
"Proyekku dong, om Ardan hanya meninjau." Danilo menjawab bangga.
"Ya dia pekerjaannya bagus, hanya saja belum punya pasangan." Ardan memuji sambil melirik dua teman Daniela.
"Ariadna dan Andini, kalian apa kabar? Sudah cantik-cantik begitu kalian sudah punya kekasih?" tanya Ardan yang membuat dua gadis itu panas dingin. Mereka tau arahnya ke mana.
"Belum om." kedua gadis itu menjawab berbarengan. Ariadna menjawab jujur, sedangkan Andini tidak berani berterus terang. Ardan tersenyum mendengar jawaban mereka. Ada bahan untuk di pertimbangkan. Ardan tau kedua teman Daniela itu gadis baik. Dia melirik Danilo. Adiknya sudah meminta Ardan untuk mencarikan pasangan hidup bagi putranya. Karena Danilo sendiri tetap acuh dengan itu.
"Papa mau ke ruang kerja dulu ya, kalian lanjut saja." Ardan bangkit sambil mengusap kepala Daniela. Dia tidak mau mengganggu acara putrinya.
"Mau kopi sayang?" tanya Arabela dengan manis.
"Jus buah saja, tolong antar ke ruang kerja ya." Ardan tersenyum pada istrinya. Danilo pun bersiap untuk meninggalkan ruangan. Masih ada pekerjaan bersama omnya.
"Aku pamit ya." Danilo bangkit berdiri.
"Ya kerja yang rajin buat calon istri nanti." Daniela mengejek. Danilo cuma tersenyum. Mau membalas tapi dia ingat Daniela ada dua temannya. Bisa habis dia nanti. Di tinggal bertiga mereka pun lanjut mengobrol. Hingga seorang pelayan masuk.
"Non Ariadna, ada yang menjemput." kata pelayan itu yang langsung pergi. Di jemput, mereka bertiga bingung. Ariadna menduga Rio yang menjemputnya, tapi dari mana Rio tau dia di rumah orangtua Daniela. Mereka bertiga pun keluar. Tampak Tyler berdiri di samping mobilnya menunggu Ariadna.
"Hai Ar, aku jemput kamu." kata Tyler santai. Mereka bertiga terkejut. Daniela mengisyaratkan agar Ariadna segera pergi, sisanya dia yang urus. Namun Arabela telah keluar.
"Sayang ada apa?" Arabela bingung mengapa semua keluar.
__ADS_1
"Ini ma Ariadna harus pulang." jawab Daniela cepat.
"Iya Tante, aku pulang dulu ya. Salam buat om." Ariadna segera masuk ke dalam mobil Tyler.
"Tante saya jemput Ariadna. Maaf buru-buru." Tyler menyapa cepat karena Ariadna sudah masuk ke dalam mobil, dia tidak mau membuang waktu.
"Iya tidak apa-apa." Arabela terperangah, melihat Tyler menjemput Ariadna. Daniela segera memberi isyarat pada Andini untuk juga segera pergi.
"Ma aku juga pulang, tolong bilang papa. Andini sedang banyak kerjaan." Daniela mencium pipi Arabela cepat.
"Loh ko pulang, kita belum ngobrol-ngobrol." Arabela bingung, ada pertanyaan yang belum dia sampaikan tapi perhatiannya teralihkan.
"Takut Damian marah aku perginya lama ma." Daniela beralasan. Padahal mana mungkin Damian marah Daniela lama di rumah orangtuanya.
"Ya hati-hati ya." jawab Arabela ramah, mau tidak mau melepas mereka pergi. Secepat mungkin Daniela dan Andini pergi sebelum ada pertanyaan dari Arabela. Ini semua gara-gara Tyler.
Padahal Tyler hanya ingin bertemu Ariadna, mumpung gadis itu di luar rumah. Dia sih tidak perduli dengan pertanyaan banyak orang tentang dia dan Ariadna. Niatnya tulus mendekati Ariadna. Berbeda dengan Ariadna yang panik.
"Kamu pasti sudah makan Ar, ada yang kamu inginkan?" tanya Tyler lembut.
"Ya aku sudah makan dan tidak ada yang aku inginkan." Ariadna masih kesal Tyler tiba-tiba muncul.
