
"Ada siapa di dalam?" tanya Damian pada sekretaris Ardan.
"Ada tuan Ardan pak Damian." jawab Ardila ramah.
"Ok saya ke dalam dulu." Damian berkata sambil melangkah menuju pintu. Di ketuknya lalu dia pun masuk. Ardan menoleh ketika mendengar ketukan pintu.
"Oh kamu Damian. Tumben kamu datang." Ardan terkejut yang masuk menantunya. Damian tersenyum pada papa mertuanya.
"Danilo mana pa? Papa yang sibuk hari ini?" Damian membuka percakapan lalu duduk di hadapan Ardan.
"Danilo sedang ada rapat penting. Papa sedang tunggu hasilnya. Kenapa kamu ke sini, seperti ada yang penting?" Ardan tau pebisnis seperti Damian sangat sibuk.
"Papa tau Ardiansyah Group?" tanya Damian tidak membuang waktu.
"Tau, papa kenal pimpinannya. Tapi sekarang kan sudah di gantikan dengan putranya. Siapa namanya...Revin ya." Ardan jadi heran Damian menanyakan hal itu. Dia duduk bersandar mengamati menantunya.
"Apa mereka mengajukan kerjasama dengan M.Pro?" Damian penasaran.
"Benar, kamu tau itu? Tapi papa meragukannya. Kalau pimpinan awalnya mungkin papa akan pertimbangkan. Tapi kalau putranya papa ragu. Belum tau cara kerjanya bagaimana. Kenapa kamu tanyakan itu?" Ardan heran.
"Apa papa tau Revin Ardiansyah itu senior Daniela di kampusnya. Menurut data dia pengagum Daniela." Damian mengutarakan info yang di dapatnya.
"Apa? Daniela tidak pernah cerita itu. Orang-orang papa juga tidak pernah bilang si Revin itu mendekati Daniela." Ardan terkejut. Tapi ucapannya membuat Damian yakin, Ardan sangat menjaga putrinya.
"Apa ada yang mendekati Daniela pa?" Damian tidak suka memikirkan itu. Ardan tersenyum.
"Tentu saja ada, tapi tidak ada yang namanya Revin di dalamnya." Ardan meneliti wajah menantunya. Apa Damian bertanya karena cemburu? Apa itu artinya Damian mencintai Daniela?
"Oh begitu. Lalu apa papa tidak curiga Revin memiliki maksud tertentu?" Damian semakin tidak suka tau ada yang mendekati Daniela.
__ADS_1
"Tentu papa curiga. Apa lagi Daniela sudah menikah. Tapi dari mana kamu tau tentang Revin ini?" Ardan tidak mau percaya begitu saja. Walau yang berkata menantunya sendiri.
"Rama, asistenku sudah melakukan pemantauan. Ada datanya yang dia buat." Damian menyebut Rama, Ardan tau asisten Damian sangat kompeten.
"Berikan datanya pada papa. Biar bagaimana papa perlu tau." kata Ardan meminta.
"Baik, nanti aku kirim datanya pada papa." tidak ada salahnya Ardan waspada. Danilo tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
"Loh ada Damian. Sudah lama?" tanya Danilo heran. Dia menduga omnya Ardan yang memanggil Damian.
"Belum lama Dan." jawab Damian ramah. Dia suka karena Danilo diam-diam mendukungnya.
"Ini om hasil rapatnya. Om boleh pelajari dulu." Danilo menyerahkan laporan hasil rapat yang di pimpinnya tadi.
"Ya sudah pa, nanti aku kirim data Revin secepatnya." kata Damian tidak enak mengganggu waktu kerja Ardan.
"Revin? Revin Ardiansyah? bukankah dia teman kampus Daniela?" tanya Danilo heran.
"Dua hari yang lalu aku bertemu dengannya ketika selesai bertemu tuan Kawamoto. Dia bilang begitu, dia dari Ardiansyah Group dan dia teman kampus Daniela. Kesannya dia akrab dengan Daniela." jawab Danilo.
"Akrab? Daniela bilang dia malas dekat-dekat dengan Revin. Orangnya sombong." bantah Damian. Jadi begitu cara Revin mendekatkan diri dengan M.Pro.
