Menepis Luka

Menepis Luka
Penculikan


__ADS_3

"Bagaimana cara mereka membawa Daniela jika tidak membawa mobil?" tanya Damian heran.


"Saya juga heran pak, itu hanya beberapa menit." ungkap Danar.


"Apa mungkin mobil yang berbeda tuan?" tanya pak Sabri.


"Bisa jadi. Danar nanti belikan kedua di sebelah kiri kamu belok." Damian terus memperhatikan pergerakan di ponselnya.


"Saya sudah di belokan pertama pak." lapor Danar. Dia memacu mobilnya.


"Cepat juga kamu sudah di situ." puji Damian.


"Namanya juga pembalap." pak Sabri berkomentar. Tidak seperti dirinya yang harus benar-benar konsentrasi. Danar hanya tersenyum mendengar ucapan pak Sabri.


"Mungkin mobil itu berjalan santai jika benar Danar sudah dekat. Mungkin mereka mengira tidak diikuti. Bagus kalau mereka berpikir begitu." Damian berkata geram. Dia sangat penasaran, siapa yang berani membawa istrinya.


"Kamu sudah menghubungi istri saya Danar?" tanya Damian, baru ingat untuk menanyakan.


"Sudah pak, sewaktu di mal. Berdering tapi tidak di angkat." dari situ Danar yakin jika terjadi sesuatu dengan majikannya. Sama dengan Damian yang mengontak Daniela tapi tidak di jawab. Semakin dekat sasaran Damian semakin cemas. Dia takut terjadi sesuatu dengan Daniela. Bukan kebiasaan Daniela seperti ini, pergi begitu saja. Damian yakin ada sesuatu yang terjadi pada istrinya itu.


"Mobilnya berhenti." kata pak Sabri.


"Di mana itu pak Sabri?" tanya Damian antusias.

__ADS_1


"Tampaknya daerah itu tidak berpenduduk. Ada sungai besar di dekatnya." jelas pak Sabri sambil fokus ke arah jalan. Pak Sabri ahli membaca peta. Di usianya yang sudah merasakan Adam garam kehidupan sudah hafal seluruh pelosok Jakarta.


"Sungai besar? apa mungkin Daniela akan di bawa melalui sungai? Danar kamu cepat tiba di sana. Tapi amati dulu. Kamu sendirian, jangan bertingkah konyol. Saya segera datang." Damian juga khawatir pada Danar.


"Baik pak " Danar Patuh, tapi di dalam hatinya dia akan melihat situasinya lebih dulu. Jika mungkin dia akan menolong Daniela. Jiwa mudanya memberontak. Damian mengecek keberadaan Rama yang membawa bantuan. Rama memang menyusulnya dan tidak jauh lagi. Ponsel Damian terhubung dengan Rama. Jadi Rama tau di mana Damian berada.


"Saya sudah tiba pak. Tempatnya memang terpencil. Ada rumah kecil dan sekelilingnya banyak rumput ilalang yang tinggi. Mobil saya tidak akan terlihat. Ada dua mobil di halaman rumah itu." lapor Danar yang baru saja tiba. Dia memarkir mobilnya agak jauh.


"Apa ada yang berjaga di luar rumah?" tanya Damian yang ingin segera tiba.


"Tidak ada pak, saya rasa mereka di dalam semua. Seperti yang bapak perkirakan mereka tidak tau jika diikuti." Menurut Danar mereka terlalu lengah.


"Kamu amati dulu ya Danar. Saya dan Rama akan segera tiba. Rama membawa bantuan polisi dan dia sudah dekat." kata Damian sambil melihat ponselnya.


"Ok, akan saya sampaikan pada Rama. Saya sudah di belokan kedua." Damian pun segera menghubungi Rama. Danar kembali mengamati rumah tersebut. Mencari celah agar dapat mendekati rumah tersebut.


Di dalam rumah Daniela di dudukan di sebuah kursi. Dia tidak diikat tangannya, tapi untuk melawan dua orang besar yang membawanya tentu saja Daniela yakin tindakannya akan sia-sia. Baru saja dia duduk ada sosok tinggi menyapanya.


