
"Damian senang dong." tambah Ariadna lagi.
"Senang sih , tapi dia kesal karena aku malas makan." Daniela baru sadar dia sudah melakukan kesalahan. Tidak memberi makan bayinya.
"Tapi kalian sudah ke dokter kan. Sekarang bagaimana keadaanmu?" Ariadna meneliti wajah Daniela.
"Dokter memberiku vitamin, aku mulai enak makan. Hari ini aku dapat ijin keluar dari Damian. Kita jalan yuk." Daniela berseri dan bersemangat.
"Ok, kita jalan sekarang." Ariadna tidak menolak. Mereka pun berangkat diantar pak Sabri.
"Aku ingin makan bakso, tapi tadi ijin ke Damian mau ke rumah mama." Daniela ragu dengan keinginannya. Merasa membohongi Damian. Tapi dia merindukan bakso langganannya.
"Non, beli saja. Makan baksonya di rumah nyonya besar." saran pak Sabri.
"Ide bagus itu." Ariadna setuju.
"Ya sudah, kita beli baksonya lalu ketempat mama." Daniela senang keinginannya di dukung.
"Lagi pula jika di bawa pulang tukang baksonya tidak kehilangan banyak sambal." pak Sabri menggoda Ariadna. Yang di goda memonyongkan bibirnya. Pak Sabri tertawa.
"Ada yang ingin aku ceritakan. Bagaimana kalau kita panggil Andini?" Ariadna ingat dengan kegalauan hatinya.
"Anak itu sibuk terus, apa dia mau?" Daniela ragu.
"Di coba dulu ya." Ariadna mengirim pesan dari ponselnya pada Andini. Dia memancing Andini dengan cerita pertemuannya dengan Tyler. Tidak lama pesannya di balas. Andini bersedia datang ke rumah orangtua Daniela.
"Yes, berhasil. Dia mau datang." Ariadna senang misinya berhasil.
"Kalau begitu pesan baksonya di tambah pak Sabri." titah Daniela.
"Beres non." pak Sabri memarkir mobilnya dan turun untuk memesan bakso.
__ADS_1
"Memang ada cerita apa?" Daniela penasaran.
"Nanti sama Andini kita bahas." Ariadna menolak membukanya sekarang. Lebih seru bersama Andini nanti. Pak Sabri masuk kembali ke dalam mobil beserta pesanan bakso mereka. Melanjutkan perjalanan tiba-tiba Daniela ingin sesuatu.
"Enak jika ada rujak nih." Daniela membayangkan apa yang diinginkannya.
"Nanti non turun saja dulu, biar saya yang beli rujaknya. Tidak enak jika baksonya sudah dingin." pak Sabri paham majikannya sedang hamil muda. Sesuai kesepakatan Daniela dan Ariadna turun di rumah orangtua Daniela. Pak Sabri lanjut untuk membeli rujak. Di rumah ternyata orangtuanya tidak ada. Ardan ke kantor dan Arabela sedang ada pertemuan di sebuah yayasan. Mereka duduk di gazebo yang ada di taman samping rumah. Daniela sebenarnya ingin membuat gazebo seperti ini di rumahnya. Tapi Damian yang selalu sibuk menjadi kendala. Tidak seru kalau harus duduk sendiri di gazebo. Andini lalu datang, terpancing pesan Ariadna. Mereka menikmati bakso sambil mengobrol.
"Bagaimana kisah pertemuannya nih say?" Andini buka suara.
"Pertemuan apa?" Daniela ketinggalan berita.
"Pertemuanku dengan Thareig. Dia minta ketemu, karena ingin tau aku pun janji bertemu dia. Tapi ada kejutannya. Siap-siap ya dengar kejutannya." Ariadna tersenyum penuh makna.
"Sudah cerita saja. Jadi mulas kalau di tunda- tunda begini." Andini berkata tidak sabar. Tidak jelas juga dia mulas karena sambal atau gaya Ariadna yang bikin penasaran. Ariadna pun mulai cerita pertemuannya dan apa saja yang di katakan oleh Thareig. Bagaimana dulu mereka putus dan mengapa dia bersama Metia sekarang.
"Jadi yang sabar siapa nih, Thareig atau Metia?" tanya Daniela. Mereka jadi heboh membahas cerita Ariadna.
"Kalau aku bilang dua-duanya sama bodoh. Yang satu memperjuangkan hal yang sia-sia, yang satu bertahan walau tanpa harapan." Ariadna menilai.