"Benar sih, orangnya percaya diri sekali. Aku malas saja bicara panjang lebar dengannya." Danilo paham kedudukannya, dia hanya keponakan Ardan. Sedangkan Revin mengusung perusahaan ayahnya yang dia kelola sekarang.
"Kau tidak perlu rendah diri. Sepak terjangmu lebih bagus dari si Revin itu. Buktinya kolega om banyak yang menghargaimu kan. Kalau si Revin itu banyak yang masih meragukannya." Ardan seperti tau jalan pikiran Danilo. Dari situ terbukti Ardan lebih dekat dengan keponakannya di banding Damian menantunya. Damian jadi merasa jika ingin Daniela tetap bersamanya, pekerjaan rumah yang dia miliki sangat banyak.
"Benar Dan, namamu sudah di perhitungkan kalau mau mendekati M.Pro. Buktinya si Revin itu mencarimu kan. Aku yakin dia sengaja menemuimu." Damian tentu saja memihak Danilo.
"Dia bilang kebetulan karena ada pertemuan di tempat yang sama. Maksudnya apa ya dia mencariku?" Danilo tidak mengerti.
__ADS_1
"Menurut Rama dia sedang menargetkan M.Pro." jawab Damian.
"Kalau itu aku yakin Rama tidak salah. Rama orang yang cermat." Danilo menatap Ardan meminta pendapat.
"Karena itu kita perlu berhati-hati." kata Ardan.
"Wah aku sih tidak mau di repotkan dengan itu, agendaku sudah banyak." Danilo memutuskan. Dia tidak mau kinerjanya di rusak oleh rencana seseorang yang tidak baik.
"Betul Dan, fokus saja dengan kerjamu. Pa aku balik ke kantor dulu ya, nanti kita ngobrol lagi. Dan aku pergi dulu." Damian berdiri dan pamit, dia merasa cukup dengan info yang dia dapat.
"Bareng Dam, aku juga ada pertemuan. Om aku pergi dulu ya. Hari ini ada janji untuk melihat lokasi hotel baru." Danilo pamit.
"Ya kalian hati-hati." jawab Ardan cepat. Dia paham dua pria muda itu punya tanggung jawab kerja yang besar. Damian dan Danilo pun keluar ruangan bersamaan. Setelah di luar ruang kerja Danilo menghentikan Damian.
"Memang ada apa dengan si Revin itu?" tanya Danilo penasaran.
"Dia pengagum Daniela, dan pulang tiba-tiba menargetkan M.Pro." jawab Damian cepat.
"Wah suami cemburu rupanya. Tapi aku akan waspada jika jadi dirimu. Namun apa dia masih ingin mendekati Daniela?" tanya Danilo ragu.
"Aku tidak tau. Tapi Daniela istriku. Aku harus menjaganya." Damian kesal. Apa pun niat Revin jika cara kerjanya meragukan siapa pun perlu waspada.
"Tenang bro, aku mendukungmu. Daniela hanya cocok denganmu." Danilo menepuk bahu Damian, meyakinkan pria itu.
"Thanks Dan. Aku tau kau mendukungku." Damian tersenyum. Dia senang dengan perkataan Danilo jika Daniela hanya cocok dengannya. Mereka pun berpisah. Tiba di kantor Damian segera meminta Rama mengirimkan data tentang Revin ke M.Pro. Di tujukan pada Ardan Morana, presiden direktur M.Pro. Rama pun segera melaksanakannya.
Sementara di rumah Ariadna baru tiba. Dia bingung Daniela susah di hubungi. Tapi ketika dia menelpon ke rumah Rindu bilang nyonya ada di rumah. Maka Ariadna pun datang karena penasaran. Di tatapnya Rindu yang menyambutnya.
"Di mana Daniela?" tanya Ariadna ingin tau.
__ADS_1
"Ada di kamarnya nona, langsung saja naik." Rindu tidak berani membangunkan majikannya. Dia berani mempersilahkan Ariadna ke kamar Daniela karena Damian tidak ada.
"Baiklah saya ke atas." Ariadna beranjak naik, dia sungguh penasaran dengan sahabatnya itu. Sesibuk apa sih hingga tidak menjawab panggilannya. Ariadna menuju kamar Daniela, karena tau Damian sudah berangkat bekerja dia berani masuk ke kamar Daniela.