
"Untung saja ponselku dalam keadaan diam." sambil bercerita Daniela memperhatikan ponselnya yang penuh dengan panggilan tak terjawab dari Damian dan Danar.
"Sepertinya mereka belum berpengalaman." kata pak Sabri yang menyimak cerita Daniela.
"Untung saja begitu. Jadi kakimu luka . Yang mana yang luka?" Damian jadi khawatir, dia menyingkap rok lebar Daniela. Tampak ada plester di lutut istrinya.
"Sudah di obati Revin. Aku sengaja bilang luka dan ribut sakit untuk mengukur waktu." jelas Daniela tidak mau Damian salah paham.
"Apa dia memperlakukanmu dengan baik?" Damian benar ingin tau. Daniela mengangguk.
"Dia bilang sudah lama jatuh cinta sama aku dan dia ingin menjadikan aku ratu dalam hidupnya. Dia berlaku baik padaku sebab itu aku berani minta macam-macam untuk mengulur waktu. Tapi tetap saja aku takut." kata Daniela jujur tapi dia tidak mau menyebut dasar penculikan Revin akan dirinya. Mengetahui Damian mengkhianatinya.
"Pintar." puji Damian sambil mencium pipi Daniela.
"Tapi aku senang." kata Daniela lagi sambil tersenyum manis.
"Kamu senang di culik." seru Damian marah. Baru saja istrinya di puji sudah bikin naik darah.
"Bukan begitu. Aku senang karena suamiku bilang cinta sama aku. Sejak kapan kamu cinta aku? Bilang lagi dong cintanya." Daniela meminta dengan manja. Damian tersenyum, luruh sudah rasa marahnya. Dia menggelengkan kepala dan merapatkan mulutnya menolak permintaan Daniela. Senang rasanya membuat Daniela penasaran. Istrinya langsung cemberut.
"Jantung aku mau pindah tempat rasanya waktu tau kamu di culik. Apalagi aku tidak tau siapa pelakunya. Dari situ aku sadar kamu sangat berarti bagiku. Mungkin itu salah satu sebab aku tidak mau pisah sama kamu. Maafkan aku yang terlambat membuka hati untukmu ya sayang." Damian mengecup pipi Daniela dan menatapnya penuh cinta. Daniela jelas bahagia. Sejak hari ini Damian memanggilnya sayang. Perasaan Daniela kembali tegang ketika mereka tiba di kantor polisi.
"Kita hanya sebentar di sini sayang. Setelah itu kita pulang." bujuk Damian pada istrinya yang tampak ragu.
"Tapi aku tidak perlu bertemu dengannya kan?" Daniela tidak mau bertemu Revin lagi.
"Kita bisa minta ruang terpisah. Dia kan baik padamu, dia tidak akan menyakitimu. Apalagi ini di kantor polisi." Damian yakin begitu sukanya Revin pada Daniela pria itu tidak akan macam-macam.
"Baiklah." Daniela setuju, dia keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam kantor polisi. Daniela memberi keterangan di hadapan dua orang polisi dengan di dampingi Damian. Mereka berada di ruangan tertutup seperti permintaan Damian hingga istrinya dengan lancar bisa berbicara tanpa takut. Karena keterangan yang Daniela berikan sudah jelas dan lengkap mereka bisa meninggalkan kantor polisi. Mereka pun keluar menuju mobil.
__ADS_1
"Sudah kamu beli Danar?" tanya Damian pada Danar yang menunggu di luar.
"Sudah pak, ada di mobil." jawab Danar tentang makanan yang harus di belinya.
"Baik terima kasih. Kita langsung pulang." Damian puas titahnya di laksanakan.
"Saya akan ikuti dari belakang." kata Danar, lalu kembali ke mobilnya.
"Ayo sayang kita pulang." Damian menuntun Daniela untuk masuk ke dalam mobil. Begitu duduk di dalam mobil pak Sabri menyodorkan makanan yang di beli Danar. Damian yang menerimanya lalu menyerahkannya pada istrinya.
"Pak Sabri kita jalan perlahan saja. Supaya Daniela bisa sambil makan." Damian membantu Daniela membuka box makanannya.