"Temani aku makan sebentar ya Ar, setelah itu aku antar kamu pulang." pinta Tyler, memohon pengertian Ariadna. Dia belum makan. Ariadna menatapnya bimbang. Tapi Tyler tidak mau di tolak. Dia segera melajukan mobilnya ke sebuah cafe.
__ADS_1
"Ayo Ar turun." Tyler membukakan pintu untuk Ariadna. Sebenarnya gadis itu malas mengikuti keinginan Tyler. Dia khawatir terlibat semakin jauh dan bertemu dengan orang-orang yang mereka kenal. Dengan enggan Ariadna pun masuk ke dalam cafe. Karena judulnya menemani Tyler makan dia hanya memesan minuman.
"Benar nih, kamu tidak mau makan lagi." tanya Tyler menggoda.
"Aku tidak mau." Ariadna ingin agar ini cepat-cepat selesai dan dia di antar pulang. Ada debar-debar liar di dadanya. Yang pertama kedekatannya dengan Tyler, yang kedua khawatir di pergoki keluarganya. Cafe itu ternyata dekat dengan kantor papanya. Tyler yang menerima penolakan tegas dari Ariadna mulai menikmati makan siangnya. Betapa senang hatinya, makan siang di temani pujaan hati. Tyler berharap bisa sering seperti ini. Ariadna yang tidak punya kegiatan jadi mengamati Tyler, bagaimana cara Tyler makan. Ketika dia menyela makannya untuk bicara dengan Ariadna dan ketika Tyler minum. Semua tampak sopan, tidak ada yang urakan. Tyler memang berkelas. Tyler sendiri yang di perhatikan Ariadna jadi berbunga-bunga hatinya, penuh seperti untuk dekor acara pernikahan. Senyumnya lembut semakin tebar pesona. Ariadna mulai merasa terganggu keteguhan hatinya. Sejak semula dia tau kapasitas hatinya terhadap pesona Tyler.
"Sudah yuk, kamu kan harus kembali bekerja." Ariadna mulai protes secara halus. Tyler menghela napas kesal. Ariadna tidak ada romantis-romantisnya. Itu artinya dia harus lebih keras lagi merebut hati gadis itu.
"Ayo aku antar pulang." Tyler mengalah dan membayar pesanannya. Ariadna segera melangkah keluar, khawatir Tyler berubah pikiran. Tapi sesuai perkataannya, Tyler memang akan mengantar gadis itu pulang. Menurutnya lebih baik Ariadna di rumah. Di luar banyak pria yang akan mengincar gadisnya itu.
"Ar, kamu benar-benar tidak nyaman bersamaku? Apa ada sikapku yang menyebalkan bagimu?" tanya Tyler memancing. Ariadna seperti ingin lekas jauh darinya.
"Tidak ko, semua biasa saja " Ariadna tidak mau berterus terang jika pesona Tyler berbahaya. Hal itu bisa menjerat hatinya.
"Ok kalau begitu." yang bisa di lakukan Tyler hanya bersabar. Mereka pun tiba di rumah Ariadna. Begitu menghentikan mobilnya Tyler segera mencium pipi Ariadna yang kemudian terpaku menatap Tyler.
"Kamu boleh turun sekarang." kata Tyler lembut dan tersenyum manis. Ariadna tersadar dan segera membuka pintu.
"Terima kasih ya." Ariadna segera keluar dan cepat-cepat berlalu. Tyler terdiam menatap kepergian Ariadna. Dia meminta Ariadna turun karena takut dirinya akan membawa Ariadna pergi. Tyler pun menjalankan mobilnya, berlalu membawa hatinya yang masih ingin tetap tinggal di sana.
Siang itu Damian dan Robin duduk santai di sebuah restauran mewah pada satu hotel berbintang lima. Mereka baru saja melakukan pertemuan bisnis dan ingin bersantai sejenak. Sebenarnya mereka juga mengajak Tyler, tapi di tolak karena Tyler lebih memilih menemui Ariadna.
"Kau mau kopi?" tanya Robin pada Damian. Mereka sudah selesai makan siang. Tapi masih ingin mengobrol.
__ADS_1
"Tidak, jus saja." Damian menolak, dia jarang minum kopi. Robin pun memesan kopi untuknya dan jus buah untuk Damian.