aku tidak tau, kita harus tanyakan padanya. Kau benar, Daniela bisa protes padamu." Robin setuju. Perbuatan Tyler akan menimbulkan ketidaknyamanan pada pertemanan mereka.
"Daniela sedang mengurus acara amal untuk mamanya, Ariadna juga terlibat. Aku rasa Tyler akan muncul di sana " Damian memprediksi usaha Tyler.
"Dia tidak akan melepas mangsanya sebelum dapat." Robin yakin Damian benar.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti, sejauh apa dia bermain. Ariadna juga tidak mudah di dapat." kata Damian pada akhirnya.
Bukan hanya Damian, Daniela juga hari ini merasa berbeda. Walau tubuhnya masih terasa lelah akibat permainan Damian namun dia merasa senang. Daniela berupaya membuat Damian puas akan dirinya. Entah apa Damian merasa begitu, tapi Daniela terbangun di dalam pelukan Damian. Pagi itu juga Damian memperhatikannya mandi dan membantu mengeringkan rambutnya. Apa lagi dengan ciuman di kening ketika berangkat bekerja. Daniela merasa punya warna baru dalam rumah tangganya. Daniela dengan semangat pergi ke kantor Arabela dan menceritakan semuanya.
"Mama senang melihatmu berbesar hati. Kita memang harus belajar dari pengalaman. Sepertinya kau sudah mengerti apa yang Damian mau. Ingat apa yang mama bilang, kita harus tau suami kita. Harus mengenalnya dengan baik. Selain kamu yang berbeda, Damian juga rupanya berupaya memperbaiki kesalahannya." kata Arabela senang.
"Tapi aku masih merasa khawatir ma, apa Damian tidak berpaling lagi? Aku kan tidak paham urusan ranjang." kata Daniela risau.
"Kamu tetap harus berkomunikasi dengan Damian. Apa yang dia suka atau apa yang Damian tidak berkenan darimu. Damian sudah berjanji tidak akan mengulang kembali kesalahannya. Jika hubungan kalian kuat, Damian tidak punya alasan untuk berpaling. Dia juga tidak mau kehilanganmu bukan." Arabela menenangkan. Daniela sadar perjuangannya belum apa-apa.
"Baiklah aku akan terus berupaya." janji Daniela. Arabela melihat putrinya dengan senang. Walaupun Daniela berubah, tidak seperti perilaku didikannya dulu Arabela tetap senang. Dia ingin putrinya bahagia, walau dengan caranya sendiri. Putrinya sudah terluka, upaya Daniela untuk menyembuhkan dirinya akan Arabela dukung. Asal Daniela tidak berperilaku menyimpang. Daniela memastikan tugasnya untuk acara penggalangan dana sudah selesai. Hanya tinggal menunggu harinya saja kata Arabela. Daniela memutuskan untuk pergi melihat persiapan Andini. Ketika Daniela pergi Ardan menghampiri Arabela.
"Bagaimana keadaan Daniela?" tanya Ardan ingin tau pada istrinya.
"Lebih baik, Daniela bisa mengatasi kesulitannya sendiri." jawab Arabela tenang. Dia tau suaminya khawatir pada putri mereka.
"Mengalami kemajuan. Mereka berupaya saling memperhatikan. Damian berusaha memperbaiki kesalahannya. Kenapa tadi tidak bicara pada putrimu?" protes Arabela.
"Aku tidak mau melihat kesedihan pada Daniela. Aku khawatir tidak bisa tidur melihat Daniela menangis." alasan Ardan.
"Putrimu tidak menangis, justru hari ini dia senang sekali " kata Arabela protes kedua.
"Begitu ya, mungkin putri kita sudah dewasa. Bisa menyikapi kesulitannya." Ardan berkesimpulan. Dia ada janji dengan Ramon sebentar lagi, itu sebabnya dia perlu tau keadaan Daniela. Merasa sudah mendapat informasi Ardan pun berangkat ke sebuah restauran mewah untuk bertemu Ramon.
__ADS_1
"Siang Ar, silahkan duduk." kata Ramon menyapa Ardan yang baru tiba.
"Thanks Ram." Ardan pun duduk.
"Aku minta maaf atas kelakuan Damian. Aku tidak pernah memanjakan anakku, jadi jika salah tentu saja aku tegur. Damian juga tau dia salah, dia berjanji akan berubah. Apa dia sudah bertemu denganmu?" Ramon tanpa basa-basi bicara. Dia belum tau perkembangan putranya belakangan ini. Anak laki-laki dan perempuan pasti berbeda.
"Terus terang aku kecewa, Damian sudah menemuiku dan mengatakan alasannya. Aku bisa mengerti perbuatannya walau aku tidak membenarkan. Aku tetap marah karena Daniela yang jadi korban. Aku juga tau kau sudah mendidiknya dengan baik, namun Damian membuktikan ada hal-hal yang di luar dugaan orangtua di lakukan oleh seorang anak." kata Ardan terus terang. Ramon harus tau perasaan yang dia miliki.
"Aku bukan saja kecewa, tapi malu Ar." Ramon menyesal.
"Itu bukan salahmu, Damian juga berjanji akan memperbaiki semuanya. Dia sudah mulai melakukannya. Daniela juga mulai berubah, aku harap kalian tidak menyalahkannya." Ardan khawatir putrinya di salahkan atau mendapat tekanan. Dia tau bagaimana Amaira, wanita yang kaku dan menuntut kesempurnaan.
"Kalian tidak perlu khawatir, Daniela masih mau menerima Damian kami sudah bersyukur. Daniela menantu kami yang baik. dari perkataannya jelas Ramon tidak mau kehilangan Daniela sebagai menantu.
"Arabela juga selalu menasehati Daniela. Putri kami juga punya kekurangan. Kami berharap mereka berdua bisa memperbaiki pernikahan mereka." Ardan harus mengakui Daniela juga punya kekurangan. Seperti yang Damian ceritakan, mungkin putrinya terlalu dingin. Tapi Ardan malas membahas hal itu.
"Baguslah jika Damian melaksanakan janjinya. Dia sudah dewasa, kami tidak dapat menekannya. Apalagi dia sudah punya perusahaannya sendiri." Ramon harus mengakui Damian bisa melakukan apa pun yang dia mau. Selaku orangtua dia hanya bisa menegur atau menasehati. Ardan dan Ramon pun merasa sudah paham pada keadaan rumah tangga putra-putrinya. Beginilah jika melakukan perjodohan, belum tentu langsung timbul cinta. Mereka menutup pertemuan itu dengan makan siang bersama.
Di bandara turun seorang pria tampan di susul bawahannya.
"Kita langsung pulang ton." kata pria itu.
"Baik tuan, mobil sudah menunggu di depan." jawab Tony bawahan pria itu. Mereka memasuki mobil yang sudah menunggu. Mobil itu membawa mereka pergi ke sebuah apartemen mewah. Pria itu turun bersama Tony.
__ADS_1
"Apartemen sudah di bersihkan tuan." kata Tony menjelaskan.
"Bagus, jangan beritahu keluargaku aku kembali hari ini." Revin Ardiansyah berkata tegas. Tony merasa bingung. Sebenarnya apa tujuan atasannya itu. Kembali tiba-tiba ke tanah air tapi tidak punya agenda untuk mengunjungi kantor atau keluarganya. Tony pun membiarkan Revin untuk beristirahat.