"Harapan Thareig itu kamu Ar." Daniela merasa Thareig tetap menanti Ariadna, walau dia sudah memiliki Metia.
"Kamu sendiri bagaimana say, mau balikan?" Andini penasaran.
"Sudah jadi Masa lalu. Justru aku makin kecewa mendengar penjelasannya. Tapi hatiku jadi mantap untuk melupakannya. Aku tidak mau di sebut pelakor dan jadi penyebab perceraian mereka." tegas Ariadna.
"Itu artinya kamu sudah tidak cinta lagi sama dia. Hanya saja kenangan sulit di lupakan." Andini paham keputusan Ariadna.
"Lalu kejutannya apa?" Daniela jadi ingat perkataan Ariadna.
"Sewaktu Thareig minta aku balikan sama dia tiba-tiba Tyler datang menyela. Dia bilang aku tidak bisa kembali pada Thareig, karena aku sekarang pacar dia." kata Ariadna jujur.
__ADS_1
"Apa?" Andini dan Daniela bertanya berbarengan.
"Ko bisa Tyler ada di sana?" tanya Daniela terkejut. Ariadna menaikan bahunya tanda tidak tau.
"Apa Thareig percaya dengan perkataan Tyler?" Andini merasa ini yang lebih seru ceritanya.
"Dia terkejut, tapi dia tau Tyler. Hanya Tyler segera membawaku pergi, jadi aku tidak tau Thareig percaya atau tidak. Untuk mendukung ucapan Tyler aku ikut dengannya. Karena aku yakin Thareig tidak akan menerima saja keputusanku untuk tidak kembali bersamanya." Ariadna paham siapa Thareig.
"Jadi kamu pergi sama Tyler Ar?" Daniela terkejut Ariadna mau pergi bersama Tyler, walau terpaksa. Selama ini Daniela tau upaya Ariadna menghindari Tyler.
"Oh jadi yang kamu bilang ada urusan itu pergi sama Tyler. Kemana?" Andini antusias. Mereka tau Tyler mengejar Ariadna. Sekarang Ariadna yang bingung mau jawab apa. Kedua sahabatnya pasti heboh, tapi dia harus jujur.
"Tyler membawaku ke vila keluarganya." jawab Ariadna pelan.
"What?" Andini histeris. Sedangkan Daniela membesarkan bola matanya walau masih diam.
"Kamu diapain saja Ar?" Andini mengamati Ariadna lekat. Bicaranya jadi serius.
"Apa Tyler seburuk itu?" tanya Daniela heran. Ini jadi topik seru antara dia dan Damian nanti.
"Aku kurang tau ya, tapi Tyler tidak mendekati wanita untuk berpacaran. Hanya untuk bersenang-senang. Coba tanya Ariadna, apa yang terjadi dengannya?" Andini hanya mendengar gosip tentang Tyler. Keduanya pun menanti jawaban Ariadna.
"Tyler membawaku karena ingin bicara serius katanya. Dia menyatakan cinta dan sejak dari awal pertemuan dia merasakan itu." Ariadna sedang menimbang apa dia akan menceritakan semua atau tidak. Malu rasanya jika yang lain tau Tyler sudah menciumnya.
"Kamu percaya say dengan pengakuannya, apa dia serius?" Andini mencecar Ariadna tepat seperti dugaannya. Daniela hanya diam dan menyimak pembicaraan dua A itu.
"Aku tidak tau. Aku tidak berani menatap wajahnya. Takut jatuh cinta." Ariadna mengakui kekhawatirannya.
"Itu kan yang aku bilang. Tyler itu menawan, banyak yang langsung takluk dengan melihat wajahnya saja. Terbuktikan kata-kataku." Andini merasa menang, peringatannya beralasan kuat.
"Lalu perasaanmu bagaimana?" Daniela penasaran.
__ADS_1
"Aku cukup terpesona. Dari awal aku sudah berusaha menghindarinya. Tapi tertangkap juga. Aku rasa belum berani percaya padanya. Aku sudah punya pengalaman buruk dengan pria yang dengan mudahnya memberi perhatian pada wanita lain. Apa lagi ini, senang mengejar wanita. Hatiku tidak mau sakit dan kecewa lagi." Ariadna merasa cukup sudah dua teman baiknya ini tau keputusannya, yang lain untuk dia dan Tyler saja.