"Halo Daniela sayang." Revin Ardiansyah berdiri di depan Daniela sambil tersenyum manis. Sudah beberapa waktu Revin membayangi Daniela. Dia marah-marah pada Tony karena belum bisa membawa Daniela. Akhirnya kesempatan itu tiba. Tony berdiri di belakang Revin. Dia dan Revin sudah menunggu di sana sejak tadi. Mereka akan membawa Daniela dengan Speedboat setelah membayar dua orang tadi yang menculik Daniela. Melihat sosok di depannya Daniela terperangah. Dia sudah takut ketika dua pria asing membawanya. Sekarang dia bertambah takut ketika melihat Revin yang telah menculiknya. Dari awal Daniela tidak suka pada Revin. Melihat Revin berani menculiknya membuat Daniela menerka-nerka bagaimana pribadi Revin.


"Mau apa kamu?" tanya Daniela takut.


"Tentu saja membawamu dan menjadikanmu ratu dalam hidupku." jawab Revin lembut masih dengan senyumnya. Melihat itu Daniela merasa bisa mengambil kesempatan.

__ADS_1


"Tapi aku sudah menikah." bantah Daniela menekan rasa takutnya.


"Dia selingkuh, jangan coba tutupi itu. Aku tau." Balas Revin marah. Daniela terkejut, perasaan takutnya muncul lagi.


"Tapi Damian mencintaiku." kata Daniela pelan, walau dia tidak tau apa Damian mencintainya atau tidak.


"Jika dia mencintaimu dia tidak akan menikahi wanita lain. Sudah jangan mencintainya, cintai aku saja. Aku akan membuatmu bahagia. Ayo kita pergi " Revin berkata lembut, sinar matanya menyatakan cintanya pada Daniela. Hal itu membuat Daniela merasa di atas angin.


"Tunggu, kakiku sakit tolong di obati dulu." Daniela menyingkap roknya yang lebar memperlihatkan lututnya yang luka.


"Ini sakit sekali aku tidak tahan. Tolong di beri obat merah " Daniela berkata dengan histeris, jika bisa menangis dia pasti akan menangis. Padahal lukanya tidak sakit, hanya sedikit perih. Daniela hanya ingin mengulur waktu. Dia yakin Damian akan menemukannya. Melihat luka di kaki Daniela Revin pun marah.


"Bagaimana sih kerja kalian, bagaimana dia sampai luka? Cepat cari obat merah." Revin menghardik dua orang suruhannya. Melihat reaksi Revin Daniela merasa sedikit tenang. Dia harus memutar otaknya. Anak buah Revin berlari ke luar, ke arah mobil. Rumah itu kosong mana mungkin ada obat di sana. Tapi di mobil ada kotak obat P3K, pasti ada obat merah. Obat merah pun segera datang. Revin mengambil obat itu, dia jongkok dan perlahan mengobati luka Daniela. Dia melakukannya dengan santai. Tidak sadar tempat itu sudah di kepung polisi. Rama datang membawa bantuan. Mereka perlahan dan mengendap-endap mengepung rumah itu.


"Sejak kapan kamu suka sama aku?" tanya Daniela ingin tau.


"Sejak melihatmu di kampus dulu." jawab Revin lembut.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang?" tanya Daniela lagi.


"Susah dekati kamu sayang, ada yang menjagamu. Aku kira aku bisa punya kesempatan untuk dekat, tapi ternyata setelah lulus kamu langsung kembali dan tiba-tiba aku dengar kamu menikah. Ku pikir kamu bahagia dengan pernikahanmu. Tapi kemudian aku dengar suamimu selingkuh. Itu sebabnya aku pulang." cerita Revin membuat Daniela terpana.


"Jadi selama ini kamu mengawasiku?" tanya Daniela tidak suka. Revin mengangguk sambil tersenyum kecil. Tony menghela napas kesal. Jadi tuan mudanya kembali bukan karena ingin meneruskan perusahaan ayahnya. Tapi karena wanita pujaannya. Entah bagaimana tanggapan tuan besar Ardiansyah jika tau perbuatan putranya.

__ADS_1


__ADS_2