"Baik tuan." pak Sabri pun mulai menjalankan mobil perlahan. Daniela yang sudah sangat lapar tidak membuang waktu lagi. Menyantap makan siangnya. Damian menatapnya sambil tersenyum
"Kamu sudah makan Dan?" tiba-tiba Daniela teringat.
"Belum " Damian mana sempat makan. Tadi dia sedang bekerja ketika di kabarkan Daniela menghilang.
"Kamu saja yang makan, kamu lebih butuh karena anak kita pasti lapar. Aku dan pak Sabri bisa makan di rumah." Damian menolak halus dengan mengembalikan suapan itu pada Daniela.
"Nanti saya minta jatah dobel pada Rindu." kata pak Sabri menimpali. Daniela tersenyum menatap dua pria di mobil. Ya sudah dia lanjut makan. Damian memang benar bayinya butuh makan.
"Apa dia tau kamu sedang hamil sayang?" Tanya Damian sambil mengusap lembut perut Daniela.
"Dia tidak tau, aku juga tidak pulang." jawab Daniela. Baguslah, pikir Damian. Dia khawatir begitu cintanya Revin pada Daniela tidak dapat menerima kehamilan wanita pujaannya.
"Ini nanti kelanjutannya seperti apa?" tanya Daniela ingin tau.
"Harus di ajukan tuntutan, agar dia tidak seenaknya bisa melakukan keinginannya. Aku sih tidak akan melepaskannya " kata Damian geram. Untung saja dia bisa melacak Daniela. Jika tidak Revin pasti sudah membawanya pergi entah kemana. Damian tidak mau membayangkannya. Dia tidak mau kehilangan istrinya. Daniela menghabiskan makanannya.
__ADS_1
"Sudah kenyang?" tanya Damian lembut. Daniela memeluk suaminya.
"Belum sih, aku jadi pingin bakso langganan ku." makan siangnya yang tertunda membuat Daniela lapar terus.
"Mau aku temani ke sana?" Damian kasihan pada istrinya.
"Nanti saja, aku ingin pulang." Daniela merasa letih.
"Biar saya saja yang belikan. Non tunggu di rumah." kata pak Sabri yang tidak tega pada majikannya.
"Ya pak Sabri sekalian belikan untuk seisi rumah." sahut Damian sebagai bentuk kecil rasa syukurnya atas yang terjadi hari ini. Perlahan Damian mengangkat tubuh Daniela ke pangkuannya. Di sandarkannya kepala Daniela pada dadanya.
"Tidurlah , nanti bangun ketika sudah di rumah." Damian mengusap lembut lengan istrinya. Di manjakan seperti itu Daniela terlena. Dia pun segera memejamkan mata dan terlelap. Tiba di rumah Damian tidak mau membangunkan istrinya. Dia menggendong Daniela masuk ke dalam rumah. Rindu dengan wajah cemas menyambut kedatangan dua majikannya. Dia mengikuti Damian ke atas.
"Rindu siapkan makan siang untuk saya. Pak Sabri suruh makan dulu sebelum membelikan pesanan Daniela." titah Damian sambil masuk ke dalam kamar.
"Baik tuan." Rindu berhenti mengikuti Damian. Dia berbalik turun ke bawah menuju dapur.
"Pak Sabri di suruh tuan membeli apa?" tanya Rindu penasaran.
"Beli bakso, buat seisi rumah." jawab pak Sabri yang duduk di kursi makan yang ada di dapur.
"Benar pak?" tanya Rindu meyakinkan. Wajahnya berseri-seri. Dia suka bakso yang sering di beli majikannya.
"Iya benar." pak Sabri menjawab sambil mengusap peluh di dahinya.
"Kalau begitu pak Sabri makan dulu ya. Mas Danar mau makan?" tanya Rindu pada Danar yang baru masuk ke dapur.
"Mau dong, lapar nih." Danar duduk di seberang pak Sabri.
__ADS_1
"Minah, tolong siapkan makan untuk pak Sabri dan mas Danar. Saya mau siapkan makan untuk tuan." kata Rindu pada pelayan yang lainnya.